Category Archives: Nanggroe Aceh Darussalam

Menyusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh (3)

Setelah diantar ke Mesjid Raya Baiturrahman, Kapal Apung PLTD dan Museum Tsunami yang saya ceritakan disini, selanjutnya Abang Rollis mengantarkan kami ke tempat lain

“Abang tahu Pantai Lampuwuk? Jauh engga?” Tanya Febby pada Bang Rollis.

“Jauh sih.” Jawabnya

“Seberapa jauh?” sambung saya.

“Setengah jam-an deh kayanya.”

itu mah deket >,<‘

12.30 – 13.00 : Sholat Dzuhur di Mesjid Lhoknga

Maka, Jomlah kami menuju Pantai Lampuwuk, sebelumnya kami menyempatkan diri untuk sholat di hmm, sebelumnya, ada yang inget dengan mesjid ini?

Replika Mesjid yang tetap berdiri kokoh di Ule Lhee

Replika Mesjid yang tetap berdiri kokoh

Selain mesjid Baiturahman, mesjid ini juga rame banget diberitakan di Media Elektronik & Media Masa. Ya gimana ya, bangunannya utuh, sekelilingnya hancur lebur. Kita akan menemukan mesjid ini dalam perjalanan menuju Pantai Lampuwuk.

FullSizeRender(4)

Mesjid Rahmatullah, Kecamatan LhokNga.

Jadi, masih menurut cerita Abang Rolis, dulu ini Lhoknga ini kawasan padat penduduk. Setelah tsunami, atas bantuan negara turki lah, mesjid ini diperbagus, beberapa rumah penduduk dibangun, tapi ya ga sama seperti dahulu.

Jadilah menuju pantai, hanya dedaunan yang kami temui, jarang sekali menemukan rumah penduduknya. Dan inilah, pantainya! Kece!

13.00 – 15.00 : Tidur siang di Pantai Lampuwuk.

IMG_8079

Vitamin-Sea!

Well, kenapa cantik dan bersih lagi sepi? Karena ini bulan puasa. Ngiahaha. Hanya orang salah liburan seperti kamilah, yang berada di pantai ditengah cuaca yang panasnya ampun ampunan. 😀

Kosong.

Kosong.

Yang saya lakukan di sini, baca buku dan tidur siang. Ngiahaha. Seriusan, karena tempat tujuan yang ingin dicapai sudah habis, kami hanya menunggu waktu berbuka. Maka, kami menyempatkan diri untuk tidur siang dimari. 😀

Kalau kebangun, pemandangan yang dilihat ini;

IMG_4522Kemudian, tertidur lagi. Merasa pegal, duduk dan berjalan sedikit, pemandangannya ini;

IMG_4524Buat saya yang selama 7 tahun tinggal di Lhokseumawe, dan rumah saya persis diseberang Laut. Melihat pemandangan ini itu, seneng seneng seneng banget! Semacam kenangan masa kecil yang terkuak kembali. ceileh. 🙂 Alhamdulillah.

Sedari di Mesjid Lhoknga, saya sudah bilang pada Abang Rollis bahwa kami tidak menjamakkan sholat, sehingga minta diajakin untuk Wisata Mesjid sekalian. Ketika waktu sholat tiba, kita sholat saja di mesjid yang kita sedang atau akan lewati. Eh ilalahnya, pas adzan ashar, pas kami melintas di Ulee Lheue.

15.30 – 16.10 : Sholat Ashar di Mesjid Baiturrahim, Ulee Lheue

IMG_4547Ulee Lheue juga salah satu bagian terparah ketika tsunami tiba, ia berbatasan langsung dengan pantai. Ada 3 mesjid yang tetap berdiri kokoh ketika tsunami sementara disekelilingnya hancur lebur, yang Alhamdulillahnya ketiganya berhasil kami sambangi seharian ini. 🙂

IMG_4543 copy

Mengingatkan pada film Negeri 5 Menara.

Sebelum berburu takjil dan mencari tempat untuk berbuka puasa, kami masih diantar ke satu tempat lagi. guess where?

16.10 – 17.30 : Kapal diatas rumah Lampulo.

Dalam sejarahnya, kapal ini tadinya sedang berlabuh. Dan ketika tsunami datang, kapal ini terhempas mengikuti aliran air. Berkat kapal ini, ada 59 orang yang selamat dari musibah tsunami. Subhanallah ya. Kalau emang sudah ajalnya, mereka menemui ajalnya, jika belum, ada aja cara Allah mengirimkan ‘bantuan’. Masya Allah.

Perjalanan kali ini, buat saya sesuatu sekali. Hati bergetar berkali kali. Bersyukur dan mengagumi kebesaran Allah yang tiada tandingannya. Satu pertanyaan besar saya, mengapa Aceh bisa secepat ini ‘recovery‘ nya? Dalam menuju 11 tahun pasca tsunami, Aceh mengalami perkembangan luar biasa. Tatanan kota hampir sempurna. Dijawab lugas oleh Abang Rollis, bahwa Aceh masih punya Sumber Daya Alam yang menjajikan. SDA yang tentu saja diincar oleh negara luar. Jangankan membantu membangun kembali, teknologi negara asing saking canggihnya, sehari setelah kejadian tsunami, kapal asing yang berfungsi sebagai rumah sakit sudah menepi di Banda Aceh, dimana kita sendiri penduduk Indonesia masih bingung nyari akses menuju lokasi. Dokter dokter dan bala bantuan dari luar negeri sudah terlebih dahulu standby. Ah, entah untuk apapun itu, terimakasih banyak ya para relawan luar negeri untuk bumi saya, bumi pertiwi ini. 🙂

Advertisements

Menyusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh (2)

Bus yang kami tumpangi memasuki Terminal Banda Aceh, kemudian berhenti. Berbeda dengan di Medan, bus ini kami naiki tidak dari Terminalnya, melainkan dari Pool Sempati Star-nya. Tampak semua orang menuruni bus ini, kamipun ikut ikutan turun. Seperti halnya terminal bus, sudah banyak abang abang ojek yang menyambut kami di pintu bus. Saya menggandeng Febby untuk mencari konter penjualan tiket Sempati Star terlebih dahulu. Untuk memastikan tiket pulang kami yang masih di hari yang sama. Ya, kami tidak menginap di Banda Aceh.

Berkat bantuan si penjual tiket, saya dihampiri seseorang yang katanya akan menemani perjalanan kami hari itu. Saya dan Febby memilih untuk menyewa mobil satu hari. Ia, yang kemudian saya tahu namanya Rollis, mematok Rp. 500,000,- untuk all day tour termasuk bensin dan supir. Saya tawar Rp. 400,000,- kemudian kesepakatan terakhir di Rp. 450,000,- 🙂

Hari masih pagi, pada saat itu pukul 9 pagi, saya meminta diantar ke Mesjid Raya Baiturrahman terlabih dahulu. Sekalian ingin mandi mandi.

09:00 am; Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Kota ini (baca: Banda Aceh) kota sepi, setidaknya jalannya tidak seramai Ibukota, saya tidak menemukan kemacetan. Melihat Mesjid Raya dari jauh, ingatan saya kembali ke 11 tahun silam, dimana mesjid ini selalu ada dilayar televisi & digadang gadang sebagai mesjid yang tetap berdiri kokoh ketika tsunami menghantam. Disana, saya menumpang mandi dan menunaikan sholat Dhuha. Memasuki area dalam mesjid, hati saya gemeteran. Tempat inilah yang 11 tahun lalu dipenuhi mayat korban tsunami. Penuh sumpek karena semua orang berusaha mencari sanak saudaranya ditempat ini.

IMG_4418

Saksi bisu..

Sayup sayup terdengar suara anak anak yang pada saat itu sedang mengaji. Saya bersujud sekali lagi.

Mesjid Baiturrahman

Mesjid Baiturrahman

Continue reading

Menyusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh

Saya bangga pernah menghabiskan masa kecil di ujung pulau Indonesia. Lhokseumawe, Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam. Ayah saya ditempatkan disana oleh kantornya, yang membuat kami sekeluarga pun ikut serta. 7 tahun kami menghabiskan waktu di kota kecil itu, sampai akhirnya Ibu meminta ayah pindah, karena pada saat itu situasi mulai tidak aman terkait banyaknya oknum GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Kami pindah ke Batam, Kepulauan Riau pada pertengahan tahun 2001, 3 tahun kemudian, pada tahun 2004, terjadi bencana besar di Aceh. Tsunami. Bencana alam yang mengakibatkan 230 ribu manusia kehilangan nyawa. Keluarga saya tentu saja bersyukur, bahwa kami merasa ‘diselamatkan’ dari bencana itu. Namun, masih banyak teman teman/tetangga kami yang terjebak disana. Salah satunya, tetangga dekat kami ketika di Lhokseumawe. Pada saat kejadian, mereka sekeluarga sudah berdomisili di Banda Aceh, tempat dimana Tsunami terjadi. Bayangkan paniknya kami ketika itu, semua nomor posko yang tertera dilayar televisi kami hubungi, tak sekalipun kami berkesempatan berbicara, karena nomor itu selalu sibuk. Ayah saya tak kehabisan akal, beliau mengubek ngubek semua buku agendanya, mencari nomor lain yang bisa dihubungi, ketemulah nomor orangtua dari tetangga kami tsb yang berdomisili di Medan. Continue reading