Ajarkan anak jadi pribadi terbuka, dimulai dari dalam Rumah

“Nia, bagaimana sih pola hubungan dalam keluarga kamu, sehingga bisa menghasilkan kamu yang seperti ini? yang aktif & ceria?” tanya ibu HRD ditempat saya bekerja.

Kalau ditanya, apakah saya bahagia dengan keluarga saya? Ya, tentu saja. Saya bersyukur, disaat banyak sekali teman-teman saya yang berada dilingkungan keluarga tidak sempurna, saya tidak merasakannya.

Ibu saya memilih menjadi ibu rumah tangga setelah menikah.Terlebih ayah saya bekerja nomaden. Satu hal yang paling beliau senangi adalah ketika memiliki waktu untuk melepas anak-anaknya berangkat sekolah dan menyambutnya ketika pulang sekolah.

Saya jadi inget satu moment, ketika itu ibu saya meminta pada ayah saya untuk dibelikan meja makan. Ayah yang tahu rumah kami cukup sederhana, tampak sedikit keberatan. Bingung akan taruh dimana, jika meja makan ada didalam rumah kami.

Menurut Ibu, selama ini kami makan malam selalu diruang tamu yang merangkap dengan ruang keluarga dimana ada tv didalamnya. Sehingga seringkali fokus kami, anak-anaknya lebih sering ke tv daripada ke obrolan keluarga.

Alasan ini yang akhirnya membuat Ayah membelikan kami meja makan, yey! Berhasil? tentu saja. Meski hanya pada awal-awal. Kami sering bertukar cerita di meja makan sambil santap malam. Tidak sampai setahun, kami kembali lagi sih ke ruang tamu, tapi setidaknya kami tidak melulu fokus ke televisi. Kami mulai sering bercengkrama dan tertawa bersama.

Adik bungsu saya, suatu hari bercerita, bahwa ia baru saja ditembak oleh salah satu perempuan yang orang tuanya adalah ketua RW dilingkungan rumah saya. Sementara ayah saya pada saat itu sebagai ketua RT. Sebut saya nama anaknya Putri, Putri bilang suka pada adik saya, mereka berdua masih SD. Adik saya mau menjadi pacarnya dengan syarat Putri membayarnya dengan sejumlah uang. Dan Putri balik memberi syarat, jika Putus, sejumlah uang yang telah diberikan harus dikembalikan :))))

Pacaran pake jaminan. Hahaha.

Adik saya melanjutkan ceritanya, sepakat dengan 15,000,- mereka pacaran. Nah, 15,000,- ini sama adik saya disimpen bener-bener. Ketakutannya akan diputusin tiba-tiba membuatnya enggan untuk menghabiskannya.

Hari berganti hari, ia merasa hubungannya akan baik baik saja dan mulai tergoda untuk membeli sesuatu. Dibeli deh, seharga uang jaminan tersebut.

Dan keesokan harinya,

Putri minta putus.

😀

Tanpa menunda waktu, ia minta uang jaminan segera dikembalikan. Dan, dengan gaya sok tenang, adik saya bilang..

..

..

“Sabar, aku kembalikan. Tapi nyicil, ya!”

Gelak tawa pun merebak diruang tamu kami yang mungil. Ayah, Ibu, Kakak dan Adik berkumpul diruangan yang sama dan tertawa.

Ibu saya bertanya serius, “Sekarang, masih nyicil atau sudah lunas?” ibu saya ga enak dengan ibunya si Putri.

“Udah lah, ma” Jawab adik saya cepat.

Iya, perlahan tapi pasti mediasi meja makan yang Ibu saya terapkan berhasil membuat kami anak-anak mama yakin dan percaya bahwa keluarga adalah tempat paling nyaman bagi kami untuk ‘pulang’ dan bercerita banyak hal. Apapun itu dan tidak ada yang disembunyikan. Kami terbuka satu sama lain.

Keluarga Cemara

Happy Family!

Sekarang, setelah 8 tahun meninggalkan rumah untuk kuliah dan bekerja di rantau, saya rindu sekali dengan cerita di meja makan. Sesekali saya, kakak dan adik saya akhirnya menyempatkan untuk makan bareng di resto untuk mengenang masa kecil yang penuh cerita. Meja Makan yang selalu punya cerita.

Makan Bareng.jpg

Dirantau, meski belum bisa punya meja makan, kami selalu mengusahakan kumpul dalam satu meja untuk makan. 🙂

Selain meja makan, ada satu hal lagi yang selalu saya ingat tentang Ibu. Tupperware. Coba tanya, siapa yang hari gini engga tau produk tupperware? Ibu saya tidak berjualan Tupperware, namun pengguna kelas berat produk ini. Sedari kecil, tempat bekal dan beberapa perabotan dapur dikuasai oleh Tupperware.

Setelah merasakan bisa menghasilkan uang sendiri, akhirnya saya pun ikutan nyicilin juga beli produk Tupperware. Itung-itung investasi. Dari setiap katalog yang ada, saya selalu melewatkan produk perfect blossom. Itu loh produk meja makan yang serba hijau, komplit dari piring sampai tempat nasinya.  Saya masih sendiri, buat apa punya produk yang seharusnya digunakan oleh keluarga besar. Hehe. Akhirnya, 4 tahun nyicilin beli Tupperware, yang saya beli ya ga jauh dari eco bottle dan tempat makan yang lucu-lucu. 😀

Nah, baru saja saya tahu, sekarang perfect Blossom mengeluarkan product yang sama dengan versi lebih mungil. Namanya Petite Blossom.

Petite Blossom.jpg

Give me one, please! 😀

Saya naksir pada pandangan pertama dan langsung pengen punya!

Kelak, jika sudah menikah, saya juga ingin mengikuti jejak Ibu. Merengek untuk dibelikan meja makan. Selain alasan yang sama, saya juga akan bilang, “kan sayang, udah punya Tupperware bagus-bagus tapi ga bisa di pajang di meja!” muehehe.

Petite Blossom 2

Pengen punya anak 4, tapi gpp deh beli meja makan yang kursi 4. Yang penting anak-anak bisa duduk bareng, ayah sama ibunya berdiri aja mengapit ke-empat anaknya. Yah, mas calon suami, yah? 😀

Sering sekali ketika saya mengikuti Kelas Inspirasi atau kegiatan One Day Fun Doing Fun, anak-anaknya terjebak oleh lingkungan yang salah sehingga mempengaruhi attitude dan sikap ia pada orang sekitarnya. Menjadi lebih gampang emosi & keras kepala.

Saya perlahan mulai menilik, seandainya saja anak-anak ini penuh kasih sayang dengan keluarganya, dan bisa menjadikan rumah sebagai tempat untuk mengadu segala keluh kesah, mereka pasti bisa lebih wise menghadapi lingkungan di luar rumah. Se-minimalnya jika ada teman yang mengajak mereka untuk merokok, atau untuk bergaul tidak benar, ayah & ibunya adalah orang pertama yang akan mereka ajak diskusi.

Dan ya tips-nya adalah menciptakan suasana yang menyenangkan dirumah, lebih sering mendengarkan ocehan anak-anak, dan tidak menghakimi jika ia berbuat salah.

Menjadi ibu susah. Tapi susah bukan berarti tidak bisa. Yuk, mulai dari rumah:)

Tulisan ini menduduki peringkat ke-3 dalam Blog Review Tupperware dengan Tema Meja Makan Punya Cerita! 🙂

Advertisements

31 thoughts on “Ajarkan anak jadi pribadi terbuka, dimulai dari dalam Rumah

  1. nbsusanto

    setuju mbak, bagaimanapun rumah adalah pendidikan paling awal bagi setiap anak.. itu yang membuat adanya revisi beberapa rencana jangka panjang.. eman memang kalo di masa keemasan anak-anak itu tidak terdampingi oleh orang tua..

    Reply
  2. Jejak Parmantos

    Wakaka cerita adiknya lucu… ada2 aja, pacaran pake jaminan. Tapi, dalam beberapa tradisi pernikahan kayaknya juga begitu. Saat ijab kabul pihak pria membayar mahar, pas cerai minta kembali maharnya…

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Iyaaaaa. Jadiin rumah tempat paling nyaman buat ‘pulang’ dan Tupperware buat mempercantik meja makan. *tetep kudu tupperware nya*

      Reply
      1. Tina Latief

        Tanteku sih mba yang suka nguber Tupperware. Dulu punyaku dipakai sama dia haha..

        Coba nanti saya tawarkan ke tante ya mba.. 🙂

  3. thoriqalfatah

    Jaman era tehnologi yang lebih dikenal dengan generasi menunduk, sepertinya meja makan bisa jadi solusi, seperti petinggi negara kita yang menggunakan diplomasi meja makan untuk solusi negri 🙂

    Reply
  4. fasyaulia

    Uwuwuwuw suka deh baca tentang keluarga gini, dan itu foto box seru banget ya ampuuun! Mama-papa ku pasti gak mau kalau diajak foto box, maunya foto studio terus dicetak 24R -____-

    Reply
      1. alaniadita Post author

        Hahahahaa. Eh, tapi nanti suatu hari kita pasti deh nyari-nyari foto keluarga gitu. Apalagi kalau rajin foto studionya. Mis: setiap nambah anak foto 😀

  5. Ismail Hasan

    Bener banget ini,. sebisa mungkin menciptakan suasana rumah yang nyaman, bisa saling berbagi dan bercerita. Rumah yang nyaman untuk pulang 🙂

    salam kenal.. 🙂

    Reply
  6. febridwicahya

    Masalah keluarga ._. aku nggak begitu saling berkomunikasi sih kadang. Udah nggak pernah lagi makan bareng satu keluarga wkwkw terakhir kali mungkin waktu aku SD 😀 yaaaah, kurang begitu membahagiakan. Tapi tetep harus disyukuri 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s