Solo Traveling, Why Not?

Saya memulai kegiatan traveling sejak bulan pertama berada di Jakarta, tahun 2012. Saya mulai dengan mengikuti salah satu agen perjalanan yang mengakomodir trip. Saat itu tujuan kita ke Pulau Harapan, Kepulauan Seribu. Karena masih newbie, temen temen banyak yang menolak ajakan saya karena itu akhir bulan, dan budget nya lumayan. 350 ribu. Jadilah saya ikut seorang diri. Pertama kali nyampe di Meeting Poin dan melihat orang orang bercengkrama bersama teman temannya, sementara saya sendirian, rasanya ingin langsung pulang. Mengingat uda terlanjur bayar dp separuh harga trip, niat pulangpun diurungkan. Cerita lengkapnya ada di postingan ini dan ini.

Bulan berikutnya, saya trip ke Karimun Jawa. Ditemani oleh Mba Yuni & Kak Wira, seseorang yang saya kenal di Trip Pulau Harapan ini. Bulan berikutnya saya trip ke Pulau Pari, yang masih ditemani oleh Mba Yuni. Bulan berikutnya saya ke Dieng, Wonosobo ditemani oleh Mba Ine, Kak Wira dan Mas Bombom, ketiganya saya kenal di Trip Pulau Harapan. Dipergantian bulan antara Juni dan Juli, saya DuoTraveling bersama rekan saya, Agung, ke Solo.

Setelah beberapa kali mengarungi trip rombongan sana sini, saya pun mulai kepikiran untuk ber-Solo Traveling. Mulailah pada bulan November, bulan dimana saya berulang tahun. Kota tujuan jatuh pada Kota Semarang. Dengan mengandalkan tiket promo, saya terbang ke Semarang untuk get lost disana. Namun yang terjadi, saya menemukan satu satunya teman seangkatan ketika SMA, dan berbaik hati mau nganterin muter muter. Maka, Solo Traveling kali ini, gagal 😦 BirthdayTrip nya baca disini deh.

Ditahun 2013, saya mulai tobat traveling perbulan. Saya mulai menjaga jarak 2 bulan sekali. Tapi kali ini pake pesawat πŸ˜€ Perjalanan dibulan pertama ke Negeri Laskar Pelangi. Tempat dimana (dulu) saya kira, hanya orang kaya yang bisa kesini. Ternyata orang kaya saya bisa juga nginjek Belitong, meski harus berbekal tiket promo. Promo dimana, pada akhir januari maskapainya dinyatakan pailit. ihihi Β Trip ini bersama Mas Wimbo (temen yang saya kenal ketika di Pulau Harapan) dan Kak Febby (temen kantor saya)

Pada bulan Mei, saya kebagian rezeki untuk dapetin tiket promo ke Surabaya bersama Mas Wimbo dkk, kita mutusin untuk ke Malang. Dan kami memutuskan untuk mendaki semeru! iya, semeru! hooh, Ndaki gunung! Iya itu, gunung 5cm, mamam. Jadi gini, di pendakian itu, saya sendiri perempuannya. Satu satunya cewek. Diantara 8 orang lelaki. πŸ˜€ Ceritanya, simak disini.

Saya sempat menyelipkan #familytrip dibulan puasa. Ya, bulan puasa. Saya ngetrip di bulan puasa ke Yogya. Ke goa pindul. Ditemani oleh 2 orang adik, temen kost-an, dan Mas Wimbo Mba Tika yang berdomisili serta berbaik hati turut serta menemani selama ke Goa Pindul.

Saya kembali mulai memikirkan, kapan dan kemana akan ber-Solo Traveling, seperti cita cita saya dulu. Dibulan November, saya memutuskan main ke Madiun, selama perjalanan sih saya iya sendirian, tapi di Madiun saya langsung di jemput sama Mas Alif, temen kuliah jaman di Bandung. Dan berjalan jalanlah kami ke Pacitan. Setelah itu, saya minta izin untuk mampir ke Malang, nyekar ke Makam Mbah. Dalam perjalanan Madiun – Malang sih iya saya sendirian, tapi di Malang saya di jemput oleh temen SMA saya, Zein. Yang akhirnya mengantarkan dan menemani saya selama di Malang.

Somehow, saya bersyukur, kemanapun saya melangkah selalu saja ada teman yang dengan baik hati mau untuk menemani saya menjelajah. Saya harus bersyukur juga sekolah di SMANSA, which is, ketika lulus, anak anaknya pada kuliah ke seantero Indonesia, keuntungannya bagi saya yang suka jalan jalan gini, selalu ada teman ketika berkunjung. Tapi disisi lain, saya jadi kepikiran, kapan saya get lost nya? 😐

Secercah harapan muncul diawal tahun 2014. Saya berkesempatan mengunjungi Yogya untuk menghadiri undangan pernikahan. Sisa harinya rencananya saya gunakan buat get lost. Namun, lagi lagi Gagal. 😦 Saya kembali ditemani teman teman selama di sana.

Kesempatan itu akhirnya hadir di bulan berikutnya, Februari 2014. Saya mendapatkan promo ke Bali. Dan akhirnya, saya ber- Solo Traveling!

20140222_103158 copy

Terminal 1C – Bandara Udara Soekarno Hatta

Saya sempet nervous. Inilah perjalanan pertama saya tanpa orang yang akan menjemput di kota tujuan. Saya sempet deg-deg an ga jelas berujung pada menelepon ayah dan ibu untuk meminta doa agar diberi keselamatan dalam perjalanan. Kenapa Bali? Karena saya pengen belanja ke Joger. Dan pengen ke Ubud. Dulu pernah #familytrip ke Bali. Tapi ga sempet mampir ke Ubud. Berapa lama? 2 hari. Sabtu Minggu. Iya, saya sok kaya. Tiket pesawatnya 50ribuan kok sekali jalan πŸ˜‰

20140222_130239 copy

Jalan Tol diatas Laut, cuma ada di Bali

Bali berubah! begitu reaksi saya ketika menginjakkan kaki di Ngurah Rai. Airport nya jauh lebih besar dari terakhir kali saya kesini. Sudah banyak makanan fast food disekitaran bandara. Saya berjalan kaki keluar bandara. Ngegembel cari taksi ceritanya. Dan.. perjalanan dimulai! *excited*

Dua minggu sebelumnya, saya sudah booking hotel via livingsocial. Salah satu hotel disekitaran Kuta, dibanderol harga Rp. 250.000,- semalem. Dan bersyukurnya saya, harga on the spot mencapai 3x lipatnya.

20140222_203803 copy

Yang paling murah Rp. 750.000,- 😐

Tujuan pertama saya setelah menaruh barang dan Sholat Dzuhur & Ashar adalah ke Joger. Yap. Agenda hari itu saya hanya ingin ke Joger. Belanja sendal dan pernak pernik khas Joger. Saya memutuskan untuk Jalan kaki aja dong dari Hotel, yang ternyata jauh nya banget banget. Antara 1-2 km. 😐 Saya dehidrasi dan kelaparan akut, sehingga memampirkan diri ke Warung Nasi Bu Andhika yang letaknya persis diseberang Joger.

20140222_184117 copy

Pelangi Setelah Hujan

Sebelum pulang, ada Pelangi cantik dilangit Bali. Kala itu, Jakarta sedang dirudung hujan deras dan bnjir dimana mana. Sementara di Bali, langitnya Cantik. Penyesalan saya hari itu adalah; kenapa saya ga sunset-an di Kuta! eerrrr. Lelah berjalan kaki ketika pergi tak akan saya ulang diperjalanan pulang ke hotel, untuk itu saya memilih naik taksi. Dan.. salah jalan. Harusnya Dewi Sri, saya menyebutnya Dewi Sartika ke Supir Taxi. Argo jadi dobel. >,<

Saya nyampe di hotel sholat Maghrib dan kecipak kecipukin kaki di kolam renang. Me Time banget. Sambil ngeliatin bule bule yang juga lagi berenang malem malem. Setelah Isya, saya berjalan kaki ke Khrisna yang alhamdulillah letaknya deket sama hotelnya.

Setelah itu? Saya ngendem di kamar nonton sinetron. Iya, nonton sinetron. Jauh jauh ke Bali saya malah nonton Sinetron di hotel di balik selimut. Mana waktu itu adegannya banyakan mewek pula, ya. Saya nangis aja gitu sesegukan menikmati alur cerita. :”))) Ya kapan lagi yeken, nonton sinetron di Hotel. πŸ™‚

Untuk ke Ubud, karena saya sendiri, hasil googling, saya menemukan ada shuttle bus Kuta – Ubud. Untuk yang kearah Ubud hanya ada pada pukul 6 pagi dan 10 pagi. Karena pengen leyeh leyeh bangun agak siang menikmati empuknya spring bed hotel, saya memilih untuk berangkat pada pukul 10 pagi.

20140223_093120 copy

Legian Street

Jangan berharap busnya seperti Damri dari Jakarta – Bandara Soetta. Nyaman dan Ber-AC. Busnya sederhana, Bus ber-AC Alam (baca : berjendela terbuka). Seperti bus Damri non AC Bandung – Jatinangor. Haha. Atau kaya kopaja kopaja di Jakarta. Isinya mayoritas bule yang bawa tas gunung segede gede gaban. Jilbaber? cuma saya doang. Sering disapa dengan, “Malaysia ke?”

Saya menikmati perjalanan. Memandangi pemandangan, sampai akhirnya angin sepoi sepoi membuat saya tertidur sempurna. Kuta – Ubud menghabiskan waktu 1,5 Jam. Poolnya di Ubud dekat sekali dengan Monkey Forest. Saya memilih untuk update path saja tepat di gerbangnya. Saya sempet googling on the spot juga, intinya kalo masuk ke Monkey Forest, kita akan disambut sama monyet monyet. Ogah! Mana sendiri. Mau peluk siapa 😐

Saya mampir ke salah satu swalayan membeli ice cream, sambil menikmati ini..

20140223_113155 copy

Ubud Cerah!

Ice cream habis, saya berjalan kesekitaran. Melihat lihat. Masuk masuk ke tempat jualan jualan khas Bali. Mendatangi penyewaan motor, dan tidak berhasil menyewa barang sebiji. Full booked 😦 Cuaca yang cerah, dan badan pegal memanggul ransel, saya memilih untuk neduh di sebuah cafe.

20140223_125044 copy

is waiting for you..

Saya menghabiskan waktu selama 2-3 jam di cafe tersebut. Memesan segelas minuman dan sepiring kentang goreng. Berdiam menikmati ubud. Berdialog pada diri sendiri. Sesekali menunduk melihat gadget. Membaca buku. Melihat sekitar. Bule bule berlalu lalang. Pramusaji bekerja. Mengamati sekitar. Saya merasakan nyaman sekali. Ya, saya nyaman dengan diri sendiri. Bahkan ketika sendiri.

Kenyamanan saya terusik ketika jarum jam mendekati pukul 3 sore hari. Pertanda bus saya kembali ke Kuta akan segera berangkat. Saya meninggalkan Ubud dengan penuh rasa cinta dan bermimpi suatu saat akan kembali lagi.

Flight schedulle saya kembali ke Jakarta pukul 8 Malam WITA. Saya menyempatkan diri untuk berjalan jalan disekitaran Kuta. Kembali keluar masuk toko dikiri kanan jalan. Sampai akhirnya perjalanan saya berujung pada pantai Kuta. Kembali mengamati sekitar. Bule bule berjemur. Penjaja kain bali. Orang orang yang berputar putar di udara pake semacam parasut.

20140223_182221 copy

Kuta Beach

Sunset gagal ketika mendung mendadak mengusik matahari yang ingin tenggelam. Saya bergegas ke Bandara. Jalan Kuta mulai padat kendaraan oleh orang orang yang baru saja mencoba peruntungan menikmati Sunset.

Saya nyaris tidak melakukan percakapan berarti selain dengan resepsionis hotel, supir taksi, satpam hotel dan resepsionis shuttle bus. Selebihnya, saya berdialog pada diri sendiri. Rasanya? menyenangkan. Get lost sendiri itu candu. Saya ingin lagi. ingin lagi. Ya paling tidak, sekali seumur hidup, cobain deh. Kamu bakal ngerasain gimana survive ditempat asing. Gimana harus bisa mengambil keputusan ketika dihadapkan oleh beberapa pilihan. Gimana bertanggung jawab ketika pilihan yang kamu ambil salah. Gimana senangnya, ketika apa yang kamu pilih benar. Gimana serunya bisa bilang, “Aku ternyata bisa juga ya, hidup sendiri”

Epilog

Saya memandang keluar lewat jendela pesawat ini. Para penumpang satu persatu memasuki pesawat. Pragumari sibuk membantu menyiapkan bagasi kabin. Dalam hati saya bergumam, “Iya sih, lagi solo traveling. Tapi kok ya ngerasa sendiri banget gini. Ga ketemu dan kenalan sama siapa siapa.” Saya kembali membaca sebuah novel “Project Happiness” yang baru saja saya beli di Bandara.

“.. kepada para penumpang, diinformasikan sesaat lagi pesawat ini akan lepas landas dari Bandara Ngurah Rai, Bali. Harap membuka penutup jendela. Gunakan sabuk pengaman. Untuk alasan keselamatan, lampu di kabin akan dimatikan..”

Saya menghela napas panjang. Menutup buku. Mencoba memejamkan mata sampai pesawat ini benar benar lepas landas. Menoleh ke penumpang sebelah, mata saya terusik oleh si Bapak yang mengeluarkan bundelan kertas bertuliskan ‘SKENARIO PARA PENCARI TUHAN 7 Episode 1″. Saya mencoba menoleh lebih jauh ke muka si Bapak. Berusaha mengingat, apakah beliau salah satu pemainnya. Pemain sebagai apa.

2 menit kemudian, si bapak mengajak saya berbincang bincang. Kami terlibat percakapan yang menyenangkan. Setidaknya saya beberapa kali tertawa. 10 menit sebelum landing. Beliau menyerahkan naskahnya pada saya, “Suka baca, ya? Mau baca ini?” Ujarnya sambil menyerahkan bundelan kertas tersebut. “Bapak, pemainnya?” tanya saya akhirnya. Rasa penasaran harus dituntaskan sebelum berpisah. “Bukan, saya sutradaranya.” jawabnya enteng.

Saya membaca halaman demi halaman naskah PPT. Sesekali tertawa ketika membaca bagian lucu yang selalu jadi daya tarik sinetron tersebut.

Save aja nomer saya. Kalau kamu mau, mampir aja ke lokasi syuting. Nanti saya kenalkan pada temen temen pemain PPT.”

Malem itu, saya diantar pulang oleh Sutradara PPT dan penulis skenario bajaj bajuri dan Suami suami takut istri yang kebetulan rumahnya searah dengan jalan ke kost-an saya.

3 minggu kemudian, saya berkeliaran disekitaran lokasi syuting untuk bertemu dan belajar arti dari syuting sinetron itu seperti apa. Bapak yang baik hati itu selalu bilang pada setiap orang, “kenalkan, ini Nia, saudara saya dari Batam.”

Dear Allah, thankyou untuk pengalaman luar biasa kali ini. Dan hey Jakarta, lagi lagi kamu menggemaskan!

Titik 0 Indonesia, Jakarta.

20140412_110443-a

Patung Selamat Datang, Selamat Datang Jakarta

“Sini kerja di Jakarta, Is. Digaji 5 juta, deh” Ujar salah satu teman kuliah yang sudah terlebih dahulu kerja di Jakarta.

“Engga, ah! Jakarta panas” Jawab saya.

“Yee. Mau sukses kok takut panas.” Ujarnya lagi.

Setahun kemudian, saya pindah kerja ke Jakarta. Terkadang manusia terbiasa menjilat ludahnya sendiri. 😐 dan manusia itu, salah satunya, saya.

Kenapa saya ingin berdomisili di Jakarta?

Simple saja, saya memiliki mimpi untuk menjelajah Indonesia. Untuk itu, akan mudah jika perjalanan dimulai dari Jakarta. Dari Batam, saya harus mengandalkan moda transportasi pesawat terbang, sementara dari Jakarta, saya bisa mengandalkan bus sampe ke pulau sumatera.

Saya memberanikan diri untuk melancong ke Jakarta seorang diri. Yap, seorang diri. Luntang lantung kaya anak ayam kehilangan induk di Ibukota. Saya memberanikan diri untuk mengambil kerjaan sebagai implementator, pekerjaan yang selalu saya hindari sedari saya menjadi sarjana. Menuju Jakarta, saya berkali kali menjilat ludah sendiri.

Kost-an pertama saya di Jakarta, tepat diseberang Mall besar milik Jakarta Selatan, Gandaria City. Rp. 600,000,- sebulan. kamar kecil berukuran 2m x 2m. Berpintu dan berdinding triplek. Kamar mandi diluar. Beralaskan karpet. (ya, menurut ibu kost, itu kasur. Menurut mata saya, itu hanya karpet). Berjendela kecil, selayaknya jendela kamar mandi. Sederhana sekali. Lingkungan sekitarnya, rapat rapat. Padat penduduk.

Saya ingat benar, hari pertama kali saya kerja di Jakarta. Saya bersemangat sekali pergi ke kantor yang ditempuh dengan jalan kaki dari kostan saya. Saya terkampung kampung ketika melihat kereta api melintas menemani perjalanan saya ke kantor. Saya meyakini diri, bahwa saya siap menjadi bagian dari Jakarta.

Bulan berikutnya, saya pindah kostan. Ke tempat yang jauh lebih layak. Dengan Rp. 700,000,- saya mendapatkan sebuah kamar 2 x 3 m. Kamar Mandi didalam. Kasur, lemari dan Kipas Angin. Parkiran Motor. Dekat dengan warung jajan, penjual pulsa dan londri-an. #penting Meski untuk ini, saya harus jalan kaki lebih jauh. 20 menit. Dengan tarif kost-an yang menghabisi 1/4 gaji bulanan saya. Selamat datang, di Jakarta.

Adalah Jehan, teman dekat saya ketika kuliah menyusul saya kerja di Jakarta. Akhirnya, saya tak lagi luntang lantung sendirian. Saya punya teman. Klien saya, yang kebetulan kantornya sebelahan dengan kantor Jen, ngebuat kita sering nyempet-nyempetin makan malem bareng. Cerita cerita. Saling mengutarakan mimpi. Ya, mimpi yang membawa kami ada di Jakarta.

Jakarta, dimana hari hari orang orangnya berpacu dengan waktu. Pukul 8 pagi, orang orang uda menatap leptopnya masing masing. Pukul 1 siang, semua kursi sudah terisi, dan masing masing kembali sibuk dengan pekerjaannya. Pukul 5 sore, di Jam pulang, semua orang masih berdiam di tempat duduknya masing masing. Errr.. Ya,Β  di Jakarta semua orang, gila kerja. Selamat datang, di Jakarta.

“Bu, saat ini saya sedang ada di Solo. Saya akan melanjutkan perjalanan ke Semarang esok hari. Saya baru bisa kembali ke Kantor selasa.” Izin saya suatu hari pada atasan.

dan dibales, “Akan ada meeting hari Senin. Kamu harus turut serta. Segera kembali ke Jakarta.”

Oke, di Ignore. Sorenya saya grasa grusu nyari moda transportasi untuk segera pulang ke Jakarta. Karena mendadak, saya kehabisan segala macam tiket. Saya memutuskan untuk kembali ke Jakarta via Bandung. Yes, Selamat datang di Jakarta. Mau izin sehari aja susah. 😦

Sampai pada suatu hari, saya terjebak macet di sekitaran gedung MPR dibilangan Senayan, saat itu pukul 12 siang. Matahari tepat diatas kepala. Saya berdiri didalam bus tak ber-AC menuju Slipi. Saya kehausan. Saya mulai pusing. Saya muak dengan mobil yang pelan sekali berjalannya, kemudian seorang pengamen menyanyi persis disebelah badan saya, “Siapa suruh datang Jakarta. Siapa suruh datang Jakarta.” Saya serasa ingin pura pura mati saja. Selamat datang di Jakarta, Nia.

Dilain hari, saya berbaik hati mengantarkan leptop untuk dipinjem Jen selama saya main ke Bandung. Saya naik busway. 3 jam aja masa Kebayoran – Slipi. Yes, i’m crying at the time. Hujan, Jumat, After Office Hour, lewat Jakarta Barat. Oke, Selamat datang di Jakarta.

Jakarta banjir. Bundaran HI terendam. Gedung UOB memakan korban. Saya beserta beberapa teman berinisiatif ke camp pengungsian, membawa segala macam bala bantuan. Turun dari bus. Dompet saya lenyap. Jakarta ajaib. Padahal saya rame rame. Padahal tas saya didepan badan. Padahal saya diapit temen temen saya. Selamat datang di Jakarta.

Menuju tahun kedua saya di Jakarta. Saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai passion saya dulu, Human Resource. Sayangnya, kantornya dibilangan Jakarta Barat. Setiap hari saya berjuang naik kopaja untuk menerjang Jakarta Selatan – Jakarta Barat. Rasanya? Seringkali saya turun dari Kopaja dalam keadaan kucel kumel dan sudah tidak bersemangat untuk kerja. Selamat datang di Jakarta.

Ah, kalau saja ketika bercakap nanti saya bicara, ‘Ga ngerasain hidup di Jakarta, sih’ Tolong dimaklumi ya. Jakarta emang sekeras itu kehidupannya.

Di ke-apes-an hidup di Jakarta, Jakarta punya sisi lain yang ga dimiliki oleh Bandung. Tempat dimana saya dulu bekerja sebelum hijrah.

Saya ikut rombongan trip, yang karena trip itu saya jadi punya temen traveling untuk menjelajah tempat tempat di Indonesia. Saya mulai jago berburu tiket promo pesawat, saya dapet tiket harga 10 ribu untuk pp ke Makassar. tiket 100 ribu pp ke Padang, Bali dan Batam. Saya bisa mengunjungi belitung dengan tiket pp 350 ribuan. Saya mendaki semeru dengan tiket pp 200 ribuan. Saya bisa ke Bandung dengan 17 ribuan pake Kereta Api.

Di Jakarta, saya dapet kios buku langganan yang buku bukunya dibandrol dengan harga 20 ribuan. Buku asli. Jatah-an penerbit untuk kios ini. Adapula pusat jualan baju Tanah Abang, yang baju bajunya dibandrol dengan murah meriah.

Di Jakarta, event event kece banyak banget. Dari yang gratisan sampai berbayar. Saya pernah dapet doorprize handphone disalah satu acara media social. Saya pernah diundang oleh Marshanda untuk syukuran managementnya. Saya beberapa kali bersama Jen, duduk manis menjadi penonton langsung acara Stand-Up Comedy. Banyak pula seminar seminar oke yang tak berbayar tapi kita bisa pulang nenteng goodie bag lucu lucu.

Pintar memilah following di Twitter. Saya pernah diundang diacara launching Buku, ikut heboh konser Kahitna, Nobar Idol bareng Hivi! Semua Informasinya dari twitter dan serba gratis. πŸ™‚

Tahun ini, genap 2 tahun saya di Jakarta. Gimana rasanya? Saya betah banget di Ibukota. Tuh, pake Banget. πŸ˜€

Saya mengendarai motor sekarang. Perjalanan ke kantor jadi lebih mudah. Meski, kalian harus percaya satu hal. Motor yang saya kira hanya kotor, dan pas dicuci ternyata adalah baret. Yap! Bawa motor di Jakarta itu, kalo engga di senggol ya kita nyenggol. 😦 Kalo engga, saya yang ngomong, “Maaf ya, Mas.” ada seseorang yang ngomong, “Maaf ya, Mbak”. Coba perhatikan setiap lampu merah di Jakarta, motor selalu berada didepan zebra cross. Pun saya akan berada dibarisan terdepan πŸ˜€ ketika lampu kuning, ngeeeengg.. sudah pada ngegas. Saya juga jadi ikut ikutan. Trus, Jangan aneh kalo banyak sekali motor lawan arah. Abis nya, puteran jalan di Jakarta itu jauh banget. Bisa bisa beda wilayah. Contoh kasus, saya dari Gandaria (which is Jakarta Selatan) mau ke Karet, Sudirman (which is masih Jakarta Selatan) saya harus muter lewat Bundaran HI (which is Jakarta Pusat).

Pendapatan saya sudah berlipat dari pendapatan pertama saya di ibukota. Kostan saya masih yang 700 ribu. Sudah 2 tahun, dan belum naik. Saya sekarang sekamar berdua Putri. Which is, 700 ribu dibagi berdua. Jauh lebih murah.

Saya masih rajin Jalan jalan. Masih berburu tiket promo. Masih berburu diskonan untuk belanja buku belanja baju. Lagi aktif aktifnya ikut kelas Akademi Berbagi.

Saya bahagia karena saya selalu ada kesibukan. Saya senang karena temen superjuangan saya, Jen pun demikian. Seperti saya yang sedang menjajal mimpi jalan jalan, Jen juga. Ia sedang menggapai mimpi mimpinya. Meski untuk itu, intesitas kita bertemu, duduk makan bareng jadi jarang sekali.

Eh iya, buat kamu yang saat ini sedang berada di Jakarta, atau berniat hidup di Jakarta seperti saya. Saya berbagi sedikit tips ya;

1. Kosan – Kantor jangan lewat jalan besar.
2. Jangan sok sok-an nongkrong after office hour di segitiga emas Jakarta (Sudirman-Thamrin-Gatsu) apalagi setelah hujan. apalagi hari Jumat. Jangan.
3. Sekali sekali naik ojek, bajaj, taksi. Biar tau jalan lain selain rute angkot/kopaja :’)))
4. Having trip 2 minggu sekali keluar Jakarta.
5. Jakarta segala ada. Ubek ubek tempat hunting buku, hunting baju dan acara seru.

At the end, Last but not least, Saya masih ingin berkeliling Indonesia lewat sini, titik 0 nya menjelajah Indonesia, Jakarta.

NB. Suatu hari, pernyatan saya diatas mungkin akan jadi bumerang buat saya ketika nanti, saya ketemu sama pujaan hati yang menawarkan kebahagiaan diluar kota Jakarta. ihihi.

Halo!

Hi! Hallo!

Ini ke sekian kalinya, saya ganti platform buat ngeblog. Sebelumnya saya memainkan keyboard di blogspot, yang kemudian terpaksa saya sudahi karena sudah ga bisa lagi upload foto. Pesan yang muncul; memori saya yang sudah penuh. 😦 Saya beralih ke tumblr. 2 tahun numblr saya menyerah dengan tampilannya yang teramat sederhana. Engga bisa diotak atik. Seringkali sudah ngetik panjang lebar, ngehang. Yang ngebuat tulisannya jadi hilang, dan harus mengulang dari awal.

Akhirnya, saya mencoba platform ini. Semoga user friendly dan sesuai kebutuhan saya.

Selamat berceloteh, Nia! πŸ™‚