Ke Pulau Tidung, Masih jaman?

Menginjak kaki ke Pulau Tidung adalah impian saya sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu berlibur ke Tidung sedang hits hits-nya. Saya sempat menunda resign karena mendengar kabar kabur bahwa outing kantor akan bergerak ke sana. Sampai akhirnya saya resign, outing ke Pulau Tidung tak juga ter-realisasi. 😦

Bulan kedua setelah hijrah ke Jakarta, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Pulau Harapan, bulan berikutnya Karimun Jawa, dilanjutkan lagi bulan berikutnya saya menginjakkan kaki ke Pulau Pari. Saya mulai kehilangan selera untuk menginjakkan kaki di Pulau Tidung setelah mendengar cerita para guide di Pulau Harapan dan Pulau Pari kalo Pulau Tidung sudah tidak nyaman untuk didatangi. Setelah mulai lupa pada impian menginjakkan Tidung, mantan kantor saya baru outing kesana. Huh.

Sampai akhirnya di pertengahan 2014, sebuah email masuk dengan subject voting outing 2014. Anyer dan Pulau Tidung. Saya yang sudah pernah ke Anyer, refleks memilih Pulau Tidung dan berharap vote terbanyak ke Pulau Tidung. Kenapa Tidung? Karena saya sudah pernah ke Pulau Pari dan Pulau Harapan πŸ˜› selain itu, karena lebih deket dari Muara Angke.

Awalnya, saya diminta untuk mencari informasi untuk eo yang akan kami gunakan untuk outing kali ini. Dengan pertimbangan ini adalah family gathering, saya tidak merekomendasi eo eo kelas homestay dan harga murmer. Ga apalah agak mahal, yang penting nyaman, dan kami semua menikmati.

Maka, saya mengambil paket di tidungnirwana dengan menggunakan kapal middle class. Engga menyedihkan naik kapal kayu, tidak juga sok gegayaan naik kapal dari marina. Pilihan jatuh pada kapal zahro. Duduk, ber-AC dan nyaman.

Temen temen sempet kaget ketika melintasi kapal kayu yang sudah dipenuhi orang orang ngampar. Mereka mencemaskan diri akan bernasib sama. Haha.

IMG_2515-a

Not Bad, kan?

Dilengkapi TV, Sound System.

Dilengkapi TV, Sound System.

Continue reading

Yang baru di Bandung.

Bandung emang ga pernah ada habisnya.

Saya bersyukur di ‘depak‘ dari Batam ke Bandung oleh Ibu saya. “Mau kuliah dikampus manapun, yang penting di Bandung” Begitu pesannya beliau ke kami, ke-empat anaknya. Bandung itu tempat dimana saya pertama kali ‘lepas dari sangkar’. Meninggalkan rumah, dan memulai hidup mandiri. Pertama kalinya daftar kuliah sendirian (yes, sebelumnya, saya selalu ditemani oleh ayah saya), pertama kalinya hidup nge-kost sendirian (ya meskipun sering sekali dikunjungi oleh Teh Sinta yang kebetulan kuliah di Jatinangor), dan Pertama kalinya saya mulai mengais rezeki untuk menghidupi diri. Semuanya dimulai dari sini, Bandung.

Bandung salah satu kota nge-hits di Indonesia yang terkenal akan berbagai kulinernya yang enak, Wisata alamnya yang luarbiasa, fashion-nya yang berkembang, gaya hidup anak mudanya yang kece sampai ke kasus genk motornya. Dan saya, menikmatinya selama kurang lebih 3 tahun.

Mengikuti perkembangan zaman, Bandung pun demikian, selalu aja ada hal baru yang seru di Bandung. It’s why, saya memilih untuk kerja di Ibukota. Saya masih suka susah move-on untuk jauh jauh dari Bandung.

Baru baru ini, Om Emil (Walikota Bandung sekarang, red) membangun Taman Jomblo di bawah jalan layang Pasopati. Iyes, Taman Jomblo. Taman untuk Jomblo jomblo gitu. Aku mah ga pernah duduk disitu. #GengsiJomblo.

Yang lagi ngehits baru baru ini adalah;

Tebing Keraton

Pertama kali saya tahu tentang ini dari temen pejalan yang ngepost di Grup Whatsapp. Kemudian, saya berkesempatan mengunjungi pertama kali bersama Papa. Best partner of life. Bermodal googling, saya bersama papa selepas Shubuh menuju Tebing Keraton. Letaknya di ujung jalan diarah Taman Hutan Raya Juanda.

Tidak direkomendasikan untuk gembel gembelan (baca: ngeteng naik angkot + Jalan kaki). Jauh banget. Ga direkomendasikan naik mobil juga. Uda paling bener momotoran aja. Akses kesananya jelek banget soalnya.

Halo, Tebing Keraton

Halo, Tebing Keraton

Karena tempat ini sudah mulai nge-hits. Banyak penduduk sekitar yang ngeh. dan bisa nunjukin jalan, kok. Untuk tarif masuknya, masyarakat sini mematok harga Rp. 11,000,- untuk wisatawan domestik dan Rp. 76,000,- untuk Wisatawan asing.

Kenapa tempat ini seru?

Karena dari sini, kita bisa liat pemandangan ini.

Bandung dari Ketinggian

Bandung dari Ketinggian

Sejauh mata memandang hijau, sejuk & Gunung. Tebingnya kecil dan curam sekali. Kita harus hati hati dengan langkah kaki.

20140907_094819 copy

Karena lagi rame-ramenya diomongin, coba kesini pas weekday deh. Biar ga rame aja gitu. Lebih menikmati alamnya.

Pemandangan a long the way.

Pemandangan a long the way.

Bukit Moko

Ada lagi nih. Bukit Moko. Kalau di Tebing Keraton kita engga bisa menikmati dimalam hari, berbeda dengan Bukit Moko. Bukit ini bisa kita nikmati di Malam hari. Lampu lampu bandung akan terlihat dari sini.

Pernah denger Caringin Tilu? Saung makan yang dari situ bisa lihat kerlap kerlip kota Bandung. Nah, Bukit Moko ini jauh di atasnya. Jadi masih keatasnya lagi. Akses jalannya bisa di mulai dari Jl. Padasuka. Patokannya Saung Angklung Udjo. Dari situ, lurus aja terus keatas sampe mentok. Medannya ga lebih berat dari pada ke Tebing Keraton, tapi lebih curam. :’D Namanya juga perjuangan ketempat kece, ya.

Katanya disini bisa menikmati sunset, sayang, pas saya kesana, mataharinya diselimuti mendung. Jadi gagal gitu sunsetnya 😦

Halo dari Bukit Moko

Halo dari Bukit Moko

Ditempat saya berdiri untuk menghasilkan foto diatas, kita harus beli makanan warung gitu deh. Kalo cuma nongkrong doang, dikenakan biaya. hihihi.

Menggenapkan Diri

Menggenapkan Diri

Meja nya dibuat dari bebatuan gitu. Uniknya, karena ini hamparan luas, si pengantar makanan biasanya berteriak ditengah lapangan. “Atas nama Rendra”. Nanti yang namanya Rendra tinggal lambai lambai tangan aja. Yagimana ya, kan ga lucu aja nanti kita ketemu ga sengaja di WC misalnya, “Yang namanya Rendra, yaa” Eeeaaa.

20140906_174344

Kalau malam hari, mau lebih dekat dengan Bintang. Disinilah tempatnya. Menyepilah dan hening sejenak lah ditempat ini. πŸ™‚

Saya yakin, Bandung akan terus berkembang disegala bidangnya. Terlebih dengan oke-nya pimpinan Om Emil untuk membangun kota Bandung. Dan saya, akan terus sering main main ber- Weekend Gateway ke kota ini.

Oh iya, hari ini bertepatan dengan Ulang Tahun Bandung yang ke 204. Happy Birthday. Sst.. Aku jatuh cinta berkali kali padamu, Bandung.

How I Meet Ranukumbolo

IMG_2603

Dear, Sunrise!

 

Aku menyimpan sebuah kalimat di notes BB seperti ini, β€œAnggaplah sebuah gunung aku memilih mendaki gunung tersebut secara perlahan. Menikmati pepohonan, bunga dan udaranya. Berhenti, walau bukan dititik tertinggi, tapi aku tetap bisa menikmati keindahan”

Aku lupa itu dapet dari mana dan kapan ngutipnya. Yang jelas, pada saat memindahkan tulisan itu kedalam notes yang terfikir adalah proses menuju sukses. Tidak langsung, tidak instan. Proses secara perlahan, menikmati setiap proses nya. Sampai akhirnya, kemarin aku mendaki semeru, aku sepakat bahwa; filosofi kesuksesan itu benar adanya seperti naik gunung.

Entah kenapa, orang orang pada heran ketika aku bilang, aku perempuan satu satunya, diantara 4 lelaki yang hanya 1 orang yang aku kenal. β€œYakin engga kenapa kenapa?”, β€œBerani?” kenapa sih harus mengkhawatirkan hal hal yang sebenarnya bisa kita atasi sendiri, huh. Toh, pada setiap keputusan, apapun itu. Kita harus bertopang pada kaki sendiri bukan?

Mengawali perjalanan dengan berkenalan dengan orang2 yang aku akan menghabiskan waktu bersama mereka kurang lebih 4 hari kedepan.

Dalam hidup, kita akan bertemu dengan orang baru. Berkenalan. Dan seiring jalannya waktu, akan ada hal hal yang terjadi. Berhubungan langgeng. Berteman baik kemudian bertengkar. Bertemu sekali, kemudian lama tidak bertemu dan suatu saat ketemu lagi. It’s called Life.

Malang city tour di hari pertama trip ini berjalan. Mengumpulkan tenaga. Mempersiapkan diri. Bersantai sejenak sebelum akhirnya kita akan mulai berjuang.

Menuju sukses adalah impian semua orang. Buatlah perencanaan yang matang, tarik napas sejenak. Dan bersiaplah menghadapi medan terjang di depan.

Sabtu pagi, kita berlima sudah berada di Pasar Tumpang, meeting point dimana kita akan memulai perjalanan. Β Membeli perbekalan. Dan mencari akses informasi bagaimana bisa mencapai ranu pani.

Selalu ada titik start dimana kita akan mencoba berjalan menuju kesuksesan. Dan harus ada perbekalan yang kita bawa untuk mengiringi setiap perjalanan kita. Baik itu berupa ilmu, keahlian, kefasihan dan keberanian.

Di Tumpang, kami berkenalan dengan 4 orang lainnya yang akan mendaki semeru juga. Bersama mereka kami berbagi kendaraan.

Setiap individu memiliki tujuan hidup yang sama. Sukses dan bahagia. Dalam perjalanannya, kita akan bertemu banyak orang yang memiliki tujuan hidup yang sama. Bersama mereka, kita berjalan bersama.

Jadilah, rombongan kami bersembilan. Dan aku, satu satunya perempuan. Paling kecil. Paling muda. Mungkin tampak paling lemah. Menurutku, naik gunung hak siapapun. Ga Cuma laki laki kok yang bisa mendaki. Perempuan juga bisa.

Sukses juga ga melulu milik laki laki. Ga jarang perempuan muda dan tampak lemah bisa sukses juga, sesukses laki laki. Jangan sepele, jendral!

Kita jalan beriringan bersembilan. Dengan sebelumnya berdoa bersama. Memohon perlindungan dan keselamatan sampai berada di ranu Kumbolo.

Mau usaha segimanapun, kalo lupa berdoa, yasudah. Tidak usah terlalu banyak berharap. Sukses dimana mana rumusnya Cuma ikhtiar, usaha dan berdoa. Maka, mulailah segala sesuatunya dengan berdoa. Dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan bahwa kita butuh uluran tangan-Nya

Baru berjalan satu kilometer-an, Mas Wimbo ngerasa keberatan dengan bawaannya. Dan dibantu dibawakan dengan mas Iqbal.

Disadari atau tidak, dipundak kita selalu ada beban. Ada tanggung jawab yang kita pikul. Yang selalu kita lupa, disekeliling kita ada orang orang yang mau berbagi beban itu, ada orang orang yang mau membantu kita memikul apa yang ada dipundak kita. Caranya bisa macam macam. Dengan mendengarkan, memberikan solusi bahkan sampai mengambil alih.

β€œTidak ada yang kebetulan” Selama perjalanan, kita sangat dibantu dengan adanya 4 orang mas mas yang berbaik hati, dimana mereka sangat sangat open. Ngebantu kita bawa tas, ngasih kita logistic. Ikut duduk bareng ketika kita ngerasa kelelahan.Β  Dan yang pastinya mengawali kita depan belakang.

Dalam prosesnya, kita akan bertemu dengan senior yang mau mengawasi prosesnya kita menuju sukses. Memberi masukan. Membentengi kita untuk tetap berjalan on track.

Selama perjalanan, kita bertemu dengan banyak pendaki yang akan mendaki dan pendaki yang baru selesai mendaki. Saling bertegur sapa walau tidak saling mengenal. Terkadang kita mendahului orang lain dan sering kali kita di dahului orang lain. Ihihi.

Menuju suksses itu masalah proses dan Waktu. Ada kalanya kita melihat teman kita berjalan didepan, atau berjalan dibelakang kita. Terkadang kita di salip dari belakang, terkadang kita yang menyalip. Semuanya tergantung seberapa besar usaha kita untuk itu. Untuk mendahului. Pada hakikatnya, didahului atau mendahului hanya masalah waktu. Puncak sukses tetap diam disitu menyambut kita kapan saja.

IMG_2650

Selain itu, selama berjalan kita di peringatkan akan adanya lobang di kanan kiri jalan. Akar yang menghalangi jalan. Bebatuan. Tanjakan dan turunan. Komando biasa datang dari orang terdepan yang diteruskan sampai belakang. Mas Rizqi & Mas Wimbo yang mau memegangi, memberikan tangannya, menjaga. Mas Juki, yang senantiasa memberi informasi kepada Mas Iqbal, yang mengulurkan tangannya ketika menanjak. Mengawasi ketika turunan. Disana, aku melihat persahabatan itu seperti apa.

Jangan pernah takut kita berjalan sendirian. Akan ada orang orang yang mau mengulurkan tangannya ketika kita butuh bantuan. Akan ada orang orang yang senantiasa ngasi warning ttg segala sesuatunya. Akan ada sahabat dimana tulus untuk ngebantu dan nerima kita apa adanya. Pasti ada.

Perjalanan mencapai tujuan akhir kami Ranu Kumbolo menghabiskan waktu 8 jam. Yang seharusnya 3-4 jam. Bahkan ada yang 2 jam sudah nyampe. Mungkin kami terlalu banyak beristirahat. Mungkin kami kelelahan dengan barang bawaan kami. Mungkin kami kaget dengan medan yang kami hadapi.

Semuanya kembali lagi hanya pada masalah waktu. Mau cepat atau lambat, bagaimana prosesnya. Ketika kita melihat teman kita sukses dalam waktu lebih cepat. Mungkin mereka emang berjalan cepat. Meminimalisir istirahat. Sudah mengetahui medan terjang. Kita yang lama? Tidak perlu menyesal. Nikmati setiap proses yang sedang kita hadapi. Pada akhirnya, kita akan merasakan moment Indah pada waktunya. πŸ™‚

Ranu kumbolo menyambut kami pukul 10 malam. Dengan hamparan tenda, beberapa lampu teplok dan ribuan bintang indah di langit. Buyar sudah kelelahan selama perjalanan. Indahnya alam. Dinginnya udara. Aku, sangat menikmatinya.

Indah pada waktunya itu emang benar adanya. Ketika itu, terbayar sudah peluh selama menjalani prosesnya. Akan ada saatnya kita mencapai titik klimaks. Mencapai titik dimana kita menikmati jerih payah kita. Menghela napas lega, sebelum akhirnya meninggalkannya.

Aku memilih untuk menghangatkan badan sebentar sebelum kembali ke tenda untuk istirahat. Menikmati hamparan bintang. Kalo bisa tidur beratapkan langit, beratapkan langit dah. Di tengah malem, aku serasa mau mati kedinginan. Sudah menambah jaket. Sudah menutupi leher dengan pasminah. Dan masih kedinginan. Aku membuka tenda memanggil Mas mas sebelah. Tidak ada yang menyahut. Aku terjaga beberapa menit mengkhawatirkan diri sendiri. Takut tetiba mas mas yang bising ditenda sebelah masuk tiba tiba. Sampai akhirnya aku tertidur lagi.

Ada saatnya nanti, kita Cuma bisa berharap pada diri kita sendiri. Bertopang pada kaki kita. Meminta bantuan tapi tak direspon. Butuh teman tapi tak ada. Saat itu, ingatlah ada Allah lebih dari cukup. Lebih dari cukup.

Hi, Ranu Kumbolo! :)

Hi, Ranu Kumbolo! πŸ™‚

IMG_2572Jam 10 pagi keesokan harinya, kami memilih untuk bergegas kembali ke Ranu Pani. Menyelusuri jalan setapak kembali. Dan ternyata, begitu indahnya alam yang kami lewati. Pemandangan yang semalem terlewatkan karena hari sudah gelap. Serta perasaan tidak menyangka bahwa yang jalur yang kami lalui cukup curam. Jurang, air dan halangan lainnya selama di perjalanan.

Kelak ketika kita sudah kembali. Kita baru ngerasain bagaimana proses yang kita jalani menuju puncak. Terkadang kita terlalu focus untuk mencapai titik puncak sampai melupakan bagaimana kita melewatinya. Nantinya, kita jadi kangen gimana proses menuju puncak itu. Dan ingin mengulangnya kembali. Tapi sayang, waktu tak akan pernah mau berulang. Β 

Sad to say goodbye.

Sad to say goodbye.

Dangerously Beautiful Indonesia

Dangerously Beautiful Indonesia

Menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo ngebuat aku berfikir proses menjalani hidup. Bahwa ternyata, mendaki gunung itu benar seperti menapaki karir dan impian dalam kehidupan. Ada kesinambungan proses di antara keduanya. Aku tentu belajar banyak hal, dari perjalanan kemarin. Tentang pertemuan, persahabatan, kesetiakawanan, kemandirian dan perpisahan. Dari semuanya, aku bersyukur. Bersyukur mendapat ilmu dari Alam tentang kehidupan.

Finish Line.

Finish Line.

PS. Tulisan ini pernah ditulis dan dipublikasikan di sini.

[Book Review] Sabtu Bersama Bapak

Saya selalu merasa ada yang hilang setiap melakukan perjalanan tanpa bacaan dan alat tulis. Entahlah, akan selalu ada moment krik krik disetiap perjalanan, baik itu diatas pesawat, dibangku bus, di kereta api. Moment itu sering saya gunakan untuk menulis dan membaca. Sesekali jika memungkinkan, sambil mendengarkan music.

Dimudik Ramadhan kemarin, saya membeli buku “The Fault in Our Star” untuk menemani perjalanan Jakarta – Bandung yang saya kira akan macet. Kemudian, buku tersebut telah saya selesaikan sebelum saya mudik Bandung – Garut, sehingga saya merasa perlu untuk membeli buku (lagi).

Pilihan saya jatuh pada buku ‘Sabtu Bersama Bapak’. Sebuah buku karangan Adhitya Mulya, yang sebelumnya nge-hits dengan karyanya ‘Jomblo’ yang saya baca ketika duduk di bangku putih biru.

mtf_siyDx_373Buku ini bercerita tentang keluarga kecil. Sepasang orang tua yang dikaruniai 2 anak laki-laki. Adalah Gunawan Garnida, seorang ayah berusia 38 tahun yang memiliki seorang istri bernama Itje dan 2 anak lakilakinya yang bernama; Satya & Cakra.

Pak Gunawan di vonis penyakit kanker yang membuat waktunya tinggal setahun lagi disaat anak anaknya masih kecil. Tak ingin anak anaknya merasa kehilangan sosok ayahnya, Ia membuat rekaman video video yang isinya petuah petuah kehidupan, diputarkan setiap hari Sabtu oleh Ibunya. Sehingga Satya & Cakra selalu menanti hari Sabtu, karena itulah hari dimana mereka ‘belajar’ dari ayahnya. Mereka menyebutnya, Sabtu bersama Bapak πŸ™‚

Anak sulung mereka, Satya sudah menikah, memiliki 3 anak kecil. Tinggal jauh dari Indonesia bersama anak Istrinya. Satya diceritakan diawal memiliki sifat pemarah yang membuat istri dan anaknya ketakutan setiap ia pulang kerumah.

Sementara anak kedua mereka, Cakra, sudah menginjaki umur kepala 3 tapi belum menikah. Membuat ibunya, Itje, ikut galau memikirkan nasib anaknya. Padahal Cakra sudah sukses dalam karir dan mapan dalam kehidupan.

“Ka, istri yang baik ga akan keberatan diajak melarat”

“Iya, sih. Tapi Mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat. Mamah tahu itu. Bapak juga gitu, dulu”

Salah satu pesan dalam video sang Bapak yang diingat oleh Cakra sehingga ia memilih untuk sukses dalam karir dan mapan dalam kehidupan sebelum meminang perempuan;

“Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin. Ketika Bapak menikah tanpa persiapan lahir yang matang, itu artinya bapak juga belum matang. Bapak belum siap mentalnya. Karena Bapak gak cukup dewasa untuk mikir apa arti dari ‘siap melindungi’.

Jika batin Bapak ‘siap melindungi’, maka wujud kesiapannya adalah, punya atap yang dapat melindungi ibu kamu dari panas, hujan, dan bahaya. Ga perlu megah. Ga perlu kaya. Ngontrak pun jadi. Yang jelas, ada atap untuk melindunginya dan Bapak bayar dari kantong sendiri. Itu, wujud dari melindungi.

Jika batin Bapak ‘siap menafkahi, maka wujudnya adalah punya penghasilan yang mencukupkan istri dengan wajar. Ga perlu mewah. Ga perlu memanjakan, tapi cukup dan wajar. Itu, wujud dari siap batin.”

Sementara satya, belajar untuk legowo meminta maaf kepada istri dan anaknya. Mendiang Bapak telah mengajarkan pada anak anaknya bahwa meminta maaf ketika salah adalah wujud dari banyak hal. Wujud dari sadar bahwa seseorang cukup mawas diri bahwa dia salah. Wujud dari kemenangan dia melawan arogansi. Wujud dari penghargaan dia kepada orang yang dimintakan maaf. Tidak meminta maaf membuat seseorang terlihat bodoh dan arogan.

Tidak hanya Satya dan Cakra yang mengambil banyak pelajaran dari setiap video yang dibuat oleh Ayahnya, Istrinya, Itje pun demikian. Sebelum meninggal, suaminya telah menyiapkan aset untuk ia berkembang sehingga tak merepotkan anak anaknya kelak. Ibu itje sukses dengan bisnis restorannya yang sudah berkembang dengan adanya 6 cabang di Jawa barat. Dalam salah satu videonya, suaminya pernah bilang;

“Zaman orang tua kita, negara ini masih membangun. Yang namanya pekerjaan itu, masih mencari orang. Bapak bapak kita lulusan SD Saja bisa nafkahi orang sekampung. Zaman kita, adalah zaman orang mencari pekerjaan. Kepala sarjana tidak terlalu mahal lagi. Kita berdua masih bisa mandiri. Zaman anak kita, ga kebayang seperti apa sulitnya persaingan mereka. Pastinya orang cari pekerjaan..

Setelah mereka mandiri nanti, belum tentu mereka bisa menolong diri mereka apalagi menolong kamu. Makanya, saya siapkan untuk kamu juga..

Waktu dulu kita jadi anak, kita ga nyusahin orang tua. Nanti kita sudah tua, kita ga nyusahin anak..”

Sepenggal kalimat “..kita ga nyusahin anak” inilah yang juga ngebuat Itje untuk menyembunyikan perihal penyakit kanker payudara-nya di hadapan 2 anaknya. Ia tak ingin menyusahkan kedua anaknya.

Buku ini bercerita tentang bagaimana sepasang suami istri mendidik anak anaknya. Bagaimana kasih sayang orang tua pada anak anaknya. Bagaimana saudara saling menjaga dan mengasihi. Bagaimana seorang suami menjadi kepala keluarga. Bagaimana seorang istri menempatkan posisinya pada keluarga. Bagaimana proses pencarian jodoh.

In the end, Cakra menemukan jodohnya. Diwaktu mereka menghabiskan waktu bersama, ada percakapan seperti ini;

“Mas, nanya dong.”

“Apa, tuh?”

“Mas pernah bilang, bagi Mas, saya itu perhiasan dunia akhirat. Kenapa bisa bilang begitu?”

“Kamu cantik. Itu jelas. Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di Mushola Perempuan”

“…”

Saya jadi teringat, ayah ibu saya berasal dari dua kepribadian yang berbeda. Papa seorang yang taat agama, rajin ke mesjid, jago mengaji. Sementara ibu saya, perempuan yang tumbuh di pusat kota Bandung. Gaul. Suka pake baju seksi seksi gitu. Ibu saya bukan akhwat akhwat berjilbab lebar gitu. Suatu hari saya juga pernah bertanya pada papa;

“Papa kenapa milih mama? Mama kan dulu seksi.”

“Karena pas papa main kerumahnya, setiap terdengar suara adzan, mama minta izin untuk Sholat.”

Mungkin yang papa rasain pertama kali ketemu mama sama dengan apa yang dirasa oleh Cakra ketika bertemu jodohnya. πŸ™‚ Perempuan itu, (seharusnya) jadi perhiasan Dunia Akhirat.

Buku ini buku yang ketika saya selesai membaca, saya menarik napas panjang dan bergumam, “ini buku bagus banget!”

Untuk orang tua, untuk calon ayah dan calon ibu, untuk seorang anak, untuk yang lagi mencari jodoh. Buku ini highly recomended!

Banyak warna di Buku menandakan banyak quotes kece sepanjang membaca buku ini :)

Banyak warna di Buku menandakan banyak quotes kece sepanjang membaca buku ini πŸ™‚

Judul : Sabtu Bersama Bapak
Penulis : Adhitya Mulya
Penerbit : GagasMedia
Tahun terbit : Juni 2014
Cetakan : Pertama
Tebal : 278 hlm
ISBN : 979-780-721-5

Tentang Bandung, Bromo dan Bali

Sebagai manusia yang merasa perlu membaca majalah wanita sampai hari ini, saya meminjam majalah Cita Cinta milik rekan kantor. Didalamnya, tak sengaja ketangkap mata cuplikan perkataan dari seorang travel blogger, Claudia Kaunang.

β€œSebelum menjelajah Luar negeri, kunjungi 3B. Bandung, Bromo dan Bali. Bandung dikenal dengan kuliner, tempat belanja dan Wisatanya. Bromo dikenal dengan keindahan panorama alam gunung dan Bali, tentu saja dikenal dengan keindahan pantainya.”

Dulu dulu banget, saya pernah nge-tweet kira kira seperti ini, β€œ3 kota yang saya rekomendasikan untuk #solotraveling pertama kali; Bandung, Yogya dan Bali” Kenapa saya tidak merekomendasikan Bromo? Ngetrip ke Bromo ga bisa sendirian, minimal berlima lah. Karena kita kudu nyewa jeep. Ga ada angkutan umum. Kecuali kalau touring ya, momotoran gitu.

.. and here we go!

BANDUNG

Saya berterimakasih sekali kepada ibu yang telah β€˜melempar’ saya dari Batam kemari untuk menempuh pendidikan setelah SMA. Menghabiskan waktu 3 tahun bikin saya jatuh cinta sama kota ini berkali kali. Apa ya.. kota ini romantis. Udaranya sejuk. Hiburannya banyak. Kulinernya segala macam ada. Tempat belanja? Dari factory outlet, deretan distro sampai pasar pagi Gazibu semuanya bikin nagih. Wisata? Dari ujung ke ujung terbentang.

Cuma di bandung, naik angkot isinya akang akang kasep sama neng neng geulis. :p Cuma di Bandung, sepanjang jalan Dago dimalam minggu bertebaran mahasiswa kece ngamen dan jualan bunga. Cuma di Bandung, gandengan tangan jalan kaki dari Stasiun sampai jalan merdeka ga berasa capeknya. Eeaa. Kotanya nyenengin banget deh. Terlebih sekarang dipimpin oleh kang Emil yang sangat β€˜mendengar’ suara rakyat. Sampe niat dong, bikin taman Jomblo di bawah jembatan Pasopati. :)))

Camping Ground, Cikole Lembang

Camping Ground, Cikole Lembang

Kebun Teh, Ciwidei

Kebun Teh, Ciwidei

Kawah Putih, Ciwidei

Kawah Putih, Ciwidei

Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Saung Angklung Mang Udjo, Bandung

Saung Angklung Mang Udjo, Bandung

BROMO

Saya berterimakasih pada maskapai tigermandala (–uhuk, yang kini sudah pailit) pernah memberikan promo JKT – SUB dengan harga Rp. 236,000,– pulang pergi πŸ˜€ Karenanya, saya bisa menginjakkan diri di Ranukumbolo dan menyempatkan melanjutkan perjalanan sampai Bromo.

Decakan kagum pertama kali melihat gimana serunya ngeliatin matahari keluar dari peraduannya. Subhnallah berkali kali ketika melihat kawah Bromo. Mampir ke Area Pasir berbisik dan Bukit Teletubbies. Beneran deh, Bromo emang luar biasa.

Golden Sunrise di Pananjakan, Bromo

Golden Sunrise di Pananjakan, Bromo

Gunung Bromo

Gunung Bromo

Pasir, dengar bisikku kah?

Pasir, dengar bisikku kah?

I Run To You!

I Run To You!

IMG_2984-aBALI

β€œWhere are come from?” | β€œIndonesia” | β€œWow. Bali!” Setiap bule yang ga sengaja nanya kita berasal darimana, pasti taunya kalo Indonesia = Bali, huh. Tengs to God, too, saya bisa nginjek icon of Indonesia ini sekeluarga untuk pertama kali. Ke Bali tanpa main watersport itu sayang banget. Makanya, mending nabung bener bener dan abisin bener bener deh disini. Gembel ke Bali tanpa nyobain mainan laut ini asa kumaha kitu.

Selain lautnya yang sudah tidak ada tandingannya lagi. Langitnya itu loh. Mau hujan gimana juga di Jakarta, di Bali langitnya tetap cantik. Sunsetnya euh. Nagih.

Sampai saya mau bilang terimakasih citilink untuk tiket promo Rp. 144,000,- pulang pergi JKT – DPS sukses membuat rindu saya kemBALI terpuaskan. Kali kedua, saya pergi seorang diri. Mencoba melangkah diatas kaki sendiri tanpa travelmates. Sukses? Sukses dong!

Flying Without Wings

Flying Without Wings

woho! Diving!

woho! Diving!

Say Hi, dari Bali!

Say Hi, dari Bali!

Ubud dalam episode #solotraveling #kemBALI

Ubud dalam episode #solotraveling #kemBALI

Golden Sunset, Jimbaran, Bali

Golden Sunset, Jimbaran, Bali

Karena syarat 3B telah kupenuhi, maka, luar negeri yang akan aku jelajahi adalah .. Mekkah! Pengen banget nginjek Mekkah. Boleh minta Aamiin? πŸ™‚

Success & Failure

Selama bulan Ramadhan kemarin, dept Learning & Development mengadakan sharing session dari HC untuk HC yang sengaja diselenggarakan untuk saling berbagi dari kami (div Human Capital,red) untuk kami. Sayang, saya hanya bisa mengikuti 2 dari sekian sharing. Salah satunya adalah mengenai ‘Behavioral Event Interview [BEI]’ materi ini disampaikan oleh mba Nisa selaku tim dari dept Recruitment Selection di perusahaan tempat saya bekarja.

BEI ini adalah materi mengenai wawancara terstruktur dan terarah. Tentang how to seorang interviewer menyeleksi calon karyawannya. Sebagai orang yang pernah berkali kali mengikuti proses assesment, informasi tentang BEI ini nambah ilmu saya banget. Selama ini, beberapa kali mengikuti proses recruitment, yang saya temui sebatas pertanyaan; terakhir kerja dimana, dengan pendapatan berapa, passion nya apa, hobinya apa, nanti kedepannya pengen seperti apa, jobdesk di pekerjaan yang ditawarkan seperti apa. Sementara dalam BEI, interviewer akan lebih spesifik dalam menggali informasi calon karyawannya seperti; Apa tanggung jawab Interviewee? Apa tantangannya / situasi-situasi kritis seperti apa yang sering dihadapi dalam posisi Interviewee? Apa ukuran keberhasilannya? Prestasi apa yang pernah diraih? Keberhasilan dan kegagalan apa yang pernah dijalani.
Seketika saya terdiam, oke ya, susah pertanyaannya. Eh, bukan susah sih. Hanya butuh waktu lebih panjang untuk berfikir πŸ˜€ keluar dari ruangan, saya jadi kepikiran, Iya, ya. Kesuksesan kegagalan saya apa sih selama ini. Saya mulai melamun, mulai flashback gitu, apa apa yang sudah terjadi dihidup saya. Continue reading

Eid Mubarak 1435 H

#MudikHore; Jakarta – Bandung, 25 July 2014

Screenshot_2014-08-04-14-46-16

Pembunuh Kebosanan yang sengaja disiapkan untuk arus mudik. Nyatanya, 2 jam nyampe Bandung :’D

#MudikHore; Bandung – Garut, 27 July 2014

mtf_siyDx_379

#MudikHore #YourHappinessIsYours

#Eid Mubarak, 1 Syawal 1435 H. Garut, 28 July 2014

20140728_074834--a

Mohon Maaf Lahir batin dari Kami, Bachtiar’s Family! \o/

20140728_074903--a

#MyLoveMyEverything

20140728_075428--a

Bersama si empunya Villa πŸ™‚ We Love You, Ua!

#After Ied. Bandung – Yogyakarta, 1 Agustus 2014

Unpredictable things, Having trip berdua bareng papa ke Semarang. Konon, beliau selalu berdoa agar suatu hari diridhoi untuk melakukan perjalanan berdua bareng saya. *terharu* Dan doanya, dikabulkan :’)

Nemu Colokan di KA Bisnis itu sesuatu, sih :)

Nemu Colokan di KA Bisnis itu sesuatu, sih πŸ™‚

#After Ied. Semarang, 3 Agustus 2014

Seeing his happinness enjoy every moment in our trip. :)

Seeing his happinness enjoy every moment in our trip. πŸ™‚

20140803_104627--a

Tuhan, aku padamu. Peluk saya selalu. πŸ™‚

Note about you; Papa.

*Backsound : Yang terbaik bagimu – Ada Band ft Gita Gutawa*

Seseorang pernah datang dan bertanya, “Kamu pengen punya calon/suami yang seperti apa?” pertanyaan yang biasanya dijadiin basa basi ditengah obrolan. “Yang seperti papa.” jawabku pendek. “Yang strata pendidikan-nya dan kemapanan finansialnya seperti papa juga?” tanyanya menohok.

Papaku lebih dari sekedar pendidikannya dan kemapanan finansial. Papaku punya lebih dari itu.

Papaku karyawan Telkom (dulunya) dan saya bangga. Dilingkungan teman teman SD/SMP/SMA pada saya, banyak sekali temen temen sekelas yang ayahnya bekerja di perusahaan yang sama seperti papa, kita sering tenar dengan ‘anak Telkom’, sering ketemu di acara ulang tahun Telkom yang biasanya diadakan setahun sekali. Kita para anak telkom ini suka kompakan pake baju seragam yang dibagikan buat orang tua kita.

Saya lahir memiliki mama yang full time di rumah. Merawat kami. Ada kakak yang berumur 3 tahun diatas saya. Diumur saya 7 tahun, papa mama memberikan saya adik laki laki, disusul setahun kemudian, lahir kembali adik laki laki. Papa bekerja sendirian menjadi tulang punggung keluarga. Mama serius menjadi pendamping kami dirumah. Mama akan menjadi pelindung nomor satu di rumah, Beliau lah yang tahu setiap perubahan kami di rumah. Beliau menjadi orang pertama yang akan datang ke sekolah ketika kami ditimpa masalah. Papa? Setelah seharian kerja, akan setia mengantarkan kami, anak anaknya jika butuh buku sekolah, isi ulang printer, beli sepatu, periksa ke dokter. Semuanya dilakukannya setelah urusan pekerjaannya beres.

Kata mama, dari ke empat anaknya, sayalah satu satunya anak yang ketika lahiran didampingi papa. Itu kenapa, saya dekat sekali dengan beliau. Cuma saya, yang dari TK sampe SMA diantar setiap pagi oleh papa. Diantara saudara saudara, saya yang paling aktif berorganisasi, dan selalu diantar oleh papa. Pernah suatu waktu di masa SMA, saya belum sempat mengerjakan tugas dijam pelajaran akhir, saya meminta papa untuk menjemput saya untuk pulang di Jam istirahat. Kemudian papa melakukannya untuk saya. hihihi.

Papa taat beribadah. Dari kecil, hidupnya kebanyakan dihabiskan di mesjid dan mushola sekitaran rumahnya. Tapi beliau ga pernah memaksa kami, anak anak perempuannya untuk menutup aurat. Kakak saya memutuskan berhijab sedari SMP, yang kebetulan doski SMP di Aceh yang mewajibkan siswi nya untuk menutup aurat. 2 tahun, iya menyinggung2 saya untuk mengikuti jejaknya menutup aurat. Menjelang masuk SMA, saya utarakan niat itu dihadapan papa mama.

“Nurul mau pake jilbab pas SMA.”

“Serius dek? Ih, nanti kamu ga bisa pake rok pendek lucu lucu loh.” Mama menimpali. Iya, mama saya gaul abis. >,<

“Anaknya uda baik mau berjilbab, kok ya di halang halangi..”Β  Papa menengahi

Hari pertama pendaftaran masuk SMA, saya berjilbab. Papa yang menemani saya, tersenyum. Kebetulan, dihari pendaftaran itu, mama dan adik adik sedang menemani kakak pendaftaran di Bandung.

Image

Hari pertama pake Jilbab, 9 tahun yll. Orang pertama yang diajak foto box (era pada jamannya) ya, papa. πŸ™‚

Menjadi karyawan salah satu perusahaan besar, tidak menjamin kemapanan finansial dikeluarga kami. Selain menafkahi kami, papa juga menyekolahkan adik adiknya. Sehingga, kehidupan kami juga tak selalu bermewah mewahan. Rumah kami kecil, mobil yang kami punya juga sederhana. Mobil bekas. Tapi ditengah kesederhanaan, papa berhasil mengajari saya, bahwa hidup itu bukan melulu soal materi. Bukan tentang kepunyaan akan suatu hal. Hidup itu menikmati. Papa yang saat itu kerja di bagian logistik, memiliki wewenang untuk mengatur peminjaman mobil kantor. Ketika nganggur, beliau akan membawa pulang, dan mengajak kami untuk menikmatinya. “Mungkin sekarang kita belum bisa mobil bagus enak gini, tapi yang penting kita uda pernah ngerasain kan naik mobil bagus..” tuturnya selalu.

Papa yang baik, tidak pernah menuntut mama untuk memasakinya tiap hari. Untuk melihat rumah rapi tiap hari. Seringkali, beliau pulang makan siang dengan membeli makanan kesukaan mama. Sesekali, baliau juga membantu pekerjaan rumah untuk meringankan pekerjaan mama. Setiap tahun, ia selalu mengecilkan baju sekolah kami yang seringkali kebesaran.

Papa yang baik, pernah mengorbankan 1 tiket pesawatnya untuk perjalanan dinas menjadi 3 tiket ekonomi kapal laut, semata agar saya dan kakak saya bisa mudik pulang ke rumah. Nyatanya, kami kehabisan kasur, sehingga harus tidur menggelepar dibawah. Ditengah keluhan akan panas, pengap dan lain lain. Papa dengan sabarnya, ngelus ngelus kepala saya. πŸ˜₯ Ceritanya ada disini, tapi maap, itu tulisan masih alay banget. :))))

Papa yang rajin beribadah. Memberi contoh bagaimana anak laki laki sudah seharusnya sholat di mesjid. Bagaimana puasa senin kamis. Khatam Al Quran ketika Ramadhan. Yang akhirnya kebiasaan kebiasaan itu nular ke anak anaknya. Saya mulai senin kamis sedari SMA sampai saat ini. Menular ke adik adik. Sampai terakhir saya pulang ke rumah, papa bercerita, “Saya terharu ketika Dek Ama, Adik bungsu saya, membangunkan papa untuk sahur dan mengingatkan untuk senin kamis.” Padahal, apapun yang kami kerjakan sampai hari ini, itu karena apa yang beliau kerjakan dan kami lihat. Itu karena, pengajaran beliau yang disampaikan secara halus sekali. Memulainya pada diri sendiri.

Ditengah kehidupan yang sederhana ini, papa bisa mengajak mama naik haji. Iya, naik haji. Jadi di kantor papa, ada program naik haji gratis bagi karyawan yang lolos admin dan test segala macam. Setelah bertahun tahun nyoba dan gagal, di tahun terakhir program naik haji ini ada, papa berhasil membawa mama turut serta ke tanah suci. Papa lagi lagi ngajarin bahwa, bahagia itu ga melulu tentang materi. Bahagia itu ada karena kita usaha. Karena kita yakin rezeki itu akan selalu ada. :’)

Ketika saya mulai kuliah, saya tahu papa tampak keberatan membiayai kedua anaknya yang sedang kuliah bersamaan. Saya ingat betul, beliau pernah menransfer Rp. 40.000,- yang bisa diambil di ATM BNI pecahan 20.000,- an. Rp. 40.000,- itu untuk berdua saya dan kakak saya. Saya tahu, saat itu mungkin beliau juga sudah ga punya lagi pegangan uang, tapi demi kami, ditransfer segitu segitunya juga. Setiap pulang liburan kuliah, saya selalu kembali ke Bandung dengan koper penuh. Bukan penuh karena baju, tapi sembako. Papa mama membekali saya dengan sembako yang bisa dibeli di Koperasi dengan sistem potong gaji. Dari pembalut sampe minyak goreng selalu memenuhi koper saya. Dulu, saya nyaris berputus asa dan bersedih hati. Tapi hari ini, saya bersyukur, nyaris putus asa dan sedih hati saya saat itu membuat saya jadi jauh lebih kuat dari apa yang saya yakini dari diri saya. Mungkin ada benarnya, kita harus bener bener jatuh sampai titik 0, biar kita bisa kembali melangkah pelan pelan hingga kembali ke puncak.

Setelah memutuskan untuk pensiun, papa mengajak kami berlibur ke Bali. Sebuah tempat yang dulunya, hanya menjadi mimpi bagi kami anak anaknya. Kami bersenang senang. Saya sempat berbisik pada si kakak, “Papa menjalani tugasnya dengan sangat baik. Beliau memimpin, mengayomi, melindungi keluarga kita ya, Teh. Setelah mama diajak naik haji, sekarang kita diajak liburan sesenang ini.”

Apa yang papa lakukan sungguh jauh lebih besar dan lebih mulia dari tudingan “strata pendidikan” dan “kemapanan finansial”. Papa mengajarkan yang lebih daripada itu.

ImageSelamat ulang tahun! Terimakasih sudah memberikan rasa aman, nyaman, bahagia hidup ditengah keluarga ini, dear Papa. Memberikan banyak petuah, pengalaman dan jutaan doa yang selalu papa curahkan pada kami, anak anakmu. — Ulang tahun ke-53 di 30 Mei 2014 πŸ™‚

“Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya. Ku terus berjanji, tak kan khianati pintanya..

Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu. kan kubuktikan, ku kan penuhi maumu :’)” — Yang terbaik Bagimu. Ada Band ft Gita Gutawa.

Pulang.

Sejauh jauhnya merasa bangga menginjakkan kaki disuatu tempat, toh pada akhirnya saya memilih untuk pulang. Se senang senangnya traveling kemana mana, pada akhirnya, rumah tempat pulang lah yang memberikan rasa nyaman. Iya, saya memilih untuk pulang, ditengah kegalauan libur panjang yang sebenernya bisa saja digunakan long trip ke suatu tempat.

Buat kamu yang dirantau, selain perlu untuk ber-solo travelingΒ sekali saja seumur hidup, kamu harus nyobain sensasi pulang kerumah tanpa diketahui oleh orang rumah. Melihat ekspresi kaget dan senengnya ada kita didepan pintu rumah itu buat Bahagia tiada dua.

3 tahun yang lalu, ketika saya masih kerja sambil kuliah, saya sempet minta sponsor ke ayah saya untuk menyumbang dalam rangka liburan saya ke Bali. Disanggupi oleh ayah saya. Pada prosesnya, saya dan teman teman membatalkan niatan untuk berfoya foya di Bali. Dalam hitungan hari, uang tiket yang beliau berikan untuk ke Bali, saya beli untuk penerbangan ke Batam. Moment nya tepat ketika saya selesai pengajuan proposal sidang sarjana.

Tanpa sepengetahuan orang rumah, saya dini hari sudah ngeteng ke Soeta dari Bandung. Di Batam, dimana rumah keluarga saya berada, saya meminta jemput Nithi untuk mengantarkan saya pulang.

Ayah ibu saya tentu sumringah luar biasa. “Bukannya mau ke Bali? kok malah pulang?” saya ga pernah lupa bagaimana ekspresi bahagia saya pulang mendadak ini. Sebagai anak yang ngerasain gimana sedihnya kalo homesick tapi sikon ga memungkinkan untuk pulang. Sebagai anak yang pernah lebaran terpisah, gegara saya DBD dan berlebaran di rumah sakit. Saya pernah meyakini dan berjanji dalam hati, kesedihan itu tidak boleh sampai datang berkali kali. Semuanya harus berubah.

Percaya engga percaya, 4 bulan setelah saya memilih untuk pulang ketimbang traveling ke Bali bareng temen, Allah mengulurkan rezekinya dengan memberikan kesempatan saya dan keluarga liburan ke Bali! liburan yang tadinya saya arrange untuk sendiri, ternyata jadi ajang liburan keluarga. Menginjakkan Bali yang sungguh diluar dugaan kami.

Seiring berjalannya waktu, seiring tekadnya mimpi saya untuk berjalan jalan. Allah mewujudkan satu satu. Tempat demi tempat saya injaki. Teman demi teman saya repoti. Sampai mencoba untuk berjalan seorang diri, tanpa teman yang menemani, halah! Sampai akhirnya, saya berada dititik, saya merindukan sesuatu. Kenyamanan.

H-2 sebelum waktu libur tiba, saya memantapkan diri untuk issued tiket. Coming Home. untuk Pulang. :’)

ImageKali ini, setelah sempat galau siapa yang mau ngejemput. Repot sana sini. Akhirnya 2 jagoan saya yang berdiri menyambut saya di pintu kedatangan Bandara Hang Nadim, Batam. πŸ™‚

Dalam sekejap, saya merasakan apa yang tadinya hilang itu. Rasa nyaman. Saya menyadari pada akhirnya, tempat ini yang saya rindukan. Orang orang ini yang bersama mereka liburan ini harus saya lewati.

Image“Terimakasih ya, Dek. Sudah memilih untuk Pulang. Memilih untuk menyenangkan hati mama, papa dan adik adik yang rindu pada kamu” — Mama, di Malam Pertama saya dirumah.

Kamu, masih galau untuk Pulang?

Mlaku mlaku Nang Yogyakarta

Yogyakarta adalah salah satu kota yang saya rekomendasikan untuk get lost. kenapa? Karena yogya itu seru banget, kota pelajar ini, punya banyak tempat yang bisa dikunjungi, makanan yang bisa di icip icip dan public transportation yang memadai. Menjelajah Jogja tidak cukup hanya 2 hari. Saya perlu sampai 3-4 kali bolak balik Yogya untuk bisa menginjakkan kaki disetiap tempatnya.

Apa aja yang seru di kota ini?

1. Wisata Candi

Aneh deh kalo ke Yogya ga mampir ke Candi. Candi kan khasnya yogya gitu. 3 Candi seru yang bisa dikunjungi di sini; Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Boko.

Perlu waktu lebih lama untuk bisa ke Candi Borobudur. Sekitar 1-2 Jam dari Yogya. Candi Borobudur terletak di kota Magelang. Aksesnya sih, harus sewa mobil kali ya biar lebih praktis. Biaya masuknya 30 ribu per-orang. + 7.500 untuk menikmati bus kelilingnya. Disini, kita bakal dikasih kain gitu yang diikatkan dipinggang. Walaupun sudah ga termasuk dalam 7 keajaiban dunia, Candi ini masih jadi tempat yang kudu kita datengin dan popotoan. :p

Image

Say hi to Borobudur!

Image

“Bicara pada Budha” Caption pict di Path nya Babang

Image

Tekstur gunung yang menyerupai orang tidur

Kejauhan harus menempuh jarak sampai Magelang? Yogyakarta kota juga ada candinya kok. Candi Prambanan. Candi ini terletak tak jauh dari pusat kota. Aksesnya pun tak harus menyewa mobil. Kita bisa menggunakan moda transportasi TransJogja yang kita naiki dari Malioboro. Selanjutnya, saya sarankan naik andong sampai ke pintu masuk. Kenapa? hemat tenaga, karena didalam kita akan berjalan lumayan jauh. Tarif masuk dan tarif mobil kelilingnya sama dengan Candi Borobudur. πŸ™‚

Image

Candi Prambanan

Sudah puas mengelilingi Candi Prambanan, sekalian deh mampir ke Candi Boko. Candi ini tak jauh dari Candi Prambanan. Harga tiket masuknya sekitar 10ribuan. Ga sempet sunset-an di pantai, bisa dinikmati di area Candi ini. Berhubung saya belum kesempetan nginjek kaki di Candi ini, saya sertakan foto temen sebelah kubikel yang sudah pernah main ke Candi Boko.

Minta foto sebelah kubikel yang uda nginjek Boko :D

Candi Boko

2. Wisata Pantai

Tidak hanya terkenal karena Candi nya. Yogya juga dikenal akan ke-eksotis-an pantainya. Siapa yang tak kenal dengan Parangtritis. Kawula muda Yogya sering menyebutnya dengan Paris. 😐 Setelah Parangtritis, muncul-ah pantai pantai lain yang tak kalah bagusnya.

Membutuhkan waktu 1-1.5 jam untuk menggapai Pantai Parangtritis. Lebih efisien dengan menggunakan mobil pribadi/sewaan. Jarang public transportation soalnya. Sayang, saya mengunjungi pantai ini disaat mendung sedang melanda. Ke ciamik-an pantainya berkurang seiring tidak adanya matahari, langin biru dan awan putih. 😦

Pantai di Balik Bukit.

Pantai di Balik Bukit.

yogya-h

Pantai Parangtritis

Di Pantai ini, ada andong buat keliling, ada kuda juga yang disewain dan, ada mini ATV dong! yang kesemuanya bisa kita mainin di pinggir pantai. sambil kejar kejaran sama ombak! ~~~\o/

yogya-f

recomended to try!

Mini ATV! Ngeeeeenggg!!

Selain Parangtritis, saya berhasil ngegeret geret tuan rumah untuk ngajakin ke Pantai Indrayanti. Pantai bebas sampai berpasir lembut. Pantai Indrayanti terletak dibelah sononya Pantai Parangtritis. Agak sedikit lebih jauh dari Parangtritis. Disana ada bebatuan bebatuan gede kaya di Belitung! seru! πŸ™‚ Ps. Tidak disarankan ke Pantai ini ketika bulan puasa. Pantai tanpa es kelapa seperti cikidaw cikidaw tanpa aweu aweu.

yogya-j

Pantai Indrayanti

yogya-i

Lagi surut 😐

yogya-k

I heart you \o/

3. Wisata Gunung

Candi, punya. Pantai, ada. Yogya juga ada wisata gunungnya! huwo. Sekali ke kota ini, bisa dapet macem macem. Adalah off road di Merapi salah satu kegiatan yang harus di coba kalo pas lagi main kesini. Sayangnya, tidak dianjurkan jika merapi sedang aktif ‘batuk batuk’. Off road di Merapi bisa pake 2 kendaraan. Mobil atau Motor. Sensasi serunya seperti main di Dufan. Badan pegel pegel kepentok besi mobilnya. Ga disarankan buat yang engga suka adventure. Ekstrim soalnya.

Let's do fun!

Nyetir sendiri? Ya engga-lah! Supirnya kan lagi disuru moto πŸ˜›

Berharap motor jadi Objek, malah jadi Background :)))

Letaknya di sekitar gunung Merapi. Aksesnya masih tetep kudu pake mobil pribadi/sewaan. Sewa mobilnya 250 ribu untuk kapasitas 4-5 orang. dan 100-150 ribu untuk motornya. Bisa nyetir sendiri, atau disupiri mas masnya.

Selain merapi, kita juga bisa mendaki seru ke Gunung Api Purba. Letaknya ga jauh dari bukit cinta. Bisa diakses pake motor pula \o/ perjalanan memakan waktu satu jam. Naik gunungnya, satu jam. Leyeh leyeh di puncak, satu jam. Turun gunung 45 menit. Kembali ke Yogya, satu jam. Hanya perlu 4 jam untuk menikmati kawasan ini πŸ™‚

Gunung Api Purba \o/

Meski cuma sejam, medannya terjal.

yogya-r

Mencoba tetep semangat. ><

yogya-q

YOGYAAAAAA!

4. Body Rafting di Goa Pindul

Saya lupa kapan Goa Pindul ini jadi tiba tiba nge-hits jadi wisata di Jogja. Akhirnya, saya mengajak 2 orang adik untuk turut serta dalam trip Jogja. Disambut baik oleh Mas Wimbo dan Mba Tika yang menemani sekaligus menanggung akomodasinya. haha. Hamdallah. Disini, kita cuma tinggal duduk di Ban, dan menikmati indahnya alam. Belajar tentang stalaktit dan stalakmit. Main main air terjun dan Loncat dari ketinggian lumayan.

Disini ada 3 pilihan paket wisata. Seharga 30-40 ribu/paket. Bisa milih lebih dari satu. Kemarin, saya nyoba cave tubing Pindul dan cave tubing Oyo.

Tipsnya, jangan kesini pas long wiken. Saya kemarin pas bulan puasa. Sepi. Jadi khusyu menikmati alam. Akhir maret lalu, saya kembali ke wisata ini disaat long weekend. Crowded ampun. Ga kerasa liburannya 😦

yogya-y

yogya-x

Cave tubing Pindul

yogya-w

Cave tubing Oyo

yogya-v

Loncat di ketinggian 2m 😐

Menuju Goa Pindul, kita tetep harus menggunakan mobil pribadi/sewaan. Dari Yogya mengarah pada Wonosari. Ikuti jalan, sampai menemukan papan ijo bertuliskan Goa Pindul. Nanti akan ada tukang ojek yang mengantarkan kita ke tempat lokasi dengan cuma cuma alias tanpa bayar.

5. Pusat kota Yogyakarta

Udahan sewa menyewa mobil dan mengunjungi tempat tempat wisata yang jauh dari kota Yogyakarta. Sisa sehari sebelum pulang. Nikmatilah dengan berjalan jalan disepanjang jalan Malioboro. Banyak baju dan pernak pernik lucu yang bisa kita tawar sebelum membeli. Mampir sekalian ke Mirota Batik untuk kualitas yang lebih baik. Atau Pasar Beringharjo untuk bisa tawar menawar lebih lama. 2 tempat ini berada di lingkungan Malioboro. πŸ™‚

yogya-z

Jl Malioboro

Masih punya waktu? Mainlah ke Keraton Yogyakarta. Bisa dengan menumpang becak yang berseliweran di sekitar Malioboro. Disana, kita berjalan jalan melihat keraton Yogya itu seperti apa. Lumayan banget jadi wisata sejarah. Mampir juga ke area Taman Sari. Tempat dimana dulu, selir selir kerajaan tinggal.

yogya-aa

Keraton Yogyakarta

Taman Sari

Taman Sari

Bertahanlah diarea alun alun ini sampai malam. Ketika hari mulai gelap. Coba deh, melewati dua pohon beringin yang ada di alun alun dalam keadaan mata tertutup. Rumornya, kita menyebutkan siapa pujaan hati kita dalam hati. Kemudian lewati pohon beringin tsb. Kalo sukses, maka kita akan berjodoh. Konon katanya sih gitu. Saya sih ga percaya ah πŸ˜› Kalau kamu malu, main main aja disekitar situ, lumayan bisa ngetawain orang orang yang belok beloknya ga karuan. ihihihi.

yogya-ac

Mencoba peruntungan

Puas olahraga rahang karena ngetawain yang mencoba peruntungan. Nikmati keliling kota Yogya dengan naik sepeda berwarna warni ini. tarifnya sekitar 30-50 ribu per 15 menit.

yogya-ad

Tidak pernah ada habisnya membahas kota Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, saya menyadari kota ini candu seperti halnya Bandung memberi candu pada saya. Dalam 2 tahun terakhir, saya sudah mengunjungi yogya hampir sampai 5x. Tempat tempat yang saya ceritakan disini adalah hasil dari berkali kali berkunjung. Ya, tak kan cukup puas jika mengunjungi Yogya hanya waktu 2 hari.

Untuk kuliner, jangan pernah diragukan. Yogya adalah kota pelajar, dimana kita akan menemukan banyak mahasiswa mahasiswi kece. Tempat makan pun oke oke. Dari cafe sampai Angkringan harus kita coba. Next time, akan saya kupas juga kali ya, masalah kuliner dan oleh oleh Jogja. πŸ™‚

Postingan ini, saya khususkan untuk Soulmate-nya saya yang baru saja menikah dan akan mengunjungi Yogya bersama suaminya. Silahkan dilihat, tertarik kemana. Let me know, pengen kemana, nanti saya bantui arrange tempat sesuai waktu yang kamu punya ya! πŸ™‚