Untuk perempuan yang menciptakan ‘rumah’ sebagai tujuan ‘pulang’ bagi keluarganya.

“Setelah kerja dan kuliah, kami anak-anak mama memiliki kesibukan sendiri. Berorganisasi, beraktivitas dan berkarir mengalihkan dunia kami. Mama sering ‘patroli’ pada kami ketiga anaknya yang tinggal jauh dari beliau. Saban hari ditelponin, ditanyain sedang dimana apakah sudah makan atau belum. Kami  seperti sedang menemukan dunia baru dan menikmatinya, tapi bagi mama, kamilah dunianya”

Jakarta buat saya adalah sebuah hubungan love and hate relationship. Saya suka sekali sama kota ini karena memberikan banyak sekali kesempatan untuk saya berkembang dan mengenali banyak orang hebat, meski di sisi lain tak jarang saya menangis karena terjebak traffic yang menggila. Saya senang Jakarta membuat saya bisa berjalan-jalan keluar kota, terkadang dalam kondisi yang bersamaan saya sedih karena merindu dengan ibukota ketika sedang berpergian.

Kehidupan saya di Jakarta baik-baik saja sampai akhirnya saya memutuskan untuk membawa pindah adik bungsu, papa dan mama ke Ibukota. Papa memutuskan pensiun dini sejak 6 tahun yang lalu, saat ini beliau bertahan di Batam karena masih menunggu adik bungsu saya yang masih kuliah. Pemikiran sederhana saya kalah dengan realita yang ada. Saya kira, uang makan harian saya cukup untuk memberi makan keluarga. Namun perhitungan saya salah, saya seperti ‘kaget’ ketika token listrik seharga paket pulsa hanya mampu bertahan satu minggu. Isi ulang air mineral satu galon yang tadinya untuk saya sendiri cukup seminggu sekali, kini habis dalam 2 hari, begitu juga dengan gas, menyusul beras. Belum lagi, kami juga harus pindah ke tempat yang cukup menampung 4 orang, hal ini tentu meningkatkan biaya kost dari sebelumnya.

Dalam kondisi ini, saya dipaksa belajar untuk lebih apik dalam mengelola keuangan. Perlahan, tabungan saya terkuras. Hampir setiap bulan over budget. Saya pernah memergoki Ibu saya berbelanja dengan menggunakan uang pecahan 500 rupiah untuk bisa membeli tempe dan tahu untuk diolah. Dilain kondisi, Ibu pernah menelepon saya sambil bertanya apakah saya lupa menaruh uang belanja? Saya jawab dengan, ‘saya tidak lupa, namun tidak ada’. Ya, tidak ada uang untuk belanja di hari itu.

Saya nyaris sudah tidak punya kesempatan untuk berjalan jauh. Saya harus rela mengurangi atau meniadakan nongkrong di Mall. Memilih untuk menonton di bioskop di hari kerja agar lebih murah.

Secara keuangan mungkin iya saya sedang terpuruk, namun ini bertolak belakang dengan kebahagiaan yang saya dapatkan. Semenjak ada adik, Mama dan Papa saya merasa hidup menjadi lebih mudah.

Jika kelaparan tengah malam, ada bungsu yang bersedia mencari nasi goreng agar kami bisa tidur nyenyak tanpa takut perut sakit karena berbunyi makan minta diisi. Jika adik saya kuliah agak siang, Papa bersedia mengantarkan saya ke kantor meski perjalanan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Mama tidak pernah luput membekali sarapan dan makan siang untuk saya dan adik bungsu. Pagi-pagi sekali sebelum kami terjaga, beliau sudah krasak krusuk didapur menyiapkan perbekalan kami. #BekalBuatanMama ini pernah beberapa kali saya posting di Instagram saya. Saya juga tidak perlu memikirkan laundry, karena ada fasilitas mesin cuci yang bebas bisa kami gunakan untuk mencuci baju. Mama dengan senang hati akan melakukannya setiap hari.

 

Pernah suatu hari, mama meminta saya untuk membelikan kulkas. Karena kebutuhan lain masih banyak, permintaan itu saya tunda. Sampai mama membelinya sendiri. Mungkin iya, menurut saya kulkas bukanlah kebutuhan yang diprioritaskan, namun bagi mama yang setiap hari membekali kami, kulkas adalah salah satu kebutuhan utamanya. Beberapa waktu kemudian, uang mama saya ganti karena merasa bersalah.

Tuhan tidak pernah tidur. Saya merasa tidak memiliki mimpi besar apa-apa dalam waktu dekat kecuali menikah. Hidup sehari-hari cukup makan bagi saya sudah Alhamdulillah. Tak apa saya harus menunda traveling, yang penting kebutuhan keluarga tercukupi. Saya tidak lagi mudah mengambil keputusan seperti dahulu, bisa impulsif membeli tiket untuk berpergian. Karena mulai ada prioritas untuk kebutuhan.

6 bulan berlalu, bak ditumpahkan rezeki, tiba-tiba perusahaan saya memberikan informasi tentang kebijakan kepemilikan rumah. Dalam hati saya merasa tak sanggup, tapi dalam waktu yang bersamaan tangan saya bekerja. Meski tahu ini kemahalan untuk kondisi keuangan saya saat itu, saya tetep aja ‘maju’. Bayar booking fee.

Prosesnya bagaikan roll coaster, baru saja dibawah, tiba-tiba sudah diatas. Saya sempat merasa down dan tidak melakukan apa-apa. Tiba-tiba, saya seperti bersemangat kembali. Saya mengurusi persayaratan KPR nya. Saat KPR disetujui, ada angka DP yang harus saya bayar. Saya sempat mengulur ngulur waktunya sedemikian rupa karena jumlahnya belum sanggup saya upayakan.

Saya ingin menyerah dan angkat tangan, saya ingat satu keinginan Mama. Ingin berlebaran dirumah sendiri. Tidak di kostan agar bisa kumpul bareng kakak dan adik yang saat ini berdomisili di Sumedang dan Bandung.

Kun fayakun.

Allah mudahkan segalanya.

Allah beri jalan keluar disaat saya merasa sudah tidak ada lagi pilihan.

Saya ada sampai pada akad kredit. Proses dimana satu langkah sebelum kunci rumah bisa saya pegang. Angka DP bisa saya penuhi. Dengan tidak menyisakan tabungan sedikitpun.

Dan lagi-lagi, qadarullah, kunci rumah saya terima tepat 2 hari sebelum Mama ber-ulang tahun. Inilah hadiah saya untuk Mama, sebuah rumah.

Sudah selesaikah masalah saya? Belum. Saya bahkan tidak punya uang untuk menyewa mobil untuk pindahan. Untuk membeli kasur juga saya belum mampu, karena selama ini kami menyewa tempat yang menyediakan fasilitas kasur dan lemari.

Saat ini saya masih mencicil untuk bisa membangun atap belakang dapur, membeli kasur, kipas angin dan lemari. Satu hal lagi, saya ingin sekali membelikan mesin cuci untuk menjadi bagian yang akan saya beli untuk dirumah. Supaya mama, tidak perlu menyuci baju secara manual dirumah baru kami.

Mama dan papa telah berhasil menciptakan sebuah ‘rumah’ untuk kami ke empat anaknya. Tempat kami mengadu dan menjadi tujuan untuk ‘pulang’.  Maka, terima kasih Tuhan, atas izinNya, saya bisa memberi rumah untuk mama tinggal dan hidup layak bersama papa.

Mi Familia.jpg

Foto pertama dirumah baru

Hidup adalah belajar dan pembelajaran tanpa ada habisnya. Hari ini saya belajar, bahwa yang saya butuhkan hanya keikhlasan yang tulus untuk menyenangkan hati orang tua, maka Tuhan akan dengan mudah, memudahkan segala cara. Satu hal yang saya yakini, bahwa ada dua hal dalam hidup ini yang tidak bisa ditunda, berbuat kebajikan dan berbakti pada orang tua.

The Bachtiars

Foto lebaran tahun lalu, semoga tahun ini moment ini keulang kembali 🙂

Semoga kami anak-anak mama bisa memberikan yang terbaik, seperti halnya mama yang sudah melakukan apa saja untuk kami dan menjadikan kami sebagai ‘dunia’nya. 🙂

Advertisements

19 thoughts on “Untuk perempuan yang menciptakan ‘rumah’ sebagai tujuan ‘pulang’ bagi keluarganya.

  1. leniaini

    oh God, nangis bacanya. keinget betapa signifikannya peran keluarga di rumah
    saya yang doyan jajan makanan ini kadang ngeluh mama masak di rumah terlalu ‘masakan rumahan’, tempe orek, sayur bening, beda dengan makanan penuh gurih dan rasa kalau jajan di luar. tapi, kalau inget nasib kawan-kawan yang merantau dan belum tentu pola makannya terjaga karena mesti beli makan, saya merasa sudah terlalu banyak diberi segalanya oleh Tuhan dalam hidup ini.

    terimakasih atas tulisan yang menghangatkan hati ini mbak ❤

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Iya, Mbaa.

      Masakan rumah ala Mama itu jadi masakan paling enak kalau uda merantau. Sayur bayam, tempe dan sambel jadi kemewahan mengalahi hanamasa.

      Semoga jadi membuat kita banyak bersyukur akan nikmatNya ya, Mbaak. 🙂

      Terimakasih telah sudi membaca. 🙂

      Reply
  2. Ata

    Niaa.. ceritamu heartwarming sekali.. aku sampe langsung telepon Papaku karena jadi makin kangen beliau huhu. Upahmu besar di surga, Mama Papa dan keluargamu pasti bangga dan bahagia luar biasa punya anak cantik paras juga hatinya.. semoga dimudahkan semua urusan ke depan ya.. :’)

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Mba Ataaaaa. :’)
      Aamiin, mbaa. Semoga menjadikan kita jadi anak-anak yang sayaang orang tua seperti halnya mereka sayang kekita ya, Mbaaa.

      Reply
  3. Dimiyati Syahidah

    kak niaaaa…. aku mau nangis bacanyaa, huhuhuhu
    salah satu impian aku pun pengen beliin ibu rumah. jadi semangat ngeliat tulisan kakak. hosh.. ganbatte!!!

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Waaaah. Semangat kak Dimiiii. Bener deh, diniatin yang tulus untuk terus berbakti pada orang tua. Selanjutnya biar Allah dan semesta yang bekerja. Semangat, ya! 💪💪

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s