Tag Archives: Mentah Health

MENTAL HEALTH AWARNESS.

Mendekati hari kemenangan, saya jadi teringat kejadian yang menimpa salah satu sahabat saya tepat satu tahun yang lalu menjelang hari raya Idul Fitri.

Dia menyayat tangannya sampai berdarah. Muasalnya dari kehidupan percintaannya yang tidak berjalan sesuai apa yang diharapkannya, ditambah support keluarga yang tidak sesuai ekspektasinya. Apesnya, dia berada jauh dari saya. Sehingga saya cukup kesulitan untuk menenangkannya karena ia tidak ingin didekati oleh keluarganya.

Untungnya, dia cukup bisa menguasai dirinya, dalam artian masih bisa saya ajak komunikasi. Saya mendengar detail keluhannya, apa saja yang dia rasakan. Saya coba sarankan untuk segera menemui psikiater, karena ya ini butuh diobati oleh ahlinya. Sayangnya, kala itu dokter dokter dirumah sakit masih libur dalam rangka lebaran. Apalagi dokter jiwa bukanlah dokter yang selalu ada, seperti halnya dokter umum di IGD.

Selepas lebaran, ketika saya ambil hadiah THR di Kumparan, saya menemui salah seorang teman yang bekerja disana. Lupa gimana ceritanya, kita ngobrolin tentang kesehatan mental, saya ceritakan lah sekilas kondisi sahabat saya ini, dan kesulitannya mencari konselor yang ternyata kalaupun ada, berlaku system antrian.

Dia menyarankan untuk melalui platform Halodoc. Aplikasi kesehatan yang tersedia juga layanan konsultasi dokternya. Tidak butuh antrian sampai bulanan, bisa memilih dokter dan waktu yang pas sesuai jadwal kita dan (saat itu) masih free. Ini solutif sekali karena temen saya ini berada diluar kota Jakarta, sehingga ia tetep bisa konsultasi meski jarak jauh.

Sungguh saya baru tau juga, kalo Halodoc punya layanan konsultasi, sebelumnya saya pake platform ini untuk memesan obat hasil resep dari dokter perusahaan yang tidak sampai 30 menit, obat tersebut sudah ada ditangan saya. Iyaa, secepat itu.

Dari awal kami sudah sepakati bersama, bahwa ini hanyalah langkah awal kami untuk mendeteksi gangguan apa yang sedang diderita. Nantinya, akan tetap berkunjung ke dokter untuk tatap muka.

Berhasil! Banyak sekali penambahan ilmu akan Kesehatan Mental setelah ia konsultasi via Halodoc beberapa kali. Setelah itu, dia memutuskan untuk mengikuti berbagai kegiatan healing yang diadakan di Jakarta. Masih dalam rangka ikhtiar, ia kembali ‘ikut antrian’ untuk konsultasi ke dokter di Rumah Sakit dikotanya sekala berkala.

Ia diberi resep untuk beberapa waktu. Dan konsultasi beberapa kali dalam lingkup waktu tertentu.

Setelah hampir mau setahun, akhirnya semalem diagnosa dari dokter keluar. Ia di diagnosis gangguan Bipolar episode Depresif. Untuk gangguan ini, ternyata tidak cukup bercerita dan mendapat masukan, harus ditunjang lagi dengan pengobatan medis karena Neurotransmitters otaknya terganggu. Selama mengikuti anjuran dokter untuk minum obat, ia merasa hidupnya lebih tenang.

Semalem, akhirnya ia bercerita flashback masa kecilnya. Diusia 9 tahun, dia sudah mengancam akan bunuh diri. Kemudian ketika dia di ungsikan kesatu ruangan ketika orangtuanya berantem, ia menyakiti dirinya sendiri dengan memukul kepalanya dengan benda lain sampai benjol. Itu terjadi begitu saja tanpa ia tahu, apa yang sedang ia lakukan dan rasakan. Terjadi begitu saja.

Barulah diusia menjelang 30 tahun, ia membaca banyak informasi tentang kesehatan mental, dan akhirnya keputusan terbaik pun dia lakukan, mencari pertolongan pada ahlinya.

Saat ini ia masih menjalani terapi, baik konsultasi maupun konsumsi obat. Sesekali mengikuti self healing sebagai penunjang. Kelak jika sudah dinyatakan sembuh dan hidupnya lebih baik, ia berjanji akan sharing tentang perjalanan kesehatan mentalnya.

Dia ga pengen akan ada orang orang yang menghakimi dengan berkata kurang bersyukur, kurang iman, kurang sholat, kurang ini dan kurang itu. Ini murni karena emang ada bagian yang emang harus ditangani secara medis.

Yang perlu kita sepakati bersama bahwasannya, ke Psikolog atau ke Psikiater bukan berarti kita gila. Kita kesana karena kita tahu, ada yang salah pada jiwa kita dan kita butuh orang yang ahli dibidangnya untuk menemani kita menyembuhkannya.

Jadi plis, kalo ada temen yang berencana untuk memeriksakan dirinya ke psikolog, jangan komen, “Emangnya kamu gila?”