Empati.

Ada yang ngikutin Storiesnya Jouska? Tentang bagaimana anak-anak ditolak lingkungannya karena tidak bisa mengikutinya?

Ku coba simpulkan sedikit ya;

Ada anak yang pulang menangis ujug ujug minta ke Ice Disneyland, ortunya bingung karena bahkan ga tau Ice Disneyland itu apa? Hm, anaknya masih TK. Katanya, ga bisa ikut geng disekolah karena belum pernah ke Ice Disneyland. 😐

Ada lagi anak yang nangis meraung-raung pengen liburan ke luar negeri. Karena teman-teman sebayanya kalau liburan ga ada yang di Indonesia. -__-‘

Anak gue minta beliin mainan smiggle. Harganya 300 ribuan. Dibeliin online 35k. Sampe sekolah diledekin katanya beli barang palsu. 😦

Anak nangis gegara sepatunya Asics sementara temen-temennya pake sepatu adidas tipe apa tau.

HOROR BANGET SIK.

DUH.

Tante ini, (((TANTE))) baru melek liat fossil atau sepatu Nike iniloh udah 8 taun kerja. Itu juga masih mikir-mikir. Worth it ndak ya beli barang semahal itu. 😐

Ku jadi mikir-mikir jaman sekolah dulu gimana ya. Perasaan saya ga pernah pulang sambil mewek mewek perkara tidak memiliki barang kaya teman-teman disekolah. Apa karena dari SD sampai SMA, sekolah di sekolah negeri yang kebanyakan menengah kebawah.

Jaman SD ketika saya dianter jemput papa/tukang ojek. Sebagian besar teman-teman saya jalan kaki karena dekat. Jaman SMP, kami kebanyakan patungan buat bayar jemputan semacam ELF. Pagi dianter ortu masing-masing.

Jaman SMA mulai deh. Meski sekolah Negeri, saya masuk disalah satu sekolah favorit. Yang ehm, selain pinter anaknya dari orang tua yang menengah keatas. Itu ya halaman parkir sekolah, udah kaya showroom mobil. Mobil apa aja ada. Saya? jalan kaki hore berjamaah dari sekolah sampai pinggir jalan buat nyari public transportasi.

Terus teman-teman saya bagaimana? Alhamdulillah 3 tahun disana, ndak ada tuh nyinyir2 perkara brand yang dipake. Atau perkara liburan kemana. Yang ketara paling ulang tahun sweet seventeen. Trus hanya mengundang kalangan terbatas.

Yang sampai hari ini tak terlupakan malah datang dari seorang guru. Suatu hari dihari saya berulang tahun, teman-teman saya noticed dan gembar gembor sehingga guru ini tahu. Kemudian, yang dia lakukan adalah menyuruh saya untuk nraktir anak-anak sekelas di bapak kantin. Nyuruh didepan kelas dan meminta saya jalan duluan untuk bergegas.

NRAKTIR ANAK-ANAK SEKELAS.

yang sampai hari ini beliau ndak tahu adalah, saya setengah berlari ke kantin. memberitahu bahwa teman-teman sekelas akan segera tiba, dan memohon untuk bisa membayar semua tagihannya setelah ayah saya gajian.

😦

Mewek dong sepanjang pulang sekolah.

Karena tentu saja makan-makan ini tidak direncanakan. Dan bahkan tidak dianggarkan. Mengingat, pada saat itu bayar sekolah aja susah. Saya menambah beban beliau untuk membayar tagihan makan makan sekelas.

Ayah saya bekerja di salah satu BUMN pada masa itu. Lingkungan saya tahu itu. Sampai ke guru-guru. Yang mereka ga tahu, pada saat menghidupi kami keluarganya, ayah saya juga membiaya hidup Ibu dan Adik-adiknya. Hampir setiap bulan nama saya disebut sebagai anak yang nunggak pembayaran SPP-nya.

Membaca semua curhatan via Jouska, mengingat kembali masa dimana saya bergaul hanya pada kalangan yang saya merasa sepantaran. Saya jadi berfikir, susah sekali ya menjadi orang tua yang tambah lagi tanggung jawabnya; mengedukasi anak-anak untuk bisa menyikapi hal-hal yang begini. huhuhu.

Jaman nanti saya jadi ibu, gimana? :(((

Trus lagi, saya harus belajar berempati pada siapa saja. Belajar untuk tidak judge orang hanya dari tampilan luarnya saja. Karena seringkali, seseorang terlihat baik baik saja padahal banyak hal yang ia sembunyikan.

Ada yang punya pengalaman dengan kompetisi brand juga? atau punya kenangan jaman sekolah yang sampai hari ini juga tidak terlupakan?

3 thoughts on “Empati.

  1. ndu.t.yke

    Hmmm klo dicela teman sekolah malah nggak pernah. Yg pernah justru dicela sodara sendiri: β€œTik…. tas mu kok murah sih?” Gara2 aku levelnya level Exsport dan doi ya Benetton, Esprit gitu gitu….. tp krn aku percaya diri ya, qubiarqan saja komentar spt itu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s