Category Archives: Review

Apapun Moment-nya, Batik Tunik Pakaiannya!

Apa cuma aku aja yang meskipun udah mau 8 tahun kerja masih suka bengong didepan lemari setiap pagi hari? Itu baru urusan pakaian kerja yang sudah pasti dilakukan setiap hari. Belum lagi kalau ada agenda dinas luar kota, ikutan training, menjadi panitia, ikutan acara ini acara itu, pun juga berlaku jika akan traveling. Sama aja. Sama-sama bikin bengong lama-lama didepan lemari.

dresses-53319_1920.jpg

Dari semua pilihan baju yang ada, gamis, kemeja, atasan, baju kerja, ada satu model baju yang ‘aman’ dan sebaiknya selalu ada di dalam lemari. Tunik Batik. Kenapa harus ada si Tunik Batik ini didalam lemari kita? Continue reading

Advertisements

[Review] Subwow Hostel, Bandung

Seorang sahabat saya di Batam akan mengikuti training di Bandung. Ia menyempatkan diri untuk mampir bermalam dirumah keluarga saya di Depok, kemudian saya berjanji akan menemani selama ia training di Bandung.

Kesempatan ini saya gunakan untuk mencari tempat penginapan seru yang kira-kira bisa jadi informasi buat yang ingin menginap dengan budget yang tidak terlalu mahal.

Baca: Akhirnya bermalam di Summerbird – Bed and Brasserie, Bandung

Setelah browsing sana-sini pilihan saya jatuh pada Subwow Hostel yang berada di Jalan RE Martadinata. Berbeda dengan hostel pada umumnya yang menyediakan dormitory dalam satu kamar yang diisi oleh beberapa orang, di Subwow Hostel ada private bed dalam satu room untuk sendiri atau berdua. Tanpa perlu khawatir campur dengan pengunjung lain. Continue reading

Gala Premiere Film Critical Eleven

Kalau saya ditanya orang yang  ingin sedang ingin baca buku bagus, pasti deh saya merekomendasikan buku-bukunya Ika Natassa. Saya mulai baca bukunya dari Divortiare, kemudian baru nyari buku lain yang ditulisnya. A Very Happy Yuppy Wedding, Antalogi Rasa, Twitvortiare 1 dan 2, Critical Eleven dan The Archictecture Of Love. Dan saya suka semua, Ika sangat ciamik melihat pasar dan mengikuti perkembangan teknologi. Continue reading

Aloclair Plus; Si Penyelamat ketika traveling.

Sudah kurang lebih 3 tahun ini saya punya teman jalan-jalan yang menyenangkan. Ialah dia Kang Mamase. Dasarnya kita emang tukang Jalan, dari muterin museum disekitaran Jakarta, nyobain momotoran Jakarta-Bandung sampai explore Banyuwangi kita lakoni bareng-bareng.

Selain sebagai teman jalan yang baik, pendengar yang handal dan tempat berdiskusi asik akan banyak hal, saya selalu menjuluki ia sebagai si kantong doraemon. Apapun yang saya butuhkan, semacam printilan-printilan, ada aja ditubuhnya. Jadi, kang mas ini suka pake celana panjang yang minimal terdiri dari 6 saku. Kemudian, memiliki tas pinggang yang memiliki 4 tempat dari yang ukuran sedang sampai ukuran kecil.

“Mas, ada powerbank?”

Meski sedang dalam restoran makan dan doi ga bawa tas, powerbank muncul aja gitu dar saku celananya plus dengan kabel-kabelnya.

“Mas, peniti aku hilang.” Continue reading

Enjoy the Green Environment at Casa Monte Rosa, Puncak Mountain Resort.

Saya ini suka bingung kalau disuruh cari hotel/penginepan yang nyaman di sekitar Puncak. Mencari hotel yang instagram-able di kota-kota besar tampak lebih mudah dibanding dengan mencari hotel yang nyaman dan ga berhantu di Puncak. Menyebut kata Puncak saja, di kepala saya yang terbayang adalah abang-abang atau om-om yang memegang tulisan Villa/kamar dikontrakan disepanjang jalan Cisarua.

Dan membayangkan Villa atau kamar dikontrakan masal ini bikin saya jadi kepikiran macam-macam. Villa yang mungkin rumah warga atau semacam homestay. Kamar dikontrakan seharga dibawah 100 ribuan yang kaya kamar kostan, kamar mandi diluar dan lain-lain. Ada yang sudah pernah nyoba-kah? Nyewa dari tawaran abang-abang yang berdiri dipinggir jalan ini?

Alhasil, saya suka ‘cari aman’. Cari di laman situs online booking. Masalah lain kembali muncul, yang tampak bagus, asik, dan oke banget harganya selangit! Ada juga yang murah around 200-300 ribuan tapi minim fasilitas atau standart banget. Giliran harga afordable, hotel baru, pinggir jalan ternyata masih didaerah bawah. Sudah masuk Cisarua sih, namun masih belasan km menuju Puncak Pass. Huft. Continue reading

Selalu ada yang pertama untuk mencoba hal baru, pertama kalinya yoga bareng Club Med yang baru buka kantor baru!

Pada pertengahan sampai akhir tahun lalu, saya rutin mengikuti workshop dari Rula.co.id, selama menjalani workshop offline dan online, saya berkontribusi membuat beberapa artikel di portal perempuan itu.

Baca: Rula Creative Hub 1

Pada suatu hari, Managing editor Rula, Mba Fioney Sofyan diundang oleh Club Med pelopor dari Premium All-inclusive Holidays, dengan resort yang berada di tujuan terindah di seluruh dunia untuk bisa mengikuti sesi yoga dalam tema; “Back to Your Zen with Club Med”. 

Beliau berhalangan hadir dan melempar undangan itu ke forum. Sesi yoga ini dilaksanakan di Ancol pukul 6 pagi. Karena saya kebetulan ada acara pada pukul 9 pagi di hari yang sama, biar sekalian, saya menyatakan bisa untuk hadir di acara sesi yoga ini. Jadilah, mewakili Rula, saya mengikuti kegiatan ini.

Ini pertama kalinya saya ikut yoga. Sepanjang malam saya kebingungan mencari dress-code yang pas. Saya kan jarang sekali ya olahraga, jadi boro-boro punya koleksi baju yang pas badan menyerap keringat. Setelah browsing sana sini, kebanyakan memberi saran untuk memakai kaos pas badan, namun, saya takut ga nyaman karena terbiasa memakai gamis. Mau yoga dengan gamis sepertinya juga bukan pilihan yang pas. Continue reading

Tentang dua rasa; Syukur dan Cukup.

Belakangan ini saya merasa lebih sensitif terhadap sesuatu. Gampang banget baper, ngelamun dan mikir panjang. Jadi jaman kuliah dulu, saya tergolong mahasiswi yang berkecukupan. Dalam artian, ya uang makan selama kuliah cukup. Kalau teman-teman disekitar saya dikirimi uang makan sebulan atau seminggu sekali, saya engga. Seadanya saja. Jika sedang butuh dan ada, saya dikirimin. Jika engga, biasanya saya ngungsi ke tempat saudara, buat nebeng makan. Muehehehe. Begitu juga dengan uang kostan. Ya ampun, saya pernah ngalamin keluar kos harus ngendap-ngendap biar ga ketahuan ibu kos.

Hal inilah yang bikin saya selama masa kuliah ga pernah belanja bulanan. Boro-boro, cukup untuk makan saja sudah alhamdulillah. Saya ga ngerti rasanya nyetok sembako itu kek apa rasanya. Kalau nyetok ikan teri buatan mama utk makan berbulan bulan sih tau.

belanja

Belanja bareng keluarga yang bikin happy dan rindu.

Saya memilih mencari kerja di ibukota, Jakarta. Selain untuk pencapaian hidup yang lebih layak. Saya pengen mulai jalan-jalan memenuhi mimpi. Tuhan mengabulkan semua ingin saya. Bekerja dan jalan jalan dengan keadaan yang cukup. Continue reading