Success & Failure

Selama bulan Ramadhan kemarin, dept Learning & Development mengadakan sharing session dari HC untuk HC yang sengaja diselenggarakan untuk saling berbagi dari kami (div Human Capital,red) untuk kami. Sayang, saya hanya bisa mengikuti 2 dari sekian sharing. Salah satunya adalah mengenai ‘Behavioral Event Interview [BEI]’ materi ini disampaikan oleh mba Nisa selaku tim dari dept Recruitment Selection di perusahaan tempat saya bekarja.

BEI ini adalah materi mengenai wawancara terstruktur dan terarah. Tentang how to seorang interviewer menyeleksi calon karyawannya. Sebagai orang yang pernah berkali kali mengikuti proses assesment, informasi tentang BEI ini nambah ilmu saya banget. Selama ini, beberapa kali mengikuti proses recruitment, yang saya temui sebatas pertanyaan; terakhir kerja dimana, dengan pendapatan berapa, passion nya apa, hobinya apa, nanti kedepannya pengen seperti apa, jobdesk di pekerjaan yang ditawarkan seperti apa. Sementara dalam BEI, interviewer akan lebih spesifik dalam menggali informasi calon karyawannya seperti; Apa tanggung jawab Interviewee? Apa tantangannya / situasi-situasi kritis seperti apa yang sering dihadapi dalam posisi Interviewee? Apa ukuran keberhasilannya? Prestasi apa yang pernah diraih? Keberhasilan dan kegagalan apa yang pernah dijalani.
Seketika saya terdiam, oke ya, susah pertanyaannya. Eh, bukan susah sih. Hanya butuh waktu lebih panjang untuk berfikir πŸ˜€ keluar dari ruangan, saya jadi kepikiran, Iya, ya. Kesuksesan kegagalan saya apa sih selama ini. Saya mulai melamun, mulai flashback gitu, apa apa yang sudah terjadi dihidup saya.

Saya menghabiskan masa sekolah saya dengan penuh suka cita. Menjadi aktivis sekolah yang uhuk.. selama SMP dan SMA selalu ‘dikenal’ dilingkungan sekolah. Baik secara organisasi, prestasi dan remedi. :))) Saya di masa putih biru, aktif di PMR, menjadi bagian dari salah satu siswi kelas unggulan. Yang dari kelas itu mengantarkan saya dengan sukses masuk ke SMA fav di kota Batam.

Kembali lagi mendulang ke-hyper-aktif-an selama SMP, di SMA saya aktif di PMR dan ROHIS. 2 kegiatan agak inti yang mengantarkan saya menjadi Ketua di dua organisasi tersebut dalam kurun satu masa jabatan. Sibuk sana sini, buat saya yang ‘kecemplung’ di jurusan IPA, sering sekali tercantum namanya di mading sekolah gegara remedial. Matematika, fisika, kimia semua pelajaran inti di Jurusan IPA langganannya saya remedial πŸ˜€ bertolak belakang sekali dengan prestasi saya non akademis. Entah kenapa, saya hepi hepi aja. Selain ngurusin PMR dan Rohis, saya juga bagian dari corps Marching Band Smansa yang lumayanlah diundang sana sini untuk ngisi acara. Beranjak dikelas 3, menjelang ujian akhir, saya dipilih secara perogatif oleh wakasek untuk menjadi sekretaris sebuah pagelaran seni paling ngehits pada jamannya, Planet Smansa 4. Semakin ngehits lah saya ketika itu, dan semakin anjlok juga prestasi akademik saya. Beberapa kali orang tua dipanggil karena nilai try out ujian akhir saya tidak melebihi nilai minimum ketika itu. Untungnya, ayah ibu saya tidak rewel dengan pemanggilan orang tua ini, mereka tetap men-support saya yang sibuk urus ini urus itu. Sambil mereka juga memasukkan saya ke bimbingan belajar guna mendongkrak nilai yang jeblok ini. Masa SMA, adalah masa dimana saya ngerasa sukses suka cita sebagai remaja. Punya banyak teman, dikenal banyak orang, melakukan banyak hal. yang kemudian dihantam oleh sebuah kegagalan.

Saya tidak lulus SPMB. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru pada Universitas Negeri.

Saya ingin kuliah di jurusan Psikologi, Ibu saya menyarankan untuk mengambil Akutansi. Saya lulus di Jurusan D3 Komunikasi Unpad, yang serta merta ditolak keras oleh ibu saya. Alasannya, karena kakak saya sudah kuliah di Komunikasi, beliau tidak ingin memiliki anak anak yang kuliah di jurusan yang sama 😦 Berunding sana berunding sini, ayah ibu saya menyarankan untuk kuliah di program D2 Telkom. Web Development Program. Ini kampus baru dimana, saya adalah angkatan pertamanya. Mimpi saya untuk tetap aktif berorganisasi runtuh hancur seketika. Punya kakak kelas yang bisa dikecengin juga musnah sudah. Ditambah hari pertama kuliah, saya sukses nangis karena disuruh gambar wajah dan saya tidak bisa.

Saya meninggalkan Batam dengan segala isinya. Saya memulai segalanya dari 0 di Bandung. kembali menjadi orang yang tak dikenal siapa siapa dan bukan apa apa. Saya menjadi orang yang minder-an. Terlebih jika ketemu beberapa temen seangkatan di SMA yang keterima kuliah di Universitas Negeri atau Universitas Swasta yang kece di Bandung. Sementara saya yang ketika menyebutkan nama kampus malah ditanya balik, “itu kampusnya dimana?”

Hikmahnya kuliah di kampus baru yang belum punya ukm dan kakak kelas ini, buat saya kerjanya hanya belajar. ciegitu. mengantarkan saya mendapatkan IP diatas 3,5 setiap semesternya. Saya minder (lagi). ‘kalau saya kuliah tanpa kegiatan non akademis macam begini, gimana nanti perusahaan besar bisa melirik dan meng-hire saya? kalau saya ga pinter, apa yang bisa saya tonjolkan untuk menjual diri saya’. Maka, jadilah saya pinter. Saya ga jago, apalagi untuk coding dan design yang saya jalani ketika kuliah. Paling engga, saya harus rajin, harus tekun. Maka, IP yang saya hasilkan buah dari kerajinan saya kuliah dan mengerjakan setiap tugas. Paling engga, saya membayar lunas kebodohan saya selama SMA. Menutupi segala macam remedial dengan beasiswa yang saya peroleh untuk mengikuti ujian sertifikasi dikampus saya.

Saya coba membuat perkumpulan anak anak kampus untuk mengajar komputer di sebuah sekolah luar biasa. Saya coba untuk menggerakkan teman teman untuk membuat agen charity. Mengumpulkan barang dan uang yang bisa disumbangkan, kemudian mencari panti asuhan yang layak untuk diberi sumbangan.

I do anything. Minimal, membuat diri saya berguna.

Sebelum lulus D2, saya sudah keterima kerja di perusahaan software house. Disaat teman teman saya masih senang senang karaokean, saya sudah duduk di ruangan meeting bersama bapak bapak yang seringkali saya tidak mengerti bahasan yang sedang dibahas. Disaat teman teman saya, makan malam seru seruan, saya sedang dalam perjalanan Jakarta-Bandung melakukan perjalanan dinas. Saya, tidak kurang menikmati masa kuliah saya.

Saya kembali menemukan semangat kembali ketika dinyatakan sebagai lulusan terbaik di Jurusan saya. Peraih nilai tertinggi di jurusan saya di angkatan pertama. “Kamu nangis di hari pertama kuliah aja, lulusnya bisa begini. Coba kalo ga nangis.” orang tua saya selalu menyindir seperti ini.

.. dan kembali ‘terbanting’ mental ketika melanjutkan kuliah sarjana di kampus yang ga terkenal banget. Kampus yang isinya banyakan karyawan karena saya emang mengambil kelas malem. Kelas yang isinya kebanyakan bapak bapak ibu ibu yang sudah bekerja dimana ketika ngampus, yang terlihat diwajahnya hanya sisa sisa kelelahan sepanjang hari. ‘Saya bisa kerja dimana kalo ngampus di tempat yang begini.’ dalam hati saya suatu hari sambil melihat keadaan sekeliling. Lagi, saya harus melakukan sesuatu. Kalau saya tidak bisa menjadi yang terbaik, paling engga saya harus bisa jadi yang pertama. Saya sudah gagal mengejar sarjana di tempat terbaik (Univ Negeri), maka tak kan saya biarkan saya pun gagal to be the first. Dan akhirnya, saya menyelesaikan sarjana dalam tempo … 3 tahun. Ya, disaat teman teman saya sedang menyiapkan diri untuk skripsi, saya uda pamer foto pake toga.

Saya sampai minjem baju toga temen demi bisa foto bareng sama temen temen yang wisuda setahun setelah saya. Tapi dipikir pikir, kenapa takut untuk berbeda? Toh saya sudah wisuda duluan :)

Saya sampai minjem baju toga temen demi bisa foto bareng sama temen temen yang wisuda setahun setelah saya. Tapi dipikir pikir, kenapa takut untuk berbeda? Toh saya sudah wisuda duluan πŸ™‚

Tidak ingin hidup yang begitu begitu aja tanpa bisa melanjutkan mimpi mimpi yang ketunda, saya memilih kembali hijrah ke Ibukota. Tujuannya satu, Jalan jalan. Dahulu, saya berjanji akan menerima kerja apapun demi bisa jalan jalan. Bersamaan dengan itu, ibu saya menawarkan untuk sejenak pulangΒ  ke rumah. Beliau merasa bersalah membiarkan saya kerja sambil kuliah dan kehilangan masa seru ketika kuliah. dan saya kekeuh untuk tetap pindah ke Jakarta. Seorang diri.

Setahun di Jakarta, saya ngerasain hepi bener karena setiap bulan bisa jalan jalan keluar kota. meski karena itu, buat saya ga punya sedikitpun tabungan dari gaji yang tiap bulan saya dapatkan. Disaat teman teman saya lagi stress bikin skripsi, saya uda pamer foto lagi dimana.

Belum genap setahun di Jakarta, saya ditawari bekerja di perusahaan yang bergerak dibidang shipping logistic terminal dan agency. Cukup okelah. dengan divisi yang sudah saya incar sebelum saya lulus SMA. Human Capital. Kali ini, saya bisa menyisihkan gaji untuk ditabung, masih bisa jalan jalan dan membantu keluarga.

.. Sekarang, disaat teman teman saya lagi seneng senengnya dapet gaji dan merencanakan jalan jalan, saya sudah mulai menurun kadar berpetualangnya. Saya.. ingin menikah. muahaha. #curcol #kebablasan.

Perasaannya sudah sampai ke, “Apalagi yang mau dicari?” | “Ngurus suami” ini jawaban dari hati yang paling dalam. :))))

Pada akhirnya saya menyadari bahwa, hidup itu ya seperti ini, seperti naik gunung, up and down. Hari hari kita akan terus dihadapkan pada kegagalan kesuksesan kegagalan lagi kesuksesan lagi. Seperti ungkapan, ‘Badai pasti berlalu, dan kemudian datang badai berikutnya, berlalu lagi, badai lagi, berlalu lagi’ begitu aja orauwisuwis. Yang kita bisa lakukan ya apa? Hadapi. Hadapi aja. Jalani sing Ikhlas. Dan berusaha tetep jadi manusia yang berguna dan bermanfaat buat sekeliling.

Saya juga belajar bahwa sejatinya rezeki dan ujian setiap manusia berbeda beda. Mungkin kalau saya boleh memilih, saya ingin seperti temen temen kebanyakan yang menikmati banyak waktunya untuk bermain dan bergaul. Eh tapi bisa jadi, temen temen saya juga ingin seperti saya yang kicik kicik gini uda jalan jalan. Iya, manusia emang selalu tampak tak pernah puas. Rumput tetangga, selalu aja terlihat lebih menarik. Pun begitu dengan ujian, Tuhan itu ngerti banget deh, ujian ujian mana yang bisa dihadapi sama hamba yang A, ujian model apa yang bisa dihadapi sama hamba yang B. Keduanya ini juga, tak akan pernah tertukar. πŸ™‚

Dan saya percaya, akan masih banyak kegagalan dan kebahagiaan didepan sana, yang harus siap saya hadapi dari sekarang. Ikhlaskan diri untuk nerima dan belajar. Karena belajar ga ada habisnya sampai hayat hilang dikandung badan, bukan?

Advertisements

5 thoughts on “Success & Failure

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s