Anaknya Ayah.

Memasuki bulan syawal (-bulan setelah lebaran) menjadi bulan dimana isinya kebanyakan sebaran undangan pernikahan. Orang berlomba-lomba untuk lamaran atau menikah dibulan yang katanya baik ini.

Namun, seperti halnya ada kelahiran, kabar bahagia, ada juga kabar duka yang berseliweran selama bulan Syawal kemarin.

Salah satu kehilangan yang bikin saya kaget adalah, meninggalnya ayah dari rekan kerja saya dulu. Ayahnya yang tidak pernah menunjukkan kesakitannya. Baru saja merayakan ulang tahun dan merayakan ulang tahun pernikahannya. Trus, ya semacam tiba-tiba meninggal dunia. Tapi ya, namanya umur emang hanya Tuhan yang tahu, ya.

Beberapa hari kemudian, datang lagi berita duka yang sama. Tentang kepergian ayahanda dari Bapak Mertua seorang temen kerja juga. Menyusul kemudian, ayahanda dari teman se-relawan.

Aku ikut turut sedih 😦

Kehilangan terbesar menurutku, untuk saat ini ya kehilangan orang tua dan keluarga. That’s why, kalau sedang patah hati urusan cinta, ku selalu menyugesti diri sendiri, bahwa patah hati ini tidak ada apa-apanya dibanding ditinggal keluarga.

Bicara tentang Ayah, meski namanya tidak disebut berulang-ulang oleh Nabi, perannya dalam keluarga patut pula di apresiasi. Ayah saya sendiri, sedari kami (saya, kakak dan adik) kecil, selalu menyempatkan diri untuk membacakan dongeng sebelum tidur. Mengantarkan kamiΒ  kesekolah, khusus untuk saya lengkap dari TK sampai SMA selalu dianter. Kemudian saya merantau ke Bandung dan Jakarta, sekarang saat sudah serumah lagi dengan Papa, beliau nganterin lagi dong setiap pagi ke Stasiun :’)

Selain sebagai kepala keluarga, Papa bagi kami adalah sebenar-benarnya contoh dan panutan. Ia lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana yang dekat dengan mesjid. Seumur hidupnya, ia selalu menyempatkan diri untuk sholat setiap waktu di Mesjid. Iya, setiap waktu. Jika terlewat, ia akan meminta kami sholat berjamaah. Jarang sekali, ia sholat sendiri.

Baru perihal sholat, belum perihal puasa atau ngaji. Dalam satu bulan, ia bisa khatam berkali-kali. Mengaji dengan lagu? jago! Puasa senin-kami, rajin. Dan untuk kesemua apa yang beliau lakukan, beliau jarang sekali memaksa kami untuk mengikuti. Menyuruh untuk ke mesjid 5 waktu, mengaji dan puasa. Pada akhirnya, kami puasa atau adik-adik ikut ke Mesjid ya karena ingin sendiri, bukan disuruh.

Berkat taatnya beliau dalam hal beribadah, ia bisa mengajak mama untuk bertamu ke rumah Allah for free. Seluruh biaya ditanggung oleh kantor. :’)

Tentang pola asuh yang terapkan dikeluarga, beliau tidak pernah menggunakan tangannya untuk memukul kami. Seumur hidupnya. Membebaskan kami atas pilihan-pilihan. Mensupport kami atas segala kegiatan. Termasuk, membantu adik-adik saya yang laki-laki untuk bikin surprise ke pacarnya. :))))))

Pada umurnya yang belum genap 50 tahun, papa memilih pensiun dini. Kemudian, mengajak kami sekeluarga untuk berlibur ke Bali.

Bagi saya, cukuplah sudah apa yang papa lakukan. Menjadi ayah yang baik, menjadi kepala keluarga yang tanggung jawab, menjadi suami mama yang sabar. Mengajak mama naik haji dan mengajak kami sekeluarga liburan. Sudah saatnya, kami anak-anaknya ini yang menjamu papa.

Baru-baru ini, setelah ikut pindah bersama saya ke Depok. Papa memilih untuk bekerja lagi. Bekerja sebagai sales marketing di salah satu apartment baru di daerah Cikarang. Kami, anak-anaknya sempet keberatan dan meminta papa sudahlah dirumah saja. Bukan usianya lagi untuk mencari nafkah. Tapi papa ga mau. Ia tetap semangat. Hari-harinya kini lebih happy dan sumringah. Selalu ada cerita yang papa bawa pulang setelah nyales disana sini.

Akhirnya saya menyadari satu hal, dengan semua yang telah papa lakukan kepada keluarganya sampai hari ini, yang bisa kami berikan adalah support yang ga ada habisnya. Mendengar ceritanya dengan antusias, mengantar dan menjemput ia dari satu tempat ke tempat lain, menyiapkan bekal makan siangnya.

Kuyakin, itu juga yang telah dilakukan oleh Papa, Ayah, Abi, Bapak di luar sana. Menjadi super hero buat keluargnya. Jadi ya, ketika ditinggal pergi terlepas sebelumnya sakit atau tiba-tiba, jadi ikut kebayang-bayang juga. 😦

Untuk teman-teman yang sudah ditinggal Ayahnya. Semoga Allah memberikan tempat terbaikNya. Istri dan anak-anaknya diberikan kekuatan untuk tetap istiqomah menjalani hidup, agar kelak bisa berkumpul lagi di Surganya.

Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu. Al-Fatihah.

Advertisements

8 thoughts on “Anaknya Ayah.

  1. vanisa

    jadi melow bacanya.
    aamiin. ikut mendo’akan.
    perjuangan ayah memang luar biasa, sha bahkan sedih cecegukan waktu kemaren bapak pergi ke luar kota 3 hari buat kerja. karena biasanya di rumah πŸ™‚

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s