Tujuan Hidup: Untuk Bahagia atau untuk Berguna?

“Kalau tempat nongkrong di Depok, yang enak apa?”

Sebuah pertanyaan yang seringkali tak bisa kujawab. Muhehe. Pertanyaan lanjutan yang selalu muncul setelah orang yang bertanya tahu bahwa saya tinggal di Depok namun kerja di Jakarta.

Working hour saya dihabiskan di Ibukota. Senin sampai Jumat dari pagi sampai malem. Sabtu-Minggu, sebagian besar kegiatan yang saya lakukan juga di Jakarta. Jadi ke Depok hanya numpang tidur adalah benar adanya.

Setiap pagi, saya punya 2 pilihan tebengan. Adik saya yang sulung, sedang magang di Kuningan sementara adik saya yang bungsu kuliah di Universitas Swasta di Jakarta Selatan. Keduanya naik motor, dari tempat mereka berhenti saya lanjut lagi dengan naik ojek online. Jarak tempuh untuk memilih abang atau adek sama saja. Kurang lebih satu jam.

Untuk pulangnya, saya memilih untuk naik KRL, yang jika pulang tenggo di peak hour – masya Allah penuh desek-desekannya tak terkira. Saya butuh waktu 2 jam untuk perjalanan pulang dari Kantor ke rumah. Mulai dari jalan kaki menuju persimpangan jalan yang ada angkot ke arah stasiun – menunggu KRL – perjalanan ke Stasiun Depok sampai minta dijemput orang rumah.

Stasiun Karet

Kalau kebetulan adik-adik saya tidak ada aktifitas di Jakarta, udah deh ya, telen sambil tutup mata 4 jam perjalanan pulang pergi. Begitu juga dengan aktivitas weekend, yang mostly saya pulang pergi naik KRL.

Tanpa buku, gagdet, drama korea saya ndak mungkin setangguh ini menaklukan aktivitas di Jakarta.

Sering sekali saya dihadapkan oleh pertanyaan yang saya tanyakan pada diri sendiri; Ini saya ngapain sih, kerja keras jauh begini. Sabtu minggu masih aja sibuk sana sini daripada istirahat bangun siang dirumah?

Saya selalu mencoba meyakinkan diri bahwa yang saya lakukan ini semata-mata untuk kebahagiaan saya. Saya bahagia bekerja. Beraktivitas diluar rumah. Toh, masih sendiri ini. Saya suka kok berkegiatan ini itu, kegiatan sosial kesana kemari, menghadiri workshop kepenulisan, meeting untuk perencanaan kegiatan mengajar, mendatangi event-event blogger atau hanya bertemu teman-teman yang kebanyakan tinggal dan ngekos di Jakarta.

Bahagia-kah saya?

Iya dong tentu. Dengan gaji yang saya dapatkan, saya bisa jalan-jalan, bisa scrolling online shop kemudian membayarnya, bisa window shopping mall to mall, bisa makan makanan yang saya ingin makan. Bukannya definisi bahagia begitu kan, ya?

Bahagia yang kata orang-orang sederhana itu adalah hal-hal yang ingin kita lakukan, kita beli, kita makan dan kita rasakan bisa kita dapatkan.

Namun beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah blog yang mengupas bahwa tujuan dari hidup bukanlah untuk berbahagia namun lebih kepada untuk berguna.

Satu kutipan yang sekali saya baca langsung nancep dan bikin saya baca berulang-ulang lalu terhenyak adalah sebuah quote dari Ralph Waldo Emerson;

Dia bilang, begini:

“The purpose of life is not to be happy. It is to be useful, to be honorable, to be compassionate, to have it make some difference that you have lived and lived well.”
And I didn’t get that before I became more conscious of what I’m doing with my life. And that always sounds heavy and all. But it’s actually really simple.

Duh kan.

Tiba-tiba saya keingetan masa-masa dimana saya impulsif untuk terbang ke Lombok dan memilih untuk menjadi bagian dari pengajar Kelas Inspirasi. Kami – seluruh relawan – harus berjalan kaki kurang lebih selama satu jam agar bisa sampai ke sekolah yang akan kami ajar. Disela-sela menyelesaikan misi mengajar, saya sempatkan untuk sedikit jalan-jalan nyebrang ke Gili Trawangan.

Pulang dari sana, sudah pasti tidak perlu diragukan saya merasa ‘hidup’. Hidup saya berisi dan bermanfaat. Kerjapun kembali semangat. Belum ada satu minggu dari pulangnya saya dari Lombok, saya sudah mendaftar untuk menjadi relawan pengajar di kota lain seperti Semarang, Bandung, Bogor dan Jakarta.

Karena benar adanya, ternyata bahagia saya berlipat-lipat setelah berbagi. Kalau kita di gaji atas skill yang kita punya lantas kita berbahagia itu wajar, karena ada kerja keras didalamnya. Namun, jika kita berbagi apa yang kita punya – ilmu, barang – dengan tanpa imbalan apapun yang kita terima, ternyata kebahagiaan yang hadir jauh berlipat-lipat.

Selain untuk menjadi relawan pengajar, akhirnya saya juga mengadakan acara sosial bareng sahabat-sahabat dekat lintas kota. Tujuannya untuk menyenangkan anak yatim piatu dengan mengajaknya bermain diluar panti asuhan dimana mereka tinggal. 4 tahun terakhir, kami sudah menjajal 7 kota untuk mengadakan kegiatan sosial ini.

Barangkali selama ini saya yang tidak sadar, jangan-jangan nafsu kerja saya yang wara wiri kesana kemari, yang selalu saya bilang kepada banyak orang bahwa saya bahagia sumber utamanya adalah kesukaan saya untuk mengikuti kegiatan kerelawanan?

Apakah dengan begini orang-orang yang tidak berkecimpung didunia relawan tidak berbahagia karena tidak berbagi?
TENTU TIDAK.

Berbagi maknanya luas sekali. Membantu ibu mencuci piring. Membantu rekan kerja yang sedang kerepotan. Memberi tempat duduk kepada Ibu Hamil.

Termasuk berbagi juga, toh?

Hal-hal sederhana, sepele yang tampaknya tidak punya impact apa-apa, bisa jadi menjadi sumber kebahagiaan seseorang. Kebahagiaan yang bisa menular dengan cepat kepada si pemberi kebahagiaan.

Akhirnya belakangan ini saya niatkan apapun aktivitas yang saya lakukan adalah untuk bermanfaat. Saya bekerja untuk membantu perusahaan, gaji yang saya dapatkan untuk membantu perekonomian keluarga. Sabtu Minggu beraktivitas keluar untuk mencari tambahan penghasilan, untuk mencari ilmu yang entah kapan ilmu tersebut pasti akan bermanfaat untuk saya dan lingkungan saya.

Dengan menjadi manfaat untuk sekitar, jackpot yang kita dapatkan pun berkali lipat berupa kebahagiaan.

IYA, KAN?

Sebulan terakhir, kegiatan saya lagi padat-padatnya, ada beberapa yang musti keluar kota untuk melakukan sesuatu. Saya jadi gampang sakit, sakit sampai tumbang sih Alhamdulillah engga. Cuma pucet macam tak bertenaga. Ditambah adik-adik juga batuk sana sini karena polusi udara sepanjang jalan Depok – Jakarta.

Ibu saya, yang setiap hari selalu gedebak gedebuk di dapur pagi hari demi bisa membekali ke-3 anaknya menyelipkan satu minuman di tas bekal saya.

Netsbee.jpg

To be honest, saya ndak suka madu. Ketika banyak orang mengerti paham khasiat dan menjadikan madu semakan konsumsi sehari-sehari, saya malah tidak pernah. Terlalu manis kalo menurut saya.

Ketidaksukaan akan madu buyar ketika mencicipi Natsbee Honey Lemon ini. Madu sih, tapi ketimpa rasanya dengan lemon. Dan jika dikonsumsi dalam keadaan dingin jadinya seger.

Saya bahagia masih diberkahi Ibu yang sehat, yang perhatian dan tahu banget anaknya sakit karena apa dan apa yang tidak saya sukai.

Menurut beliau, kami – ke 3 anaknya – kelelahan karena banyak zat-zat tidak baik yang kami hirup sepanjak perjalanan Depok – Jakarta. Begitu juga dengan saya yang masih harus naik angkot dan KRL di malam hari. Belum lagi stress akibat kerjaan yang bikin saya sering pulang larut malam.

Mengkonsumsi Madu dan Lemon bisa membantu mengikat zat-zat berbahaya ini dan membuangnya.

Netsbee 2

Saya kira, mama hanya menyediakan Netsbee Lemon ini sekali, ternyata berhari-hari. Dan saya konsumsi seharian di kantor. Jika hari sedang panas, saya sediakan es batu untuk menambah kesegarannya.

netsbee-3.jpg

Mam, terimakasih untuk sudah mendatangkan manfaat untuk kami seumur hidup Mama. Satu hal yang bikin saya bekerja dan terus aktif beraktivas karena yakin akan ada Mama dalam setiap hal. 🙂

Advertisements

One thought on “Tujuan Hidup: Untuk Bahagia atau untuk Berguna?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s