Category Archives: Traveling

Mlaku mlaku Nang Yogyakarta

Yogyakarta adalah salah satu kota yang saya rekomendasikan untuk get lost. kenapa? Karena yogya itu seru banget, kota pelajar ini, punya banyak tempat yang bisa dikunjungi, makanan yang bisa di icip icip dan public transportation yang memadai. Menjelajah Jogja tidak cukup hanya 2 hari. Saya perlu sampai 3-4 kali bolak balik Yogya untuk bisa menginjakkan kaki disetiap tempatnya.

Apa aja yang seru di kota ini?

1. Wisata Candi

Aneh deh kalo ke Yogya ga mampir ke Candi. Candi kan khasnya yogya gitu. 3 Candi seru yang bisa dikunjungi di sini; Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Boko.

Perlu waktu lebih lama untuk bisa ke Candi Borobudur. Sekitar 1-2 Jam dari Yogya. Candi Borobudur terletak di kota Magelang. Aksesnya sih, harus sewa mobil kali ya biar lebih praktis. Biaya masuknya 30 ribu per-orang. + 7.500 untuk menikmati bus kelilingnya. Disini, kita bakal dikasih kain gitu yang diikatkan dipinggang. Walaupun sudah ga termasuk dalam 7 keajaiban dunia, Candi ini masih jadi tempat yang kudu kita datengin dan popotoan. :p

Image

Say hi to Borobudur!

Image

“Bicara pada Budha” Caption pict di Path nya Babang

Image

Tekstur gunung yang menyerupai orang tidur

Kejauhan harus menempuh jarak sampai Magelang? Yogyakarta kota juga ada candinya kok. Candi Prambanan. Candi ini terletak tak jauh dari pusat kota. Aksesnya pun tak harus menyewa mobil. Kita bisa menggunakan moda transportasi TransJogja yang kita naiki dari Malioboro. Selanjutnya, saya sarankan naik andong sampai ke pintu masuk. Kenapa? hemat tenaga, karena didalam kita akan berjalan lumayan jauh. Tarif masuk dan tarif mobil kelilingnya sama dengan Candi Borobudur. 🙂

Image

Candi Prambanan

Sudah puas mengelilingi Candi Prambanan, sekalian deh mampir ke Candi Boko. Candi ini tak jauh dari Candi Prambanan. Harga tiket masuknya sekitar 10ribuan. Ga sempet sunset-an di pantai, bisa dinikmati di area Candi ini. Berhubung saya belum kesempetan nginjek kaki di Candi ini, saya sertakan foto temen sebelah kubikel yang sudah pernah main ke Candi Boko.

Minta foto sebelah kubikel yang uda nginjek Boko :D

Candi Boko

2. Wisata Pantai

Tidak hanya terkenal karena Candi nya. Yogya juga dikenal akan ke-eksotis-an pantainya. Siapa yang tak kenal dengan Parangtritis. Kawula muda Yogya sering menyebutnya dengan Paris. 😐 Setelah Parangtritis, muncul-ah pantai pantai lain yang tak kalah bagusnya.

Membutuhkan waktu 1-1.5 jam untuk menggapai Pantai Parangtritis. Lebih efisien dengan menggunakan mobil pribadi/sewaan. Jarang public transportation soalnya. Sayang, saya mengunjungi pantai ini disaat mendung sedang melanda. Ke ciamik-an pantainya berkurang seiring tidak adanya matahari, langin biru dan awan putih. 😦

Pantai di Balik Bukit.

Pantai di Balik Bukit.

yogya-h

Pantai Parangtritis

Di Pantai ini, ada andong buat keliling, ada kuda juga yang disewain dan, ada mini ATV dong! yang kesemuanya bisa kita mainin di pinggir pantai. sambil kejar kejaran sama ombak! ~~~\o/

yogya-f

recomended to try!

Mini ATV! Ngeeeeenggg!!

Selain Parangtritis, saya berhasil ngegeret geret tuan rumah untuk ngajakin ke Pantai Indrayanti. Pantai bebas sampai berpasir lembut. Pantai Indrayanti terletak dibelah sononya Pantai Parangtritis. Agak sedikit lebih jauh dari Parangtritis. Disana ada bebatuan bebatuan gede kaya di Belitung! seru! 🙂 Ps. Tidak disarankan ke Pantai ini ketika bulan puasa. Pantai tanpa es kelapa seperti cikidaw cikidaw tanpa aweu aweu.

yogya-j

Pantai Indrayanti

yogya-i

Lagi surut 😐

yogya-k

I heart you \o/

3. Wisata Gunung

Candi, punya. Pantai, ada. Yogya juga ada wisata gunungnya! huwo. Sekali ke kota ini, bisa dapet macem macem. Adalah off road di Merapi salah satu kegiatan yang harus di coba kalo pas lagi main kesini. Sayangnya, tidak dianjurkan jika merapi sedang aktif ‘batuk batuk’. Off road di Merapi bisa pake 2 kendaraan. Mobil atau Motor. Sensasi serunya seperti main di Dufan. Badan pegel pegel kepentok besi mobilnya. Ga disarankan buat yang engga suka adventure. Ekstrim soalnya.

Let's do fun!

Nyetir sendiri? Ya engga-lah! Supirnya kan lagi disuru moto 😛

Berharap motor jadi Objek, malah jadi Background :)))

Letaknya di sekitar gunung Merapi. Aksesnya masih tetep kudu pake mobil pribadi/sewaan. Sewa mobilnya 250 ribu untuk kapasitas 4-5 orang. dan 100-150 ribu untuk motornya. Bisa nyetir sendiri, atau disupiri mas masnya.

Selain merapi, kita juga bisa mendaki seru ke Gunung Api Purba. Letaknya ga jauh dari bukit cinta. Bisa diakses pake motor pula \o/ perjalanan memakan waktu satu jam. Naik gunungnya, satu jam. Leyeh leyeh di puncak, satu jam. Turun gunung 45 menit. Kembali ke Yogya, satu jam. Hanya perlu 4 jam untuk menikmati kawasan ini 🙂

Gunung Api Purba \o/

Meski cuma sejam, medannya terjal.

yogya-r

Mencoba tetep semangat. ><

yogya-q

YOGYAAAAAA!

4. Body Rafting di Goa Pindul

Saya lupa kapan Goa Pindul ini jadi tiba tiba nge-hits jadi wisata di Jogja. Akhirnya, saya mengajak 2 orang adik untuk turut serta dalam trip Jogja. Disambut baik oleh Mas Wimbo dan Mba Tika yang menemani sekaligus menanggung akomodasinya. haha. Hamdallah. Disini, kita cuma tinggal duduk di Ban, dan menikmati indahnya alam. Belajar tentang stalaktit dan stalakmit. Main main air terjun dan Loncat dari ketinggian lumayan.

Disini ada 3 pilihan paket wisata. Seharga 30-40 ribu/paket. Bisa milih lebih dari satu. Kemarin, saya nyoba cave tubing Pindul dan cave tubing Oyo.

Tipsnya, jangan kesini pas long wiken. Saya kemarin pas bulan puasa. Sepi. Jadi khusyu menikmati alam. Akhir maret lalu, saya kembali ke wisata ini disaat long weekend. Crowded ampun. Ga kerasa liburannya 😦

yogya-y

yogya-x

Cave tubing Pindul

yogya-w

Cave tubing Oyo

yogya-v

Loncat di ketinggian 2m 😐

Menuju Goa Pindul, kita tetep harus menggunakan mobil pribadi/sewaan. Dari Yogya mengarah pada Wonosari. Ikuti jalan, sampai menemukan papan ijo bertuliskan Goa Pindul. Nanti akan ada tukang ojek yang mengantarkan kita ke tempat lokasi dengan cuma cuma alias tanpa bayar.

5. Pusat kota Yogyakarta

Udahan sewa menyewa mobil dan mengunjungi tempat tempat wisata yang jauh dari kota Yogyakarta. Sisa sehari sebelum pulang. Nikmatilah dengan berjalan jalan disepanjang jalan Malioboro. Banyak baju dan pernak pernik lucu yang bisa kita tawar sebelum membeli. Mampir sekalian ke Mirota Batik untuk kualitas yang lebih baik. Atau Pasar Beringharjo untuk bisa tawar menawar lebih lama. 2 tempat ini berada di lingkungan Malioboro. 🙂

yogya-z

Jl Malioboro

Masih punya waktu? Mainlah ke Keraton Yogyakarta. Bisa dengan menumpang becak yang berseliweran di sekitar Malioboro. Disana, kita berjalan jalan melihat keraton Yogya itu seperti apa. Lumayan banget jadi wisata sejarah. Mampir juga ke area Taman Sari. Tempat dimana dulu, selir selir kerajaan tinggal.

yogya-aa

Keraton Yogyakarta

Taman Sari

Taman Sari

Bertahanlah diarea alun alun ini sampai malam. Ketika hari mulai gelap. Coba deh, melewati dua pohon beringin yang ada di alun alun dalam keadaan mata tertutup. Rumornya, kita menyebutkan siapa pujaan hati kita dalam hati. Kemudian lewati pohon beringin tsb. Kalo sukses, maka kita akan berjodoh. Konon katanya sih gitu. Saya sih ga percaya ah 😛 Kalau kamu malu, main main aja disekitar situ, lumayan bisa ngetawain orang orang yang belok beloknya ga karuan. ihihihi.

yogya-ac

Mencoba peruntungan

Puas olahraga rahang karena ngetawain yang mencoba peruntungan. Nikmati keliling kota Yogya dengan naik sepeda berwarna warni ini. tarifnya sekitar 30-50 ribu per 15 menit.

yogya-ad

Tidak pernah ada habisnya membahas kota Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari kota ini candu seperti halnya Bandung memberi candu pada saya. Dalam 2 tahun terakhir, saya sudah mengunjungi yogya hampir sampai 5x. Tempat tempat yang saya ceritakan disini adalah hasil dari berkali kali berkunjung. Ya, tak kan cukup puas jika mengunjungi Yogya hanya waktu 2 hari.

Untuk kuliner, jangan pernah diragukan. Yogya adalah kota pelajar, dimana kita akan menemukan banyak mahasiswa mahasiswi kece. Tempat makan pun oke oke. Dari cafe sampai Angkringan harus kita coba. Next time, akan saya kupas juga kali ya, masalah kuliner dan oleh oleh Jogja. 🙂

Postingan ini, saya khususkan untuk Soulmate-nya saya yang baru saja menikah dan akan mengunjungi Yogya bersama suaminya. Silahkan dilihat, tertarik kemana. Let me know, pengen kemana, nanti saya bantui arrange tempat sesuai waktu yang kamu punya ya! 🙂

Solo Traveling, Why Not?

Saya memulai kegiatan traveling sejak bulan pertama berada di Jakarta, tahun 2012. Saya mulai dengan mengikuti salah satu agen perjalanan yang mengakomodir trip. Saat itu tujuan kita ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Karena masih newbie, temen temen banyak yang menolak ajakan saya karena itu akhir bulan, dan budget nya lumayan. 350 ribu. Jadilah saya ikut seorang diri. Pertama kali nyampe di Meeting Poin dan melihat orang orang bercengkrama bersama teman temannya, sementara saya sendirian, rasanya ingin langsung pulang. Mengingat uda terlanjur bayar dp separuh harga trip, niat pulangpun diurungkan. Cerita lengkapnya ada di postingan ini dan ini.

Bulan berikutnya, saya trip ke Karimun Jawa. Ditemani oleh Mba Yuni & Kak Wira, seseorang yang saya kenal di Trip Pulau Harapan ini. Bulan berikutnya saya trip ke Pulau Pari, yang masih ditemani oleh Mba Yuni. Bulan berikutnya saya ke Dieng, Wonosobo ditemani oleh Mba Ine, Kak Wira dan Mas Bombom, ketiganya saya kenal di Trip Pulau Harapan. Dipergantian bulan antara Juni dan Juli, saya DuoTraveling bersama rekan saya, Agung, ke Solo.

Setelah beberapa kali mengarungi trip rombongan sana sini, saya pun mulai kepikiran untuk ber-Solo Traveling. Mulailah pada bulan November, bulan dimana saya berulang tahun. Kota tujuan jatuh pada Kota Semarang. Dengan mengandalkan tiket promo, saya terbang ke Semarang untuk get lost disana. Namun yang terjadi, saya menemukan satu satunya teman seangkatan ketika SMA, dan berbaik hati mau nganterin muter muter. Maka, Solo Traveling kali ini, gagal 😦 BirthdayTrip nya baca disini deh.

Ditahun 2013, saya mulai tobat traveling perbulan. Saya mulai menjaga jarak 2 bulan sekali. Tapi kali ini pake pesawat 😀 Perjalanan dibulan pertama ke Negeri Laskar Pelangi. Tempat dimana (dulu) saya kira, hanya orang kaya yang bisa kesini. Ternyata orang kaya saya bisa juga nginjek Belitong, meski harus berbekal tiket promo. Promo dimana, pada akhir januari maskapainya dinyatakan pailit. ihihi  Trip ini bersama Mas Wimbo (temen yang saya kenal ketika di Pulau Harapan) dan Kak Febby (temen kantor saya)

Pada bulan Mei, saya kebagian rezeki untuk dapetin tiket promo ke Surabaya bersama Mas Wimbo dkk, kita mutusin untuk ke Malang. Dan kami memutuskan untuk mendaki semeru! iya, semeru! hooh, Ndaki gunung! Iya itu, gunung 5cm, mamam. Jadi gini, di pendakian itu, saya sendiri perempuannya. Satu satunya cewek. Diantara 8 orang lelaki. 😀 Ceritanya, simak disini.

Saya sempat menyelipkan #familytrip dibulan puasa. Ya, bulan puasa. Saya ngetrip di bulan puasa ke Yogya. Ke goa pindul. Ditemani oleh 2 orang adik, temen kost-an, dan Mas Wimbo Mba Tika yang berdomisili serta berbaik hati turut serta menemani selama ke Goa Pindul.

Saya kembali mulai memikirkan, kapan dan kemana akan ber-Solo Traveling, seperti cita cita saya dulu. Dibulan November, saya memutuskan main ke Madiun, selama perjalanan sih saya iya sendirian, tapi di Madiun saya langsung di jemput sama Mas Alif, temen kuliah jaman di Bandung. Dan berjalan jalanlah kami ke Pacitan. Setelah itu, saya minta izin untuk mampir ke Malang, nyekar ke Makam Mbah. Dalam perjalanan Madiun – Malang sih iya saya sendirian, tapi di Malang saya di jemput oleh temen SMA saya, Zein. Yang akhirnya mengantarkan dan menemani saya selama di Malang.

Somehow, saya bersyukur, kemanapun saya melangkah selalu saja ada teman yang dengan baik hati mau untuk menemani saya menjelajah. Saya harus bersyukur juga sekolah di SMANSA, which is, ketika lulus, anak anaknya pada kuliah ke seantero Indonesia, keuntungannya bagi saya yang suka jalan jalan gini, selalu ada teman ketika berkunjung. Tapi disisi lain, saya jadi kepikiran, kapan saya get lost nya? 😐

Secercah harapan muncul diawal tahun 2014. Saya berkesempatan mengunjungi Yogya untuk menghadiri undangan pernikahan. Sisa harinya rencananya saya gunakan buat get lost. Namun, lagi lagi Gagal. 😦 Saya kembali ditemani teman teman selama di sana.

Kesempatan itu akhirnya hadir di bulan berikutnya, Februari 2014. Saya mendapatkan promo ke Bali. Dan akhirnya, saya ber- Solo Traveling!

20140222_103158 copy

Terminal 1C – Bandara Udara Soekarno Hatta

Saya sempet nervous. Inilah perjalanan pertama saya tanpa orang yang akan menjemput di kota tujuan. Saya sempet deg-deg an ga jelas berujung pada menelepon ayah dan ibu untuk meminta doa agar diberi keselamatan dalam perjalanan. Kenapa Bali? Karena saya pengen belanja ke Joger. Dan pengen ke Ubud. Dulu pernah #familytrip ke Bali. Tapi ga sempet mampir ke Ubud. Berapa lama? 2 hari. Sabtu Minggu. Iya, saya sok kaya. Tiket pesawatnya 50ribuan kok sekali jalan 😉

20140222_130239 copy

Jalan Tol diatas Laut, cuma ada di Bali

Bali berubah! begitu reaksi saya ketika menginjakkan kaki di Ngurah Rai. Airport nya jauh lebih besar dari terakhir kali saya kesini. Sudah banyak makanan fast food disekitaran bandara. Saya berjalan kaki keluar bandara. Ngegembel cari taksi ceritanya. Dan.. perjalanan dimulai! *excited*

Dua minggu sebelumnya, saya sudah booking hotel via livingsocial. Salah satu hotel disekitaran Kuta, dibanderol harga Rp. 250.000,- semalem. Dan bersyukurnya saya, harga on the spot mencapai 3x lipatnya.

20140222_203803 copy

Yang paling murah Rp. 750.000,- 😐

Tujuan pertama saya setelah menaruh barang dan Sholat Dzuhur & Ashar adalah ke Joger. Yap. Agenda hari itu saya hanya ingin ke Joger. Belanja sendal dan pernak pernik khas Joger. Saya memutuskan untuk Jalan kaki aja dong dari Hotel, yang ternyata jauh nya banget banget. Antara 1-2 km. 😐 Saya dehidrasi dan kelaparan akut, sehingga memampirkan diri ke Warung Nasi Bu Andhika yang letaknya persis diseberang Joger.

20140222_184117 copy

Pelangi Setelah Hujan

Sebelum pulang, ada Pelangi cantik dilangit Bali. Kala itu, Jakarta sedang dirudung hujan deras dan bnjir dimana mana. Sementara di Bali, langitnya Cantik. Penyesalan saya hari itu adalah; kenapa saya ga sunset-an di Kuta! eerrrr. Lelah berjalan kaki ketika pergi tak akan saya ulang diperjalanan pulang ke hotel, untuk itu saya memilih naik taksi. Dan.. salah jalan. Harusnya Dewi Sri, saya menyebutnya Dewi Sartika ke Supir Taxi. Argo jadi dobel. >,<

Saya nyampe di hotel sholat Maghrib dan kecipak kecipukin kaki di kolam renang. Me Time banget. Sambil ngeliatin bule bule yang juga lagi berenang malem malem. Setelah Isya, saya berjalan kaki ke Khrisna yang alhamdulillah letaknya deket sama hotelnya.

Setelah itu? Saya ngendem di kamar nonton sinetron. Iya, nonton sinetron. Jauh jauh ke Bali saya malah nonton Sinetron di hotel di balik selimut. Mana waktu itu adegannya banyakan mewek pula, ya. Saya nangis aja gitu sesegukan menikmati alur cerita. :”))) Ya kapan lagi yeken, nonton sinetron di Hotel. 🙂

Untuk ke Ubud, karena saya sendiri, hasil googling, saya menemukan ada shuttle bus Kuta – Ubud. Untuk yang kearah Ubud hanya ada pada pukul 6 pagi dan 10 pagi. Karena pengen leyeh leyeh bangun agak siang menikmati empuknya spring bed hotel, saya memilih untuk berangkat pada pukul 10 pagi.

20140223_093120 copy

Legian Street

Jangan berharap busnya seperti Damri dari Jakarta – Bandara Soetta. Nyaman dan Ber-AC. Busnya sederhana, Bus ber-AC Alam (baca : berjendela terbuka). Seperti bus Damri non AC Bandung – Jatinangor. Haha. Atau kaya kopaja kopaja di Jakarta. Isinya mayoritas bule yang bawa tas gunung segede gede gaban. Jilbaber? cuma saya doang. Sering disapa dengan, “Malaysia ke?”

Saya menikmati perjalanan. Memandangi pemandangan, sampai akhirnya angin sepoi sepoi membuat saya tertidur sempurna. Kuta – Ubud menghabiskan waktu 1,5 Jam. Poolnya di Ubud dekat sekali dengan Monkey Forest. Saya memilih untuk update path saja tepat di gerbangnya. Saya sempet googling on the spot juga, intinya kalo masuk ke Monkey Forest, kita akan disambut sama monyet monyet. Ogah! Mana sendiri. Mau peluk siapa 😐

Saya mampir ke salah satu swalayan membeli ice cream, sambil menikmati ini..

20140223_113155 copy

Ubud Cerah!

Ice cream habis, saya berjalan kesekitaran. Melihat lihat. Masuk masuk ke tempat jualan jualan khas Bali. Mendatangi penyewaan motor, dan tidak berhasil menyewa barang sebiji. Full booked 😦 Cuaca yang cerah, dan badan pegal memanggul ransel, saya memilih untuk neduh di sebuah cafe.

20140223_125044 copy

is waiting for you..

Saya menghabiskan waktu selama 2-3 jam di cafe tersebut. Memesan segelas minuman dan sepiring kentang goreng. Berdiam menikmati ubud. Berdialog pada diri sendiri. Sesekali menunduk melihat gadget. Membaca buku. Melihat sekitar. Bule bule berlalu lalang. Pramusaji bekerja. Mengamati sekitar. Saya merasakan nyaman sekali. Ya, saya nyaman dengan diri sendiri. Bahkan ketika sendiri.

Kenyamanan saya terusik ketika jarum jam mendekati pukul 3 sore hari. Pertanda bus saya kembali ke Kuta akan segera berangkat. Saya meninggalkan Ubud dengan penuh rasa cinta dan bermimpi suatu saat akan kembali lagi.

Flight schedulle saya kembali ke Jakarta pukul 8 Malam WITA. Saya menyempatkan diri untuk berjalan jalan disekitaran Kuta. Kembali keluar masuk toko dikiri kanan jalan. Sampai akhirnya perjalanan saya berujung pada pantai Kuta. Kembali mengamati sekitar. Bule bule berjemur. Penjaja kain bali. Orang orang yang berputar putar di udara pake semacam parasut.

20140223_182221 copy

Kuta Beach

Sunset gagal ketika mendung mendadak mengusik matahari yang ingin tenggelam. Saya bergegas ke Bandara. Jalan Kuta mulai padat kendaraan oleh orang orang yang baru saja mencoba peruntungan menikmati Sunset.

Saya nyaris tidak melakukan percakapan berarti selain dengan resepsionis hotel, supir taksi, satpam hotel dan resepsionis shuttle bus. Selebihnya, saya berdialog pada diri sendiri. Rasanya? menyenangkan. Get lost sendiri itu candu. Saya ingin lagi. ingin lagi. Ya paling tidak, sekali seumur hidup, cobain deh. Kamu bakal ngerasain gimana survive ditempat asing. Gimana harus bisa mengambil keputusan ketika dihadapkan oleh beberapa pilihan. Gimana bertanggung jawab ketika pilihan yang kamu ambil salah. Gimana senangnya, ketika apa yang kamu pilih benar. Gimana serunya bisa bilang, “Aku ternyata bisa juga ya, hidup sendiri”

Epilog

Saya memandang keluar lewat jendela pesawat ini. Para penumpang satu persatu memasuki pesawat. Pragumari sibuk membantu menyiapkan bagasi kabin. Dalam hati saya bergumam, “Iya sih, lagi solo traveling. Tapi kok ya ngerasa sendiri banget gini. Ga ketemu dan kenalan sama siapa siapa.” Saya kembali membaca sebuah novel “Project Happiness” yang baru saja saya beli di Bandara.

“.. kepada para penumpang, diinformasikan sesaat lagi pesawat ini akan lepas landas dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Harap membuka penutup jendela. Gunakan sabuk pengaman. Untuk alasan keselamatan, lampu di kabin akan dimatikan..”

Saya menghela napas panjang. Menutup buku. Mencoba memejamkan mata sampai pesawat ini benar benar lepas landas. Menoleh ke penumpang sebelah, mata saya terusik oleh si Bapak yang mengeluarkan bundelan kertas bertuliskan ‘SKENARIO PARA PENCARI TUHAN 7 Episode 1″. Saya mencoba menoleh lebih jauh ke muka si Bapak. Berusaha mengingat, apakah beliau salah satu pemainnya. Pemain sebagai apa.

2 menit kemudian, si bapak mengajak saya berbincang bincang. Kami terlibat percakapan yang menyenangkan. Setidaknya saya beberapa kali tertawa. 10 menit sebelum landing. Beliau menyerahkan naskahnya pada saya, “Suka baca, ya? Mau baca ini?” Ujarnya sambil menyerahkan bundelan kertas tersebut. “Bapak, pemainnya?” tanya saya akhirnya. Rasa penasaran harus dituntaskan sebelum berpisah. “Bukan, saya sutradaranya.” jawabnya enteng.

Saya membaca halaman demi halaman naskah PPT. Sesekali tertawa ketika membaca bagian lucu yang selalu jadi daya tarik sinetron tersebut.

Save aja nomer saya. Kalau kamu mau, mampir aja ke lokasi syuting. Nanti saya kenalkan pada temen temen pemain PPT.”

Malem itu, saya diantar pulang oleh Sutradara PPT dan penulis skenario bajaj bajuri dan Suami suami takut istri yang kebetulan rumahnya searah dengan jalan ke kost-an saya.

3 minggu kemudian, saya berkeliaran disekitaran lokasi syuting untuk bertemu dan belajar arti dari syuting sinetron itu seperti apa. Bapak yang baik hati itu selalu bilang pada setiap orang, “kenalkan, ini Nia, saudara saya dari Batam.”

Dear Allah, thankyou untuk pengalaman luar biasa kali ini. Dan hey Jakarta, lagi lagi kamu menggemaskan!