[Weekend Story] Nongkrong bareng Orang Tua

Kapan terakhir kali ngajakin mama papa nongkrong ya? Seinget saya, bulan Februari. Ketika adik yang sedang kuliah di Bandung main ke Jakarta. Kemudian kami sekeluarga iseng ingin makan Macaroni Panggang di Bogor. Dari Jakarta ke Bogor pulang pergi hanya untuk makan Macaroni Panggang. Sampai Jakarta keburu laper lagi Karena perjalanannya jauh. Haha.

Setelah itu, kami disibukkan dengan pindah rumah. Berbenah rumah dan finansial keuangan keluarga tentu saja yang jadi ikutan tergoncang karena kenekatan membeli rumah. Tidak ada agenda untuk nongkrong diluar karena lebih baik uang itu untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Continue reading

Advertisements

Drama mencari Tenda dan Tips memilih Tenda Camping.

Awal-awal kapal Sabuk Nusantara milik PT Pelni melayani perjalanan Pelabuhan Sunda Kelapa – Kepulauan Seribu, terjadilah mini drama menyoal persoalan tenda. Kapal yang disubsidi ini emang lebih murah daripada kapal kayu milik nelayan yang beroperasi dari Angke. Namun, secara waktu jauh lebih lama. Hal ini dikarenakan rutenya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa – Pulau Untung Jawa – Pulau Pramuka – Pulau Harapan. Pengalaman saya kemarin, baru merapat di Pelabuhan Pulau Pramuka pukul 14.30 WIB. Ini mah kalau ikut opentrip udah pasti ditinggalin.

Sementara jika naik kapal kayu milik nelayan, pukul 10 atau 11 pagi kapal dipastikan sudah merapat karena jalurnya langsung Muara Angke – Pulau Pramuka tanpa transit di Pulau Untung Jawa. Continue reading

Menyambut 2018, #JadiBisa bikin konsep baru yang seru.

Sebentar lagi tahun 2017 akan berakhir. Itu artinya sudah 4 tahun berjalannya kegiatan sosial yang selama ini saya kerjakan. One Day Fun Doing Fun. Barangkali ada yang belum tahu, One Day Fun Doing Fun adalah aksi sosial yang saya dan teman-teman kerjakan kurang lebih 4 tahun belakangan. Tadinya hanya iseng-iseng, ga tau akan seserius ini. Berpindah pindah kota. Bertambah teman baru. Silaturahmi tidak berhenti dan jalan-jalan ga ketinggalan.

Selama 4 Tahun, One Day Fun Doing Fun sudah roadshow ke 7 kota + 1 kota yang sama (Reunite Series). 7 kota tersebut adalah Jakarta, Batam, Bandung, Yogyakarta, Bogor, Garut dan Majalengka. One Day Fun Doing Fun lahir dari kesukaan saya pada kegiatan sosial dan jalan-jalan. Maka, jadilah berbagi sambil jalan-jalan. Hehe.

Berawal dari uang pribadi.

Pertama kali One Day Fun Doing Fun diadakan, saya dan Putri – salah satu sahabat saya – ngobrol receh masalah rindu berbagi dengan anak-anak yatim. Kemudian, kami berdua ‘patungan’ untuk bisa membiayai makan sekitar 30 anak yatim disatu restoran di Jakarta Selatan. Continue reading

Andai Aku Menjadi; Tinggal di Rumah Pengayam bambu

Selama mengikuti rangkaian kegiatan Voluntrip Round 5 kemarin, kami (Saya, Kak Icha dan Kak Dimi) tinggal dalam satu rumah yang sama. Rumah milik Pak Odang beserta istri dan anak bungsunya.

Baca: Voluntrip Round 5: Special Reunion

Saya datang terlambat, tidak mengikuti rombongan yang sudah jalan menuju lokasi pukul 4 sore. Saya baru tiba di tempat pada pukul 10 malam. Kak Dimi dan kak Icha setia menunggui saya hingga kami bisa ‘pulang’ bersama kerumah Pak Odang.

Tidak jauh dari tempat dimana kami beraktivitas, namun menuju rumah Pak Odang memiliki tantangan tersendiri, jalanan yang menurun curam, serta licin jika hujan. Sebenarnya itu hanyalah jalan pintas agar kami bisa tiba lebih cepat. Continue reading

Voluntrip Round 5; Special Reunion

Sejak mengikuti Voluntrip Round 2 pertama kali di Mei 2016, saya tahu kegiatan ini ‘saya banget’. Berkontribusi ikut berbagi sama jalan-jalan. Kemudian, saya ikut melibatkan diri dalam kepanitiaan Voluntrip Round 3. Jadi, peserta di Round sebelumnya, akan menjadi panitia di Round setelahnya. Pada Voluntrip Round 4 tentu saja, saya tidak bisa lagi terlibat. Jatahnya peserta di Round 3 untuk menjadi panitia.

Voluntrip adalah gerakan sosial dari Dompet Dhuafa. Sesuai namanya, Voluntrip merupakan gabungan dari Volunteer dan Trip. Menjadikan kegiatan Volunteer berbarengan dengan jalan-jalan.

Ndilalahnya, pada Voluntrip Round 5 diperuntukan khusus untuk peserta Voluntrip Round 1 sampai Voluntrip Round 3 dengan panitianya adalah peserta Voluntrip 4. Reuni gitu ceritanya. Ciye.

Jadilah, weekend kemarin 10-12 November 2017 saya beserta teman-teman Voluntrip 1 sampai dengan 4 bersama-sama mengunjungi Desa Gegerbitung, Kec Cijeruk, Kab Bogor untuk melakukan berbagai aksi. Continue reading

Hallo Makassar dan cara menuju Tanjung Bira

Selamat datang di kota Angin Mamiri!

Makassar adalah Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Berasal dari sebuah kata bahasa daerah yaitu mangkasara yang artinya ‘menampakkan diri’ atau ‘bersifat terbuka’. Makassar disebut juga kota Daeng, yang berarti ‘kakak’ atau ‘abang’, tetapi daeng lebih umum sebagai sapaan atau panggilan untuk orang yang dihormati atau yang dituakan, baik laki-laki atau perempuan.

Biar liburannya panjang, saya memilih penerbangan malam dari Jakarta. Pukul 21.55 dari Soekarno Hatta. Kemudian pagi pukul 7 bertolak ke Tanjung Bira lewat Bulukumba.

Landing di Bandara Sultan Hasanudin pukul 1 pagi (ada perbedaan 1 jam antara Jakarta dan Makassar), tidur di bandara sampai Shubuh baru deh ke kota.

Nah, numpang tidur di Bandara ini saya sempet browsing-browsing. Untuk yang keluar pesawatnya melalui akses ruang tunggu. Bisa tuh, ga usah langsung keluar. Jadinya tidur di ruang tunggu keberangkatan.

Pas kemarin saya mah, akses dari pesawat langsung ke ruang bagasi dimana ini dibawah ruang tunggu keberangkatan. Jadilah langsung ke pintu keluar.  Akhirnya, saya nyari kursi di yang kira kira tidur-able di sekitar pengambilan bagasi. Jadi ga sampai ke area luar.

Tidur di Bandara Makassar.jpg

Tidur di area pengambilan Bagasi

Disebelah kursi ini, juga ada charger station untuk nge-charge handphone. Setelah tanya sana sini, banyak cara menuju ke kota. Dengan taksi sekitar Rp. 150,000,- atau Damri Bandara, namun Damri ini baru beroperasi sekitar pukul 7 dan baru akan meninggalkan bandara jika bangku sudah terisi penuh. Pilihan saya kemarin adalah transportasi Online, meski illegal (ngumpet-ngumpet) biaya yang dikeluarkan juga tidak sampai seratus ribu.

Naik transport Online menuju Pantai Losari untuk sholat shubuh sekalian di Mesjid Apung. Jadi, keluar dari Bandara kira-kira pukul 4 pagi. Lumayan 3 jam merem-melek cantik.

Mesjid Apung.jpg

Mesjid Apung sekitar Pantai Losari

Dari kota Makassar ke Tanjung Bira bisa dengan naik Angkutan semacam mobil Panther (disana dinamai Pete Pete) tarifnya sekitar 100,000,- dari Terminal. Tapi dia jalan setelah penuh. 😦 Walaupun kita standby dari pagi, bisa saja baru jalan jam 10 atau 11an karena menunggu semua bangku terisi.

Akhirnya, saya memilih untuk naik travel dari Kota Makassar ke Bulukumba. Bulukumba – Tanjung Bira masih sekitar 64km lagi. Kemudian dilanjutin dengan naik angkot ke Tanjung Bira.

Travel BMA Trans.jpg

BMA Trans

Naik Travel BMA Trans Makassar. Tarifnya 100,000,- hanya sampai Bulukumba. Perjalanan pertamanya dimulai pukul 7 pagi. Tempat duduknya super duper nyaman dan lebar. Kapasitas sekali berangkat hanya 8 orang. Kemarin, penumpang hanya 3 orang tetep jalan. Yey!

Minusnya, pool terakhir di Bulukumba dimana angkot menuju Tanjung Bira tidak lewat. Jadilah kemarin supirnya berbaik hati mengantarkan kami sampai persimpangan dimana Angkot menuju Tanjung Bira melintas dengan meminta ‘uang rokok’, kukasih aja 10,000 untuk satu orang.

Nah, dari Bulukumba ini naik Angkot ke Tanjung Bira. Kata penduduk sekitar yang juga akan menaiki angkot yang sama, tarifnya sekitar 25,000 per-orang.

Angkotnya ini bukan seperti angkot di kota-kota besar yang sudah ada rutenya. Namun, angkot ini nganterin orang sampai kedepan rumah. Iyes, angkot rasa travel door to door.

Setelah sampai di tanjung Bira, supirnya nanyain nih, kami akan turun dimana. Pas kita sebut, Cosmos Bungalows langsung dong ditodong biaya tambahan lagi. 😦 Cosmos Bungalosw itungannya udah di Pantai Bara sih. Tapi ya ga jauh juga dari Tanjung Bira, kurang dari 5km. Nodongnya juga ga tanggung-tanggung, minta tambahan 25 ribu untuk jarak 5km. Hiks.

Matahari yang terik, dan tidak terlihat angkutan apapun sepanjang mata memandang, bikin kami mengiyakan todongan itu. Huhu.

Jadi total biaya perjalanan dari Kota Makassar ke Cosmos Bungalows via Bulukumba; Rp. 100,000,- + Rp. 10,000,- + Rp. 50,000,- = Rp. 160,000,-

Sementara ketika pulang, dengan kebaikan hati Staff Cosmos Bungalows, kami dipesankan Pete-Pete yang menjemput langsung dan turun di Terminal Makassar cukup membayar Rp. 100,000,- saja.

Hanya saja, Pete-pete seratus ribu ini tanpa AC. Jadilah sepanjang jalan pake AC Alam dan full house. 1 Avanza ber-7. Bapak supir Pete-pete ini memberi informasi bahwa, hanya ia satu-satunya yang jalan jam 7 Pagi dari Terminal ke Tanjung Bira. Sementara yang lain baru jalan dari Terminal rata-rata pukul 11 siang.

Ada harga ada rupa sih, ya. Kalau saya kembali lagi ke Makassar dan ingin ke Tanjung Bira lagi, mungkin saya prefer naik Pete-pete pukul 7 pagi itu. Namun jika tidak, mending via Bulukumba. Karena jalan jam 11 dari Kota Makassar ini memungkinkan kesorean nyampe di Tanjung Biranya.

Eh iya, Pete-pete ketika pulang ini sempat juga menawarkan diri untuk mengantarkan kami langsung ke hotel. Dengan meminta tambahan biaya Rp. 100,000,-. Jelas saja langsung ku tolak, karena tahu di kota Makassar sudah ada transportasi Online yang pastinya tarifnya akan jauh lebih murah. Terminal terakhir ke Hotel dengan Grab hanya Rp. 33,000,-.

Keliatan amat ya turisnya, di todong terus. 😦

Ada yang sudah pernah ke Tanjung Bira dari Makassar? Share dong public Tansportasi nya apa ajaa.

Jangan menginap di Cosmos Bungalows, Tanjung Bara, Sulawesi Selatan

Ditengah hectic dan stress menyiapkan Jambore Anak 2017, saya menghibur diri dengan mencari tiket. Kan beberapa bulan lalu menang lomba nge-tweet berhadiah tiket kemana saja tuh.

Baca: Akhirnya! Ikutan Linkers Academy Batch 3

Tadinya uda jelas ingin digunakan untuk kem-BALI. Eh dilalahnya, gunung Agung sedang batuk-batuk. Trus bingung gitu, karena tidak menyiapkan plan B untuk urusan tempatnya. Sementara, tiket ini akan habis masa berlakunya.

Setelah mempertimbangkan sana sini, ada 3 tujuan yang akan saya pilih salah satunya; Medan, Manado atau Makassar. Berhari-hari saya browsing ketiga tempat ini. Kira-kira enaknya kemana, nanti disana mau ngapain aja, nginepnya gimana. Continue reading