Tag Archives: #Jakarta

Icip icip kepiting di Cut The Crab

20150117_175439 copy

Yang suka Kepiting, mana suaranyaaaaaa? Di Jakarta, ada tempat nongkrong dimana kita bisa ngemil ngemil kepiting. Uniknya, cara penyajian yang langsung ditaruh aja gitu diatas meja pake alas cokelat.

Nama tempatnya Cut The Crab, terletak di Jalan Wolter Mongonsidi. Kalo dari arah Blok M, kemudian menuju jalan utama Wolter Mongonsidi, lurus terus, sampe ketemu total buah, belok kiri. Udah deh, Cut The Crab terletak disebelah kanan jalan. 🙂

Pilihan kepitingnya beragam, dari single crab seharga Rp. 170,000,- sampai Big Papa (Bisa untuk 4-5 orang) seharga Rp. 1,100,000,-

Kemudian juga tersedia paket combo, isinya, Singkong, sosis, jagung, kerang, jamur serta bebas milih salah satu antara Prawns/Crawfish/Lobster, dibanderol seharga Rp. 125,000,- per porsi.

20150117_181303 copy

Ini saya dengan paket combo (prawns)  dan kepiting untuk 2 orang.

Untuk bumbunya juga macem macem, kita bisa milih dengan tambahan tingkat kepedasan level rendah, medium dan pedas. 🙂

20150209_201626 copy

Masih dengan paket kepiting untuk 2 orang dan Combo dengan pilihan Crawfish

Jom, nunggu apalagi? Coba coba langsung di tempatnya. Eh iya, saya sekali waktu pernah kesini after office hour. Masih buka sampai jam 12 malam. 🙂

Cut The Crab

Jln Cikajang 32, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Telp 720 6810

Advertisements

Proses Rekrutmen.

Mau ngelanjutin, postingan tentang Jobseeker kemarin ah. Setelah perjuangan mencari pekerjaan usai, masih ada badai berikutnya, proses rekrutmen. Pernah gagal? ya, pernah. Sering ga, ya? Ngg..

Masing masing perusahaan punya standart proses rekrutmen nya masing masing, kebanyakan mirip mirip, beberapa ada juga yang beda. Saya pertama kali ikut proses ini waktu di kantor pertama di Bandung. Waktu itu, boro boro mau googling/beli buku tips lolos psikotes/interview, saya lempeng aja gitu psikotest tanpa bekal. Bagian pertama, test logika aritmatika, ini berhubungan dengan hitung hitungan. Ditahap ini, saya sik ngerjain sebisa dan semampunya aja, kalo ga nemu ya, pake logika aja, angka angkanya ditambahin, dikurangin, dikaliin, dibagi sampai ketemu hasil akhir yg ada di pilihan jawaban 😀

Kemudian, test logika penalaran. Bentuknya yang kaya gini loh.

Sumber gambar dari sini

Sumber gambar dari sini

Saya sih ya, ngisinya pake perasaan aja. Sambil dikira kira. Sesekali kertasnya di puter puter. 😀 Kalo uda buntu, ya, pake prinsip mempercantik lembar jawaban aja 😀

Setelah itu, kita dihadapkan pada, analog verbal test, ini tuh yang perbandingan kaya gini; – wanita : kebaya = pria :
– a. sepatu b. baju c. topi d. jas. Ini mah ya kira kira aja mana yang nyambung ya.

Pernah di kasih kertas gede seukuran A3, yang isinya diminta untuk menjumlahkan angka dengan dibatasin waktu, engga? Namanya Kraeplien/Pauli. Pertama nya sih saya shock. Apa apaan ini, timbal balik pula. Kesini sini saya baru ngeh kalo buat ngisi ini, jangan terburu buru, sehingga yg terlihat malah nanti garisnya menurun. Semangat di awal gitu. Lantas? Kalo segaris lebih bagus? Engga juga. Segaris malah nunjukin kita flat gitu, sama bisa aja dicurigai curang. Isi aja sebisa nya semampunya. Garis naik turun dengan rentang tidak jauh katanya baik. 🙂 cmiiw.

Continue reading

[CharityLovers] One Day Fun Doing Fun

IMG_3038-a

venue

Kenapa di Situ Gintung? Saya pribadi pernah menghadiri acara ditempat ini selama dua kali. Dan selalu jatuh cinta dengan lokasinya yang hijau. Setelah melihat kondisi Yayasannya juga, serasa tidak memungkinkan untuk kita gunakan bermain main secara bebas dan lepas. Maka, kami sepakatlah untuk mengajak adik adik ‘keluar’ dari rumahnya dan bermain bersama kami, ditempat ini.

IMG_3050-a

Rombongan Adik adik yang langsung dipimpin kakaknya. 🙂

Putri memimpin Adik Adik dari Yayasan, tepat pukul 09.30 a.m. Which means, kita bisa memulai acara ini dengan ontime. Adik adik yang turut serta pada hari itu sekitar 20 orang.

Selfie first.

Selfie first.

Continue reading

Ke Pulau Tidung, Masih jaman?

Menginjak kaki ke Pulau Tidung adalah impian saya sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu berlibur ke Tidung sedang hits hits-nya. Saya sempat menunda resign karena mendengar kabar kabur bahwa outing kantor akan bergerak ke sana. Sampai akhirnya saya resign, outing ke Pulau Tidung tak juga ter-realisasi. 😦

Bulan kedua setelah hijrah ke Jakarta, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Pulau Harapan, bulan berikutnya Karimun Jawa, dilanjutkan lagi bulan berikutnya saya menginjakkan kaki ke Pulau Pari. Saya mulai kehilangan selera untuk menginjakkan kaki di Pulau Tidung setelah mendengar cerita para guide di Pulau Harapan dan Pulau Pari kalo Pulau Tidung sudah tidak nyaman untuk didatangi. Setelah mulai lupa pada impian menginjakkan Tidung, mantan kantor saya baru outing kesana. Huh.

Sampai akhirnya di pertengahan 2014, sebuah email masuk dengan subject voting outing 2014. Anyer dan Pulau Tidung. Saya yang sudah pernah ke Anyer, refleks memilih Pulau Tidung dan berharap vote terbanyak ke Pulau Tidung. Kenapa Tidung? Karena saya sudah pernah ke Pulau Pari dan Pulau Harapan 😛 selain itu, karena lebih deket dari Muara Angke.

Awalnya, saya diminta untuk mencari informasi untuk eo yang akan kami gunakan untuk outing kali ini. Dengan pertimbangan ini adalah family gathering, saya tidak merekomendasi eo eo kelas homestay dan harga murmer. Ga apalah agak mahal, yang penting nyaman, dan kami semua menikmati.

Maka, saya mengambil paket di tidungnirwana dengan menggunakan kapal middle class. Engga menyedihkan naik kapal kayu, tidak juga sok gegayaan naik kapal dari marina. Pilihan jatuh pada kapal zahro. Duduk, ber-AC dan nyaman.

Temen temen sempet kaget ketika melintasi kapal kayu yang sudah dipenuhi orang orang ngampar. Mereka mencemaskan diri akan bernasib sama. Haha.

IMG_2515-a

Not Bad, kan?

Dilengkapi TV, Sound System.

Dilengkapi TV, Sound System.

Continue reading

Titik 0 Indonesia, Jakarta.

20140412_110443-a

Patung Selamat Datang, Selamat Datang Jakarta

“Sini kerja di Jakarta, Is. Digaji 5 juta, deh” Ujar salah satu teman kuliah yang sudah terlebih dahulu kerja di Jakarta.

“Engga, ah! Jakarta panas” Jawab saya.

“Yee. Mau sukses kok takut panas.” Ujarnya lagi.

Setahun kemudian, saya pindah kerja ke Jakarta. Terkadang manusia terbiasa menjilat ludahnya sendiri. 😐 dan manusia itu, salah satunya, saya.

Kenapa saya ingin berdomisili di Jakarta?

Simple saja, saya memiliki mimpi untuk menjelajah Indonesia. Untuk itu, akan mudah jika perjalanan dimulai dari Jakarta. Dari Batam, saya harus mengandalkan moda transportasi pesawat terbang, sementara dari Jakarta, saya bisa mengandalkan bus sampe ke pulau sumatera.

Saya memberanikan diri untuk melancong ke Jakarta seorang diri. Yap, seorang diri. Luntang lantung kaya anak ayam kehilangan induk di Ibukota. Saya memberanikan diri untuk mengambil kerjaan sebagai implementator, pekerjaan yang selalu saya hindari sedari saya menjadi sarjana. Menuju Jakarta, saya berkali kali menjilat ludah sendiri.

Kost-an pertama saya di Jakarta, tepat diseberang Mall besar milik Jakarta Selatan, Gandaria City. Rp. 600,000,- sebulan. kamar kecil berukuran 2m x 2m. Berpintu dan berdinding triplek. Kamar mandi diluar. Beralaskan karpet. (ya, menurut ibu kost, itu kasur. Menurut mata saya, itu hanya karpet). Berjendela kecil, selayaknya jendela kamar mandi. Sederhana sekali. Lingkungan sekitarnya, rapat rapat. Padat penduduk.

Saya ingat benar, hari pertama kali saya kerja di Jakarta. Saya bersemangat sekali pergi ke kantor yang ditempuh dengan jalan kaki dari kostan saya. Saya terkampung kampung ketika melihat kereta api melintas menemani perjalanan saya ke kantor. Saya meyakini diri, bahwa saya siap menjadi bagian dari Jakarta.

Bulan berikutnya, saya pindah kostan. Ke tempat yang jauh lebih layak. Dengan Rp. 700,000,- saya mendapatkan sebuah kamar 2 x 3 m. Kamar Mandi didalam. Kasur, lemari dan Kipas Angin. Parkiran Motor. Dekat dengan warung jajan, penjual pulsa dan londri-an. #penting Meski untuk ini, saya harus jalan kaki lebih jauh. 20 menit. Dengan tarif kost-an yang menghabisi 1/4 gaji bulanan saya. Selamat datang, di Jakarta.

Adalah Jehan, teman dekat saya ketika kuliah menyusul saya kerja di Jakarta. Akhirnya, saya tak lagi luntang lantung sendirian. Saya punya teman. Klien saya, yang kebetulan kantornya sebelahan dengan kantor Jen, ngebuat kita sering nyempet-nyempetin makan malem bareng. Cerita cerita. Saling mengutarakan mimpi. Ya, mimpi yang membawa kami ada di Jakarta.

Jakarta, dimana hari hari orang orangnya berpacu dengan waktu. Pukul 8 pagi, orang orang uda menatap leptopnya masing masing. Pukul 1 siang, semua kursi sudah terisi, dan masing masing kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pukul 5 sore, di Jam pulang, semua orang masih berdiam di tempat duduknya masing masing. Errr.. Ya,  di Jakarta semua orang, gila kerja. Selamat datang, di Jakarta.

“Bu, saat ini saya sedang ada di Solo. Saya akan melanjutkan perjalanan ke Semarang esok hari. Saya baru bisa kembali ke Kantor selasa.” Izin saya suatu hari pada atasan.

dan dibales, “Akan ada meeting hari Senin. Kamu harus turut serta. Segera kembali ke Jakarta.”

Oke, di Ignore. Sorenya saya grasa grusu nyari moda transportasi untuk segera pulang ke Jakarta. Karena mendadak, saya kehabisan segala macam tiket. Saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta via Bandung. Yes, Selamat datang di Jakarta. Mau izin sehari aja susah. 😦

Sampai pada suatu hari, saya terjebak macet di sekitaran gedung MPR dibilangan Senayan, saat itu pukul 12 siang. Matahari tepat diatas kepala. Saya berdiri didalam bus tak ber-AC menuju Slipi. Saya kehausan. Saya mulai pusing. Saya muak dengan mobil yang pelan sekali berjalannya, kemudian seorang pengamen menyanyi persis disebelah badan saya, “Siapa suruh datang Jakarta. Siapa suruh datang Jakarta.” Saya serasa ingin pura pura mati saja. Selamat datang di Jakarta, Nia.

Dilain hari, saya berbaik hati mengantarkan leptop untuk dipinjem Jen selama saya main ke Bandung. Saya naik busway. 3 jam aja masa Kebayoran – Slipi. Yes, i’m crying at the time. Hujan, Jumat, After Office Hour, lewat Jakarta Barat. Oke, Selamat datang di Jakarta.

Jakarta banjir. Bundaran HI terendam. Gedung UOB memakan korban. Saya beserta beberapa teman berinisiatif ke camp pengungsian, membawa segala macam bala bantuan. Turun dari bus. Dompet saya lenyap. Jakarta ajaib. Padahal saya rame rame. Padahal tas saya didepan badan. Padahal saya diapit temen temen saya. Selamat datang di Jakarta.

Menuju tahun kedua saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion saya dulu, Human Resource. Sayangnya, kantornya dibilangan Jakarta Barat. Setiap hari saya berjuang naik kopaja untuk menerjang Jakarta Selatan – Jakarta Barat. Rasanya? Seringkali saya turun dari Kopaja dalam keadaan kucel kumel dan sudah tidak bersemangat untuk kerja. Selamat datang di Jakarta.

Ah, kalau saja ketika bercakap nanti saya bicara, ‘Ga ngerasain hidup di Jakarta, sih’ Tolong dimaklumi ya. Jakarta emang sekeras itu kehidupannya.

Di ke-apes-an hidup di Jakarta, Jakarta punya sisi lain yang ga dimiliki oleh Bandung. Tempat dimana saya dulu bekerja sebelum hijrah.

Saya ikut rombongan trip, yang karena trip itu saya jadi punya temen traveling untuk menjelajah tempat tempat di Indonesia. Saya mulai jago berburu tiket promo pesawat, saya dapet tiket harga 10 ribu untuk pp ke Makassar. tiket 100 ribu pp ke Padang, Bali dan Batam. Saya bisa mengunjungi belitung dengan tiket pp 350 ribuan. Saya mendaki semeru dengan tiket pp 200 ribuan. Saya bisa ke Bandung dengan 17 ribuan pake Kereta Api.

Di Jakarta, saya dapet kios buku langganan yang buku bukunya dibandrol dengan harga 20 ribuan. Buku asli. Jatah-an penerbit untuk kios ini. Adapula pusat jualan baju Tanah Abang, yang baju bajunya dibandrol dengan murah meriah.

Di Jakarta, event event kece banyak banget. Dari yang gratisan sampai berbayar. Saya pernah dapet doorprize handphone disalah satu acara media social. Saya pernah diundang oleh Marshanda untuk syukuran managementnya. Saya beberapa kali bersama Jen, duduk manis menjadi penonton langsung acara Stand-Up Comedy. Banyak pula seminar seminar oke yang tak berbayar tapi kita bisa pulang nenteng goodie bag lucu lucu.

Pintar memilah following di Twitter. Saya pernah diundang diacara launching Buku, ikut heboh konser Kahitna, Nobar Idol bareng Hivi! Semua Informasinya dari twitter dan serba gratis. 🙂

Tahun ini, genap 2 tahun saya di Jakarta. Gimana rasanya? Saya betah banget di Ibukota. Tuh, pake Banget. 😀

Saya mengendarai motor sekarang. Perjalanan ke kantor jadi lebih mudah. Meski, kalian harus percaya satu hal. Motor yang saya kira hanya kotor, dan pas dicuci ternyata adalah baret. Yap! Bawa motor di Jakarta itu, kalo engga di senggol ya kita nyenggol. 😦 Kalo engga, saya yang ngomong, “Maaf ya, Mas.” ada seseorang yang ngomong, “Maaf ya, Mbak”. Coba perhatikan setiap lampu merah di Jakarta, motor selalu berada didepan zebra cross. Pun saya akan berada dibarisan terdepan 😀 ketika lampu kuning, ngeeeengg.. sudah pada ngegas. Saya juga jadi ikut ikutan. Trus, Jangan aneh kalo banyak sekali motor lawan arah. Abis nya, puteran jalan di Jakarta itu jauh banget. Bisa bisa beda wilayah. Contoh kasus, saya dari Gandaria (which is Jakarta Selatan) mau ke Karet, Sudirman (which is masih Jakarta Selatan) saya harus muter lewat Bundaran HI (which is Jakarta Pusat).

Pendapatan saya sudah berlipat dari pendapatan pertama saya di ibukota. Kostan saya masih yang 700 ribu. Sudah 2 tahun, dan belum naik. Saya sekarang sekamar berdua Putri. Which is, 700 ribu dibagi berdua. Jauh lebih murah.

Saya masih rajin Jalan jalan. Masih berburu tiket promo. Masih berburu diskonan untuk belanja buku belanja baju. Lagi aktif aktifnya ikut kelas Akademi Berbagi.

Saya bahagia karena saya selalu ada kesibukan. Saya senang karena temen superjuangan saya, Jen pun demikian. Seperti saya yang sedang menjajal mimpi jalan jalan, Jen juga. Ia sedang menggapai mimpi mimpinya. Meski untuk itu, intesitas kita bertemu, duduk makan bareng jadi jarang sekali.

Eh iya, buat kamu yang saat ini sedang berada di Jakarta, atau berniat hidup di Jakarta seperti saya. Saya berbagi sedikit tips ya;

1. Kosan – Kantor jangan lewat jalan besar.
2. Jangan sok sok-an nongkrong after office hour di segitiga emas Jakarta (Sudirman-Thamrin-Gatsu) apalagi setelah hujan. apalagi hari Jumat. Jangan.
3. Sekali sekali naik ojek, bajaj, taksi. Biar tau jalan lain selain rute angkot/kopaja :’)))
4. Having trip 2 minggu sekali keluar Jakarta.
5. Jakarta segala ada. Ubek ubek tempat hunting buku, hunting baju dan acara seru.

At the end, Last but not least, Saya masih ingin berkeliling Indonesia lewat sini, titik 0 nya menjelajah Indonesia, Jakarta.

NB. Suatu hari, pernyatan saya diatas mungkin akan jadi bumerang buat saya ketika nanti, saya ketemu sama pujaan hati yang menawarkan kebahagiaan diluar kota Jakarta. ihihi.