Category Archives: DKI Jakarta

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Ada yang spesial di perayaan Hari Pendidikan Nasional tahun ini untuk saya. Saya percaya, tidak ada yang kebetulan, semunya tentu saja ada dia Sang Maha Pengatur. Tiba-tiba saya dapet notifikasi keterima sebagai volunteer di kegiatan Dompet Dhuafa pada tanggal 29 April – 1 Mei 2016, which means, keesokan harinya, 2 Mei 2016 saya harus stand by untuk kegiatan Kelas Inspirasi Jakarta yang sudah lebih dahulu saya tahu, pengumumannya.

Menjelang Hari Pendidikan, saya dapet kesempatan untuk mengisi teaching indoor class bareng Zi (Mahasiswa Ui), Aini (Dokter Gigi), Silvia (Mahasiswa) & Ghaniy (Bekerja di salah satu perusahaan kontraktor) di MI Al Khoeriyah, Desa Cintamanik, Bogor.

Awalnya sih saya sempet gimana gitu, ya, di Kelas Inspirasi aja menjadi fasilitator, eh dilalahnya malah kebagian ngisi kelas di MI, Kelas 5 pula, tergolong kelas besar yang seringkali saya hindari di Kelas Inspirasi. Hehe.. Karma does exist. 😛

20160430_062936

Sekolahnya? luar biasa. Berada ditengah hehijauan sawah dan gunung dengan tidak ada bangunan lain didekatnya. Anak-anaknya seru. Mereka belum mengenal gadget, tidak ter-distract dengan sinetron. Lesson Plan yang kami berlima siapkan, bisa kami sampaikan dengan sangat baik. Continue reading

Advertisements

Menyantap Makan Siang di Sate Djono Pejompongan

Ada yang suka menu masakan dengan bahan dasar Kambing? Kalau iya, kamu mungkin harus icip icip lucu di Sate Djono Pejompongan, Jakarta. Menyantap Makan siang di Sate Pejompongan, Benhil ini menyediakan berbagai menu dengan bahan dasar Kambing.

Tentu saja, Sate Kambing menjadi primadona di sini. Rasa dagingnya lebih kenyal dan lembut.

20150429_131225 copy

Sate Kambing, Rp. 70,000,-

Menu yang mengandung kambing selain sate, ada juga sum-sum kambing. Pada menu bisa pilih Gulai Jeroan. Porsinya gede, kuahnya seger. Continue reading

Dibawah langit Ibukota.

20140412_110443-a

Dulu, kerja di Jakarta engga banget dalam pikiran saya. Ngapain? Menenggelamkan diri dikemacetannya yang naudzubillah itu. Dan Tuhan ‘menyentil’ ucapan sombong saya itu. Sampai pada akhirnya, saya jadi budak ibukota.

Pelan tapi pasti, saya menghabiskan waktu di Jakarta. Awalnya saya senang. Saya bersenandung bahagia sambil jalan kaki dari kost-an ke kantor. Selama saya tidak menikmati macetnya, saya dan Jakarta baik baik saja.

Setahun berselang, saya pindah kerja, dimana menuju kantor baru itu mengharuskan saya naik Kopaja sebagai moda transportasi. Saya mulai merasakan sensasi aneh aneh. Macet tanpa ampun dikala hujan. Tangan tangan tak terhindarkan yang tiba tiba nempel di badan. 😦

Dilain waktu, saya yang sedang membawa barang sumbangan untuk para korban banjir, malah menjadi korban pencopetan didalam kopaja. Jakarta keras? banget! hiks.

Disisi lain, disinilah pertama kali saya nonton standup comedy secara langsung. Mendatangi Jakarta Book Fair. Mengunjungi tempat-tempat wisata. Mencicipi aneka makanan khas Nusantara. Nawar baju sampai puas di Tanah Abang. Ngubek ngubek toko buru nyari buku. Sempet ikut ngeksis dan ngerasain syuting sinetron Ramadhan. Mengikuti event event kece yang ilmunya banyak banget. Nongkrong nongkrong di tempat-tempat gaul yang suka masuk majalah nasional.

Kesemuanya itu belum tentu saya dapetin jika saya berada diluar Ibukota.

Jika sekarang saya hanya memiliki waktu 24 jam untuk menyusuri Ibukota (yang dulu saya benci kemudian saya cintai); Maka, saya akan kembali ke tempat-tempat yang bagi saya penuh kenangan ini.

Hutan Mangrove

Tempat wisata ini berada di Utara Jakarta, pantai Indah kapuk. Tempat inilah yang menjadi saksi saya dan Dia menikmati sisi lain kota Jakarta selain Monas dan Kota Tua. Semestakung dengan tiba tiba aja saya ketemu gumpalan balon, yang kemudian saya jadikan teman untuk berfoto. Sayangnya, jika kemari membawa kamera DSLR, dikenakan tarif khusus sebesar 1 juta rupiah. 😐

Continue reading

Icip icip kepiting di Cut The Crab

20150117_175439 copy

Yang suka Kepiting, mana suaranyaaaaaa? Di Jakarta, ada tempat nongkrong dimana kita bisa ngemil ngemil kepiting. Uniknya, cara penyajian yang langsung ditaruh aja gitu diatas meja pake alas cokelat.

Nama tempatnya Cut The Crab, terletak di Jalan Wolter Mongonsidi. Kalo dari arah Blok M, kemudian menuju jalan utama Wolter Mongonsidi, lurus terus, sampe ketemu total buah, belok kiri. Udah deh, Cut The Crab terletak disebelah kanan jalan. 🙂

Pilihan kepitingnya beragam, dari single crab seharga Rp. 170,000,- sampai Big Papa (Bisa untuk 4-5 orang) seharga Rp. 1,100,000,-

Kemudian juga tersedia paket combo, isinya, Singkong, sosis, jagung, kerang, jamur serta bebas milih salah satu antara Prawns/Crawfish/Lobster, dibanderol seharga Rp. 125,000,- per porsi.

20150117_181303 copy

Ini saya dengan paket combo (prawns)  dan kepiting untuk 2 orang.

Untuk bumbunya juga macem macem, kita bisa milih dengan tambahan tingkat kepedasan level rendah, medium dan pedas. 🙂

20150209_201626 copy

Masih dengan paket kepiting untuk 2 orang dan Combo dengan pilihan Crawfish

Jom, nunggu apalagi? Coba coba langsung di tempatnya. Eh iya, saya sekali waktu pernah kesini after office hour. Masih buka sampai jam 12 malam. 🙂

Cut The Crab

Jln Cikajang 32, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Telp 720 6810

Hutan Mangrove Wisata Alam Muara Angke, Jakarta

Bahwa ternyata, Jakarta tidak hanya ada Mall dan Ancol yang bisa kita kunjungi di akhir pekan. Setelah browsing sana sini, saya menemukan tempat kece untuk menghabiskan weekend di Ibukota. Hutan Mangrove Wisata Alam Muara Angke.

Lokasinya, disekitaran Muara Angke. Tidak jauh dari Waterboom Pantai Indah Kapuk. Harga tiket masuk, sebesar Rp. 25.000,- per orang. Plus, biaya parkir motor sebesar Rp. 5.000,-.

Yang mengejutkan dari tempat ini. Boleh membawa DSLR dengan syarat, bayar Rp. 1.000.000,-. Satu juta rupiah. 😐 Untungnya, untuk kamera handphone diperbolehkan. So, foto foto yang tersedia dibawah, hasil dari kamera hengpong.

Pertama yang saya temui setelah berjalan dari pintu masuk adalah pendopo pendopo lucu ini.

Jpeg

Say Piss!

Kebetulan, saya datang tepat di hari pertama bulan Ramadhan. Jadinya sepi banget. Orang orang memilih untuk santai santai dirumah kali, ya. Serasa jadi tempat wisata sendiri. Bebas ekspresi tanpa antri untuk eksis diri. ihihi.

Continue reading

The Packer Lodge, Jakarta

Saya suka iseng. Termasuk untuk nginep di sini, termasuk iseng. Berawal dari baca artikel tentang hostel di Jakarta, saya memutuskan untuk icip icip juga rekomendasi hostel yang ada di Ibukota. Semacam wisata hostel gitu. Iya, saya tertarik untuk wisata hostel, setelah mencicip inep di EduHostel Yogya, sama GreenKiwi Hostel di Singapore. Rasanya seru aja, ketemu roommates yang kebanyakan bule. Kita bisa ngobrol, cerita, dan buat saya, bisa ngelatih saya berbicara dalam bahasa inggris.

Akhirnya, booking lah saya di page hostelbookers. Untuk satu malam di The Packer Lodge di bilangan Glodok. Saya dimudahkan dengan email dari Hostelbookers untuk Directions How To ke Hostel ini. Gampang sih. Deket dari Halte Busway [Penting. :))].

Seperti Hostel kebanyakan, tampilan depan nya yang biasa aja. Padahal dalemnya luar biasa. 4 lantai dengan design yang lucu lucu. Menggapai hostel ini, lebih simple kalo naik Busway, turun di Shalter Glodok. Turun dari tangga sebelah kiri. Lantas, berjalanlah kearah seberang LTC Glodok. Hanya sekitar 100 m dari Tangga Busway. Nanti kelihatan plang Jl Kemurnian IV. Jalan masuk kedalam 60 m, sampai menemukan Plang dibawah ini.

Welcome Board

Welcome Board

Tarif menginap untuk female dorm di hostel ini Rp. 150,000,- dengan deposit 12% diawal menggunakan Credit Card. Sisanya dibayar ketika kita datang. Ada deposit juga yang harus kita setorkan sebesar Rp. 200,000,- yang tentu saja akan dikembalikan ketika kita check out. Continue reading

Titik 0 Indonesia, Jakarta.

20140412_110443-a

Patung Selamat Datang, Selamat Datang Jakarta

“Sini kerja di Jakarta, Is. Digaji 5 juta, deh” Ujar salah satu teman kuliah yang sudah terlebih dahulu kerja di Jakarta.

“Engga, ah! Jakarta panas” Jawab saya.

“Yee. Mau sukses kok takut panas.” Ujarnya lagi.

Setahun kemudian, saya pindah kerja ke Jakarta. Terkadang manusia terbiasa menjilat ludahnya sendiri. 😐 dan manusia itu, salah satunya, saya.

Kenapa saya ingin berdomisili di Jakarta?

Simple saja, saya memiliki mimpi untuk menjelajah Indonesia. Untuk itu, akan mudah jika perjalanan dimulai dari Jakarta. Dari Batam, saya harus mengandalkan moda transportasi pesawat terbang, sementara dari Jakarta, saya bisa mengandalkan bus sampe ke pulau sumatera.

Saya memberanikan diri untuk melancong ke Jakarta seorang diri. Yap, seorang diri. Luntang lantung kaya anak ayam kehilangan induk di Ibukota. Saya memberanikan diri untuk mengambil kerjaan sebagai implementator, pekerjaan yang selalu saya hindari sedari saya menjadi sarjana. Menuju Jakarta, saya berkali kali menjilat ludah sendiri.

Kost-an pertama saya di Jakarta, tepat diseberang Mall besar milik Jakarta Selatan, Gandaria City. Rp. 600,000,- sebulan. kamar kecil berukuran 2m x 2m. Berpintu dan berdinding triplek. Kamar mandi diluar. Beralaskan karpet. (ya, menurut ibu kost, itu kasur. Menurut mata saya, itu hanya karpet). Berjendela kecil, selayaknya jendela kamar mandi. Sederhana sekali. Lingkungan sekitarnya, rapat rapat. Padat penduduk.

Saya ingat benar, hari pertama kali saya kerja di Jakarta. Saya bersemangat sekali pergi ke kantor yang ditempuh dengan jalan kaki dari kostan saya. Saya terkampung kampung ketika melihat kereta api melintas menemani perjalanan saya ke kantor. Saya meyakini diri, bahwa saya siap menjadi bagian dari Jakarta.

Bulan berikutnya, saya pindah kostan. Ke tempat yang jauh lebih layak. Dengan Rp. 700,000,- saya mendapatkan sebuah kamar 2 x 3 m. Kamar Mandi didalam. Kasur, lemari dan Kipas Angin. Parkiran Motor. Dekat dengan warung jajan, penjual pulsa dan londri-an. #penting Meski untuk ini, saya harus jalan kaki lebih jauh. 20 menit. Dengan tarif kost-an yang menghabisi 1/4 gaji bulanan saya. Selamat datang, di Jakarta.

Adalah Jehan, teman dekat saya ketika kuliah menyusul saya kerja di Jakarta. Akhirnya, saya tak lagi luntang lantung sendirian. Saya punya teman. Klien saya, yang kebetulan kantornya sebelahan dengan kantor Jen, ngebuat kita sering nyempet-nyempetin makan malem bareng. Cerita cerita. Saling mengutarakan mimpi. Ya, mimpi yang membawa kami ada di Jakarta.

Jakarta, dimana hari hari orang orangnya berpacu dengan waktu. Pukul 8 pagi, orang orang uda menatap leptopnya masing masing. Pukul 1 siang, semua kursi sudah terisi, dan masing masing kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pukul 5 sore, di Jam pulang, semua orang masih berdiam di tempat duduknya masing masing. Errr.. Ya,  di Jakarta semua orang, gila kerja. Selamat datang, di Jakarta.

“Bu, saat ini saya sedang ada di Solo. Saya akan melanjutkan perjalanan ke Semarang esok hari. Saya baru bisa kembali ke Kantor selasa.” Izin saya suatu hari pada atasan.

dan dibales, “Akan ada meeting hari Senin. Kamu harus turut serta. Segera kembali ke Jakarta.”

Oke, di Ignore. Sorenya saya grasa grusu nyari moda transportasi untuk segera pulang ke Jakarta. Karena mendadak, saya kehabisan segala macam tiket. Saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta via Bandung. Yes, Selamat datang di Jakarta. Mau izin sehari aja susah. 😦

Sampai pada suatu hari, saya terjebak macet di sekitaran gedung MPR dibilangan Senayan, saat itu pukul 12 siang. Matahari tepat diatas kepala. Saya berdiri didalam bus tak ber-AC menuju Slipi. Saya kehausan. Saya mulai pusing. Saya muak dengan mobil yang pelan sekali berjalannya, kemudian seorang pengamen menyanyi persis disebelah badan saya, “Siapa suruh datang Jakarta. Siapa suruh datang Jakarta.” Saya serasa ingin pura pura mati saja. Selamat datang di Jakarta, Nia.

Dilain hari, saya berbaik hati mengantarkan leptop untuk dipinjem Jen selama saya main ke Bandung. Saya naik busway. 3 jam aja masa Kebayoran – Slipi. Yes, i’m crying at the time. Hujan, Jumat, After Office Hour, lewat Jakarta Barat. Oke, Selamat datang di Jakarta.

Jakarta banjir. Bundaran HI terendam. Gedung UOB memakan korban. Saya beserta beberapa teman berinisiatif ke camp pengungsian, membawa segala macam bala bantuan. Turun dari bus. Dompet saya lenyap. Jakarta ajaib. Padahal saya rame rame. Padahal tas saya didepan badan. Padahal saya diapit temen temen saya. Selamat datang di Jakarta.

Menuju tahun kedua saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion saya dulu, Human Resource. Sayangnya, kantornya dibilangan Jakarta Barat. Setiap hari saya berjuang naik kopaja untuk menerjang Jakarta Selatan – Jakarta Barat. Rasanya? Seringkali saya turun dari Kopaja dalam keadaan kucel kumel dan sudah tidak bersemangat untuk kerja. Selamat datang di Jakarta.

Ah, kalau saja ketika bercakap nanti saya bicara, ‘Ga ngerasain hidup di Jakarta, sih’ Tolong dimaklumi ya. Jakarta emang sekeras itu kehidupannya.

Di ke-apes-an hidup di Jakarta, Jakarta punya sisi lain yang ga dimiliki oleh Bandung. Tempat dimana saya dulu bekerja sebelum hijrah.

Saya ikut rombongan trip, yang karena trip itu saya jadi punya temen traveling untuk menjelajah tempat tempat di Indonesia. Saya mulai jago berburu tiket promo pesawat, saya dapet tiket harga 10 ribu untuk pp ke Makassar. tiket 100 ribu pp ke Padang, Bali dan Batam. Saya bisa mengunjungi belitung dengan tiket pp 350 ribuan. Saya mendaki semeru dengan tiket pp 200 ribuan. Saya bisa ke Bandung dengan 17 ribuan pake Kereta Api.

Di Jakarta, saya dapet kios buku langganan yang buku bukunya dibandrol dengan harga 20 ribuan. Buku asli. Jatah-an penerbit untuk kios ini. Adapula pusat jualan baju Tanah Abang, yang baju bajunya dibandrol dengan murah meriah.

Di Jakarta, event event kece banyak banget. Dari yang gratisan sampai berbayar. Saya pernah dapet doorprize handphone disalah satu acara media social. Saya pernah diundang oleh Marshanda untuk syukuran managementnya. Saya beberapa kali bersama Jen, duduk manis menjadi penonton langsung acara Stand-Up Comedy. Banyak pula seminar seminar oke yang tak berbayar tapi kita bisa pulang nenteng goodie bag lucu lucu.

Pintar memilah following di Twitter. Saya pernah diundang diacara launching Buku, ikut heboh konser Kahitna, Nobar Idol bareng Hivi! Semua Informasinya dari twitter dan serba gratis. 🙂

Tahun ini, genap 2 tahun saya di Jakarta. Gimana rasanya? Saya betah banget di Ibukota. Tuh, pake Banget. 😀

Saya mengendarai motor sekarang. Perjalanan ke kantor jadi lebih mudah. Meski, kalian harus percaya satu hal. Motor yang saya kira hanya kotor, dan pas dicuci ternyata adalah baret. Yap! Bawa motor di Jakarta itu, kalo engga di senggol ya kita nyenggol. 😦 Kalo engga, saya yang ngomong, “Maaf ya, Mas.” ada seseorang yang ngomong, “Maaf ya, Mbak”. Coba perhatikan setiap lampu merah di Jakarta, motor selalu berada didepan zebra cross. Pun saya akan berada dibarisan terdepan 😀 ketika lampu kuning, ngeeeengg.. sudah pada ngegas. Saya juga jadi ikut ikutan. Trus, Jangan aneh kalo banyak sekali motor lawan arah. Abis nya, puteran jalan di Jakarta itu jauh banget. Bisa bisa beda wilayah. Contoh kasus, saya dari Gandaria (which is Jakarta Selatan) mau ke Karet, Sudirman (which is masih Jakarta Selatan) saya harus muter lewat Bundaran HI (which is Jakarta Pusat).

Pendapatan saya sudah berlipat dari pendapatan pertama saya di ibukota. Kostan saya masih yang 700 ribu. Sudah 2 tahun, dan belum naik. Saya sekarang sekamar berdua Putri. Which is, 700 ribu dibagi berdua. Jauh lebih murah.

Saya masih rajin Jalan jalan. Masih berburu tiket promo. Masih berburu diskonan untuk belanja buku belanja baju. Lagi aktif aktifnya ikut kelas Akademi Berbagi.

Saya bahagia karena saya selalu ada kesibukan. Saya senang karena temen superjuangan saya, Jen pun demikian. Seperti saya yang sedang menjajal mimpi jalan jalan, Jen juga. Ia sedang menggapai mimpi mimpinya. Meski untuk itu, intesitas kita bertemu, duduk makan bareng jadi jarang sekali.

Eh iya, buat kamu yang saat ini sedang berada di Jakarta, atau berniat hidup di Jakarta seperti saya. Saya berbagi sedikit tips ya;

1. Kosan – Kantor jangan lewat jalan besar.
2. Jangan sok sok-an nongkrong after office hour di segitiga emas Jakarta (Sudirman-Thamrin-Gatsu) apalagi setelah hujan. apalagi hari Jumat. Jangan.
3. Sekali sekali naik ojek, bajaj, taksi. Biar tau jalan lain selain rute angkot/kopaja :’)))
4. Having trip 2 minggu sekali keluar Jakarta.
5. Jakarta segala ada. Ubek ubek tempat hunting buku, hunting baju dan acara seru.

At the end, Last but not least, Saya masih ingin berkeliling Indonesia lewat sini, titik 0 nya menjelajah Indonesia, Jakarta.

NB. Suatu hari, pernyatan saya diatas mungkin akan jadi bumerang buat saya ketika nanti, saya ketemu sama pujaan hati yang menawarkan kebahagiaan diluar kota Jakarta. ihihi.