KANTOR PROBLEMATIK.

Pada suatu pagi, salah seorang teman memberikan link melalu Wapri ke saya yang isinya tautan twitter;

Ia meminta penjelasan dari penjabaran tweet tersebut.

Sebelum dari ini, beberapa kali juga saya dapet mention perihal sindirian akan jadwal kerja yang mengganggu liburan atau akhir pekan seperti;

Memang iya sih, belakangan atau mungkin semenjak pandemi, kemudian pola kerja Work From Home, berasa banget jam kerja jadi berantakan. WFH malah bikin kerja jadi ga tahu waktu. Iya sih, hemat waktu perjalanan rumah-kantor. Tapi kok ya, after office hour masih ada aja request kerjaan. mueheheh.

Selama saya kerja, saya menyinggahi 3 perusahaan, ada aja waktu dimana kerja diatas 12 jam. Masa iya, 3 kantor tersebut problematik? 🀭

Jaman saya kerja dikonsultan, bisa banget tuh dinas dari Jakarta nyampe Bandung pukul 3 shubuh, terus besokannya udah kerja lagi πŸ₯²

Kemudian pindah ke IT Konsultan di Jakarta, minta extend liburan ga dibolehin. Alhasil, nyampe Jakarta dari Solo pukul 6 pagi langsung jalan ke kantor. πŸ˜…

Kerja di kantor yang sekarang juga jaaaaaauuuuhhh sebelum pandemi, leptop sudah saya tenteng tenteng. Satu syarat pengajuan cuti saya adalah masih bisa dikontak, dan tidak ke daerah yang ga ada sinyal.

Orang-orang disekitar saya terbiasa dengan melihat saya dengan siang hari haha hihi jalan jalan sana sini, malem malem orang istirahat saya buka leptop.

Persatuan dimana saja buka leptop :’)

Seiring berjalan waktu, umur bertambah, tanggung jawab juga, disekitaran Jakarta pun demikian. Janjian nongkrong, tapi sama sama ngeluarin leptop buat kerja bersama :”)

Bener bener sudah lumraaaaahh 😌

Kembali ke tautan pertama tadi, saya jawab dengan;

  1. Kantor saya ngasih Outing setiap tahun. Karena Outing ini, ku bisa nyoret salah satu bucket list; Naik Garuda Indonesia Business Class. ✈️
  2. Diawal-awal merasa single income dari perusahaan kurang, dan ambil beberapa oportunity untuk freelance yang bikin saya banyak izinnya, ga pernah ditegur atau diberi SP πŸ‘πŸΌπŸ₯²
  3. Waktu boyong Orang Tua ke Ibukota, kantor minjemin DP buat beli rumah 🏑 dengan tanpa bunga.
  4. Ga cuma DP, perumahan milik perusahaan, diskon dan subsidi cicilan di provide.
  5. Ketika menanggung hidup keluarga dan biaya pendidikan adik-adik, kantor ku memberikan Gaji & Bonus yang bisa nutupin kebutuhan itu.
  6. Waktu terpapar covid kemarin, dan adikku tertular. Kantorku take over semua biaya pengobatan dan pemulihan kami berdua. Bukan hanya saya.
  7. Disaat perusahaan lain mulai lay off karyawan, kantorku ndak ada pengurangan gaji dan benefit. Bonus, Gaji, THR masih full. :’)
  8. 3 Tahun sekali cuti ku 40 hari. πŸ’ƒ
  9. Kantorku mengeluarkan kebijakan Work From Anywhere, yang karena ini saya bisa Kerja dari Yogyakarta, Bandung, Garut, Samarinda, Batam dan tentu saja sambil Staycation.
  10. Lagi, ketika mendadak harus renovasi rumah Mama Papa di Batam, lagi lagi kantorku yang ‘pasang badan’

Kantorku ada dalam setiap pertumbuhan hidupku. Kalian-kalian yang bilang aku kerja terus ga kenal waktu, pada dimana nih kalau ku lagi butuh? πŸ€­πŸ˜… Jadi, anggap aja setiap waktu yang ku dedikasikan ke kantor, sebagai rasa terimakasih ku sudah ada dan membersamaiku selama ini :’)

“Aku gapapa banget dibilangin kantor ku problematik. Jam kerja ku ga beres. Liburan dan Nongkrong masih buka buka Leptop dan Email. Jangan-jangan kalau kantorku dengan jam kerja sehat yang kerjanya saklek dari pukul 08.00 sampai pukul 17.00, semua kebutuhan, ingin dan mimpiku belum terpenuhi” – @alaniadita

❀️❀️❀️
Rumput tetangga mungkin lebih baik, tapi aku bersyukur dengan rumputku apa adanya ❀️

19 thoughts on “KANTOR PROBLEMATIK.

  1. Dian Restu Agustina (@dianrestoe)

    Mungkin yang beropini demikian karena yang ia dapatkan enggak sepadan. Kalau sangat lebih dapatnya ya kenapa enggak kerja kapanpun dibutuhkan perusahaan. Orang melihat dari sudut pandang masing-masing. Kalau semua perusahaan memberlakukan karyawan dengan sangat layak seperti tempat kakak bekerja tentu enak, minim turn over pekerja dan enggak bakal ada demo di tanggal 1 Mei hihi

    Reply
  2. Okti Li

    Alhamdulillah baik banget perusahaan nya. Dibsaat cari kerja sudah, ini malah bisa pasang badan buat cover kebutuhan kita. Jadi buat apa mikirin yg nyinyir? Mereka itu pemasukannya kurang kali

    Reply
  3. ameliatanti

    Misi.. ijin ngikik baca : Kalian-kalian yang bilang aku kerja terus ga kenal waktu, pada dimana nih kalau ku lagi butuh?

    Aku pun IRT yang gapapa banget dibilang kerja mulu, ga ngurus anak!

    Lhaaaa mbaaaak… saya tu punya option kerja dari rumah ya karena anak toh! Jadi kompensasinya adalah si leptop hape kudu ON. sekian.

    Reply
  4. Dian

    Hehe
    Namanya pekerjaan, pasti ada suka dan dukanya
    Selama masih enjoy ya dijalani sepenuh hati
    Yang penting, tetap bersyukur karena masih punya kerjaan ya , mbak

    Reply
  5. Gusti yeni

    Alhamdulillah bersyukur banget yaa, hampir sama dg suamiku, pandemi ini kami banyak traveling karena WFH, tapi bedanya kalau suami ambil cuti gak bisa di ganggu.

    Trip di daerah susah sinyal akhirnya suami ambil cuti, sebagai istri bersyukur banget nget gaji bonus thr full Alhamdulillah ya maak.

    Reply
  6. hidayahsulistyowati

    Beneran sih orang terdekat di keseharian kita aja yang tahu dan memahami pilihan kita. Aku yang kerja di rumah menjadi frelancer aja sering masih kerja di jalan saat trip bareng keluarga. Nggak apa-apa karena duitnya nanti bisa untuk bekal jalan-jalan lagi, hihiii
    Semangat ya mbak, pekerjaan yang kita miliki saat ini adalah berkah dari apa yang kita upayakan selama ini, jadi emang bener kita patut bersyukur

    Reply
  7. Syarifani

    Ngomongin jam kerja ini agak dilema.
    Di satu sisi sudah tertera jelas di UU Ketenegakerjaan dan di sisi lain perusahaan butuh bantuan lebih banyak agar targetnya tercapai.
    Sebagai pekerjaa sesuangguhnya juga harus berani mempertahankan hak sebagai tenaga kerja, agar tenaganya ngga diperes terus-terusan.

    Reply
  8. Meykke Santoso

    Jadi intinya work more, get more ya Mba. Karena dengan jam kerja dan dedikasi yang luar biasa juga setara dengan apa yang Mba dapatkan itu..semua memang harus disyukuri dan apapun yang dikerjakan juga harus dikerjakan sepenuh hati. Tetap semangatttttt untuk kita semua Mbaaa

    Reply
  9. Uniek Kaswarganti

    Yes, menikmati rumput di rumah sendiri memang lebih sehat. Orang lain mah bisanya melihat dari luarnya aja kan. Mereka tidak tau, bonding yang ada di antara kita dengant tempat kerja seperti apa. Been there hehehee…. Tetap semangat yaaa… Yang problematik tuh orang yang tidak bisa mensyukuri keadaan deh kayaknya, tul ya?

    Reply
  10. Dawiah

    Intinya kita bisa bersyukur atau tidak dengan semua yang kita miliki. Misalnya nih, saya seorang guru. Katanya, gaji guru tuh sedikit diatas UMR, bisa dibilang ngos-ngosan juga tatkala anak lima bersamaan mau bayar uang sekolah, tetapi kelebihannya banyak. Soal jam kerja, guru umumnya kan mengajar hanya sampai jam 14.00 atau nambah sedikit jika ada perangkat pelajaran yang mau diselesaikan (itu sebelum pandemi). Siswa pulang, gurupun pulang. Siswa libur gurunya juga libur. Jadi… setiap pekerjaan ada kelebihan dan kekurangannya. Fokus saja ke kelebihannya, kekurangannya buang saja jauh-jauh. Semangat yah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s