Monthly Archives: April 2015

Ngawang ngawang di Pahawang.

si Negara Kepulauan.

si Negara Kepulauan.

“Mik, mau ke Pahawang?” Sebuah whatsApp masuk atas nama Firda.

“Mauk.”

Yes, meski harus nunggu 2 bulan, saya berangkat juga ke Pulau Pahawang. Kenapa pengen? Pengen nyobain nyebrang ke Pulau Sumatera. As simple as that. 🙂 Biar salah satu resolusi 2015 nya terceklis gitu.

Seperti biasa, ini adalah trip Weekend Gateway saya menghibur diri melepas penat Ibu Kota. Dimulai dari Jumat malam dan berakhir pada Minggu malem. Rutenya akan seperti ini. Slipi – Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakahauni – Pelabuhan Ketapang – Pulau Pahawang.

Saya yang masa kecilnya akrab dengan kapal laut, tentu seneng banget naik kapal laut lagi. Kapal gede pula. Tadinya mau menikmati perjalanan, apa daya, lelah lebih menguasai jiwa. Tidur deh sepanjang menyebrang. Pukul 3 pagi, kami yang berjumlah kurang lebih 20 orang dengan sebagian besar diantaranya berpasangan, tiba di pelabuhan bakahauni. Disambut berbagai macam teriakan ala preman menawari kami untuk menaiki bus dan mobilnya. Calo calo gitu. Dan entahlah, logat sumateranya bikin saya serem.

Dari Pelabuhan Bakahauni, masih membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk sampai pada Pelabuhan Ketapang. Kita naik mobil APV, disetiri oleh supir Sumatera yang dengan wajah tak berdosa nya mengaku belum tidur, dan dengan bangganya meminta izin untuk menyalakan musik full dangdut disertai video perempuan menari menari berbusana mini. 😀

Pukul 7 pagi, kami tiba di Pelabuhan Ketapang. Mencari sarapan dan berganti baju karena agendanya akan langsung snorkeling sebelum mencapai Pulau Pahawang. Continue reading

Sendiri.

Kemarin, saya menempuh perjalanan menuju kantor tidak seperti biasanya. Jarak yang saya tempuh 3x lipat lebih jauh. Saya mendengarkan radio, Indra bekti yang pada saat itu sedang menyiar melemparkan isue tentang kegiatan apa saja yang kamu lakukan sendiri.

Saya menyimak sambil berfikir. Saya sih orang yang ga parno sendiri, ya. Nonton sendirian? Wesbiasak. Makan di Mall, atau Window Shopping? Apalagi ini mah. Sering banget. Solo Traveling? Ngg. Biasanya kalo ke luar kota gitu, sendirian selama perjalanan. Dikota tujuan biasanya udah ada aja yang jemput. Tapi kemarin nyicipin kok sekali yang beneran jalan sendirian. Ke Bali. 😀

Disaat orang lain pada ga mau tuh yang namanya sendirian Nonton, sendirian jalan jalan, sendirian nge-Mall, saya mah fine fine aja.

Lantas, kegiatan apa yang saya kira kira ga ingin sendiri?

Masuk rumah sakit! 😀 Saya adalah pasien dengan riwayat penyakit DB dan Typus. Besar kemungkinan untuk terserang 2 penyakit ini lagi. Dulu di Bandung, saya punya temen yang saking ga mau ngerepotin temen temennya, dateng ke IGD sendirian, ngurusin masuk RS sendirian. Ketika saya tanya, “mau dibawain apa?” dijawab singkat, “Charger, Mi” haha.

Sampai hari ini, kalau saya ngerasa badan uda meriang meriang ga enak. Saya uda siap siap aja menghubungi salah satu teman. Memberi tahu rumah sakit apa yang dikunjungi kalo saya kenapa kenapa. Plafond rawat saya. dll. dll. Iya, saya setakut itu. hhehe.

Eh padahal, kenapa sih harus takut serba sendiri? Bukannya lahir kita juga sendirian dan akan kembali sendiri pula?

Ada satu DP temen di BBM yang saya suka banget bacanya.

“Karena aku mencintai yang sewaktu waktu pergi. yang sewaktu waktu diambil. yang sewaktu waktu mati. dan aku menjadi belajar tentang melepaskan. Bahwa sebenernya aku tidak pernah memiliki apa apa.” — kurniawangunadi.

And yes, saya emang tidak pernah memiliki apa apa.

Pahawang Kecil, Maret 2015

Pahawang Kecil, Maret 2015

Kalau kamu? takut sendirian kalau apa?

Masuk