[Review Film] Wonderful Life

Sudah senin lagi! Masih 6 hari menuju Weekend. πŸ˜€ Bicara soal Weekend, Weekend kemarin saya menghabiskan waktu untuk mendatangi salah satu press release sebuah film edukatif berjudul Wonderful Life.

wonderful-life

Jujur saja, saya baru tahu bahwa Film ini adalah adaptasi dari sebuah buku karangan Amelia Prabowo yang ditulis berdasarkan dari kisah nyata. Tentang bagaimana Ia mendidik dengan keras anaknya yang bernama Aqil untuk menjadi pribadi yang pintar, berprestasi dan akan menjadi ‘orang’. Ditambah dengan tekanan sang Ayah, kakeknya Aqil untuk membuat Aqil menjadi anak yang dibanggakan, mendapatkan beasiswa, dan juara kelas.

Faktanya, Aqil mengidap Diseleksia, kesulitan membaca dan menulis namun bisa unggul di bidang lain. Aqil gemar dan jago sekali menggambar.

Atas dasar prinsip mendidik anak untuk menjadi pintar, berprestasi dan menjadi ‘orang’ inilah yang membuat Amalia kekeuh memeriksakan Aqil ke berbagai dokter dan alternatif pengobatan. Menurutnya, tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan, termasuk diseleksia ini.

Diseleksia adalah kondisi genetik yang tidak dapat disembuhkan. Menerima kondisi anak diseleksia dengan melihat kelebihan dan kepekaannya, serta memfasilitasi bakatnya tidak hanya membuat anak merasa lebih bahagia, namun juga efektif mengembangkan potensi diri – Amalia Prabowo

Perjalanan menuju kesembuhan ini, membawa Amalia pada satu kondisi dimana Aqil menghilang dari pantauannya dan membuat ia ketakutan setengah mati kehilangan Aqil. Dari situ, Amalia sadar keinginannya bukan lagi tentang Aqil yang harus sembuh dan menjadi pintar. Tapi lebih dari itu, Aqil tetap hidup bersamanya dan bahagia.

Rio dan Atikah.jpg

Dari Press Release ini juga saya baru tahu kalau film ini adalah garapan Rio Dewanto yang mana adalah suami dari sang pemeran utama, Atikah Hasiholan. Kece ey ini berdua satu project bareng. Edukatif pula.

Film ini dipersembahkan oleh Sariayu bersama Visinema, Creative & Co dan Kepustakaan Populer Gramedia menjadi pembuka gerakan perubahan Sariayu Martha Tilaar; Be Wonderful Movement yang mengajak para perempuan Indoensia untuk membuat perubahan dalam hidup. Untuk menghasilkan perempuan inspiratif yang berwawasan luas, mandiri, kuat dan kepedulian sosial yang tinggi.

Menonton film ini selain merebes mili saya langsung keingetan pola pengasuhan dalam keluarga saya. Alhamdulillah, orang tua kami tidak pernah memiliki ambisi berlebihan kepada 4 anaknya, sehingga menjadi juara ataupun tidak bukanlah halangan. Menjadi manusia yang tidak bahagia, adalah hal yang mereka tidak inginkan.

Saya inget, saya pernah punya teman yang sangat ditekan untuk menjadi anak berprestasi disekolah. Bahkan mendapat juara 2, dianggap tidak berhasil. Sehingga sang anak tumbuh dalam tekanan. Jika tidak juara 1, serasa dunia runtuh. Duh, saya lihatnya tidak tega.

Bertolak dengan Ibu saya yang, kami dibebaskan untuk tidak mengerjakan pekerjaan rumah jika kami mengantuk. Ibu saya lebih meminta kami untuk tidur daripada mengerjakan tugas sambil terkantuk-kantuk. *peluk kenceng Ibu*

Kira-kira sebulan yang lalu, saya bersama teman-teman alumni Voluntrip Round 2, mengadakan reuni dengan kegiatan #CharityWithAdikUnyu. Disana, kami bermain bersama adik adik berkebutuhan khusus, yang kebanyakan dititipkan oleh orang tuanya 😦

Banyak orang tua yang merasa malu ketika melihat anaknya berkebutuhan khusus dan berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. Untuk menutupi itu, mereka memilih untuk menitipkan anaknya, dan dirawat serta dibesarkan di lingkungan Panti Asuhan.

alaniabermain.jpg

Dialah anak ini yang menempel pada saya untuk bekerja sama membuat prakarya. Boneka Tangan. Ia emang memiliki kelemahan dalam berkembang dan jauh tertinggal daripada anak-anak kebanyakan. Tapi ia sangat hati hati dalam menyelesaikan sesuatu. Sesekali tersenyum. Setelah prakarya kami berhasil. Ia tanpa malu meminta saya untuk berfoto bersama.

Niania.jpg

Ada kali kami selfie lebih dari 10x dengan berbagai gaya. Disela-selanya ia menciumi saya tiba-tiba. Memeluk saya hangat. :’)

Iya, ia mungkin hanya seorang anak yang (menurut orangtuanya) aneh, dan tidak seperti anak lainnya. Tapi menurut saya, ia anak yang sempurna dengan ketelitian dan keramahan serta rasa sayangnya yang tidak pura-pura. πŸ™‚

Film ini layak ditonton, sebagai edukatif kita sebagai perempuan yang suatu hari nanti akan menjadi Ibu, bahwa, Semua anak terlahir dengan sempurna. Apapun kondisinya.

IMG_20161009_012147.jpg

Sumber: Twitter.

Dan dengan keadaan anak apa adanya, mereka berhak akan kebahagiaannya. πŸ™‚

Film ini akan beredar di Bioskop mulai tanggal 13 Oktober 2016, Recomended to Watch bareng keluarga. Calon Istri dan Calon Suami untuk sama-sama memberikan edukasi untuk kita siap dengan apapun kondisi anak kita kelak.

Advertisements

14 thoughts on “[Review Film] Wonderful Life

  1. sinyonyanyablak

    Anak-anak berkebutuhan khusus itu ky malaikat yg tersesat di bumi, mereka agak susah berkomunikasi sama manusia, makanya mrk cuma bs berkomunikasi dengan caranya sendiri. Ah, jd penasaran pngen nonton filmnya, bikin nangis2 ga sih filmnya?

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Iya, banget, Ca. Mereka spesial dengan caranya masing-masing.

      Ayo dong, lusa nonton sama suamik. Bekal banget buat calon mahmud dan pahmud. Nangis? aku sih yes. πŸ˜€

      Reply
  2. sinyonyanyablak

    Iya nih, abis komen di postingan kamu, taunya malah liat juga liputan filmnya di Pagi-pagi Net, ada Rio Dewanto-nya cucookk 😍😍😍 #salahfokus tar deh weekend kali ya jadwalkan nongton sama si calon pahmud πŸ˜‰πŸ˜‰

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s