Monthly Archives: April 2016

Briefing Kelas Inspirasi Jakarta 5 #KIJakarta5

Entah itu akan jadi Panitia, Inspirator, Fasilitator ataupun Dokumentator. Ingin sekali untuk tetap menjadi bagian dari Kelas Inspirasi. Karena lirik akan “masa yang akan datang, kewajibanmulah..” selalu teriang. — alaniadita.

Hua! Betapa merindunya lingkungan sekolah. Terakhir kali ikutan Kelas Inpirasi, Oktober 2015 di Bogor. Setelah itu, sempet berniat ikut KI Sukabumi,namun batal karena sesuatu hal.

Apa sih yang bikin ingin balik lagi, ingin balik lagi ke lingkungan kelas Inspirasi? Saya pribadi sih, karena nagih. Saya suka sekali anak kecil dan saya sempet pengen jadi guru. Haha. Eh iya, saya juga pernah berharap bisa jadi bagian dari Pengajar Muda, namun pupus di seleksi dan izin orang tua. Maka, Kelas Inspirasi adalah solusi. πŸ˜›

Pertama kali ikut di Lombok, saya menyadari bahwa saya gagal menginspirasi. Saya merasa pesan yang saya sampaikan, tidak sampai. Bahkan ketika pulang, saya merasa mereka masih tidak mengerti apa itu pekerjaan HRD. Kemudian, saya mencoba ke Bandung. Saya coba untuk mencari metode yang pas untuk menyampaikan profesi ini. Dikelas besar (4-6) pesan ini bisa sampai dengan baik. Continue reading

Rejected.

Rejected

Melanjutkan S2,Menikah.

Menikah Muda, Menikah Nanti.

Menjadi Wanita karir, Mengurus rumah tangga.

Liburan ke gunung, Liburan ke pantai.

Pribadi terbuka dan blak-blakan, Pribadi tertutup serba diiyakan.

Pilihan itu kita yang lakukan, bukan? Kita yang ngejalani. Dengan segala konsekuensinya. Dan dari semua pilihan itu, kita ga akan bisa selalu memuaskan orang lain dan bikin mereka bahagia.

Akan ada aja orang yang ga suka, ga mau ngerti, apa yang kita rasain, apa keputusan kita, apa pemikiran kita, cara kita berbicara, cara kita bersikap.

Orang lain boleh untuk ga peduli. Boleh? Tentu saja.

Ah, jangankan orang lain, sahabat, orang terdekat. Bahkan didalam satu keluarga satu darah saja, ada aja ketidakcocokan.

Jadi, ketika kamu mengalami penolakan-penolakan, ga usah khawatir. Hidup kita bukan untuk menyenangkan hati orang lain kok. πŸ™‚

Kelak akan datang masa dimana, apa yang kamu lakukan adalah hal yang orang lain senangi. Apa yang kamu sukai, ia pun suka. Apa yang kamu pikirkan, sama seperti yang ia pikirkan, apa yang kamu rasakan, ia juga merasakan.

Dan Rejected, akan menjadi Accepted. :’)

Butuh Vitamin Sea? Mungkin 13 Pulau di Kepulauan Seribu ini solusinya!

*Calling All anak Pulau*

Suka butuh waktu buat menyepi dari hiruk pikuk Ibukota, engga sih? Saya awal awal pindah kerja di Jakarta nyempet-nyempetin banget buat jalan jalan keluar kota minimal sebulan sekali. Stress bawaannya kalau mengikuti pola kerja dan jalanan yang ga pernah ada matinya. Sekarang sih mulai selow, mulai seneng tidur sepuas-puasnya saking hari hari dikantor sudah pagi pulang malem. Rasa-rasanya weekend sudah tidak berdaya buat angkat ransel dan melakukan perjalanan jauh.

Nah, selama 4 tahun di Jakarta, saya cukup sering nih bolak balik ke Kepulauan Seribu. Dari yang one day trip sampai Weekend Gateway. Cukup worth it kok ternyata. Dari budget yang dikeluarkan sama kepuasan yang kita terima. Check this out!

Pulau Kelor

Pulau Kelor

Vitamin Sea untuk sehari! Untuk menjangkau pulau ini kita tidak harus menginap. Jadi bisa dilakukan one day trip. Disinilah tempatnya Rio Dewanto dan Atiqah siholan ijab qabul. #infotainmentnews.

Ada apa? Semacam ada monumen gitu aja sih. Berasa hawa hawa perjuangan jaman dahulu kala aja. Sayang, airnya tidak terlalu biru dan kecipak kecipuk-able. Untuk hunting foto, okelah.

Pulau Onrust

Pulau Onrust 5

Tidak jauh dari Pulau Kelor ada Pulau Onrust. Pulau ini sudah ada sejak tahun 1615. Belanda membangun dermaga dari galangan kapal untuk memperbaiki kapal-kapal VOC. Kemudian pada tahun 1958 dibangun sebuah benteng kecil. Dilanjutkan pada tahun 1971 diperluas benteng tersebut menjadi benteng segilima, dibangun pula Gudang, Dok dan Kincir Angin. Continue reading

Sebuah Pengakuan dan Hadiah untuk Papa.

Apa hadiah yang pantas diberikan untuk seorang Ayah? Berbeda halnya, mencari hadiah untuk Mama. Untuk perempuan, agak sedikit lebih mudah untuk kita berikan sesuatu. Pakaian, tas, sepatu atau kosmetik kesukaannya bisa kita belikan. Meskipun, kemarin saya mencoba memberikan sesuatu yang ‘lain’. Tiket pulang kerumah. πŸ™‚

Sementara untuk Papa? Yang paling saya ingat, ketika dulu saya bersekolah di bangku SMP, saya mengajak kakak dan adik saya untuk patungan membelikan kado untuk ayah saya.

Baju?

No.

Sepatu?

No.

Jam Tangan?

Boro-boro.

Kami membeli kacamata hitam seharga Rp. 25,000,- πŸ˜€

Papa selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan ke-empat anaknya ke sekolah sebelum beliau ke kantor. Dalam perjalanan, satu benda yang selalu dipakai adalah kacamata hitam. ‘Silau’ ujarnya jika kami bertanya kenapa beliau nyaris tak luput dari kacamata.

Nah, mendekati hari ulang tahunnya, kacamata hitam papa patah. Kamipun akhirnya sepakat untuk membelikan itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Tentu aja papa senang, barang itu bermanfaat karena sesuai dengan kebutuhannya saat itu. :’)

Tahun lalu, menjelang ulang tahunnya, saya lumayan ‘mikir’ untuk membelikan papa hadiah. Sampailah saya teringat satu kejadian.

Waktu itu saya masih SMP dan janjian ke Mall bareng salah seorang teman. Papa meminjamkan handphone miliknya untuk saya bawa. Apes, di jalan, handphone tersebut jatuh. Saya tidak cerita sama sekali ke papa, walau dalam hati berniat suatu hari nanti barang itu akan saya ganti.

Papa yang pelupa, menganggap handphone tersebut jatuh dari tasnya bukan karena saya.Β  Beliau sama sekali tidak bertanya/mengintimidasi saya. Iya, papa saya baik sekali. πŸ™‚

Saya memutuskan untuk membelikan sebuah galaxy Tab, untuk menebus ‘dosa’ masa kecil saya. Bagaimanapun, saya pernah berjanji untuk mengganti. Meski janji itu hanya pada diri sendiri.

Bagaimana komentar papa? Beliau senang dan terharu, karena bagi beliau, barang itu adalah barang yang beliau inginkan sesuai dengan kebutuhannya saat ini. Hal ini dibuktikan dari hadiah saya yang beliau foto dan upload di media sosial miliknya.

Hari itu, sesungguhnya bukan hanya papa yang senang. Melainkan saya jauh lebih senang. Saya berhasil mengalahkan diri sendiri untuk jujur dan mengakui kesalahan. Papa menganggap itu hadiah terindah, sementara saya merasa telah memberikan 2 hadiah dalam satu waktu. Untuk papa, dan untuk saya ketika melihat papa bahagia. πŸ™‚

Hadiah, tidak selalu dan melulu tentang barang mewah dan bernilai mahal. Hadiah bagi saya tentang bagaimana, ketika itu saya berikan kepada oranglain menghasilkan ukiran senyum di wajahnya.

Papa, semoga papa berkenan, ya.:)

Bulan depan papa Ulang tahun, kira-kira papa dikasih hadiah apa, ya?