Jaman kuliah dulu, saya pernah dilibatkan menjadi salah satu pengajar komputer untuk penyandang Tuna Rungu. Waktu itu adalah titik awal saya mengenal tentang penyandang Disabilitas. Bagaimana merasa ‘asing’ sendiri diantara banyak penyandang Tuna Rungu. Alih alih merasa mereka berbeda, yang kerasa malah kita yang berbeda. :’)
Pada tahun-tahun pertama merantau di Jakarta, saya sempet menjadi salah satu perserta terpilih untuk event National Conference Disablity Awarness. Pertemuan nasional yang melibatkan 33 orang penyandang Disabilitas dan 66 orang non penyandang Disabilitas.
Dari situ saya belajar banyak hal. Saya belajar bahwa penyandang disabilitas orang orang yang fungsi organ tubuhnya tidak sempurna. Contoh; Tuna netra, orang yang tidak bisa melihat dengan matanya. Tuna Rungu, orang yang tidak bisa mendengar dan sulit berbicara. Orang berkaki satu. Orang tanpa tangan. Orang yang membutuhkan kursi roda untuk beraktifitas sehari hari. Kesemuanya di kategorikan sebagai pendis (penyandang disabilitas, red).
Ketika CSR Astra mengajak saya bekerja sama untuk Giving Back Society ke Yayasan Sayap Ibu Banten, langsung saya iyakan! Continue reading

