Category Archives: Traveling

Oleh-oleh dari Batam, Kepulauan Riau

Libur Long Weekend kemarin saya ke Batam. Agenda utamanya adalah menghadiri pernikahan sahabat. Disusul dengan agenda lain seperti melihat rumah yang sedang dikontrakan, menebus rindu pada setiap makanan yang ada di Batam, Silaturahmi melihat anak dari teman-teman yang baru saja melahirkan.

Nah, berhubung kali ini ke Batam sebagai wisatawan (tidak pulang ke Rumah sendiri), teman-teman sepermainan yang di Batam berbaik hati untuk berbagi tugas membelikan saya oleh-oleh sebagai buah tangan untuk keluarga di Depok. Continue reading

Advertisements

Drama mencari Tenda dan Tips memilih Tenda Camping.

Awal-awal kapal Sabuk Nusantara milik PT Pelni melayani perjalanan Pelabuhan Sunda Kelapa – Kepulauan Seribu, terjadilah mini drama menyoal persoalan tenda. Kapal yang disubsidi ini emang lebih murah daripada kapal kayu milik nelayan yang beroperasi dari Angke. Namun, secara waktu jauh lebih lama. Hal ini dikarenakan rutenya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa – Pulau Untung Jawa – Pulau Pramuka – Pulau Harapan. Pengalaman saya kemarin, baru merapat di Pelabuhan Pulau Pramuka pukul 14.30 WIB. Ini mah kalau ikut opentrip udah pasti ditinggalin.

Sementara jika naik kapal kayu milik nelayan, pukul 10 atau 11 pagi kapal dipastikan sudah merapat karena jalurnya langsung Muara Angke – Pulau Pramuka tanpa transit di Pulau Untung Jawa. Continue reading

Hallo Makassar dan cara menuju Tanjung Bira

Selamat datang di kota Angin Mamiri!

Makassar adalah Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Berasal dari sebuah kata bahasa daerah yaitu mangkasara yang artinya ‘menampakkan diri’ atau ‘bersifat terbuka’. Makassar disebut juga kota Daeng, yang berarti ‘kakak’ atau ‘abang’, tetapi daeng lebih umum sebagai sapaan atau panggilan untuk orang yang dihormati atau yang dituakan, baik laki-laki atau perempuan.

Biar liburannya panjang, saya memilih penerbangan malam dari Jakarta. Pukul 21.55 dari Soekarno Hatta. Kemudian pagi pukul 7 bertolak ke Tanjung Bira lewat Bulukumba.

Landing di Bandara Sultan Hasanudin pukul 1 pagi (ada perbedaan 1 jam antara Jakarta dan Makassar), tidur di bandara sampai Shubuh baru deh ke kota.

Nah, numpang tidur di Bandara ini saya sempet browsing-browsing. Untuk yang keluar pesawatnya melalui akses ruang tunggu. Bisa tuh, ga usah langsung keluar. Jadinya tidur di ruang tunggu keberangkatan.

Pas kemarin saya mah, akses dari pesawat langsung ke ruang bagasi dimana ini dibawah ruang tunggu keberangkatan. Jadilah langsung ke pintu keluar.  Akhirnya, saya nyari kursi di yang kira kira tidur-able di sekitar pengambilan bagasi. Jadi ga sampai ke area luar.

Tidur di Bandara Makassar.jpg

Tidur di area pengambilan Bagasi

Disebelah kursi ini, juga ada charger station untuk nge-charge handphone. Setelah tanya sana sini, banyak cara menuju ke kota. Dengan taksi sekitar Rp. 150,000,- atau Damri Bandara, namun Damri ini baru beroperasi sekitar pukul 7 dan baru akan meninggalkan bandara jika bangku sudah terisi penuh. Pilihan saya kemarin adalah transportasi Online, meski illegal (ngumpet-ngumpet) biaya yang dikeluarkan juga tidak sampai seratus ribu.

Naik transport Online menuju Pantai Losari untuk sholat shubuh sekalian di Mesjid Apung. Jadi, keluar dari Bandara kira-kira pukul 4 pagi. Lumayan 3 jam merem-melek cantik.

Mesjid Apung.jpg

Mesjid Apung sekitar Pantai Losari

Dari kota Makassar ke Tanjung Bira bisa dengan naik Angkutan semacam mobil Panther (disana dinamai Pete Pete) tarifnya sekitar 100,000,- dari Terminal. Tapi dia jalan setelah penuh. 😦 Walaupun kita standby dari pagi, bisa saja baru jalan jam 10 atau 11an karena menunggu semua bangku terisi.

Akhirnya, saya memilih untuk naik travel dari Kota Makassar ke Bulukumba. Bulukumba – Tanjung Bira masih sekitar 64km lagi. Kemudian dilanjutin dengan naik angkot ke Tanjung Bira.

Travel BMA Trans.jpg

BMA Trans

Naik Travel BMA Trans Makassar. Tarifnya 100,000,- hanya sampai Bulukumba. Perjalanan pertamanya dimulai pukul 7 pagi. Tempat duduknya super duper nyaman dan lebar. Kapasitas sekali berangkat hanya 8 orang. Kemarin, penumpang hanya 3 orang tetep jalan. Yey!

Minusnya, pool terakhir di Bulukumba dimana angkot menuju Tanjung Bira tidak lewat. Jadilah kemarin supirnya berbaik hati mengantarkan kami sampai persimpangan dimana Angkot menuju Tanjung Bira melintas dengan meminta ‘uang rokok’, kukasih aja 10,000 untuk satu orang.

Nah, dari Bulukumba ini naik Angkot ke Tanjung Bira. Kata penduduk sekitar yang juga akan menaiki angkot yang sama, tarifnya sekitar 25,000 per-orang.

Angkotnya ini bukan seperti angkot di kota-kota besar yang sudah ada rutenya. Namun, angkot ini nganterin orang sampai kedepan rumah. Iyes, angkot rasa travel door to door.

Setelah sampai di tanjung Bira, supirnya nanyain nih, kami akan turun dimana. Pas kita sebut, Cosmos Bungalows langsung dong ditodong biaya tambahan lagi. 😦 Cosmos Bungalosw itungannya udah di Pantai Bara sih. Tapi ya ga jauh juga dari Tanjung Bira, kurang dari 5km. Nodongnya juga ga tanggung-tanggung, minta tambahan 25 ribu untuk jarak 5km. Hiks.

Matahari yang terik, dan tidak terlihat angkutan apapun sepanjang mata memandang, bikin kami mengiyakan todongan itu. Huhu.

Jadi total biaya perjalanan dari Kota Makassar ke Cosmos Bungalows via Bulukumba; Rp. 100,000,- + Rp. 10,000,- + Rp. 50,000,- = Rp. 160,000,-

Sementara ketika pulang, dengan kebaikan hati Staff Cosmos Bungalows, kami dipesankan Pete-Pete yang menjemput langsung dan turun di Terminal Makassar cukup membayar Rp. 100,000,- saja.

Hanya saja, Pete-pete seratus ribu ini tanpa AC. Jadilah sepanjang jalan pake AC Alam dan full house. 1 Avanza ber-7. Bapak supir Pete-pete ini memberi informasi bahwa, hanya ia satu-satunya yang jalan jam 7 Pagi dari Terminal ke Tanjung Bira. Sementara yang lain baru jalan dari Terminal rata-rata pukul 11 siang.

Ada harga ada rupa sih, ya. Kalau saya kembali lagi ke Makassar dan ingin ke Tanjung Bira lagi, mungkin saya prefer naik Pete-pete pukul 7 pagi itu. Namun jika tidak, mending via Bulukumba. Karena jalan jam 11 dari Kota Makassar ini memungkinkan kesorean nyampe di Tanjung Biranya.

Eh iya, Pete-pete ketika pulang ini sempat juga menawarkan diri untuk mengantarkan kami langsung ke hotel. Dengan meminta tambahan biaya Rp. 100,000,-. Jelas saja langsung ku tolak, karena tahu di kota Makassar sudah ada transportasi Online yang pastinya tarifnya akan jauh lebih murah. Terminal terakhir ke Hotel dengan Grab hanya Rp. 33,000,-.

Keliatan amat ya turisnya, di todong terus. 😦

Ada yang sudah pernah ke Tanjung Bira dari Makassar? Share dong public Tansportasi nya apa ajaa.

Jangan menginap di Cosmos Bungalows, Tanjung Bara, Sulawesi Selatan

Ditengah hectic dan stress menyiapkan Jambore Anak 2017, saya menghibur diri dengan mencari tiket. Kan beberapa bulan lalu menang lomba nge-tweet berhadiah tiket kemana saja tuh.

Baca: Akhirnya! Ikutan Linkers Academy Batch 3

Tadinya uda jelas ingin digunakan untuk kem-BALI. Eh dilalahnya, gunung Agung sedang batuk-batuk. Trus bingung gitu, karena tidak menyiapkan plan B untuk urusan tempatnya. Sementara, tiket ini akan habis masa berlakunya.

Setelah mempertimbangkan sana sini, ada 3 tujuan yang akan saya pilih salah satunya; Medan, Manado atau Makassar. Berhari-hari saya browsing ketiga tempat ini. Kira-kira enaknya kemana, nanti disana mau ngapain aja, nginepnya gimana. Continue reading

Cirebon? Batik Trusmi dong!

Kalau lagi rindu perjalanan yang ga begitu jauh dari Ibukota, cobain deh untuk jalan-jalan ke Cirebon. Ga perlu cuti, namun bisa mengisi energi untuk refreshing. Ada beberapa tempat wisata yang bisa dijelajahi dalam dua hari. Banyak sekali kulineran yang bisa dinikmati.

Baca: Selain nasi Jamblang, jangan lupa mengunjungi Goa Sunyaragi ketika ke Cirebon.

Baca: Berburu Makanan di Cirebon

Setelah Jalan-jalan dan Makan, pilihan lain jika mengunjungi suatu kota apa lagi kalau bukan, mencari oleh-oleh! Continue reading

[Weekend Story] 2 Hari makan di 3 Kota

Semenjak pulang pergi Depok – Slipi, kayanya saya belum pernah ‘jalan jauh’ lagi selain ke Bandung gitu deh. Setiap turun dari Commuterline, terus disambut dengan, “Selamat datang di Stasiun Depok”, saya suka rindu dengan “Selamat datang” di Stasiun besar lain, gitu.

Nah, weekend kemarin, Kang Mas ngajakin saya untuk ‘jalan jauh’ sedikit! Hore, akhirnya! Beliau ada urusan di Tegal, kemudian akan mampir sebentar di Brebes kemudian kembali ke Jakarta. Nah, karena kelupaan, ga dapet deh itu tiket pulang ke Jakarta via Brebes. Alhasil, ku minta mampir dong pulang via Cirebon, eh di Approve.

Makan siang di Tegal

Sampai di Tegal sekitar pukul 1 siang, browsing dong cari makanan khas sini, sebenernya di perjalanan sempet browsing-browsing tempat wisata. Namun, waktunya mepet sekali, karena mengejar urusan di Brebes. Jadinya, yaudahla ya. Sesuai informasi, makanan khas Tegal adalah Tahu Aci dan Soto Tauco.

Tahu Murni

Berangkatlah kami menuju Tahu Murni. Salah satu brand Tahu Aci yang cukup tersohor di Tegal. Sebijinya dihargai Rp. 1,200,-. Untuk oleh-oleh bisa dibeli dengan besek seharga minimal Rp. 50,000,-. Tahu Aci ini adalah tahu kuning yang tengahnya diberi tepung Aci. Bentuknya kicik-kicik, dan menurutku sih ya, enak dimakan pas hangat buat cemilan. Continue reading

[Weekend Story] Membelah Jakarta untuk menyelesaikan #7MissionBNI

Dalam rangka perayaan HUT BNI46 yang ke-71, kemarin 5 Agustus 2017, BNI46 mempersembahkan kegiatan #7MissionBNI. Sebuah acara seru yang menantang 70 peserta untuk menyelesaikan 7 tantangan selama 7 jam di Jakarta.

Form link registrasinya saya terima dari social media-nya BNI, saya isi, kemudian saya lupa sampai suatu dini hari saya liat notif Instagram saya di mention oleh akunnya BNI, diinfokan nama team bersama team member-nya.

https://www.instagram.com/p/BXN1a2bBo9t/?taken-by=bni46 Continue reading