Terima Kasih, Kisah. (2)

Tiba-tiba tersadar maret akan segera berakhir. Btw baru sadar, bahwa Maret 2018 adalah tahun ke-10 saya nge-Blog. Mayan juga ya hobi nulis diary digital ini. Hihihi.

Mengawali 3 bulan pertama di tahun 2018 dengan hiatus dari media sosial. Terakhir posting Instagram akhir bulan Januari 2018 dan posting blog satu bulan hanya 1 postingan saja, dibulan Februari dan 2 postingan di bulan Januari. Sibuk? Iya, kerjaan gitu-gitu aja. Sementara kegiatan sosial ya sekali dua kali lah dalam 3 bulan ini.

Alasan yang paling mendasar adalah karena saya sedang patah hati (lagi). Muahaha. Sebuah proses yang tidak pernah kepikiran akan terjadi lagi setelah bertahun yang lalu saya melewatkan proses sakit hati ini.

Gagal Lamaran.

Pada lebaran tahun 2014 kami sempat merencanakan pertemuan keluarga di rumah keluarga besar Mama saya di Bandung. Karena satu dan lain hal, rencana itu tidak terjadi disaat kami sudah menyiapkan ini itu. Keluarga mama sudah mengosongkan jadwal dan kumpul di Garut. Saya dan doi uda beli baju sepasangan, begitu juga dengan ayah ibu saya yang ikut-ikutan pengen sepasangan juga. Kakak mama yang hobi masak udah belanja kebutuhan dan mulai nyicil masak-masak.

Hari itu.

Batal.

Umur saya waktu itu menjelang 24 tahun. Ketika tahu apa yang diinginkan engga kejadian saya sih lempeng aja. Sedih iya, tapi ga sedih banget juga. Keluarga dari mama yang panik. Mereka bergantian neleponin saya dan keluarga hanya untuk memastikan saya baik-baik saja. Sementara saya kala itu memilih untuk traveling berdua bareng papap, menikmati kota Semarang.

Belajar Memaafkan.

Setelah gagal lamaran, kami kembali bersama. Iya, ada alasan yang bisa saya terima untuk kami kembali mencoba. Mungkin belum waktunya aja, pikir saya sesederhana itu.

Doi juga sudah ‘menghadap’ orang tua dan kakak-kakak mama untuk menjelaskan. Setiap orang berhak untuk di maafkan dan diberikan kesempatan kedua. Toh sejatinya manusia terlahir tidak ada yang sempurna.

Yasudah,

Kita coba lagi saja.

Harap bersabar, ini ujian.

Kemudian, tiba-tiba 3 tahun berlalu dan hubungan kami begitu begini saja. Merencakan kembali untuk pertemuan keluarga lagi, target menikah. Berantem. Putus. Balikan. Ulang lagi dari awal sampai balikan lagi.

Begitu terus.

Sampai matahari engga akan terbit lagi di pagi hari.

Beberapa kali saya pernah keomongan sama Beliau, “Apa kita ga jodoh, ya? Kok ribet banget. Kok hubungan ini begini begini aja. Kaya ga maju-maju. kok kaya yang sulit.”

Barangkali kita hanya diuji.

Sekarang-sekarang baru sadar kalau petunjuk sama ujian emang beda-beda tipis. Tinggal dari mana kita mau lihat sudut pandangnya. Saya sih optimis itu mah ujian, makanya hadapi dan telen-telen aja itu prosesnya. Meski sekarang ya tentu saja sudut pandangnya jadi berubah.

Ah iya, barangkali emang petunjuknya emang belum berjodoh.

Menerima Jalan-Nya.

Cukup wajar rasanya kami mulai merasa muak dan lelah terhadap hubungan yang dijalani ini. Sampai akhirnya blunder. Kami sepakat untuk cukup sampai disini saja. Demi kenyamanan bersama, demi kebaikan bersama.

Iya, semoga, ya.

Terakhir kali saya patah hati itu, sekitar 7 tahun yang lalu. Sempat kepikiran, ‘ah nanti mah mau pacaran 3 taunan dulu ah baru nikah.’

Jadinya setelah berhubungan lebih dari 3 tahun, sempet dong ya saya merasa, ini kali ya doa yang terkabul. Kan dulu minta pacaran lamaan dulu. Jadi deh, jungkir balik saya coba pertahanin. Coba maklumin. Coba meneguhkan hati kalo ini cuma ujian. Ujian pernikahan akan lebih berat, jalani saja.

Berdamai dengan Patah Hati lagi.

Maka, ini lah alasan dibalik bersembunyi-nya Nia terhadap postingan belakangan ini. Terlalu sibuk mengubur kenangan. Muahaha.

Saya kira kesibukan pekerjaan yang dilalahnya pas lagi sibuk sana sini bisa mengurangi kegelisahaan hati. Saya kira dengan saya lebih banyak dirumah dan bercengkrama dengan keluarga bisa menganggap biasa-biasa saja hari hari nanti.

Ternyata engga dong.

Tetap ya, sesepele lagi masak indomie saja, bisa banget keingetan momen.

Belum lagi terlalu banyak tempat antara Jakarta – Depok yang menjadi kenangan dulu pernah bersama.

Ga sengaja scrolling timeline instagram kemudian menemukan tempat-tempat yang dulu didatangi bareng-bareng.

Berat ya, ternyata.

HAHAHA.

Mencari Distraksi Lain.

Kelamaan mendem juga ga baik kan ya. Beruntung saya punya sahabat-sahabat yang mau mendengarkan. Yang mau ngajakin main keluar buat keketawaan. Yang mau nge-cover lagu tulus – Manusia Kuat yang bisa saya dengerin setiap hari dalam perjalanan KRL Jakarta-Depok. Iya, setiap hari. Biar keserap, dan menjadi manusia kuat beneran.

Selain itu juga saya menerima pinangan teman-teman dari Dompet Dhuafa Volunteer untuk terlibat di salah satu kegiatan besarnya.

Merasa itu tidak cukup, saya kembali daftar di beberapa Kelas Inspirasi. So far, Kelas Inspirasi Bandung yang sudah saya ikuti bulan Lalu dan Comingsoon InsyaAllah mengikuti kelas di Batam.

Tentang jalan-jalan, dia yang biasanya selalu ada disetiap #TravelingAlaNia sejauh ini belum tergantikan. Namun Allah tentu saja tidak akan membiarkan hambaNya bersedih terus-terusan, kan?

Kemarin baru saja saya impulsif beli tiket buat liburan. Kabar baiknya, saya tidak sendirian. Ditemani oleh 9 orang lainnya. Orang-orang yang intesitas ketemu saya setiap hari. Hampir 10 jam setiap hari dalam seminggu dan sudah 5 tahun lebih.

Yak, teman-teman se Departemen!

Patah hati itu risiko dari Jatuh hati. Tidak apa-apa Jalani saja. Hadapi. Pelan-pelan. Semoga setelah ini, kami sama-sama belajar mengambil hikmah. Berubah menjadi lebih baik. Menjadi manusia yang baik. Bertemu dengan jodohnya masing-masing yang baik-baik.

Seperti yang selalu saya dengarkan dan saya senandungkan di masa healing;

Kau bisa patahkan kakiku, patah tanganku rebut senyumku
Hitamkan putihnya hatiku, tapi tidak mimpi-mimpiku

Yuk ah, yuk! Balik lagi ke Mimpi-mimpi!

Pulau Kemaro

*Pelototin resolusi ditahun 2018 karena bulan Maret sebentar lagi akan segera berakhir.*

 

 

 

Advertisements

10 thoughts on “Terima Kasih, Kisah. (2)

  1. mfadel

    Bisa ngefeel gini sama tulisan move on :”
    Aku suka responnya setelah mengalami kisah sepanjang ini. Nggak semua orang bisa kayak kak nia. Turut mendoakan yang terbaik untukmu kak

    Ngomong2 tentang kelas inspirasi Batam, jadi minat pengen tau

    Reply
  2. kunu

    1. Selamat ulang tahun untuk blognya yg ke 10, wauw udah lama jugak πŸ˜ƒ
    2. Terbaik caranya ngatasin resah, dan gelisah masalah hati…
    3. Semangaaat kakak, semoga selalu diberikan yg terbaik ya πŸ™

    Reply
  3. lfitriany

    udah lama ya ngeblog. hebat bisa konsisten gitu. selamat hehehe. buat patah hatinya saya ga berani komen. saya percaya setiap manusia punya ceritanya masing-masing. punya ketawanya sendiri-sendiri dan punya air matanya sendiri-sendiri. tetap menjalani hari-hari dengan baik dan tetap selalu berpositif itu yg penting.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s