Andai Aku Menjadi; Tinggal di Rumah Pengayam bambu

Selama mengikuti rangkaian kegiatan Voluntrip Round 5 kemarin, kami (Saya, Kak Icha dan Kak Dimi) tinggal dalam satu rumah yang sama. Rumah milik Pak Odang beserta istri dan anak bungsunya.

Baca: Voluntrip Round 5: Special Reunion

Saya datang terlambat, tidak mengikuti rombongan yang sudah jalan menuju lokasi pukul 4 sore. Saya baru tiba di tempat pada pukul 10 malam. Kak Dimi dan kak Icha setia menunggui saya hingga kami bisa ‘pulang’ bersama kerumah Pak Odang.

Tidak jauh dari tempat dimana kami beraktivitas, namun menuju rumah Pak Odang memiliki tantangan tersendiri, jalanan yang menurun curam, serta licin jika hujan. Sebenarnya itu hanyalah jalan pintas agar kami bisa tiba lebih cepat.

Kak Dimi mengenalkan saya pada Ibu Yayah, istri Pak Odang yang menyambut kami didepan pintu. Kemudian, kami bertiga masuk ke kamar yang telah disiapkan si Ibu untuk kami tiduri 2 hari kedepan.

Waw, Spring bed. Ujar saya dalam hati.

“Maaf ya, lampunya ga ada.” ujar ibunya kemudian.

Well, oke. No Problem. Toh, masih ada lampu dari ruang tengah. Ujar saya masih dalam hati.

Setelah ditinggal si Ibu, Kami bertiga bebersih bersama ke toilet yang berada diluar rumah. Toilet yang terbuat dari bambu berisi satu buah ember dengan air yang terus mengalir. Iya, konon airnya dari mata air, sehingga dibiarkan saja mengalir sampai tumpah-tumpah. Pintunya terbuat dari terpal yang hanya separuh badan. Sehingga, kami harus saling menutupi, atau membentangkan kain panjang untuk menutupi setengah bagian atasnya.

Dan,

Tanpa lampu.

Malam itu sih okelah, toh kami hanya buang air kecil dan sikat gigi. Bukan perkara besar tentang kamar mandi. Yang penting Spring bed. Muahaha.

Nah keesokan harinya, baru deh kami mandi-mandi sore harinya. Jadi itu kamar mandi ya, sangat alami. Berdindingkan rerumputan dan beralaskan kayu untuk menutupi tanah. Tanpa paralon sebagai aliran. Jadi, ya air dari buang air kecil tertanam di tanah bersama air-air lainnya.

Kamar Mandi

Kamar mandi luar.

Penyesalan terbesar saya sore itu adalah, saya bertanya pada si Ibu, “Ibu, kalau buang air besar dimana?” Harapan saya, jawabannya adalah di Mesjid, karena dekat dan ada MCK nya, atau di Sungai. Entahlah sungai mana ya.

Jawaban beliau yang diluar dugaan saya pun terlontar;

“Iya, disitu juga”

DEG!

Mamam kan. Semenjak jawaban itu terlontar, saya jadi lebih apik setiap masuk bilik tersebut. Terkadang memilih tanpa lampu, biar sekalian tidak melihat apa-apa. Terkadang, saya menyoroti setiap sudut terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas didalam situ. šŸ˜€

Keran Air.jpg

Air yang terus dibiarkan mengalir karena dari mata air

Pak Odang adalah tukang yang senang bekerja sendiri. Ia menjadi tukang panggilan tergantung kebutuhan orang-orang. Ia bekerja sendirian. Bukan borongan yang bareng bersama orang lain.

Jika sedang tidak ada panggilan menjadi tukang, ia akan mencari atau membeli bambu bagus untuk kemudian akan dibuat bahan untuk membuat anyaman ikan Peda.

Pak Odang bersama Ibu akan membuat anyaman bersama untuk dijual kepada yang membutuhkan. Iya, anyaman yang per 100pcs dijual Rp. 11,000,- Rata-rata perhari mereka bisa menghasilkan 200pcs. Untuk setiap pemesanan mereka menerima minimal 500pcs.

Menyulam.jpg

Sst.. Curi start belajar duluan

Dan pekerjaan inilah yang menjadi penghasilan keluarga dan untuk biaya hidup sehari-hari. Huah salut.

Btw, ngomongin tentang kasur yang spring bed, meski kasurnya spring bed, tidak ada barang lain sejauh mata memandang. Dikamar, hanya ada sebuah kasur, sebuah meja kecil dan kaca minimalis. Tanpa lemari. Sementara diruang tamu, tidak ada barang apapun kecuali semacam alas tikar. Didapur, hanya terlihat dispenser.

Rumah Singgah sama Ibu

Bersama sang Ibu dan kakaknya yang kebetulan sedang main kerumah šŸ™‚

So far sederhana yang menyenangkan. Hidup mereka seperti tidak dikejar target untuk mempercantik isi rumah, seperti kebanyakan orang yang hidup di perkotaan seperti saya. Menjalani hidup ya apa adanya. Sederhana tapi tetap bermakna. :’)

 

Advertisements

6 thoughts on “Andai Aku Menjadi; Tinggal di Rumah Pengayam bambu

      1. rumahpintar256

        Bukan…sewaktu aq kecil..dikmpung ku blum ada wc, so…klo mo BAB..ambil tempurung..BAB didlam tempurung, selesai lalu lempar. Ga sengaja da orang yg sdang lewat..kena deh šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s