Love Hate Relationship: Commuterline

Ini udah gatel dari kemarin mau nulis tentang ‘seru’nya berada didalam gerbong besi bernama Commuterline. Commuterline adalah salah satu transportasi umum yang menghubungkan Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi). Selama tinggal di Jakarta, cukup sering sih menggunakan moda Commuterline, namun pada akhir pekan. Jadi tidak seramai hari kerja, dan masih dalam batas kewajaran transportasi umum seperti lain. Menurut saya, tidak ada yang perlu dikomentari, dikeluhkan menaiki transportasi ini. Namun berbeda cerita ketika saya mulai pindah domisili ke Depok yang berarti saya akan ‘berteman akrab’ dengan moda transportasi ini.

Jika sedang pas jadwal dengan adik bungsu saya yang kuliah di Kebayoran, maka setiap pagi saya bersama ia mengendarai sepeda motor menuju kantor. Pulangnya, baru deh saya naik Commuterline. Namun jika tidak, saya dengan teguh hati menyerahkan diri pada Commuterline ini.

Saya beberapa kali membaca drama-drama di Commuterline ini. Inget kasus Dinda? Seorang penumpang perempuan yang mengeluhkan tentang ibu hamil merebut kursinya? Kisahnya viral dan ia dihujat para nitizen.

Dinda Marahmarah

Sumber: tianlustiana.com

Waktu itu viral, ya reaksiku sama kaya orang-orang sih. “Ini kok ya gini amat sih sama orang hamil. and the bla bla bla.” Karena ya apalah ya. Saya hanya orang awam yang tidak tahu rasanya berada di KRL di jam sibuk itu.

Saya mempersiapkan diri dengan segala drama nya untuk naik commuterline ini. Karena sehari cuma jam pulang kantor doang, saya merasa tidak masalah berdiri dari Tanah Abang – Depok. Kemudian, jadi berat ketika saya harus PP. Rasanya ndak rela kalo pulang pergi berdiri. Haha.

Dan untuk pulang pergi bersama commuterline ini saya hadapi pada bulan Ramadhan. Setelah mencoba berangkat berbeda-beda jam setiap harinya, saya memutuskan untuk naik kereta pertama pukul 5 pagi. Biar apa? Ya biar duduk. Biar tidak haus karena sedang berpuasa, biar bisa tidur. Alhamdulillah lancar, sejauh itu saya belum diganggu sama ibu-ibu hamil yang minta kursi. Untuk pulang, saya menyiasati dengan naik commuterline setelah berbuka puasa. Pokoknya perut harus dalam keadaan kenyang, biar ga gampang emosi dan ga masalah kalau harus berdiri.

Satu hal yang berubah semenjak saya menikmati commuterline adalah saya jadi lebih murah berdzikir dan berdoa. Semoga bisa duduk. Bahagia saya yang sederhana. :))))

Nah, di minggu-minggu awal masuk kerja ini, saya masih harus naik commuterline karena si Bungsu masih libur kuliah. Saya dipertemukan dengan drama-drama lain yang menakjubkan, berikut beberapa drama yang pernah saya temui selama naik Commuterline beberapa bulan terakhir;

Mengambang

Setidaknya ini yang saya rasakan jika naik kereta di jam sibuk. Yang tadinya baru masuk masih bisa mainan handphone atau baca buku. Semakin padat, badan mulai terjepit sampai posisi tangan sudah tidak bisa lagi memegang apa-apa. Semakin padat-padat lagi akan membuat badan kita tiba-tiba terangkat, kaki tidak napak. Muahaha. Tiba-tiba kepala diatas dan bisa melihat keadaan. :)))

Dilarang Masuk Gerbong Wanita!

Awalnya sih saya mah dimana aja ya bicara soal gerbong. Di Gerbong campur juga ya ga apa. Namun kalau sedang penuh sesak sekali, saya lebih baik uwel uwelannya di Gerbong Wanita. Ada perasaan lebih aman. Cuma masalahnya, ini kan kata orang-orang kebanyakan ‘Gerbong Ganas’ ya. Emang iya sih, jika sedang penuh. Even saya masih merasa longgar diarea tengah, ibuk ibuk Mbak-mbak yang berdiri deket pintu ini suka mengancam penumpang yang akan naik dengan, “Sudaah penuh! Ga muat lagi!” tentu dengan muka-muka yang siap menerkam. :))))

Sepatu Cinderella yang tertinggal

Jadi di hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran kemarin, saya dikagetkan dengan penumpukan penumpang di Stasiun Depok. Ketika saya masuk peron, saya melihat satu kereta standby yang sudah penuh sesak orang dan masih ada banyak orang diluaran yang tidak dapat masuk. Tidak ngoyo, saya pun berjalan mencari tempat untuk menunggu. Pas jalan, eh ada dong 2 sepatu yang cuma sebelah tercecer dijalanan. :)))) Saya ngakak ditempat sambil memandang kedalam kereta yang penuh sesak itu.

Yang ada dibenak saya;

  • Ini tadi kejadiannya kek apa jahanam nya sampai bisa sepatu terlepas begini
  • Ini mereka berdua didalem yaa gimana tanpa sepatu. Secara keinjek lagi pake sepatu aja sakit.
  • Trus tiba di stasiun tujuan, mau nyeker satu aja gitu?

Keras ya hidup bersama Commuterline. πŸ˜€

Kalau mau sepi, ya naik Ambulance aja!

Ini kejadiannya tidak dalam keadaan kereta penuh sih. Jadi waktu itu, saya berdiri dihadapan seorang lansia dan seorang mamah muda membawa seorang anak umur antara 2-3 tahun. Ketika kaki si anak tidak sengaja menyentuh kaki si lansia, si ibu lansia ini tampak tidak senang. Ia tunjukkan dengan mukanya yang bete sambil mengibas-ngibas bajunya seraya berkata, ‘Ih, baju saya jadi kotor’. Si ibu tidak terima, ia bilang, ‘Maaf bu, namanya juga anak kecil’. Kemudian si anak riwil dan menangis. Nenek si anak (Ibu dari si Mamah Muda) duduk beberapa kursi dari si cucu. Ketika si Ibu ini memberikan dot susu kepada si Mahmud, si Ibu lansia ini merasa terganggu kemudian ngedumel. “hih”. Si Mahmud semakin tidak sabar, dan bilang, “Sabar dong, bu. Namanya ada anak kecil. Udah tua juga”. Disini saya mulai nyengir. Eh si Ibu Lansia ga mau kalah juga, “Lah kalo gue tua, emang lo ga tua? Udah punya anak itu udah Tua.” Kemudian mereka berdua diem-dieman.

Di suatu stasiun tertentu, ibu Lansia ini bersiap turun. Kebetulan saya juga dapet tempat duduk diseberang mereka. Maka duduklah saya. Duduk disebelah Mamah muda tersebut, seorang mamah muda lainnya yang kebetulan juga bawa anak. Dan curhatlah si Mamah muda yang tadi.

“Masa, sama anak saya kaya jijik-an banget. Namanya anak, rewel dikit ga apa ya, Bu, ya. Kalau mau sepi ya naik ambulance aja. Mati sekalian. Sepi, kan!”

Muahhaha. Saya udah ditahap mati-matian nahan ketawa. Bukannya apa-apa, itu Ibu Lansianya masih berdiri disitu, menunggu pintu dibuka. Saya watir aja si Ibu lansia balik badan dan kembali ngelabrak. Secara, si Mamah Muda berbicara dengan nada yang sengaja dikerasin.

Kurang udara dan Pingsan!

Kata Pakbos saya sih ini sudah sangat lazim. Tapikan baru kemarin saya lihat sendiri, jadinya kok ya kaget. Trus posisinya, kalau saya yang pingsan dan sedang berjalan seorang diri ya gimana.

“Ada yang ga hamil, ga?”

Mengalah untuk ibu hamil buat saya bukan perkara besar. Tapi ternyata, saya tau rasanya menjadi Dinda, atau menjadi mbak-mbak yang terakhir viral karena sedang tidur nyenyak, dibangunkan, disuruh berdiri untuk ngasih kursi ke ibu hamil kemudian dia pusing.

Kejadiannya kemarin banget sih, saya sedang berpuasa. Sampai stasiun pas waktu-waktu menjelang berbuka. Saya sempat melewatkan satu kereta agar dapat bisa duduk karena ingin berbuka, minum sambil duduk dengan nyaman. Saya ga ngeluarin makanan kok, hanya minum saja untuk membatalkan. Semestakung, kereta selanjutnya ada beberapa bangku kosong dan saya beruntung bisa duduk.

Kereta baru berjalan sebentar, saya menyiapkan minuman karena terdengar samar-samar adzan dari luar. Seorang perempuan berbicara sedikit tidak ramah kepada deretan bangku yang saya duduki. “Ada yang ga hamil, ga?”. Saya diem aja, nunduk. Saya niatkan dalam hati, nanti saya berdiri kalau beneran dari 8 orang yang duduk sederetan saya ga ada yang mau berdiri. Dan ada! Alhamdulillah.

Saya berbuka dengan nyaman, seraya berbisik dalam hati, ‘Saya sedang ga hamil, tapi sedang berpuasa dan ingin berbuka sambil duduk’.

Setelah menghabisi minuman. Saya mulai deh mainan handphone. Sesekali memejamkan mata. Tanah Abang – Depok kira-kira 50 menitan. Di tengah jalan, ada lagi yang berucap sama, “Ada yang tidak hamil?” Karena posisi saya paling ujung deket pintu, dan kondisi saya sudah enakan karena telah berbuka, ya saya berdiri menyerahkan kursi meski tak rela ke si ibu yang sedang hamil. Tak apalah, toh saya sedikit lebih bertenaga. πŸ™‚

Akhirnya saya berpikir, kursi prioritas di satu gerbong kereta itu ada 12 kursi untuk 2 posisi, di ujung-ujung gerbong. Jika satu rangkaian berisi 8 gerbong maka ada kurang lebih 96 kursi prioritas untuk Ibu hamil – Ibu bawa anak – Orang tua lansia. Jika rangkaian 12 gerbong, maka akan ada kurang lebih 144 kursi prioritas. Masa iya ini tidak mengakomodir kebutuhan untuk sekali perjalanan?

Nah masalahnya, para ibu-ibu ini memilih untuk di Gerbong wanita yang hanya dua. Meski mereka punya prioritas yang sama di seluruh gerbong. Jadilah, mereka membuat beberapa wanita lainnya untuk mengalah. Padahal, ada perjuangan-perjuangan orang yang sudah duduk di kursi non prioritas ini yang kita semua tidak tahu. Ya, dalam kasus dinda ia jalan dari rumah ke stasiun aja jauh. Atau mungkin seperti saya, yang rela melewatkan beberapa kereta, atau ada yang rela naik kereta kebalikan untuk bisa berangkat dari stasiun awal.

Meski ya saya sadari juga bahwa, dalam keadaan penuh sesak, akan susah sih untuk masuk kedalam gerbong campur terutama. Masuknya aja susah, gimana kudu harus nyelip sampe kursi prioritas. Oh iya satu lagi, di gerbong wanita selalu ada petugas jaga, sementara di gerbong campur belum tentu. Adanya petugas jaga memudahkan penumpang prioritas meminta pertolongan. Ah, semoga kelak akan ada gerbong khusus ibu hamil, ya! Biar sama-sama nyaman. πŸ™‚

Meskipun banyak drama seperti ini, peminat commuterline tetap tinggi karena Murah dan Cepat. Dengan nominal Rp. 5,000,- sudah bisa berpindah kota Jakarta – Bogor. Jarak tempuh bisa diukur tanpa harus memperhitungkan macet.

Stasiun Karet.jpg

Tips ala Nia menjadi penumpang Commuterline.

  • Pergi lebih pagi. Daripada mengikuti jam sibuk, kemudian tidak dapat duduk. Saya prefer berangkat lebih pagi, kemungkinan dapet duduk lebih besar dan melanjutkan tidur di kantor. πŸ˜€
  • Pelajari letak pintu kereta dari kereta sebelumnya. Misalnya nih, ku mau naik kereta ke Tanah Abang. Sebelumnya adalah kereta Jakarta Kota. Teker pintu kereta dari kereta ke Jakarta Kota. Biasanya, kereta selanjutnya posisi pintunya ditempat yang sama.
  • Jika sedang tidak hamil, belum punya anak, belum lansia dan berkebutuhan khusus, usahakan untuk tidak duduk di Kursi Prioritas. Deg-degan, semacam duduk dikursi panas. Setiap buka pintu kerasa was-was takut terusir. :)))
  • Jika sedang ramai lancar, dalam arti tidak berdesakan sampai tubuh menempel tubuh, masuklah ke gerbong campur. Banyak kaum pria, dengan rela berdiri untuk menyerahkan kursinya ke kita. πŸ˜€ Perbedaan yang kerasa sih, laki-laki itu terkadang jika sudah cukup tidur, ia akan berdiri dan memberikan kursi meski belum sampai tujuan. Kata mereka mah, gantian.
  • Banyak berdzikir. Haha. Ini seriusan sih, semenjak naik commuterline, saya jadi serong berdoa dalem hati, “semoga duduk. semoga duduk. semoga duduk” :))))
  • Jangan memaksakan diri. Kereta ga cuma satu-satunya. Ketika kamu lihat itu penuhnya tumpah-tumpah, mending tunggu kereta berikutnya.
  • Update jadwal kereta. Saya install app KRL Access untuk melihat posisi kereta. Disini, kamu bisa melihat jarak antar kereta. Diwaktu jam sibuk, biasanya mereka berdekatan. Jadi jangan takut untuk tidak terangkut.
  • Sabar dan rela. Terutama jika harus memberi kursi kepada mereka yang lebih membutuhkan. Anggap aja kamu sedang #1hari1kebaikan.
  • Tetap waspada. Mau bagaimanapun commuterline itu moda transportasi umum yang terdiri dari banyak kepala manusia. Selalu jaga barang bawaan.

Ada waktu-waktu saya suka sedih nelangsa kalau harus berdiri lama atau bahkan berdiri dari awal naik sampai saya turun. Tapi disisi lain ada masa saya senang karena bisa nyampe rumah lebih cepat. Namanya juga love & hate relationship. Biar selalu ada cerita yang dibawa pulang.

Kamu yang pernah naik Commuterline pernah ngalamin drama apa? atau sumbangan tips lain dong untuk calon penumpang commuterline, tinggalin di kolom komen, ya! πŸ™‚

Advertisements

16 thoughts on “Love Hate Relationship: Commuterline

  1. zapufaa

    Wah .. Area ibukota ya mbaπŸ™„ saya pernah naik commuterline tapi sekali doang, dari bogor ke jkt waktu itu hehe dan so far so good sih, cuma ya gitu, sering banget baca di media sosial kisah buruk penumpang commuterline. Hihi. Btw mba, mau tanya nih, kalau di jabodetabek .. Selain pakai commuterline adakah transportasi lainn?

    Reply
  2. Amel

    Dulu juga sempet ngerasain kerasnya KRL Jabodetabek kak 😁. Kerja seharian dari pagi sampe malem di Jakarta, terus pulangnya ke Bogor, ke Dramaga pulak yg rajanya macet. Naik dari Cawang dan biasanya udah full, ga dapet tempat duduk. Kalau lagi beruntung, bisa dapet tempat duduk pas di Depok, tapi kalau lagi apes ya bisa berdiri sampai Bogor, kira2 sejam lah. Untung kerjaan di sana cuma 2 minggu sekali, jadi ya dinikmati saja perjalanannya, mau itu dapet tempat duduk atau ga 😊

    Dan alhamdulillah pas hamil ga perlu lagi merasakan kejamnya KRL karna udah capcuss dari Bogor 😁😁😁

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Halo kak Amel.
      Masya Alah ya. Perjuangan untuk mencari nafkah. πŸ˜€
      Iya bener, sampai dititik pasrah ya, mau duduk atau engga. haha.

      Alhamdulillah, ternyata penyelamat dari drama per-KRL-an datang dari buah hati. hihihi.

      Reply
  3. Vallendri Arnout

    Mungkin gegara aku cuman 2-3 kali seminggu (dan bukan di jam sibuk) deh ya. Jadi aku termasuk ke club yang sukarela memberikan tempat duduk ku ke siapapun yang tua dari mama ku (45 tahun), pake heels, keliatan lesu, apalagi yang hamil atau bawa anak.

    Pernah sekali jam lima sore balik ke Bogor ampe kehenyek tapi setelah dua stasiun ada abang2 yang ngasih kursi.

    So far our relationship is still love&love πŸ˜‚

    Reply
    1. alaniadita Post author

      Ahhahaa. Iyaa, kalau masih sesekali mah, ngasih kursi sekali dua kali mah jadi moment berbagi yak.

      Abang-abang dan om-om selalu jadi penghibur dikala peluh.

      mihik. Love and love! πŸ™‚

      Reply
  4. Ami Amak

    Hahaha kocak, jadi inget saat dulu kuliah di Gunadarma. Karena rumah di daerah Cawang dan tujuan ke Pondok Cina ga terlalu padat penumpangnya seperti dari arah Bogor ke arah Kota, cuma tetap aja ramai. Memang saat dapat kursi di kereta itu rasanya kayak dapet rezeki. Dan saat ada penumpang yang lebih tua kayak berat banget angkat badan.

    Pernah beberapa kali karena kecapekan sengaja pura-pura tidur supaya ga di suruh pindah. Tapi sesekali apes, saat pura2 tidur saya perhitungkan udah belum ya waktunya turun, jangan sampai kelewatan. Terus saya ngelirik dengan maksud ngecek apa sudah waktunya turun, eeh ga taunya di depan saya kebetulan ada ibu-ibu bertatapan mata dengan saya. Dengan pura-pura kayak bangun tidur beneran saya menawarkan kursi kepada ibu-ibu itu. Tapi ternyata belum sampai.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s