Category Archives: Sharing

Merdeka Bercita-cita; Kaya Selamanya.

Jakarta mengabulkan cita-cita saya; Untuk jalan-jalan keliling Indonesia. Untuk menikmati setiap perjalanan dengan apapun caranya. Entahlah tiket promo, entahlah berlari-lari mengejar Bus, entahlah mengikuti opentrip dengan kesempatan bertemu orang baru. Setahun pertama, semuanya tampak menyenangkan dan asik-asik saja. Sampai suatu hari, saya merasa diri saya ‘kosong’. Senang namun seperti ada yang hilang.

Materi melenakan saya. Rasanya ketika kuliah di Bandung dulu, secara materi saya cukup meski tak berlebihan, namun hati rasanya penuh dan diliputi bahagia. Ditilik-tilik, hal ini karena saya sering berusaha untuk berbagi. Saya dan teman-teman mengumpulkan donatur untuk didonasikan ke Panti Asuhan. Kemudian mengadakan Sahur on the road. Bahagia yang saya rasain ternyata berasal dari apa yang sudah saya lakukan dan berikan.

Lantas, jika sedang tidak punya waktu untuk kesana kemari, saya akan berbagi dengan modal paling minimal. Donor darah. Memberikan apa yang melimpah didalam tubuh dan bisa bermanfaat buat orang lain.

Donor Darah Nia.jpg

Continue reading

Advertisements

Meet Inspired People: Hikmat Hardono.

Ketika mendaftar sebagai relawan Pengajar di Kelas Inspirasi Jakarta 6, saya mengisi data diri berdomisili di Jakarta Barat dengan harapan dapet sekolah yang disekitar Jakarta Barat. Nyatanya kemudian, saya kedapetan sekolah di Jakarta Utara, dimana menjelang hari Inspirasi saya sudah pindah domisili di Depok.

Saya mendaftarkan diri untuk ikutan menginap disekitar sekolah agar saya bisa mempersiapkan diri lebih baik. Setelah ditanya alasan saya untuk ikut menginap karena saya berangkat dari Depok, beberapa relawan menyarankan saya untuk,

“Nebeng sama Pak Hikmat aja, Nia. Beliau juga dari Depok.”

Tidak banyak yang saya tahu tentang pak Hikmat, selain beliau adalah Bapak-bapak(?) dan berdomisili di Depok.

Beberapa hari sebelum Hari Inspirasi, saya kontak beliau, memohon izin untuk ikutan berangkat bareng. Sehari sebelum hari H, pak Hikmat membuat Group WhatsApp temporary yang berisi orang-orang yang akan pergi bersama beliau di hari Inspirasi.

Saya menunggu beliau di Persimpangan jalan menuju Margonda. Beliau ‘mengangkut’ saya bersama supir pribadinya.

‘Wah, pejabat nih kayanya’. Pikir saya saat itu.

Kami ngobrol-ngobrol sebelum menjemput salah satu relawan di Antam. Saya bercerita tentang perjalanan saya selama Kelas Inspirasi, satu dua kali beliau menimpali. Kemudian kami bercerita tentang perjalanan kami mencari rezeki di Ibukota. Bagaimana cara kami mengatasi traffic Depok-Jakarta sehari-hari dan lain-lain. Selama mengobrol bahkan saya ga tahu bahwa Pak Hikmat adalah relawan Fotografer. Yang saya tahu, tampilan beliau santai sekali. Sangat tidak neko-neko.

Saya mulai sedikit bertanya-tanya, ketika sampai diruangan basecamp kami disekolah, satu persatu relawan mulai mengajak beliau untuk foto berdua. Bukannya mencari tahu, saya malah mengabaikan salah satu ‘tanda-tanda alam’ itu.

Pak Hikmat sempat menjadi Fotografer ketika saya mengajar. Rasanya ya biasa saja. Seperti Relawan Fotografer biasanya yang mengambil gambar Relawan Pengajar.

Tanda-tanda alam kedua, sekolah kami dikunjungi oleh salah seorang Panitia Dokumentasi Kelas Inspirasi Jakarta 6. Ia sempat menyalami saya lalu berkata, “Kamu seperti tidak asing.” Kami cipika-cipiki. Saya bilang kepadanya, “Mbaknya Fasilitator tahun lalu, ya? Aku KI Jakarta 5 Fasil juga, Mbak.”

Setelah menyalami saya, matanya menangkap ada Pak Hikmat diseberang kami. Beliau lalu mendatangi Pak Hikmat bersalaman dengan takzim.

Ah, palingan juga karena Pak Hikmat juga orang yang sering ia temui di Kelas Inpirasi. Bisik-bisik dikepala saya.

Setelah jadwal mengajar saya selesai, sebelum penutupan, saya sempat ngobrol dengan Fasilitator didepan kelas. Entah gimana ceritanya, Fasil ini bilang ke saya;

“Sekolah kita beruntung dibersamai sama Pak Hikmat, kak”

Jeng jeng! Seolah menemui benang merahnya, saya tertarik untuk berbicara tentang ini lebih lanjut.

“Emang beliau siapa?” tanya saya polos, malu-maluin dan tanpa basa basi.

“Kakak gatau siapa Pak Hikmat?” Tanyanya balik penuh selidik.

Saya menggeleng sambil mesem-mesem.

“Kak, Beliau adalah inisiator Indonesia Mengajar.”

“Hah.”

“Iya. Pejabat IM.”

“Hem, beliau bersama Pak Anies dong, ya.” Respon saya sok selow dan sok tahu.

“Iya, Pak Anies ketua Yayasan Indonesia Mengajar beliau wakilnya. Nah, ketika Pak Anies menang di Pilgub DKI Jakarta, beliau menjadi ketuanya.”

“WHAAAAAT?”

Jadi sepagi tadi, saya bersama pejabat Indonesia Mengajar. Satu mobil. Satu kelas yang sama. Dan saya tidak tahu.

..

..

..

Ku maluuuuu.

Menggebu ingin menjadi bagian dari Indonesia Mengajar. Inisiatornya saja ga tahu. Belagu ah lu, Nia.

Ketika semua orang sedang berjalan menuju lapangan untuk bersiap diri mengikuti closing. Saya setengah berlari menyambangi pak Hikmat berdiri kemudian tanpa basa-basi bilang;

“Pak, mau foto berdua dong.”

..

..

“Pake kamera bapak aja, ya.” tambah saya, lagi.

Bersama Pak Hikmat.jpg

Mending sekalian malu-maluin dah ya. Hahaha.

Setelah kami difotoin, beberapa relawan Inspirator ikut-ikutan mengantri setelah saya untuk foto berdua juga. Muahaha.

Ketika kegiatan telah usai, Pak Hikmat bertanya pada saya apakah saya akan ikut beliau lagi mengingat beliau tidak akan langsung ke Depok namun akan mampir Jakarta terlebih dahulu.

Saya yang baru tahu ini, rasanya ga rela tidak mengobrol lebih banyak lagi. Saya memilih ikut dan minta diturunkan yang sekiranya dekat dengan stasiun KRL. :))))

Selama diperjalanan menuju Depok, saya googling tentang beliau. Tentang Inisiasinya terhadap Indonesia Mengajar, tentang tulisannya tentang para relawan IM.

Jakarta lagi-lagi mempertemukan saya dengan orang hebat sedekat ini. Bertemu inisiator gerakan yang dari dulu saya impikan. Gerakan yang membuat saya membentuk Gerakan perubahan lain; One Day Fun Doing Fun.

Menjelang tengah malam hari itu, sebuah tulisan yang masuk dalam group WhatsApp kelompok kami dari beliau yang berisi;

HANDUK KECIL

Sebagai relawan fotografer awalnya saya pikir semua alat sudah saya persiapkan. Menyeka peluh yang mengganggu bidikan dengan sapu tangan yang mulai kucel, saya sadar saya melewatkan satu alat kecil yang penting siang itu. Yaitu handuk kecil.

Siang ini atau tepatnya seharian ini memang panas. Entah cuaca atau mungkin pula karena kondisi ruangan. Namun seketika pula saya jadi merasa malu.

Baru sehari saja sudah ribut dengan peluh cuma sejengkal. Ada banyak orang berpeluh-peluh di ruang-ruang kelas di sini.

+++

Saat di  ujung hari semua menari dengan syair ‘aku bisa jadi apa saja, seperti langit di angkasa yang tak ada batasnya’ maka sebenarnya itu bukan melulu nyanyian berisi doa untuk siswa-siswa saja. Tetapi juga seperti cermin yang membuat kita mengingat sekaligus menyadari bahwa untuk menggapai langit di atas sana akan butuh perjalanan panjang bagi anak-anak itu.

Betapa tidak? Mereka masih sekolah dasar, Masbro. Dan mengenang perjalanan kita sendiri, mungkin kita jadi ingat bahwa mereka semua masih akan mengalami perjuangan panjang ke depan. Mereka akan mengalami semua kerumitan, segala ketakutan dan setiap macam tantangan; dari soal keuangan, cibiran orang, gagal ujian, sulit ketemu dosen, dimarahi bos, kerja lembur, ketipu teman dan segalanya.

Yang lebih rumit karena perjalanan itu sedemikian panjang sementara kesempatan kita untuk menemani mereka sangatlah terbatas. Jangankan kita yang hanya menemani sehari, bahkan juga para guru dan orang-orang tua mereka.

Jadilah semua peluh hari ini hanyalah pengorbanan yang sungguh sederhana. Saya rasa siapapun akan setuju bahwa peluh kita itu hanyalah debu di hadapan perjuangan panjang guru-guru dan orang-orang tua di sana. Dan bahkan jadi hanya debu kosmis kalau membayangkan ada jutaan anak-anak bangsa ini di seluruh penjuru nusantara beserta perjuangan guru-guru mereka.

Karena itu menutup hari ini, sembari mengenang semua kelucuan, kegembiraan dan keriangan yang ada, saya mendoakan semua yang berpeluh hari ini mendapatkan balasan pelajaran bermakna dari Tuhan yang Maha Berilmu. Dan semoga semua peluh itu jatuh sebagai berkah bagi sekolah, anak-anak, orang-orang tua dan semua guru-guru di sana. Semoga pula Arrahiim senantiasa merawat mereka, yaitu para guru dan penggerak pendidikan di manapun, yang terus berpeluh sepanjang tahun-tahun ini dengan kasih yang sempurna. Dan semoga guru-guru dan semua pejuang itu senantiasa tabah dan sabar dalam merawat teman-teman kecil kita semua. Amin.

Depok, 14 Agustus 2017
Hikmat Hardono
Relawan Fotografer Kelompok 12 SDN Lagoa 2 Jakarta

 

 

 

Downy Daring; untuk Wangi sepanjang hari

Dulu, satu-satunya alasan saya tidak ingin hijrah ke Jakarta karena panas. Sampai akhirnya, saya kemakan omongan sendiri, betah di Jakarta. Awalnya, saya memilih kost-an yang bisa ditempuh dengan jalan kaki menuju kantor. Dikantor kan ada AC-nya, maka tidak ada alasan lagi untuk tidak menyukai ibukota ini.

Baca: Titik 0 Indonesia, Jakarta

Hampir setahun, kemudian ada tawaran kerja ditempat lain, dimana berbeda wilayah dengan kost-an saya saat itu. Saya sempat mencoba cari kost-an baru dikawasan kantor baru didaerah Jakarta Barat, namun tidak menemukan tempat senyaman kost sebelumnya.

Public Transportation yang tersedia adalah dan hanyalah kopaja. Eh ada ding, busway tapi muter-muter. Satu lagi ya Ojek Pangkalan atau Taxi yang harganya ga cucok untuk diakses sehari-hari. Jadilah saya naik kopaja.

Hari pertama saya naik kopaja, sampai didepan gedung kantor rasanya ingin pulang lagi! Menunggunya saja bisa 30 menit sampai 45 menit. Perjalanannya memakan waktu sejam karena macet. Dan didalam kopaja jurusan Lebak Bulus – Kota itu sangat amat tidak nyaman. Penuh sesak dan keringat. Saya berangkat seger pulang lusuh! Selusuh-lusuhnya. 😦 Continue reading

Kebodohan-Kebodohan ketika Jalan-jalan

Minggu lalu, saya ‘jalan-jalan’ ke Pondok Indah Mall. Biasanya sih menyerahkan nasib pada ojeg online. Namun kemarin, saya lagi ingin naik KRL kemudian disambung dengan busway. Jadilah rutenya Depok – Kebayoran. Jalan kaki ke shulter busway pasar kebayoran, kemudian Kebayoran – Pondok Indah Mall. Jalan kakinya lumayan dengan kondisi yang menurut saya kurang kondusif.

Di shulter baswey inilah tiba-tiba ingetan saya melayang ke kebodohan-kebodohan saya dalam perjalanan. Continue reading

Anaknya Ayah.

Memasuki bulan syawal (-bulan setelah lebaran) menjadi bulan dimana isinya kebanyakan sebaran undangan pernikahan. Orang berlomba-lomba untuk lamaran atau menikah dibulan yang katanya baik ini.

Namun, seperti halnya ada kelahiran, kabar bahagia, ada juga kabar duka yang berseliweran selama bulan Syawal kemarin.

Salah satu kehilangan yang bikin saya kaget adalah, meninggalnya ayah dari rekan kerja saya dulu. Ayahnya yang tidak pernah menunjukkan kesakitannya. Baru saja merayakan ulang tahun dan merayakan ulang tahun pernikahannya. Trus, ya semacam tiba-tiba meninggal dunia. Tapi ya, namanya umur emang hanya Tuhan yang tahu, ya. Continue reading

[Weekend Story] Sarapan di Sabang 16 dan piknik asik di Setu Lembang

Jadi ceritanya, semenjak memutuskan untuk pindah domisili dari Jakarta ke Depok, saya merasa sabtu minggu terasa sedikit hampa. Haha. Jarang sekali hangout, selain karena faktor Jarak juga karena faktor keuangan yang saat ini sedang jungkir balik untuk menjadi stabil.

Baca: Untuk perempuan yang menciptakan rumah sebagai tujuan ‘pulang’ bagi keluarganya.

Minggu kemarin, akhirnya mencoba melawan diri untuk produktif lagi ‘keluar kandang’ untuk nyari kesibukan. Malem minggu, tiba-tiba kang mas ngasih tau kalau Minggu pagi ada kegiatan #BhayangkariRun di Monas. Adik-adik saya kebetulan kurang piknik dan bosan dirumah, menyambut acara ini dengan antusias.

Kegiatannya pukul 05.30 pagi, dan kami baru berangkat jam segitu dari rumah. Muahaha. Alhasil, nyampe Monas sudah pukul 07.00 pagi. Orang-orang sudah mencapai garis finish dan berkalung medali. Pupus sudah tidak bisa ikut menyemarakkan, bukannya olahraga kami berjalan ke arah Jalan Sabang untuk nyari sarapan. Continue reading

Tenang Liburan, Tanpa Anyang-anyangan

Saya baru saja kembali ke ruang tunggu setelah buang air kecil dan Sholat. Pengumuman tanda penumpang tujuan Jakarta – Palembang sudah bisa memasuki pesawat sudah terdengar. Saat itu saya beserta Kang Mas hendak melakukan perjalanan ke Palembang. Kang Mas sudah berdiri untuk mengantri, saya cengengesan dan meminta diri untuk ke toilet lagi.

Baca: Mengelilingi Bumi Sriwijaya dalam Satu hari

“Bukannya barusan tadi dari toilet juga?” tanyanya geram.

Entahlah, padahal mah kalau uda masuk toilet ya engga beser juga sih. Bahkan hanya keluar sedikit. Tapi ada perasaan kepengen pipis aja gitu, meski udah jongkok mah engga banyak juga. Huft.

Sempet sih kepikiran, apa ini yang namanya Anyang-anyangan?

Mengingat saya cukup sering berpergian, rasanya perasaan selalu ingin pipis ini mengganggu sekali. Apalagi kalau sedang pergi beramai-ramai, gathering kantor ke luar kota misalnya. Alangkah tidak enaknya membuat banyak orang menunggu. Akhirnya saya bertekad untuk mencari tahu.

Jadi, Anyang-anyangan adalah gejala awal infeksi saluran kemih, yaitu rasa ingin buang air kecil terus menerus namun hanya sedikit yang keluar. Tuh, kan! L Meski ada gejala lain yang mengikutinya seperti, Nyeri atau perih saat buang air kecil dan Warna urin yang keruh dan berbau menyengat.

Walaupun saya tidak merasakan nyeri atau perih dan urin yang berbau menyengat, saya merasa perlu untuk tetap mengatasi Anyang-anyangan mengingat gejala awal yang rasa ingin buang air kecil terus menerus itu saya rasakan terus.

Jika di spesifikan lagi, beberapa gejala tambahan untuk diwaspadai terkait Anyang-anyangan ini adalah:

  • Frekuensi Buang air kecil sering dengan volume sedikit
  • Pada Wanita terasa nyeri dibagian Panggul. Pada Pria, terasa nyeri dibagian anus
  • Perih saat Buat Air Kecil
  • Urin berbau menyengat, agak pekat dan kadang mengandung darah
  • Merasa Lelah
  • Demam

Tenang saja, Anyang-anyangan bisa diatasi!

Ada berbagai cara untuk mengatasi Anyang-anyangan ini. Cara sederhananya adalah dengan banyak minum air putih dan jangan menahan apabila ingin buang air kecil. Apalagi untuk saya yang hampir seharian duduk di depan computer. Penting banget untuk rajin minum air putih. Karena dari hasil baca-baca, salah satu penyebab Anyang-anyangan ini karena dehidrasi. Kekurangan cairan bisa menyebabkan penurunan jumlah urin.

Cara lainnya adalah dengan mengonsumsi ekstrak dari buah Cranberry yang didalamnya terkandung Proantocyanidin. Proantocyanidin memiliki khasiat mencegah dan menangkap bakteri yang menempel pada saluran kemih.

Cranberry adalah tanaman jenis berry yang banyak ditemukan dibagian utara Amerika dan Kanada. Cranberry dikenal sebagai sumber vitamin untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah sariawan dan sebagai antioksidan.

Masalahnya, kalau di Indonesia dimana kita bisa mendapatkan buah Cranberry ini? Buahnya sih engga ada, tapi produk praktisnya ada. Namanya Uri-cran, produk pertama di Indonesia yang memberikan solusi alami untuk mencegah dan mengatasi Anyang-anyangan, menjaga kesehatan saluran kemih dan dapat diminum kapan saja.

Infographic-UriCran.jpg

Ada 2 bentuk dari Uri-cran. Kapsul dan Sachet. Saya yang minum kapsul seringkali ga ketelen lebih memilih untuk mengonsumsi yang Sachet. Praktis juga untuk dibawa-bawa ketika berpergian.

Sebelum merembet ke gejala yang lain, saya sedang rutin mengonsumsi untuk setidaknya menghilangkan gejala awal yang satu itu. Yuk ah, mulai sadar kesehatan! 🙂