MUDIK? IYA ATAU ENGGA?

Hari ini, berita ramai tentang Bandara Soekarno Hatta yang dipenuhi oleh calon penumpang. Misuh misuh lah orang tentang dimana PSBB, dimana Social Distancing, dimana perasaan mereka yang berkumpul kumpul itu.

Oleh beberapa orang saya sempet dijapri dan diajak diskusi. Awalnya saya itu ga mau komen. Kemudian saya kembali kerja. Buka youtube. Hari ini saya pengen ditemani sama lagu lagunya weslife. Sampai muncullah satu lagu;

Eh dilalah pas saya buka tab-nya, pas lagi muterin lagu ini dan video klipnya. Gambar pesawat menarik perhatian saya. Saya tonton sampe abis. Tiba-tiba kepikiran berita tentang Bandara Soetta yang rame hari ini.

Gimana kalau orang orang yang berbondong bondong hari ini rame rame dibandara ya karena pengen pulang. Di Jakarta udah ga ada kerjaan lagi. Sementara cadangan uang kian menipis. Yang kepikiran hanya gimana cepet pulang, ketemu keluarga. Ada ga ada uang, yang penting kumpul. 😥

Terus, kalau mereka cuma mudik padahal udah dilarang gimana? Yang jelas, kalo mereka pekerja tau dong, bahwa sekarang belum libur. Cuti bersama juga dipangkas. Atasan mereka juga gemas mungkin kalo tau mereka malah mudik hari gini.

Sebagai HR, ada karyawan kita yang kejebak perjalanan dinas di suatu kota setelah PSBB. Beliau ga ada transportasi untuk kembali ke kota awal. Selama dia dikota itu meski tugas sudah selesai tetep diperlakukan sebagai perjalanan dinas. Uang saku, akomodasi dan transportasi tentu mbengkak. Sehingga, ketika pesawat sudah kembali normal gini, saatnya kami memulangkan karyawan-karyawan yang terbejak dilokasi perjalanan dinas. Biar, cost biaya kami juga ga tinggi.

Saya yakin, mungkin dari orang orang yang ngantri di bandara itu mereka juga punya kekhawatiran masing-masing. Either menuduh mereka dengan persepsi dan asumsi kita, lebih baik saling mendoakan semoga kita semua tetap bertahan dan baik baik saja selama pandemi ini bagaimanapun caranya.

Yang terbang diberi keselamatan, bertemu keluarga, dan bisa bertahan ditengah situasi seperti ini.

Bicara mudik, niatnya kami sekeluarga ingin berlebaran di Malang. Mama dan papa bahkan berencana menjalani ibadah bulan ramadhan di tempat tugas adik saya di Tasikmalaya. Namun, dengan keadaan seperti ini kami memilih buat tetap bertahan dirumah. Buat kami, berkumpul dan bersilaturahmi tidak harus ketika idul fitri kok. InsyaAllah, begitu suasana kondusif kami bisa kumpul kumpul lagi.

Untung saja, awal tahun 2020, saya sempet nganterin Mama yang ingin berlibur ke Garut selama 2 minggu. Jadi masih berasa puas hawa hawa liburan dan kumpul kumpul keluarganya.

Kalian mudik engga, gaes?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s