Kebodohan-Kebodohan ketika Jalan-jalan

Minggu lalu, saya ‘jalan-jalan’ ke Pondok Indah Mall. Biasanya sih menyerahkan nasib pada ojeg online. Namun kemarin, saya lagi ingin naik KRL kemudian disambung dengan busway. Jadilah rutenya Depok – Kebayoran. Jalan kaki ke shulter busway pasar kebayoran, kemudian Kebayoran – Pondok Indah Mall. Jalan kakinya lumayan dengan kondisi yang menurut saya kurang kondusif.

Di shulter baswey inilah tiba-tiba ingetan saya melayang ke kebodohan-kebodohan saya dalam perjalanan.

Naik Baswey Muter-muter.

5 tahun lalu, sebelum adanya ojeg online, public tranportation yang saya percaya itu cuma taksi dan busway. Sebagai anak kost-an dan anak rantau, tentu taksi menjadi pilihan terakhir.

Saya pernah janjian bertemu Nisa di FX Sudirman. Saat itu, saya tinggal di sekitaran Gandaria City, Jakarta Selatan. Dengan bangga dan penuh sukacita dong, saya naik Busway dari gang depan kostan. Mengingat didepan FX juga ada shulter busway, saya yakin moda transportasi ini tepat untuk saya.

Pake Busway

Rute pake Busway.

Saya hepi aja tuh, sampe kelewatan monas segala. Terus berasa jalan jauh banget, sementara si Nisa ngajak ketemuan di FX biar deket kali ya sama Gandaria.

“Lo naik apa tadi Ni?”

“Busway.” Jawab polos dan dia melongo.

Dijamannya ku bisa buka GPS, ingin rasanya masupin kepala ke ember dikamar mandi aja karena malu! :))))

Pake Kopaja

Pake taksi atau kopaja

“Lo bisa kali Niaa pake kopaja. Bla-bla-bla”

Hal ini terulang ketika mau opentrip ke Dieng dan janjian di Semanggi. Ku polos aja naik Busway yang bikin, 3 jam aja dijalan kakaaaaak. :))))

Tapi semenjak itu, ku jadi berani (kan diri) naik kopaja, sampai akhirnya kecopetan kemudian jadi trauma. Muahaha.

Donor Darah Belum Makan

Donor darah pertama saya itu waktu masih kerja di Bandung. Suka rutin diadakan dikantor dimana saya sedang ditugaskan. Kemudian, suatu waktu adalah donor darah dari brand kenamaan ibukota di Monas. Weekend. Dengan diiming-imingi goodie bag yang lucu-lucu, maka jalanlah saya.

Itu donor darah sekitar jam 4 sore, saya jalan sendirian, dan daripagi saya belum memasukkan makanan apa-apa. Kebayang dong abis donor? Blank!

Saya cukup tertatih-tatih berjalan dari area Monas menuju shulter busway. Kliyengan tanpa ampun. Saya menelepon salah seorang temen, menginformasikan kondisi saya. Kami janjian di FX Sudirman. Dia menemani makan, sampai kondisi saya cukup kuat untuk pulang. :))))

Bawa DSLR tanpa Batre

Kyaak! Ceritanya overseas trip ke Singapore bareng Kak Febby. Super excited dong nyiapin perlengkapannya termasuk kamera.

Nyampe Sing, kita langsung muter-muter. Pas lagi mau ngambil gambar, ngeluarin kamera, dan berasa ringan. Dihidupin ga mau hidup. Kirain rusak, dibuka dong bagian batrenya. Kozong!

KZL.

Mana dulu henpon kita berdua masih jadul-jadul (kamera beresolusi rendah), mau beli batre harga tus tusan yibu. Ga beli ga punya kenang-kenangan.

Fiuh.

Akhirnya, minta temen yang di Malaysia buat nyamperin ke Sing dan suruh doi bawa kamera/handphone bagus. :))))

Singapore.jpg

Mayanlah yaaa

Bawa SLR tanpa memori

Ini apaan banget kejadian di Singapore terulang lagi! >,<‘

Ini waktu wisudaan temen di Yogyakarta. Berat-berat bawa kamera DSLR. Nyampe sana, ditempat makan, baru ngeh ga ada memorinya. Thanks God, harga memori mah ga semahal harga batre ye kan? Melipir sebentar, beli memori, dan punya deh koleksi foto-foto

Naik gunung, bawa uang pas-pasan.

Ini ceritanya saya ikutan opentrip camping di gunung Papandayan. Yang namanya opentrip kan orang-orangnya belum kita kenal sebelumnya kan. Ntahlah kenapa pada saat itu saya bawa cash pas-pasan bener. Selama digunungnya sih ga masalah ya, masalahnya adalah ketika sudah sampai terminal Garut dan ku tidak punya ongkos untuk pulang.

Beruntung, terlihat mata semacam indomaret/alfamart yang didalamnya ada ATM. Buru-buru dong masuk dan eng ing eng. Rusak!

Satu persatu rombongan sudah dadah-dadah. Yang kukerjakan adalah melihat satu persatu peserta trip yang kiranya bisa meminjami daku uang. Buakakak.

Dapet? Alhamdulillah. :))))

Naik gunung pake sendal jepit.

Suatu hari, ke Yogyakarta untuk menghadiri acara pernikahan. Eh dasarnya punya temen doyan jalan ya, undangan pukul 11, ia masih sempet-sempetnya ngajakin naik Gunung Api Purba abis shubuh.

Yang di prepare baju kondangan, yang kejadian malah ndaki gunung. Sudahlah pake aja apa yang ada. Jadilah, ndaki pake sendal jepit! :)))

Gunung Api Purba.jpg

Untung matching. πŸ˜€

*) tidak disarankan untuk ditiru.

Tertipu dan kehabisan uang di Pulau.

Ini niatnya mau camping disalah satu pulau di Kepulauan Seribu. Setelah menghitung budget yang dirasa cukup, maka ku hanya membawa cash secukupnya dan sebuah kartu ATM.

Missed Komunikasi dengan penyewa kapal. Si temen yang Nego yakin kalau sewa kapal seharga 200,000,- pulang pergi. Eh udah sampai pulau yang dimaksud, si Punya kapal menegaskan bahwa 200,000,- itu sekali jalan! Mana uang kami (saat itu bertiga) hanya segitu-segitunya.

Belum lagi, kami mendatangi pulau pribadi yang memungut biaya lumayan tinggi untuk camping. Kyaaaak!

Atas kelihaian berkomunikasi, maka, ku berhasil menumpang nginep di Pulau itu dan nebeng kapal ke Pulau Harapan keesokan harinya. :)))

pulau-bira

Meski siang dipenuhi drama, Sore bisa menikmati ini. πŸ™‚

Malu bertanya, menunggu lebih lama.

Nah, ini kemarin banget. Jadinya kan sekarang itu ada feeder dari shulter busway ke Stasiun Commuterline kaaan. Sekalian pengen tahu, jadilah saya berniat naik busway dari Kebayoran ke Palmerah/Tanah Abang. Diem aja gitu nungguin tulisan di buswaynya Palmerah. Padahal, tujuan Grogol juga melewati tuh stasiun Palmerah. :)))

Dan baru sadar, setelah busway jurusan grogol berkali-kali melintas didepan mata.

Dari kesemua kebodohan ini, kebaca sih ritmenya. Pelupa, teledor dan ga prepare. Ndak apa-apa, kalau ga kejadian ga akan punya cerita. *ngeles*

Ya, kaaaaaann? *nutup muka nahan malu*

Advertisements

31 thoughts on “Kebodohan-Kebodohan ketika Jalan-jalan

      1. Nur Irawan

        hahaha, biarin…
        terkadang dengan berada di puncak gunung, kita bisa menyadari bahwa, seberapapun uang yang kau bawa, tak akan mampu untuk membuatmu hidup di atas gunung, sama saat berada di puncak kehidupan (ending) uang tak bisa mencegah kematian atau membeli tiket ke surga … hiks πŸ˜₯

      2. Nur Irawan

        puncak dan akhir itu beda tipis, bisa saja yang katanya puncak dunia, dengan mempunyai harta berlimpah, eh mati pas ketimpuk uang ratusan ribu, sakin girangnya.
        atau klimaks saat hmmmm gak enak mau bilang, ah sudahlah, hahaha

  1. shiq4

    Menurut saya yg pling bikin ke ya pas ke singapura dan baterai abis ha ha ha…. itu kok bisa sih sampai kejadian semacam itu πŸ˜€

    Reply
  2. Wndy

    Kalau aku, naik gunung trus pas pulang hp yang baru kelar cicilan hilang. Untung foto-fotonya udah ada yang dikirimin ke hp temen dulu sebelumnya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s