HELLO FROM WAE REBO ⛰️

Awal tahun ini, ketika saya scrolling Threads, adalah informasi tiket murah dari Maskapai Air Asia tujuan Labuan Bajo dengan harga sekitar 500ribuan untuk sekali jalan.

Mengingat saya pernah menjadikan Nusa Tenggara Timur sebagai salah satu wishlist. Bahkan pernah membeli tiket untuk tahun 2020 yang dilalah terdampak pandemi. Tanpa menunggu waktu diskusi bersama suami, saya gaskan beli!

Berdua, 4D3N pada bulan Juni, kami bayar sekitar 2 juta lebih 50 ribu.

Kemudian setelah itu, banyak sekali feedback dari user lain bahwa maskapai satu ini terkenal dengan delayed dan cancelled nya.

Niatnya sederhana, saya hanya ingin mencoba Sailing Trip Live on Board, kemudian istirahat dan pulang.

Satu bulan setelah itu, perang timteng! Harga avtur terdampak, dan boom! harga tiket pesawat melambung ke berbagai penjuru. Apakah penerbangan kami terdampak? iyes, tentu. Untungnya hanya reschedulle. Ada rezeki dibalik itu, yang tadinya pesawat pulang pergi transit di Bali, malah bisa kami atur ulang jadualnya menjadi direct. 🥹

Pada pertengahan Mei, saya mulai mencari-cari agent untuk trip Sailing nanti. Dari pencarian itu, tiba-tiba fyp tiktok saya malah banyakan informasi mengenai Wae Rebo. Klik sana klik sini, saya jadi galau dan gamang untuk merubah niat wisata saya menjadi tracking ke Wae Rebo. 😂😂😭

And the reason kegalauan saya, karenaa …

Wae rebo menjadi Desa Tercantik nomor 2 di Dunia. D U N I A.

Saya cukup menyesal mengatur jadwal pesawat terburu buru. Mungkin kalau sedikit bersabar, saya bisa dapet 2 day explore Waerebo dan sailing 2D1N.

Setelah sidang isbat panjang bersama suami, memikirkan pro & cons-nya, akhirnya kami memutuskan tetap berkunjung ke waerebo dan One Day trip Sailing.

Apakah kegalauan selesai begitu saja? tentu tydac 😂, kami kembali dihadapkan pada pilihan untuk:

  • Menggunakan Damri Bandara: Hanya ada 1 hari 1 kali pada pukul 7 pagi dari Bandara Komodo
  • Sewa motor dan touring mandiri: perjalanan sekitar 4-5 jam
  • Mengikuti Open Trip dengan budget lumayan.

Mengingat dan mempertimbangkan: Sebelumnya kami masih bekerja dan after office hour bergerak ke bandara serta transit di Bali. Selama di Bali kami memilih buat jalan jalan sekitar legian – kuta, serta nongkrong sampai dini hari. Baru beranjak tidur menjelang pukul 2, sementara pukul 5 harus sudah kembali on the way ke Bandara. Saya (maap, kali ini emang keputusan sepihak) wkkw. memutuskan untuk pake open trip saja 🤭

Singkat saja, agar supaya perjalanan cukup panjang Bajo – Waerebo bisa kami gunakan untuk tidur. Dan tenaga disiapkan untuk tracking kurang lebih 2-3 jam ke Waerebo.

Background Nuca Molas; Jurassic Park-nya Indonesia

Sebelum sampai basecamp, kami sempat mampir makan siang & penyuluhan informasi tentang Desa Waerebo di titik awal. Setelah itu baru naik ojek menuju Pos 1.

Senyum sumringeh belum temu medan.

Disclaimer, seminggu sebelum perjalanan kami menuju Waerebo, saya beserta papa, adik, suami serta keponakan sempat tektok Papandayan. Nolong banget buat berjalan di Waerebo ga cukup ngos-ngosan.

In total, Waerebo punya 7 Pos yang harus dilewati dari mulai turun gojek, sampai Pos 7 memukul kentongan.

Sepanjang perjalanan, Mas Rino, Guide kita menjelaskan sedikit banyak sejarah tentang Desa Waerebo. Kemudian, bertemu dengan teman yang berpapasan saling memberi semangat di Jalan.

Barangkali ada yang mau dateng sendiri tanpa Guide, inget ya, setelah Pos 7 (membunyikan kentongan), dilarang untuk mengambil gambar atau video sampai kita di terima dalam ritual penyambutan adat Waerebo.

Setelah prosesi, baru deh bebas foto-foto dan bermain bersama warga lokal. Biaya mengunjungi Waerebo sekitar 300ribuan sudah termasuk kasur, bantal, selimut dan makan.

Maghrib menjelang, udara mulai dingin. Bintang mulai bermunculan, di waktu waktu tertentu kalau cuaca sedang baik. Milkyway bisa terlihat.

Dan listrik di desa Waerebo hanya menyala dari pukul 6 – 10 malem. Setelah itu yep, gelap gulita :’)

Sampai bangun di pagi hari menunggu sunrise.

Matahari pagi, di desa tercantik di dunia.

Kita bisa bercengkrama bersama penduduk Waerebo. Sambil menikmati sarapan dan melihat aktivitas seperti menjemur kopi, bermain bersama anak-anak. Dan yha, diingatkan juga ketika pendaftaran di awal, bahwa kita tidak diperkenankan untuk memberi barang/uang pada anak-anak yang tinggal di Waerebo.

Alhamdulillah, kaki mungil ini bisa juga kekeh dan tangguh berjalan sampai di Desa. Menikmati pemandangan serta udaranya, menambah list wishlist yang bahkan baru terpikir beberapa minggu ini.

Doa panjang umurku, semoga Waerebo masih terjaga keaslian dan keramahtamahannya. Masih ada warga yang melestarikan ditengah pertumbuhan ekonomi dan teknologi yang gecar gecaran ini.

Sampai nanti nanti, lagi hai Waerebo! :’)

Leave a comment