Seandainya saja,..

Mihik, memasuki postingan hari ke-23 dengan tema; Hal yang disesali saat ini.. Bicara tentang penyesalan, seperti membuka luka lama, ini mah. Hahaha.

Seandainya waktu SMA, ku lebih banyak belajarnya daripada main, nongkrong dan organisasi. Mungkin pas masuk kuliah, bisa lah nyelip-nyelip di PTN. Dan bisa kuliah sesuai keinginan di Psikologi.

Tapi, kalau waktu itu impian jadi kenyataan di Psikologi, jangan-jangan ku ndak bisa lulus dalam 3,5 tahun, ndak bisa jalan-jalan karena tugasnya banyak, ga kerja duluan, dan jangan-jangan hari ini kerjanya malah ga di human capital. Iniloh kuliah di Informatika, kerjanya dibidang yang kukira hanya anak psikologi yang bisa masuk.

Kenapa sih, orang tuaku ndak mampu membiayai kuliahku sampai selesai, sehingga ku harus kerja sambil kuliah?

Kalau aja waktu itu, keuangan keluarga baik-baik saja, saya mungkin akan ‘terlena’. Ndak tau apa yang namanya kerja keras. Ndak tau apa yang namanya rezeki Allah itu nyata dan terpampang selalu didepan mata. Ndak bisa menghargai apa yang telah orang tua perjuangin buat kelangsungan hidup keluarga.

Seandainya saja kemarin nikah setelah pacaran bertahun-tahun..

Hoah! Untungnya tidak, karena ternyata cinta itu buta. Baru merasa ga cocok dan lega udahan setelah sudah tidak bersama. Akhirnya tau rasanya ketemu orang yang kalau ‘nyambung’ dan ‘cukup’. Menjadi diri sendiri tanpa perlu risau dan watir. Tenang meski jauh.

Alhamdulillah, ku merasa ndak ada yang perlu disesali. Keluarga yang cukup tidak berlebihan bikin ku jadi orang yang mau bekerja sedikit lebih keras untuk tetap survive. Meski sempet ‘berantem’ sama Mama karena ndak didukung kuliah dijurusan yang kumau, ku bersyukur masih memilih untuk mengikuti mau Mamam daripada memaksakan apa mauku, Sehingga sekarang bisa kerja ditempat yang emang aku inginkan.

Ku tak lagi menganggap pernikahan itu sebuah prestasi atau impian yang harus kejadian, sehingga kulebih memilih belajar lebih banyak tentang apa-apa yang terjadi didalam pernikahan orang-orang disekitar dan belajar lebih banyak tentang perbedaan pendapat, ego dan kompromi. Sehingga, semoga jika waktunya tiba, ku akan lebih siap.

Apapun ujian dan kejadian yang Allah kasih, pasti ada hikmahnya, pasti ada maksudnya. Dan semuanya insyaAllah baik.

Hanya satu hal, yang sampai saat ini kusesali dan ku belum nemu hikmahnya adalah;

5 tahun yang lalu, ku sempet dideketin oleh seorang editor dari penerbit Gagasmedia & Bukune. Beliau memberi kesempatan untukku menulis dan menerbitkannya disana. Awalnya tentu saja ku semangat, mana pada zaman itu penerbit Gagasmedia cukup bergengsi. Teruuuus, ku males-malesan. Huhu. Sampai akhirnya terlupakan.

Sedihnya ga berenti-berenti sampai hari ini.

Kalau kamu? apa yang disesali di hari ini?

Advertisements

5 thoughts on “Seandainya saja,..

  1. Om jen

    Penyesalan itu buah pikiran nia. Buah dihasilkan dari pohonnya. Sy lebih suka membalik pikirannya. Kita ga ngejudge pikiran orang yah. Tp andaikata “keandaian”itu terjadi maka sy pun tak bs menentukan masa depan stelahnya, bisa itu lebih buruk,sama saja atau lebih baik. Awamnya kita berharap lebih baik. Padahal…. itu sekedar harapan, Dan dimana kita berdiri sekarang adalah pencapaian.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s