Duh, Society.

Jadi sekarang, engga hanya tentang bagaimana orang menjalani hidup yang dianggap “standar” namun juga tentang bagaimana orang menggunakan uangnya jadi urusan orang lain juga ya. Hem.

Kuliah di universitas favorit.

Lulus kuliah tepat waktu.

Kerja ditempat yang ‘keren’.

Menikah pada usia sekian.

Punya anak lebih dari satu.

Beli rumah di kawasan elit.==

Tiba-tiba jadi ada standartnya ketika kita lagi kumpul kumpul di lingkungan keluarga ataupun pertemanan.

Kemarin, ketika saya menyiapkan e-ticket nonton konser Super Junior, ndak sengaja kelihatan beberapa rekan kerja yang kemudian mengomentari.

“Lu beli tiket harga segini, Ni?”

Waktu itu ku ngeprint 2 tiket, Section Blue 2,4 juta dan Yellow 1 juta. karena uda kadung beli 2 dengan niat salah satunya mau ku jual di hari H.

“Nia mah enak, masih single. Belum punya anak. Belum punya tanggungan”

“Duh, Ni. Tiket segitu mah bisa buat makan berapa lama.”

“Atau bisa ngasih anak Panti Asuhan tau.”

“Mending ganti gadget aja. Beli hape baru gitu.”

krik krik. Oke, setelah urusan kapan nikah jadi sorotan. Menyoal uang kita mau dipake buat beli apa juga jadi sasaran yak.

Bhaique.

Dan sialnya, mood pas lagi diomongin gitu lagi ga ada asik asiknya. Jadinya kuladeni :(((

“Aku emang masih single. Tapi uda beberapa tahun belakangan, membiayai hidup makan harian keluarga. Nyicilin rumah juga. Samalah kaya yang baru nikah”

“Aku emang belum punya anak. Tapi ujug ujug disodorin 2 adik yang sedang kuliah untuk dibiayai”

“Ga perlu mengorbankan beli tiket nonton konser sih untuk bisa ke Panti Asuhan. Toh udah mau 10 taun ku bolak balik ugha berkegiatan sosial.”

“Duh, aku mah handphone ga perlu beli. Dapet gratis. Seharga 4x lipat harga tiket yang kubeli lagi. Hooh, hadiah dari THR Kumparan.”

View this post on Instagram

Tunjangan Hidup Rukun Ala @kumparancom. Selama tahun 2019, setiap nonton serial korea mesti aja ada adegan dimana si pemeran utama kehabisan batre kemudian diisi oleh sesama smartphone. Ndak pake colokan. Ndak pake powerbank. Beberapa bulan lalu, Suryo beli hape baru. Trus kutanya, 'bisa nyargerin hape orang ga sur?'. Ia jawab bisa dengan kalimat lanjutan, 'tapi merk dan tipenya minimal sama kek punyaku'. Kemudian hening. Eh tetiba dong, mimpi apa bisa punya gawai kembaran dengan Lee Jong Suk, Kim Jae Wook, Lee Dong Wook, Choi Siwon sama Suryohadi. :)))) Wakakaka. Mba Winda sebagai Brand Communication Kumparan menyerahkan langsung Gawai ini tadi siang. Dua dari seribuan voters. Sama seperti amanah, rezeki juga ndak salah pundak. Alhamdulillah. Curhat tentang hadiah akhir ramadhan ini, kutumpahkan juga dalam alaniadita.com. Tentang sesuatu yang hilang namun kemudian Allah ganti langsung dengan THR dari kumparan ini. Mamaciw banyak banyak dear, Kumparan. Setelah aku, mungkin kamu. Kuy go follow @kumparancom, baca beritanya, ikutan kuis kuisnya, semoga esok, rezekinyaa di anda. ❤ #AlaniaRandomThought #PercayaKumparan

A post shared by Isnia Nuruldita (@alaniadita) on

Abis ngomong gitu rasanya lega. Ehtapi ga lama dari itu, nyesel dan rasanya ingin nangis.

Kenapa harus aku respon.

Kenapa ga diem aja.

Kenapa jawabnya pake ngegas yang jadinya sombong. Riya.

😦

Kalau untuk membeli sesuatu terus terus berpikir “daripada ini mending ini..” kenapa engga semua keinginan selama bisa diusahakan ya difasilitasi.

Toh hidup berjalan. Ku tetep bisa membiayai keluarga, Tetep bisa membantu adik yang kuliah. Tetep mengunjungi adik adik yatim sana sini. Dan tetep bisa update gadget baru. Bisa beli tiket pesawat. Dan yha, tetep bisa kok beli tiket konser.

LAGI KENAPA SOCIETY HARUS IKUT CAMPUR SIH? >,<‘

Advertisements

10 thoughts on “Duh, Society.

  1. ndu.t.yke

    Ya gitu itu emang namanya hidup, Neng. Manusia berencana, berusaha susah payah. Tuhan juga yg menentukan. ORANG LAIN TINGGAL KOMENTAR…. Eeeh maap, ngegazzz, wkwkwk….

    Reply
  2. Ata

    Kalo kata tetangga, kita yang jalani, orang yang komentari. 😛
    Cuekin aja Ni, toh kita ga minta bayarin bill ini sama mereka hihi (aslinya pengen ngegas padahal, soalnya sering digituin juga #maapsis #kokcurcol)

    Reply
  3. imeldasutarno

    Mbak Nia, kalo suamiku ngadepin orang-orang model begini, dia super simple: gak pernah dijawabin dan selalu bilang ke aku “biarin ajalah, itu masalahnya mereka kok mo komen-komen, bukan masalah kita.” Maksudnya, itu orang-orang mulutnya pada ngasal, ngebanding-bandingin dll dsb ya memang punya masalah dengan pribadi mereka sendiri/masing-masing, makanya yang keluar dari mulutnya ya seperti itu. Mereka julid, komen ga sedap dll, ya bukan masalah di diri kita, hehehe…

    Tapi aslilah karena eikeh perempuan, sulit sangat menjalankan prinsip hidup si pak suami ituh, huhuhuhu…..

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Sisi yang kusukaaa dari laki laki yaaa gini kan Mbaa Meeel. Lempeeeeng.

      Sungguh kuingin juga demikian. Beberapa kali bisa teratasi tapi seringkali refleks. Reaktif gitu lho :(((

      Ku menyesal kok sungguh. Tapi keknya yang ngomong mah ga ada nyesel2nya yak. 😞

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s