Seneng pamer di Instagram, Sedih simpen Sendiri!

Iya sih engga semua, tapi kan kebanyakan gitu. Iya, ndak?

Maap sebut sebut Instagram, karena tema hari ke-5 adalah; Tentang Media Sosial.

Kalau sedang mellow, saya sering kok meratapi nasib dan mengutuki diri sendiri. Kadang bercerita ke salah satu atau dua orang sahabat untuk membuat perasaan sedikit lebih baik. Disisi lain, teman sepermainan yang ndak begitu kenal dekat sering sekali berkomentar, “duh, enaknya ya jalan-jalan terus”, “pengen deh kaya kamu yang waktunya produktif”.

Komentar-komentar itu bermunculan karena satu muara. Media Sosial. Ya gimana ya, kan? Masa lagi bingung bayar tagihan ini itu harus curhat di Media Sosial? Buat minjem uang karena super duper kepepet aja malu, apalagi harus sampai seluruh dunia tahu? Maka, uda paling bener deh itu sosial media adalah tempatnya pencitraan. Bukan tempat berbagi suka dan duka. Sukanya ajalah, dukanya sendiri aja yaa.

Ungkapan ini menuju benar, ketika ternyata saya ndak sendirian. Beberapa sahabat yang curhat ke saya pun demikian. Ketika mereka bercerita tentang kesulitan yang mereka hadapi, bagaimana mereka berjuang mengatasi kesulitan itu, namun selama dalam masa sulit itu saya lihat IG Story atau Feed Instagram-nya sedang berada di Mall Fancy, Nyicipin makanan yang foto-able. Atau selfie muka sumringah yang seakan hidupnya sempurna, baik-baik saja dan bahagia.

Mereka pun demikian, Berbagi di kala Happy, Meratap sendiri kala sedih.

Akhirnya ya, dunia maya tampak tidak memiliki nilai apa-apa. Karena pelukan, dukungan dan support terasa sangat berarti di dunia nyata.

Terus yang pamer-pamer sedih di Instagram atau media sosial lainnya gimana? Bisa jadi itu terjadi karena tidak punya seseorang untuk meluapkan perasaannya ada didunia nyata. Tapi yang terjadi kemudian, alih alih ditanya ada masalah apa, malah di screenshoot-in dan jadi bahan gosip untuk sebagian orang lain.

Terus di forward dengan pesan; “caper banget di Medsos.”, “kasian banget ga punya temen”

:(((((((

Belakangan ini, pun ingin pamer seneng-seneng aja saya juga jadi mikir. Contohlah kemarin, saya cuti 3 hari plus libur sabtu minggu untuk liburan. Saya kesana kemari foto-foto tapi ndak sampai hati untuk menaikkan ke Media Sosial.

Sampai sahabat dekat yang tahu saya sedang liburan harus nanya langsung memastikan saya beneran liburan apa tidak. Sampai adik saya yang menjemput saya ketika pulang juga berkomentar, “Liburannya jadi, Teh? Kok enggak update Instagram? Kaya hilang ditelan bumi.”

Respon saya kala itu adalah, “Ndak sampai hati mau pamer lagi liburan, disaat teman-teman se-team saya dikantor lembur karena ada deadline. Dimana kali aja kalau ku ndak cuti, mereka ga akan pulang semalem itu”

Sekarang sih sedang menuju senang-sedih simpen sendiri. Atau jika mau berbagi ya sama sahabat dan keluarga terdekat. Karena pengakuan datang bukan dari followers tapi dari diri sendiri.

Gitu engga sih?

XD

Advertisements

8 thoughts on “Seneng pamer di Instagram, Sedih simpen Sendiri!

  1. Evi

    Orang lebih suka membaca atau mendengarkan kabar bahagia ketimbang kabar sedih. Kayaknya salah satu sebab mengapa posting di Instagram selalu mencerminkan kebahagiaan 😁

    Reply
  2. Jane Reggievia

    Aduhh bener banget. Pengakuan itu harusnya datang dari diri sendiri ya. Bukannya jumlah likes di IG. Ketampar banget baca blogpost ini hahahaha. Kadang kita lupa apa yg kita liat di medsos itu hanya cuplikan sedikitttt dr kehidupan seseorang. Rasanya bodoh ya kalo kita membandingkan hidup kita dgn sebuah foto yg diedit, difilter di sebuah medsos ):

    Reply
  3. Naufal eL-ghiyats

    Iyaaa, setuju teh. Saya udah beberapa bulan ini off dari fb dan ig. Gitu, kadang suka bikin penyakit hati tanpa disadari; hasud, dengki, suuzon, kurang bersyukur. Jadi lelah sendiri. Akhirnya sekarang cuma pake wa dan wp doang.

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Aku itu pengen banget nyoba tanpa WA. Cuma susah sekali karena kerjaan disitu semuaaa XD

      Iyaaa, mending menghindari yaa dari pada jadi penyakit hati πŸ™‚

      Reply
  4. brillie

    sama seperti membagi kehabagiaan pribadi disosmed. disaat berbahagia karena bisa menikah muda dengan pria yang sesuai, dikaruniai anak yang cepat, diberi kemudahan dalam pekerjaan dan keuangan, dan ketika kita lihat orang-orang disekitar ‘nasib’nya tidak seberuntung kita, rasanya ada perasaan nyesek ketika kita mau berbagi kebahagiaan tapi takut menyinggung mereka.

    walaupun ya hak hak kita juga mau membagi apa saja di sosmed. tapi balik lagi, kita punya rasa empati atau tidak.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s