Kelas Inspirasi Jakarta 6; Rindu yang terbayar.

Saya sampai lupa rasanya mengajar. Sudah lama sekali saya tidak iuran di Kelas Inspirasi terutama menjadi relawan pengajar, terakhir itu di Kelas Inspirasi Bandung tahun 2015. Setelah itu cukup jadi Relawan Fasilitator di KI Bogor dan KI Jakarta tahun lalu.

Beberapa kali setelah itu saya sempet daftar lagi jadi Relawan Pengajar di Cianjur, Bali dan Lombok. Kemudian ketiganya tidak ada yang saya ikuti. 😀

Lantas, apa rasanya?

Rindu yang terbayar.

Mempersiapkan metode yang akan diterapkan dan memikirikan sepenuh hati apa saja media ajar yang pantas menjadi keseruan tersendiri seperti halnya menyiapkan printilan untuk liburan.

Kalau pada Kelas Inspirasi dulu-dulu, saya menyiapkan Octaland Card dan banyak sekali ice breaking  macam segala bentuk tepuk tepuk karena takut kelas krik krik moment. Kali ini saya lebih banyak memikirkan media ajar, dan entah kenapa saya malah tak menyiapkan barang sebijipun ice breaking. Huwow.

Kalau pada Kelas Inspirasi dulu-dulu, jam belajar sekolah yang saya ajar hanya sampai pukul 1 siang, kali ini sekolah yang akan saya dan teman-teman datangi sampai pukul 5 sore. Kyak! Iya, sekolahnya pagi petang. Mbayanginya saja sudah lelah. Haha.

Kalau pada Kelas Inspirasi dulu-dulu, jumlah total Relawan (Inspirator, Dokumentator dan Fasilitator) paling banyak sekitar 25 orang, Kelas Inspirasi kali ini 40 orang. Hoaaa!

Memulai Kelas.jpg

Kalau pada Kelas Inspirasi dulu-dulu, kami hanya membuka dengan upacara lantas segera masuk kelas, Kelas Inspirasi kali ini kami disambut dengan berbagai macam persembahan yang dilakukan sama anak-anak dari SDN Lagoa. Ternyata seru banget.

Sesuai pembagian Jadwal, saya diamanahi untuk mengajar di 4 kelas. Kelas 1,2,6 dan 5. Saya membeli puzzle yang saya agendakan digunakan di kelas 1, tetap membawa Octaland Card untuk dikelas 2 dan membeli beberapa post it untuk dikelas besar. Pada kenyataannya saya hanya masuk 3 kelas tanpa kelas 1.

“Ada yang bisa tebak, Ibu bekerja sebagai apa?”

Pertanyaan itu saya lontarkan sebagai kalimat pembuka saya dikelas 6. Jawaban yang saya dengar kemudian membuat saya kaget.

“Guru Ngajiiii!”

Sealim itu kah? *benerin jilbab dan kibas kibas gamis lebar*

Nia Mengajar.jpg

Emang aku kaya guru ngaji?

Dulu, saya takut sekali mengajar kelas besar (4,5 dan 6) karena dikelas ini mereka tidak bisa diajak tepuk tepuk hore atau joget joget baby shark. Namun kemarin, saya merasa nyaman sekali berada dikelas ini. Saya mulai dengan bertanya apa cita-cita mereka, mengapa memilih cita-cita itu, memberi informasi bahwa beberapa profesi ada yang dibayar dengan ditransfer ke rekening. Namun ada juga profesi yang bisa menghasilkan uang saat itu juga seperti entrepeneur.

Dari situ, saya bisa menggali peminatan khusus apa saja yang ada dibenak anak-anak. Adaloh yang ingin menjadi anggota DPR, ada juga yang ingin menjadi youtuber. 40 menit waktu yang diberikan cukup untuk saya mencoreti seluruh papan tulis seraya saya guru beneran. Dikelas ini berhasil!

Mengajar di kelas Besar.jpg

Kebahagian dikelas pertama, bertolak belakang dikelas kedua. Saya masuk dikelas 2 dimana anak-anak didalamnya sudah make tas bersiap pulang seolah tak ridho akan kehadiran saya yang akan menemani mereka dalam 1 sesi. Butuh waktu untuk mereka bisa melepaskan tasnya. Setelah tas lepas, drama lain muncul. Mereka saling menyerang layaknya ada 2 kubu yang sedang berantem, macam macam orang tawuran. MasyaAllah, ampuni hamba.

Octaland saya keluarkan, cukup membuat mereka mau menyimak saya dalam diam. Kecanggihan segala profesi dalam bentuk 4D membuat mereka cukup terpukau. Mayanlah ya, se-enggaknya materinya tersampaikan.

Kelas terakhir saya adalah kelas Besar, yakni kelas 5. Saya memasuki kelas di Jam setelah makan siang dengan mengucapkan salam dengan ramah. Bukan salam balik yang saya dapatkan, respon mereka adalah;

“Waaah, kaya Ria Ricis!”

-_______________________-‘

Fyi aja, Ria Ricis adalah adik dari Oki Setiana Dewi yang hem tenar karena gayanya yang pecicilan. 😥

Se-pe-ci-ci-lan itu-kah sa-ya? Errrr.

Kelas besar yang dahulu saya nilai adalah anak-anak remaja tanggung yang menyebalkan, tidak berlaku di sekolah ini. Seperti kelas pertama tadi, saya lepas sekali memberikan materi dikelas ini. Bercerita dari satu profesi ke profesi lain. Menanamkan pemahaman bahwa saya bekerja sebagai orang yang ada dibalik para pekerja yang mendapatkan gaji. Menanamkan tentang rezeki yang bisa kita dapatkan tidak hanya dengan menjadi pegawai namun juga dengan berwirausaha sendiri.

Kelas Terakhir.jpg

Dikelas-dimana-dua-kata-itu-muncul; Ria Ricis.

Lupa dengan profesi Guru Ngaji dan Ria Ricis, yang saya ingat, selama mengajar 3 kelas saya tidak mengeluarkan satupun Ice Breaking. Pertanda saya menikmati dan saya harap mereka juga bisa menikmati setiap materi yang saya berikan. Karena adanya Ice Breaking pertanda anak-anak mulai kehilangan fokusnya.

Dipenghujung kegiatan ini, kami flashmob bareng-bareng beserta guru dan relawan satu kawasan; SDN Lagoa 1, Lagoa 2 dan Lagoa 5. Selalu ada doa yang saya rapal diakhir Kegiatan ini; Semoga ini bukan yang terakhir. Ada Aamiin?

Relawan satu kawasan.jpg

Relawan Gabungan

Semua foto berasal dari tim dokumentasi relawan Fotografer SDN Lagoa.

Advertisements

18 thoughts on “Kelas Inspirasi Jakarta 6; Rindu yang terbayar.

  1. Pingback: Meet Inspired People: Hikmat Hardono. | alaniadita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s