Filosofi & Jelazah Gizi dari sebuah Rendang

552a0fd86ea83406668b4567

Ada yang pernah menonton film Cita-citaku setinggi tanah? Adalah Agus salah satu Pemain Utama dalam film itu, kebingungan ketika disuruh menyelesaikan tugas sekolahnya; mengarang tentang Cita cita.

Ketiga sahabatnya bercita cita seperti kebanyakan anak lainnya; Sri ingin menjadi artis, Jono ingin menjadi tentara, Puji ingin membahagiakan orang lain. Sementara Agus? Cita citanya sederhana. Ingin makan di restoran padang. :’) Ayahnya hanyalah seorang kuli di Pabrik Tahu, sementara Ibunya ibu rumah tangga yang mahir dalam membuat tahu Bacem. Bagi Agus, makan di restoran padang itu keren. Kita akan diperlakukan bak Raja. Semua makanan disajikan didepan mata. Jika kita butuh apa-apa, tinggal menunjuk jari, maka pelayan akan menghampiri kita.

Agus berusaha keras untuk memenuhi cita citanya ini, ia membantu ayahnya, berjualan, merepotkan semua teman temannya, demi menikmati menjadi raja disebuah restoran padang.

“Cita citamu itu rendah, tapi bikin susah” begini celutuk salah satu sahabat Agus. πŸ˜€

Short Story, setelah jungkir balik sana sini, dengan cobaan dimana mana, Agus berhasil mengumpulkan uang untuk makan di Restoran Padang.

Dia berhasil memenuhi cita cita sederhananya, makan di Restoran Padang bersama keluarganya. Baginya, semuanya jadi menyenangkan ketika menggapai Cita cita didampingi oleh orang orang yang dikasihi :’)

Menonton film ini, membuat saya bersyukur pernah myerasakan aneka makanan dari restoran Padang. Ternyata, ada seorang anak SD yang cita citanya sesederhana itu. Dan bikin saya pengen makan di Restoran Padang! πŸ˜€

Dear Agus, saya juga sedang jadi Ratu :D

Dear Agus, saya juga sedang jadi Ratu πŸ˜€

Bicara tentang menu masakan Padang, yang paling saya ingat adalah Rendang. Sedari kecil, jika bulan Ramadhan tiba, ibu saya selalu membeli Rendang untuk kami bersantap sahur. Biar kuat katanya. Bertahun-tahun itu menjadi tradisi di keluarga kami. Sahur dengan rendang biar puasanya kuat πŸ˜€

Berbeda dengan teman saya yang sedang menempuh kuliah di Bandung. Ia asli dari tanah Minangkabau. Ketika kami menjalani perjalanan bersama ke Yogyakarta, Ibunya nitip dibelikan Anglo, seperti tanah liat yang digunakan untuk masak rendang. Demi menghasilkan Rendang yang maksimal. Nyam.

Di Jakarta, ditempat saya bekerja. Saya memiliki seorang teman yang juga berasal dari Padang. Setiap pulang lebaran, ibunya selalu menitipkan rendang kepada saya. Rendang khas orang minang. Awet dan tahan berhari hari. Saya suka sekali.

Dalam sebuah buku yang berjudul ’30 Paspor di Kelas Sang Professor’ yang berisikan tentang mahasiswa yang ditantang untuk melancong keluar negeri. Banyak diantara mahasiswa itu yang membawa rendang sebagai salah satu perbekalannya. Bergizi, enak, dan tahan lama.

Si Rendang yang nendang.

Si Rendang yang nendang.

DialahΒ Gusti Anan, seorang sejarawan dari Universitas Andalas di Padang menduga bahwa rendang ini sudah ada dari abad ke – 16. waw! Ia menyimpulkan dari catatan literatur pada abad ke-19. Disitu disebutkan bahwa pada saat itu masyarakat Minang sering berpergian menuju Selat Malaka hingga Singapura melalui jalur air dengan memakan waktu satu bulan.Β Mengingat perjalanan jauh, istri-istrinya nyiapin bekal makanan. Makanan itulah si rendang ini. πŸ˜€

Rendang mengandung masakan yang kaya rempah dengan daging sebagai bahan dasarnya. Didalamnya ada santan kelapa dan campuran bumbu khas yang dihaluskan seperti cabai, lengkuas, jahe, kunyit, bawang dan bumbu lainnya. Keunikannya terletak pada bumbu alami yang digunakan memiliki sifat antiseptik, sehingga berguna sebagai pengawet alami. Bumbu lain juga memiliki aktivitas antimikroba yang kuat. Tak heran ini yang menyebabkan rendang bisa bertahan berbulan bulan.

Nah, di Padang sendiri, Rendang dijadikan masakan tradisional yang memiliki posisi terhormat dalam hidup bermasyarakat. Bahan-bahannya memiliki makna sendiri. Daging sapinya adalah bahan utama yang melambangkan niniak mamak dan bundo kanduang, dimana mereka akan memberi kemakmuran pada anak pisang dan anak kemenakan. Bahan lainnya adalah Kelapa, yang melambangkan kaum intelektual/Cadiak Pandai, dimana mereka merekatkan kebersamaan kelompok maupun individu. Kemudian ada sambal sebagai lambang alim ulama yang tegas dan pedas dalam mengajarkan agama. Bahan terakahir adalah bumbu, yang melambangkan setiap individu memiliki peran sendiri-sendiri untuk memajukan hidup berkelompok dan adalah unsur terpenting dalam hidup bermasyarakat di tanah Minang. πŸ™‚

Ah, jadi pengen langsung makan rendang langsung dari kota Padang.

Bicara soal cita-cita, kalau Agus (hanya) ingin menikmati bak Raja di Restoran Padang, saya ingin langsung menginjakkan kaki di kota Padang. Setahun yang lalu, saya sempet dapet tiket promo Jakarta – Padang. Namun, batal berangkat di hari H, gegara asap. 😦

Seperti mengikuti Kelas Inspirasi di Lombok sekalian jalan jalan, barangkali kali ini saya bisa Jelajah giziΒ bareng Nutrisi untuk bangsa, sekalian jalan jalan juga dan mencoreng salah satu cita-cita yang tercapai. Menginjak Padang πŸ˜€

jelajahgizi

Advertisements

2 thoughts on “Filosofi & Jelazah Gizi dari sebuah Rendang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s