Category Archives: Cerita

Menuju 24 di 2014

IMG_8985 copy

Saya termenung agak lama, melihat foto ini dilaman Instagram yang saya posting pada awal awal 2014. Ini beneran saya nulis ini doang untuk harapan, resolusi 2014? Sesimple ini? Saya mencoba membuka agenda, membaca postingan, beneran ga ada harapan 2014 secara spesifik yang saya tulis? Nia di 2014 cuma mau jalan jalan doang. Huh, pantes saja ga nikah nikah. #eh?

Gini, mungkin cuma ini yang saya berani share ke media. Jauh dilubuk hati saya yang paling dalam, tentu saya punya keinginan ini itu yang harapannya terwujud di 2014, namun tak sampai hati untuk menuliskannya. Walaupun kebanyakan, yang kejadian Surprise dari Allah sik.

Dan, setelah satu tahun berlalu, Semesta memberikan banyak sekali rezeki dan berkah pada saya; Continue reading

Tentang Sahabat; Jilbabers Only.

Ini saya aja, atau rata rata orang kebayangakan pada bikin geng gitu dijaman SMP/SMA ga sih? Geng disini maksudnya, kemana mana dengan orang yang sama. Menghabiskan kebanyakan waktu bareng bareng. Curhat. Ngerayain ulang tahun bareng. Gitu gitu.

Saya punya waktu SMA. Salah satunya Jilbabers Only. Karena punya kakak yang masuk Rohis (Rohani Islam), maka, ketika masuk SMA, saya juga daftar deh ke Organisasi ini. Kami deket karena ya sering ikutan kegiatan Rohis ini bareng bareng. Pertama masuk, saya mengemban amanah menjadi Bendahara. Sementara temen temen ini rata rata menjadi Anggota Bidang. Nah, ketika naik ke kelas 2, saya sempet tuh dideketin untuk pindah ke OSIS, tapi ceritanya udah nyaman banget di Rohis, jadi ga niat pindah ke lain Organisasi. Ehilalahnya, saya dipilih untuk menjadi Ketua Akhwat. Dengan hanya hitungan jari senior di Rohis, saya memimpin di tahun 2006.

Jadilah bersama Steffi, Ayu, Nadia, Helma Rina dan Ummul saya sering menghabiskan waktu. Selain menjadikan mushola sekolah sebagai tempat nongkrong untuk sholat dhuha, bersih bersih sabtu pagi atau mentoring di hari Sabtu, kami nyaris setiap hari tunggu tungguan untuk pulang bareng. Biasa satu taksi rame rame. Seringkali menyempatkan belajar bareng pulang sekolah. Dulu, saya ga pernah kepikiran kalau kami akan selanggeng ini hubungan pertemanannya. Sampai saya sadar, kamilah yang membuat ini akan menjadi langgeng.

DIGITAL CAMERA

Salah satu moment Pesantren Kilat – 2005

Continue reading

Jobseeker.

Sebuah whatsApp masuk atas teman SMA saya, “Nia, minta tips nyari kerja di Jakarta, dong.” Saya terdiam sesaat setelah membaca pesan itu, pikiran saya semacam throwback ke 3 tahun silam, dimana saya mencoba hijrah ke Jakarta.

* * *

Ketika kuliah D2, saya ditugaskan untuk kerja Praktek. Ketika itu, saya dipanggil untuk magang di K-Lite FM bersama 2 orang teman seangkatan saya namun berbeda jurusan. Jobdesk saya sederhana, mengisi content website mereka. Memotong siaran, lalu diupload ke Website. Sesekali, saya membantu men design promotion tools mereka. Kebetulan jurusan saya emang di Web Development dan saya suka mengotak ngatik Adobe Photoshop. Waktu itu, saya di beri uang saku Rp. 10,000,-/hari. Rasanya uda seneng kek apa. ihihi. Anak magang, gitu.

Setelah magang usai, saya emang langsung apply lamaran kesana kemari. karena ya gitu, kuliah tinggal sidang skripsi. Saya harus mulai nyari uang sendiri. Seminggu setelah berhenti magang, saya dipanggil kembali ke kantor K-Lite. Si Bapak meng-apresiasi kinerja saya selama Magang, dan tertarik untuk mengangkat saya sebagai bagian dari keluarga K-Lite. Beliau juga menunjukkan beberapa design saya yang akhirnya dicetak dan dijadikan media promosi radio mereka. Senang? ya tentu. Tidak ada penghargaan lebih baik, selain kerja keras kita dihargai πŸ™‚

Sebulan saya menunggu kabar dari K-Lite tak kunjung datang, akhirnya mulai apply apply ke perusahaan lain. Sambil menunggu waktu dan mengisi kekosongan mengurusi tugas akhir, saya menerima tawaran untuk menjadi bagian dari panitia pelatihan sensus penduduk. Sehari dibayar Rp. 100,000,-. Kerjaannya? Jadi panitia registrasi, mengamati kelas, memberi arahan. Makan ditanggung, tinggal dihotel dan yang enak, bisa tidur siang. :)))

Baru 3 hari dari 15 hari perjanjian kerja itu, saya ditelepon oleh salah satu perusahaan software house yang mengabarkan saya bisa untuk mengikuti serangkaian test di perusahaan tersebut. Dalam percakapan itu, saya bilang bahwa saya sedang terlibat project pelatihan sekitar 2 minggu. Setelah itu, saya free. Beruntungnya, perusahaan ini mau ‘menunggu’ sampai saya selesai menyelesaikan pelatihan itu.

Saya diterima dan mulai kerja, dengan gaji pertama Rp. 900,000,- yes, masih dibawah sejuta. πŸ˜€ Kabar baiknya, saya melamar sebagai programmer dan keterima sebagai dokumenter, which means, saya bebas dari perkodingan. yes! Seminggu saya bekerja, saya mulai ga sabar untuk jalan jalan. Gajian belum, jalan jalan udah. :))) Ini gegara, Nithi yang ujug ujug nyamperin dari Batam dan pengen main ke Yogya! *toyor Nithi*

Gaji pertama belum keterima, tawaran ke yogya nya udah. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta api ekonomi Bandung – Yogya seharga 20 ribuan. Rasanya? ya kapok. haha. Meski diawal awal kami menikmati perjalanan 8 jam itu. Masih bisa cekakak cekikikan, masih bisa jajan jajanan yang lewat. 5 jam berjalan, bawaan saya gelisah resah kepanasan. Balik sana balik sini ga karuan. Dalam perjanan ke Yogya itu, saya menerima sebuah sms yang berisi,

“Nia, perusahaan bersedia kamu bergabung bersama kami, bisa ke kantor segera? xxx – K-Lite.”

Ya gimana, saya baru aja kerja belum sampe 2 minggu. Itu juga si perusahaan uda nunggu 2 minggu, masa mau ujug ujug resign. Ya galau lah saya. Secara radio ini, masih dibawah PT Telkom. Suka ada bonus nya. Dan jobdesk nya itu loh, enaaakk. πŸ˜€Β  Eh, btw, kelanjutan cerita ke Yogya nya ada di postingan ini, ya.

Continue reading

Success & Failure

Selama bulan Ramadhan kemarin, dept Learning & Development mengadakan sharing session dari HC untuk HC yang sengaja diselenggarakan untuk saling berbagi dari kami (div Human Capital,red) untuk kami. Sayang, saya hanya bisa mengikuti 2 dari sekian sharing. Salah satunya adalah mengenai ‘Behavioral Event Interview [BEI]’ materi ini disampaikan oleh mba Nisa selaku tim dari dept Recruitment Selection di perusahaan tempat saya bekarja.

BEI ini adalah materi mengenai wawancara terstruktur dan terarah. Tentang how to seorang interviewer menyeleksi calon karyawannya. Sebagai orang yang pernah berkali kali mengikuti proses assesment, informasi tentang BEI ini nambah ilmu saya banget. Selama ini, beberapa kali mengikuti proses recruitment, yang saya temui sebatas pertanyaan; terakhir kerja dimana, dengan pendapatan berapa, passion nya apa, hobinya apa, nanti kedepannya pengen seperti apa, jobdesk di pekerjaan yang ditawarkan seperti apa. Sementara dalam BEI, interviewer akan lebih spesifik dalam menggali informasi calon karyawannya seperti; Apa tanggung jawab Interviewee? Apa tantangannya / situasi-situasi kritis seperti apa yang sering dihadapi dalam posisi Interviewee? Apa ukuran keberhasilannya? Prestasi apa yang pernah diraih? Keberhasilan dan kegagalan apa yang pernah dijalani.
Seketika saya terdiam, oke ya, susah pertanyaannya. Eh, bukan susah sih. Hanya butuh waktu lebih panjang untuk berfikir πŸ˜€ keluar dari ruangan, saya jadi kepikiran, Iya, ya. Kesuksesan kegagalan saya apa sih selama ini. Saya mulai melamun, mulai flashback gitu, apa apa yang sudah terjadi dihidup saya. Continue reading

Pulang.

Sejauh jauhnya merasa bangga menginjakkan kaki disuatu tempat, toh pada akhirnya saya memilih untuk pulang. Se senang senangnya traveling kemana mana, pada akhirnya, rumah tempat pulang lah yang memberikan rasa nyaman. Iya, saya memilih untuk pulang, ditengah kegalauan libur panjang yang sebenernya bisa saja digunakan long trip ke suatu tempat.

Buat kamu yang dirantau, selain perlu untuk ber-solo travelingΒ sekali saja seumur hidup, kamu harus nyobain sensasi pulang kerumah tanpa diketahui oleh orang rumah. Melihat ekspresi kaget dan senengnya ada kita didepan pintu rumah itu buat Bahagia tiada dua.

3 tahun yang lalu, ketika saya masih kerja sambil kuliah, saya sempet minta sponsor ke ayah saya untuk menyumbang dalam rangka liburan saya ke Bali. Disanggupi oleh ayah saya. Pada prosesnya, saya dan teman teman membatalkan niatan untuk berfoya foya di Bali. Dalam hitungan hari, uang tiket yang beliau berikan untuk ke Bali, saya beli untuk penerbangan ke Batam. Moment nya tepat ketika saya selesai pengajuan proposal sidang sarjana.

Tanpa sepengetahuan orang rumah, saya dini hari sudah ngeteng ke Soeta dari Bandung. Di Batam, dimana rumah keluarga saya berada, saya meminta jemput Nithi untuk mengantarkan saya pulang.

Ayah ibu saya tentu sumringah luar biasa. “Bukannya mau ke Bali? kok malah pulang?” saya ga pernah lupa bagaimana ekspresi bahagia saya pulang mendadak ini. Sebagai anak yang ngerasain gimana sedihnya kalo homesick tapi sikon ga memungkinkan untuk pulang. Sebagai anak yang pernah lebaran terpisah, gegara saya DBD dan berlebaran di rumah sakit. Saya pernah meyakini dan berjanji dalam hati, kesedihan itu tidak boleh sampai datang berkali kali. Semuanya harus berubah.

Percaya engga percaya, 4 bulan setelah saya memilih untuk pulang ketimbang traveling ke Bali bareng temen, Allah mengulurkan rezekinya dengan memberikan kesempatan saya dan keluarga liburan ke Bali! liburan yang tadinya saya arrange untuk sendiri, ternyata jadi ajang liburan keluarga. Menginjakkan Bali yang sungguh diluar dugaan kami.

Seiring berjalannya waktu, seiring tekadnya mimpi saya untuk berjalan jalan. Allah mewujudkan satu satu. Tempat demi tempat saya injaki. Teman demi teman saya repoti. Sampai mencoba untuk berjalan seorang diri, tanpa teman yang menemani, halah! Sampai akhirnya, saya berada dititik, saya merindukan sesuatu. Kenyamanan.

H-2 sebelum waktu libur tiba, saya memantapkan diri untuk issued tiket. Coming Home. untuk Pulang. :’)

ImageKali ini, setelah sempat galau siapa yang mau ngejemput. Repot sana sini. Akhirnya 2 jagoan saya yang berdiri menyambut saya di pintu kedatangan Bandara Hang Nadim, Batam. πŸ™‚

Dalam sekejap, saya merasakan apa yang tadinya hilang itu. Rasa nyaman. Saya menyadari pada akhirnya, tempat ini yang saya rindukan. Orang orang ini yang bersama mereka liburan ini harus saya lewati.

Image“Terimakasih ya, Dek. Sudah memilih untuk Pulang. Memilih untuk menyenangkan hati mama, papa dan adik adik yang rindu pada kamu” — Mama, di Malam Pertama saya dirumah.

Kamu, masih galau untuk Pulang?

Solo Traveling, Why Not?

Saya memulai kegiatan traveling sejak bulan pertama berada di Jakarta, tahun 2012. Saya mulai dengan mengikuti salah satu agen perjalanan yang mengakomodir trip. Saat itu tujuan kita ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Karena masih newbie, temen temen banyak yang menolak ajakan saya karena itu akhir bulan, dan budget nya lumayan. 350 ribu. Jadilah saya ikut seorang diri. Pertama kali nyampe di Meeting Poin dan melihat orang orang bercengkrama bersama teman temannya, sementara saya sendirian, rasanya ingin langsung pulang. Mengingat uda terlanjur bayar dp separuh harga trip, niat pulangpun diurungkan. Cerita lengkapnya ada di postingan ini dan ini.

Bulan berikutnya, saya trip ke Karimun Jawa. Ditemani oleh Mba Yuni & Kak Wira, seseorang yang saya kenal di Trip Pulau Harapan ini. Bulan berikutnya saya trip ke Pulau Pari, yang masih ditemani oleh Mba Yuni. Bulan berikutnya saya ke Dieng, Wonosobo ditemani oleh Mba Ine, Kak Wira dan Mas Bombom, ketiganya saya kenal di Trip Pulau Harapan. Dipergantian bulan antara Juni dan Juli, saya DuoTraveling bersama rekan saya, Agung, ke Solo.

Setelah beberapa kali mengarungi trip rombongan sana sini, saya pun mulai kepikiran untuk ber-Solo Traveling. Mulailah pada bulan November, bulan dimana saya berulang tahun. Kota tujuan jatuh pada Kota Semarang. Dengan mengandalkan tiket promo, saya terbang ke Semarang untuk get lost disana. Namun yang terjadi, saya menemukan satu satunya teman seangkatan ketika SMA, dan berbaik hati mau nganterin muter muter. Maka, Solo Traveling kali ini, gagal 😦 BirthdayTrip nya baca disini deh.

Ditahun 2013, saya mulai tobat traveling perbulan. Saya mulai menjaga jarak 2 bulan sekali. Tapi kali ini pake pesawat πŸ˜€ Perjalanan dibulan pertama ke Negeri Laskar Pelangi. Tempat dimana (dulu) saya kira, hanya orang kaya yang bisa kesini. Ternyata orang kaya saya bisa juga nginjek Belitong, meski harus berbekal tiket promo. Promo dimana, pada akhir januari maskapainya dinyatakan pailit. ihihi Β Trip ini bersama Mas Wimbo (temen yang saya kenal ketika di Pulau Harapan) dan Kak Febby (temen kantor saya)

Pada bulan Mei, saya kebagian rezeki untuk dapetin tiket promo ke Surabaya bersama Mas Wimbo dkk, kita mutusin untuk ke Malang. Dan kami memutuskan untuk mendaki semeru! iya, semeru! hooh, Ndaki gunung! Iya itu, gunung 5cm, mamam. Jadi gini, di pendakian itu, saya sendiri perempuannya. Satu satunya cewek. Diantara 8 orang lelaki. πŸ˜€ Ceritanya, simak disini.

Saya sempat menyelipkan #familytrip dibulan puasa. Ya, bulan puasa. Saya ngetrip di bulan puasa ke Yogya. Ke goa pindul. Ditemani oleh 2 orang adik, temen kost-an, dan Mas Wimbo Mba Tika yang berdomisili serta berbaik hati turut serta menemani selama ke Goa Pindul.

Saya kembali mulai memikirkan, kapan dan kemana akan ber-Solo Traveling, seperti cita cita saya dulu. Dibulan November, saya memutuskan main ke Madiun, selama perjalanan sih saya iya sendirian, tapi di Madiun saya langsung di jemput sama Mas Alif, temen kuliah jaman di Bandung. Dan berjalan jalanlah kami ke Pacitan. Setelah itu, saya minta izin untuk mampir ke Malang, nyekar ke Makam Mbah. Dalam perjalanan Madiun – Malang sih iya saya sendirian, tapi di Malang saya di jemput oleh temen SMA saya, Zein. Yang akhirnya mengantarkan dan menemani saya selama di Malang.

Somehow, saya bersyukur, kemanapun saya melangkah selalu saja ada teman yang dengan baik hati mau untuk menemani saya menjelajah. Saya harus bersyukur juga sekolah di SMANSA, which is, ketika lulus, anak anaknya pada kuliah ke seantero Indonesia, keuntungannya bagi saya yang suka jalan jalan gini, selalu ada teman ketika berkunjung. Tapi disisi lain, saya jadi kepikiran, kapan saya get lost nya? 😐

Secercah harapan muncul diawal tahun 2014. Saya berkesempatan mengunjungi Yogya untuk menghadiri undangan pernikahan. Sisa harinya rencananya saya gunakan buat get lost. Namun, lagi lagi Gagal. 😦 Saya kembali ditemani teman teman selama di sana.

Kesempatan itu akhirnya hadir di bulan berikutnya, Februari 2014. Saya mendapatkan promo ke Bali. Dan akhirnya, saya ber- Solo Traveling!

20140222_103158 copy

Terminal 1C – Bandara Udara Soekarno Hatta

Saya sempet nervous. Inilah perjalanan pertama saya tanpa orang yang akan menjemput di kota tujuan. Saya sempet deg-deg an ga jelas berujung pada menelepon ayah dan ibu untuk meminta doa agar diberi keselamatan dalam perjalanan. Kenapa Bali? Karena saya pengen belanja ke Joger. Dan pengen ke Ubud. Dulu pernah #familytrip ke Bali. Tapi ga sempet mampir ke Ubud. Berapa lama? 2 hari. Sabtu Minggu. Iya, saya sok kaya. Tiket pesawatnya 50ribuan kok sekali jalan πŸ˜‰

20140222_130239 copy

Jalan Tol diatas Laut, cuma ada di Bali

Bali berubah! begitu reaksi saya ketika menginjakkan kaki di Ngurah Rai. Airport nya jauh lebih besar dari terakhir kali saya kesini. Sudah banyak makanan fast food disekitaran bandara. Saya berjalan kaki keluar bandara. Ngegembel cari taksi ceritanya. Dan.. perjalanan dimulai! *excited*

Dua minggu sebelumnya, saya sudah booking hotel via livingsocial. Salah satu hotel disekitaran Kuta, dibanderol harga Rp. 250.000,- semalem. Dan bersyukurnya saya, harga on the spot mencapai 3x lipatnya.

20140222_203803 copy

Yang paling murah Rp. 750.000,- 😐

Tujuan pertama saya setelah menaruh barang dan Sholat Dzuhur & Ashar adalah ke Joger. Yap. Agenda hari itu saya hanya ingin ke Joger. Belanja sendal dan pernak pernik khas Joger. Saya memutuskan untuk Jalan kaki aja dong dari Hotel, yang ternyata jauh nya banget banget. Antara 1-2 km. 😐 Saya dehidrasi dan kelaparan akut, sehingga memampirkan diri ke Warung Nasi Bu Andhika yang letaknya persis diseberang Joger.

20140222_184117 copy

Pelangi Setelah Hujan

Sebelum pulang, ada Pelangi cantik dilangit Bali. Kala itu, Jakarta sedang dirudung hujan deras dan bnjir dimana mana. Sementara di Bali, langitnya Cantik. Penyesalan saya hari itu adalah; kenapa saya ga sunset-an di Kuta! eerrrr. Lelah berjalan kaki ketika pergi tak akan saya ulang diperjalanan pulang ke hotel, untuk itu saya memilih naik taksi. Dan.. salah jalan. Harusnya Dewi Sri, saya menyebutnya Dewi Sartika ke Supir Taxi. Argo jadi dobel. >,<

Saya nyampe di hotel sholat Maghrib dan kecipak kecipukin kaki di kolam renang. Me Time banget. Sambil ngeliatin bule bule yang juga lagi berenang malem malem. Setelah Isya, saya berjalan kaki ke Khrisna yang alhamdulillah letaknya deket sama hotelnya.

Setelah itu? Saya ngendem di kamar nonton sinetron. Iya, nonton sinetron. Jauh jauh ke Bali saya malah nonton Sinetron di hotel di balik selimut. Mana waktu itu adegannya banyakan mewek pula, ya. Saya nangis aja gitu sesegukan menikmati alur cerita. :”))) Ya kapan lagi yeken, nonton sinetron di Hotel. πŸ™‚

Untuk ke Ubud, karena saya sendiri, hasil googling, saya menemukan ada shuttle bus Kuta – Ubud. Untuk yang kearah Ubud hanya ada pada pukul 6 pagi dan 10 pagi. Karena pengen leyeh leyeh bangun agak siang menikmati empuknya spring bed hotel, saya memilih untuk berangkat pada pukul 10 pagi.

20140223_093120 copy

Legian Street

Jangan berharap busnya seperti Damri dari Jakarta – Bandara Soetta. Nyaman dan Ber-AC. Busnya sederhana, Bus ber-AC Alam (baca : berjendela terbuka). Seperti bus Damri non AC Bandung – Jatinangor. Haha. Atau kaya kopaja kopaja di Jakarta. Isinya mayoritas bule yang bawa tas gunung segede gede gaban. Jilbaber? cuma saya doang. Sering disapa dengan, “Malaysia ke?”

Saya menikmati perjalanan. Memandangi pemandangan, sampai akhirnya angin sepoi sepoi membuat saya tertidur sempurna. Kuta – Ubud menghabiskan waktu 1,5 Jam. Poolnya di Ubud dekat sekali dengan Monkey Forest. Saya memilih untuk update path saja tepat di gerbangnya. Saya sempet googling on the spot juga, intinya kalo masuk ke Monkey Forest, kita akan disambut sama monyet monyet. Ogah! Mana sendiri. Mau peluk siapa 😐

Saya mampir ke salah satu swalayan membeli ice cream, sambil menikmati ini..

20140223_113155 copy

Ubud Cerah!

Ice cream habis, saya berjalan kesekitaran. Melihat lihat. Masuk masuk ke tempat jualan jualan khas Bali. Mendatangi penyewaan motor, dan tidak berhasil menyewa barang sebiji. Full booked 😦 Cuaca yang cerah, dan badan pegal memanggul ransel, saya memilih untuk neduh di sebuah cafe.

20140223_125044 copy

is waiting for you..

Saya menghabiskan waktu selama 2-3 jam di cafe tersebut. Memesan segelas minuman dan sepiring kentang goreng. Berdiam menikmati ubud. Berdialog pada diri sendiri. Sesekali menunduk melihat gadget. Membaca buku. Melihat sekitar. Bule bule berlalu lalang. Pramusaji bekerja. Mengamati sekitar. Saya merasakan nyaman sekali. Ya, saya nyaman dengan diri sendiri. Bahkan ketika sendiri.

Kenyamanan saya terusik ketika jarum jam mendekati pukul 3 sore hari. Pertanda bus saya kembali ke Kuta akan segera berangkat. Saya meninggalkan Ubud dengan penuh rasa cinta dan bermimpi suatu saat akan kembali lagi.

Flight schedulle saya kembali ke Jakarta pukul 8 Malam WITA. Saya menyempatkan diri untuk berjalan jalan disekitaran Kuta. Kembali keluar masuk toko dikiri kanan jalan. Sampai akhirnya perjalanan saya berujung pada pantai Kuta. Kembali mengamati sekitar. Bule bule berjemur. Penjaja kain bali. Orang orang yang berputar putar di udara pake semacam parasut.

20140223_182221 copy

Kuta Beach

Sunset gagal ketika mendung mendadak mengusik matahari yang ingin tenggelam. Saya bergegas ke Bandara. Jalan Kuta mulai padat kendaraan oleh orang orang yang baru saja mencoba peruntungan menikmati Sunset.

Saya nyaris tidak melakukan percakapan berarti selain dengan resepsionis hotel, supir taksi, satpam hotel dan resepsionis shuttle bus. Selebihnya, saya berdialog pada diri sendiri. Rasanya? menyenangkan. Get lost sendiri itu candu. Saya ingin lagi. ingin lagi. Ya paling tidak, sekali seumur hidup, cobain deh. Kamu bakal ngerasain gimana survive ditempat asing. Gimana harus bisa mengambil keputusan ketika dihadapkan oleh beberapa pilihan. Gimana bertanggung jawab ketika pilihan yang kamu ambil salah. Gimana senangnya, ketika apa yang kamu pilih benar. Gimana serunya bisa bilang, “Aku ternyata bisa juga ya, hidup sendiri”

Epilog

Saya memandang keluar lewat jendela pesawat ini. Para penumpang satu persatu memasuki pesawat. Pragumari sibuk membantu menyiapkan bagasi kabin. Dalam hati saya bergumam, “Iya sih, lagi solo traveling. Tapi kok ya ngerasa sendiri banget gini. Ga ketemu dan kenalan sama siapa siapa.” Saya kembali membaca sebuah novel “Project Happiness” yang baru saja saya beli di Bandara.

“.. kepada para penumpang, diinformasikan sesaat lagi pesawat ini akan lepas landas dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Harap membuka penutup jendela. Gunakan sabuk pengaman. Untuk alasan keselamatan, lampu di kabin akan dimatikan..”

Saya menghela napas panjang. Menutup buku. Mencoba memejamkan mata sampai pesawat ini benar benar lepas landas. Menoleh ke penumpang sebelah, mata saya terusik oleh si Bapak yang mengeluarkan bundelan kertas bertuliskan ‘SKENARIO PARA PENCARI TUHAN 7 Episode 1″. Saya mencoba menoleh lebih jauh ke muka si Bapak. Berusaha mengingat, apakah beliau salah satu pemainnya. Pemain sebagai apa.

2 menit kemudian, si bapak mengajak saya berbincang bincang. Kami terlibat percakapan yang menyenangkan. Setidaknya saya beberapa kali tertawa. 10 menit sebelum landing. Beliau menyerahkan naskahnya pada saya, “Suka baca, ya? Mau baca ini?” Ujarnya sambil menyerahkan bundelan kertas tersebut. “Bapak, pemainnya?” tanya saya akhirnya. Rasa penasaran harus dituntaskan sebelum berpisah. “Bukan, saya sutradaranya.” jawabnya enteng.

Saya membaca halaman demi halaman naskah PPT. Sesekali tertawa ketika membaca bagian lucu yang selalu jadi daya tarik sinetron tersebut.

Save aja nomer saya. Kalau kamu mau, mampir aja ke lokasi syuting. Nanti saya kenalkan pada temen temen pemain PPT.”

Malem itu, saya diantar pulang oleh Sutradara PPT dan penulis skenario bajaj bajuri dan Suami suami takut istri yang kebetulan rumahnya searah dengan jalan ke kost-an saya.

3 minggu kemudian, saya berkeliaran disekitaran lokasi syuting untuk bertemu dan belajar arti dari syuting sinetron itu seperti apa. Bapak yang baik hati itu selalu bilang pada setiap orang, “kenalkan, ini Nia, saudara saya dari Batam.”

Dear Allah, thankyou untuk pengalaman luar biasa kali ini. Dan hey Jakarta, lagi lagi kamu menggemaskan!