Category Archives: Random Thought

Kebodohan-Kebodohan urusan perdapuran.

Sungguh postingan ga penting mengawali tahun 2018. Haha. Berhubung kemarin salah satu goals di tahun ini adalah menikah, tiba-tiba yang keingetan adalah urusan dapur. Menyoal urusan dapur, banyak sekali kisah memalukan saya selama berkecimpung di Dapur.

Melanjuti Kebodohan-kebodohan ketika Jalan-jalan, maka saya akan mengulas Kebodohan-kebodohan urusan perdapuran.

Tepung Terbang

Suatu hari, saya main ke kosan kakak saya di Bandung. Beliau membuatkan saya tempe goreng tepung yang (ketika itu) menurut saya enak banget.

“The power of Bumbu spicy” Katanya sambil menunjukkan tepung bumbu yang ia gunakan.

Balik ke Jakarta, semangat 45 dong, beli itu bumbu dan sepotong tempe untuk dijadikan tempe goreng seperti apa yang saya makan sebelumnya.

Nyalain kompor. Potong-potong tempe. Balur-balur tepung lalu cemplungkan ke Minyak. Continue reading

Advertisements

Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Alhamdulillah, masih bisa ketemu sama bulan Ramadhan. Excited? Pasti dong. Gimana bisa tidak bahagia menyambut bulan dimana semua amalan dilipat gandakan?

Ada yang beda dengan Ramadhan kali ini, kalau dulu berdua putri. Sekarang sudah berdua bareng lelaki. Suami? Alhamdulillah belom πŸ˜€ Sama Adik bungsu. Jadi ceritanya, si Adik sedang sibuk-sibuknya daftar PTN/PTS di Jakarta. Eh kesampaian sampai bulan Ramadhan masih disini. Sahur ga sendiri deh πŸ™‚

Tentang target, banyak sekali. Seperti halnya mengurusi Kelas Inspirasi & One Day Fun Doing Fun, ingin ini ingin itu banget buat dilaksanain di bulan Ramadhan. Salah satunya #1hari1kebaikan, jadi mungkin semacam sedekah-sedekah untuk bagi orang yang menerimanya akan jadi rezeki tak terduga. Semoga berjalan lancar seperti ibadah puasanya, ya. InsyaAllah.

Selamat menjalan ibadah puasa selama dibulan Ramadhan, teman-teman. Untuk setiap khilaf dan salah, mohon dapat dimaafkan. Marbahan Ya Ramadhan πŸ™‚

Rejected.

Rejected

Melanjutkan S2,Menikah.

Menikah Muda, Menikah Nanti.

Menjadi Wanita karir, Mengurus rumah tangga.

Liburan ke gunung, Liburan ke pantai.

Pribadi terbuka dan blak-blakan, Pribadi tertutup serba diiyakan.

Pilihan itu kita yang lakukan, bukan? Kita yang ngejalani. Dengan segala konsekuensinya. Dan dari semua pilihan itu, kita ga akan bisa selalu memuaskan orang lain dan bikin mereka bahagia.

Akan ada aja orang yang ga suka, ga mau ngerti, apa yang kita rasain, apa keputusan kita, apa pemikiran kita, cara kita berbicara, cara kita bersikap.

Orang lain boleh untuk ga peduli. Boleh? Tentu saja.

Ah, jangankan orang lain, sahabat, orang terdekat. Bahkan didalam satu keluarga satu darah saja, ada aja ketidakcocokan.

Jadi, ketika kamu mengalami penolakan-penolakan, ga usah khawatir. Hidup kita bukan untuk menyenangkan hati orang lain kok. πŸ™‚

Kelak akan datang masa dimana, apa yang kamu lakukan adalah hal yang orang lain senangi. Apa yang kamu sukai, ia pun suka. Apa yang kamu pikirkan, sama seperti yang ia pikirkan, apa yang kamu rasakan, ia juga merasakan.

Dan Rejected, akan menjadi Accepted. :’)

Sebuah Pengakuan dan Hadiah untuk Papa.

Apa hadiah yang pantas diberikan untuk seorang Ayah? Berbeda halnya, mencari hadiah untuk Mama. Untuk perempuan, agak sedikit lebih mudah untuk kita berikan sesuatu. Pakaian, tas, sepatu atau kosmetik kesukaannya bisa kita belikan. Meskipun, kemarin saya mencoba memberikan sesuatu yang ‘lain’. Tiket pulang kerumah. πŸ™‚

Sementara untuk Papa? Yang paling saya ingat, ketika dulu saya bersekolah di bangku SMP, saya mengajak kakak dan adik saya untuk patungan membelikan kado untuk ayah saya.

Baju?

No.

Sepatu?

No.

Jam Tangan?

Boro-boro.

Kami membeli kacamata hitam seharga Rp. 25,000,- πŸ˜€

Papa selalu menyempatkan diri untuk mengantarkan ke-empat anaknya ke sekolah sebelum beliau ke kantor. Dalam perjalanan, satu benda yang selalu dipakai adalah kacamata hitam. ‘Silau’ ujarnya jika kami bertanya kenapa beliau nyaris tak luput dari kacamata.

Nah, mendekati hari ulang tahunnya, kacamata hitam papa patah. Kamipun akhirnya sepakat untuk membelikan itu sebagai hadiah ulang tahunnya. Tentu aja papa senang, barang itu bermanfaat karena sesuai dengan kebutuhannya saat itu. :’)

Tahun lalu, menjelang ulang tahunnya, saya lumayan ‘mikir’ untuk membelikan papa hadiah. Sampailah saya teringat satu kejadian.

Waktu itu saya masih SMP dan janjian ke Mall bareng salah seorang teman. Papa meminjamkan handphone miliknya untuk saya bawa. Apes, di jalan, handphone tersebut jatuh. Saya tidak cerita sama sekali ke papa, walau dalam hati berniat suatu hari nanti barang itu akan saya ganti.

Papa yang pelupa, menganggap handphone tersebut jatuh dari tasnya bukan karena saya.Β  Beliau sama sekali tidak bertanya/mengintimidasi saya. Iya, papa saya baik sekali. πŸ™‚

Saya memutuskan untuk membelikan sebuah galaxy Tab, untuk menebus ‘dosa’ masa kecil saya. Bagaimanapun, saya pernah berjanji untuk mengganti. Meski janji itu hanya pada diri sendiri.

Bagaimana komentar papa? Beliau senang dan terharu, karena bagi beliau, barang itu adalah barang yang beliau inginkan sesuai dengan kebutuhannya saat ini. Hal ini dibuktikan dari hadiah saya yang beliau foto dan upload di media sosial miliknya.

Hari itu, sesungguhnya bukan hanya papa yang senang. Melainkan saya jauh lebih senang. Saya berhasil mengalahkan diri sendiri untuk jujur dan mengakui kesalahan. Papa menganggap itu hadiah terindah, sementara saya merasa telah memberikan 2 hadiah dalam satu waktu. Untuk papa, dan untuk saya ketika melihat papa bahagia. πŸ™‚

Hadiah, tidak selalu dan melulu tentang barang mewah dan bernilai mahal. Hadiah bagi saya tentang bagaimana, ketika itu saya berikan kepada oranglain menghasilkan ukiran senyum di wajahnya.

Papa, semoga papa berkenan, ya.:)

Bulan depan papa Ulang tahun, kira-kira papa dikasih hadiah apa, ya?

 

 

Tentang Gojek, Grab & Uber

Awal-awal moda transportasi berbasis online ini merebak di pasaran, saya agak memandang sebelah mata, secara bawa kendaraan sendiri, ada semacam perasaan ‘tidak perlu’ muehehe. *sombong* πŸ˜€

Sampai suatu hari, ya, well kemakan omongan sendiri. Saya mau trip luar kota, yang sebelum ke Stasiun, mau ketemuan dulu dengan mba Yuni dan paginya dianter oleh kang Mas. Uda deh, kali itu untuk pertama kalinya saya naik Gojek.

Logo Gojek

Kenapa Gojek? Entahlah hati saya sreg duluan aja sama gojek. Pesen deh buat nganterin saya ke Senayan City, dengan hanya Rp. 15.000,- saja.

Mungkin pertanyaan saya, sama kaya kebanyakan penumpang lainnya, “Bapak sejak kapan di Gojek?” berujung dengan curhatan, bahwa doi sebelumnya PNS yang terlibat pemakai Narkoba. :/ “tapi sekarang, bapak ga bawa narkoba, kan?” tanya saya super serius. Yang tentu saja, dijawab tidak. Continue reading

Hadiah untuk Mama.

Berbicara tentang Ibu/Mama, tidak akan pernah ada habisnya. Kehebatan masing masing malaikat tanpa sayap ini berbeda-beda bagi setiap anak yang dilahirkannya. Ada Ibu yang merelakan karirnya untuk keluarga, ditempat lain ada Mama yang masih bisa membagi waktu untuk tetap bekerja dengan tidak meninggalkan kewajibannya didalam rumah. Ada Ibu yang berjuang sendirian (single parents) membesarkan keluarga. Semuanya hebat. Setuju?

Mama saya sendiri tergolong di kelompok Ibu Rumah Tangga, beliau memilih berhenti kerja setelah menikah dan hamil anak pertama, Ayah saya tidak keberatan untuk itu.

Mamalah yang saya cium tangannya sebelum keluar rumah dan menyambut saya setiap pulang kerumah. Mama yang ketika saya dirantau, selalu punya feeling yang kuat, jika saya kenapa kenapa ditanah orang.

Jadi dulu, ketika di kuliah di Bandung, setiap pulang ke Batam dan kembali lagi ke Bandung, isi koper saya bukan baju-baju. Tapi sembako. πŸ˜€ Ceritanya, mama tidak bisa membekali saya cukup uang, sehingga yang ia bisa lakukan adalah belanja di koperasi kantor untuk menutupi kebutuhan sehari-hari saya. Kebayang kan, isi kopernya dari pembalut sampe garam. :’)

Cerita lain, kalau saya akan menghadapi UTS/UAS yang harus menggunakan kemeja. Mama-lah yang akan membelikan kemudian dikirimkan ke Bandung. Iyes, belinya pake CC nya papa. πŸ˜€

Jadi, selama saya kuliah minim uang cash. Hehe.

Awal-awal kerja, saya harus menghadiri beberapa meeting besar dengan vendor, yang kemudian mama inisiatif membelikan saya sepaket make-up untuk menunjang pekerjaan saya.

Setelah 5 tahun kerja, dan mulai menginjaki kaki dimana-mana, Mama belakangan mulai suka request gitu, ketika saya ke Bali kemaren, beliau minta dibelikan beberapa daster Bali. Begitu juga ketika saya di Jogja.

Saya jadi kepikiran, selama ini pernah ngasih apa aja ya, ke Mama. Beberapa yang saya inget; Continue reading

Jeda.

Whoaaaaah!

Whoaaaaah!

“Nia, saya itu penasaran, bagaimana pola didikan kedua orangtuamu sehingga bisa menghasilkan anak seperti kamu. Yang ceria, yang banyak senyum, yang suka ini itu” Ujar HRD dikantor tempat pertama kali saya bekerja suatu hari.

Pada saat itu saya adalah anak remaja tanggung yang pecicilan. Karena saya sudah bekerja diusia 19 tahun, saya yang paling doyan cengengesan kalo dikasih tugas. Semua orang saya sapa ceria layaknya saya meyapa teman teman saya dikampus. Meski pada usia itu saya sudah dikenalkan di meeting-meeting besar di Ibukota, tak lantas membuat saya terlihat dewasa. Seringkali, saya disuruh berhenti bekerja, masih anak-anak, begitu kata mereka.

Time flies very fast, engga kerasa, tiba tiba sudah 4 tahun saja saya bekerja di Jakarta. Banyak yang berubah? Banget! Saya inget, niat awal saya pindah ke Jakarta. Mau jalan-jalan. Saya jadi full time traveller dan part time employee. Diotak saya cuma ada jalan kemana minggu ini. Ga peduli nyampe Jakarta, senin shubuh yang langsung saya geber untuk bekerja. Yang penting saya bahagia. Yes, i’m happy at the time.

2 tahun belakangan, pelan pelan mulai berubah. Saya tidak lagi se-menggebu itu untuk jalan-jalan. Saya merasa badan saya mulai pegal-pegal, jika kelamaan duduk di bus. Cepat lelah jika nyampe kosan senin shubuh. Buat saya jadi cari tempat jalan-jalan yang bisa ditempuh dengan pesawat.

Setahun belakangan, semakin menjadi. Pekerjaan dikantor bukan lagi hal yang bisa dinomorduakan. Saya mulai merasa, saya harus serius berkarir. Saya mulai challenge diri sendiri dengan jobdesk yang diberikan oleh atasan saya. Lembur tanpa ampun jadi makanan sehari-hari, engga sampe tengah malem sih. Tapi setiap hari. Untuk menghibur diri, saya sempat sesekali keluar kota, seperti awal awal dulu. Tapi rasanya tak lagi sama seperti dulu. Tubuh saya remuk. byar!

Belum lagi, saya punya target-target dalam keuangan. Saya punya mimpi lain untuk secara berkelanjutan mengajar di Kelas Inspirasi. Saya ingin ‘anak saya’, one day fun doing fun, berjalan berkesinambungan. Semuanya muter di otak saya. Saya ingin begini, ingin begitu, harus ini, harus itu.

Tanpa saya sadari, ritme hidupΒ saya ‘mengerikan’. Lembur on the weekday, dan nyaris ga punya me time on the weekend. Dan oh, itu menganggu psikologis saya.

Beberapa bulan belakangan ini, saya benar benar seperti dikejar waktu. Kerja lembur, kemudian jumat malem harus briefing Kelas Inspirasi di Semarang. Kemudian, minggu depannya kembali lagi untuk mengajar. Belum sempet nulis untuk ceritanya, saya sudah standby di Kelas Inspirasi kota lain lagi. Disela-sela itu, saya masih suka ‘loncat sana loncat sini’ keluar kota, Entah hanya untuk wisata atau mengurusi One Day Fun Doing Fun. Dalihnya jalan-jalan untuk bahan tulisan. Boro-boro, saya nyaris tak punya waktu untuk menulis 😦 Β (–sampai tulisan ini ditulis, kegiatan One Day Fun Doing Fun Batch 3 yang diadakan di Bandung bulan Agustus kemarin, belum ketulis :()

Sempet beberapa kali orang-orang disekitar saya complain, entahlah saya yang jadi gampang emosi, entahlah saya yang sulit sekali dihubungi dan ditemui. Saya jadi temperamen. Mudah tersulut emosi, sensitif.

Puncaknya ketika hasil medical check up saya tiba minggu lalu, saya yang tadinya merasa tidak apa-apa ini, ternyata kenapa-kenapa. Berat badan saya turun 11 kg dalam satu tahun. Kolesterol dalam batas tinggi. Serta, LED (Laju endap darah) yang nilainya 2x batas normal. Saya terserang Anemia Mikrositik Hipokrom, entahlah saya ga tau ini apa. Yang jelas, saya kekurangan darah, saya kurang olahraga, kurang makan sayur, kurang asupan buah, danΒ kurang kasih sayang.

Akhirnya, seminggu ini saya berusaha untuk pulang tidak terlalu malam. Mulai lagi menjalin silaturahmi dengan mengunjungi ibu kos yang sedang dirawat rumah sakit. Hari ini, saya kembali ke Pasar. Saya sampai lupa kapan terakhir kali saya belanja sayur. Saya beli beberapa sayur untuk saya masak sendiri. Kemudian, saya kembali ke Dapur. Saya menikmati setiap bulir busa sabun disaat saya mencuci. Tangan saya yang tersisa harum bawang. Saya merasakan, saya seperti menemukan kembali ‘rasa’ yang pernah hilang. Indera tubuh saya menyuarakan itu dengan saya terima dengan senang.

Selesai memasak dan memakannya, saya bebersih dan beberes kamar. Saya meregangkan badan dikasur dengan rasa senang luar biasa. Saya lanjutkan dengan nonton film ‘Jobs’. Film ini momennya pas banget dengan perasaan saya. Bahwa hidup itu harus seimbang. Life Balance. Disaat Steve Jobs, menggebu untuk semua proyeknya, ia menanggalkan keluarga dan teman-temannya, yang ternyata itu malah menjadi penghalang projeknya. Disaat dia mulai eling, dia kembali ke keluarganya, kembali ke teman-temannya, disitulah projeknya kembali mencuat. Diakui dan dikagumi banyak orang.

Seperti ia, saya hanya perlu Jeda. Perlu sehari saja, menikmati hari dengan diri sendiri. Memancing kembali segala Indera ditubuh saya. Mengoreksi diri. Tidur yang cukup. Dan menikmati menit demi menit dengan tidak tergeropoh-ropoh dan rasa yang dikejar-kejar. πŸ™‚

Anggaplah sebuah gunung aku memilih mendaki gunung tersebut secara perlahan. Menikmati pepohonan, bunga dan udaranya. Berhenti, walau bukan dititik tertinggi, tapi aku tetap bisa menikmati keindahan

Masih ada esok, yang akan saya gunakan untuk refleksi. Sebelum saya kembali ke Payroll Period yang biasanya akan pulang lebih malam dan persiapan saya di One Day Fun Doing Fun Batch 4. Bismillah. :’)