Category Archives: Traveling

Napak Tilas menjelajah Bandung

Pertama kali kenal Adam & Susan dari Twitter. Sukaaaa banget deh dengan pasangan ini. Kerjaannya jalan jalan mulu. Sebagai orang yang masih belum berani untuk melepaskan diri dari jabatannya sebagai buruh pabrik, sirik to the max sama pasangan yang memiliki hobi yang sama untuk terus tetap berjalan. Selama ini, mupeng mupeng deh mantengin linimasa mereka di twitter, dengan akun @pergidulu, huh.

“Sheraton, payun, kang” ujar saya sehari hari setiap naik angkot menuju ke kost-an. Iya, kostan saya diseberang Sheraton Hotel and Towers banget. Paling gampang buat jadi clue untuk memberhentikan angkot 😀

Saya menghabiskan waktu 3 tahun untuk kuliah di Bandung. Selama itu, saya nge-kost di Dago Pojok. Letaknya persis di Seberang Sheraton. Selama itu pula, saya menjadi saksi bahwa hotel satu ini, seriiiing banget digunakan untuk event event acara. Lahannya yang luas, bikin area ini tak pernah macet, meski ada acara besar didalamnya. Seumur umur tinggal di Dago Pojok, mentok mentok masuk lingkungan Sheraton, ke ATM nya doang. Secara anak kostan ya, mana kepikiran kan buat nginep di hotel kece ini.

Kemudian, @pergidulu nanya, kalau diberi kesempatan untuk #NginepGratisSheratonBdg, Itenary-nya mau kemana?

Mau napak Tilas! ~~~~~\o/

Untuk yang belum tahu, Hotel ini terletak di Jalan utama Dago. Iyes, kawasan yang paling ngehits se Bandung raya. Saya coba lampirkan petanya, ya.

Peta Dago!

Peta Dago.

Jadi tidak perlu khawatir, kalau kamu tidak punya kendaraan atau tidak bisa menyewa kendaraan. Angkot yang melintas didepan hotel ini banyak, sering bahkan nyaris 24 jam selalu ada.

Kalau saya berangkat pagi dari Jakarta, saya tiba di Bandung pukul 11.00 pagi. Dari pool travel di Simpang Dago, saya tinggal naik angkot ke arah Dago Atas. Bisa menggunakan angkot Stasiun Dago/Kelapa Dago/Riung Dago. Hal yang pertama akan saya lakukan, silaturahim ke Ibu kost yang ada di Dago Pojok dan Beli basreng.

Basreng adalah salah satu makanan khas Bandung. Singkatan dari Bakso Goreng. Jadi bakso bulet di potong potong panjang, kemudian di goreng dan diberi bumbu.

Didepan hotel Sheraton, ada Yomart. Disebelah yomart, jalan menuju ke dalam Dago pojok, disitulah saya biasa jajan Basreng ini. Sebuah nya di hargai Rp. 1.000,- jajanan murah enak nikmat.

Sambil menunggu jam untuk check-in, ga ada salahnya memutari kawasan Hotel Sheraton ini untuk foto foto yang kemudian di review di Blog! Mungkin iya, budget hotel ini bukan untuk kantong mahasiswa atau anak kostan. Tapi siapa tahu, bisa jadi referensi untuk suatu hari nanti kalau kita mau honeymoon di Bandung. ihihi. Aamiin kan dulu, yuk! Aamiin.

Menghindari lalu lintas yang padat di sepanjang jalan Dago, saya ingin menghabiskan sore di Taman Hijau sambil melihat kuda. Gimana kalo ke D’Ranch? D’Ranch terletak di Lembang. Kita bisa ngangkot langsung dari depan hotel ini. Naiklah angkot Kelapa – Dago/ Stasiun – Dago/Riung – Dago sampai ke McD Simpang Dago. Dari situ, kita berjalan kearah ITB untuk melanjutkan naik Angkot Cicaheum – Ledeng, sampai ke Terminal Ledeng. Kemudian, naik satu kali lagi angkot, Ledeng – Lembang, sampai Lembang 🙂

Turun deh di perempatan setelah pasar Lembang. Berjalan kaki sekitar 5 menit. Cukup dengan membayar tiket masuk sebesar Rp. 5.000,- termasuk welcome drink susu murni, kita bisa mendapatkan pemandangan ini;

ab

D’ Ranch. \o/

aa

Nikmat duduk sore lepas dari hiruk pikuk padat kota manakah yang kamu dustakan?

Ga cuma mandangin lahan hijau terbentang, dan ngemil ngemil lucu. Di D’Ranch, kita bisa berlatih kuda, menunggang kuda, bermain beberapa kegiatan outdoor. B=)

Malem minggu, rasanya ada yang kurang kalo tidak mencoba mencicipi dinner romantis di The Valley, Dago Pakar. Letaknya? Deket banget sama hotel Sheraton. Ya emang sih, ga bisa naik angkot juga, karena letaknya agak menjorok kedalam. Naik taxi, argo-nya tidak akan sampai Rp. 50.000,- kok. Kapan lagi menikmati citylight kota Bandung dari atas? 🙂

thevalley

Wanna? 🙂

Untuk harga, mungkin agak overpriced, tapi worth it kok dengan rasa dan pemandangan yang kita dapatkan. Bandung, menjadi salah satu kota romantis. 🙂

Minggu pagi, setelah menunaikan ibadah sholat shubuh. Pilihan yang tepat untuk berjalan kaki sampai Taman Hutan Raya Ir. Juanda. Jangan takut kelelahan karena jalan sendirian, banyak kok orang orang yang berolahraga dengan tujuan yang sama. 🙂

Dari Taman Hutan raya, tanggung sekalian bermain dan berfoto di tempat yang lagi nge-hits di Bandung. Tebing Keraton. @pergidulu pernah mengupas how to dan cerita tentang Tebing keraton ini disini.

tk

Lelah berolahraga pagi, kembali ke Hotel untuk menikmati sarapan yang telah disediakan. Bermalas malasan menikmati udara Bandung dan lingkungan Hotel yang menyenangkan. Berenang adalah pilihan yang tepat untuk melatih otot otot kaki dan tangan sebelum melakukan check-out. 🙂

Sebelum kembali ke Jakarta, saya yang suka sekali baca buku, tak akan melewatkan untuk mampir ke Rumah Buku. Sebuah toko buku yang setiap hari selalu ada discount. Terletak di Jalan Supratman. Dari hotel Sheraton, hanya perlu naik sekali angkot jurusan Riung – Dago. Turun di pusdai, kemudian Jalan kaki sedikit. 🙂

Semoga itenary ini cukup untuk membuat saya melepas rindu pada Bandung, dan Dago tempat saya dulu pernah ber-domisili. Kalau kamu? Akan kemana saja jika diberikan kesempatan yang sama? 🙂

Sumber gambar selain doc pribadi;

-http://gambar-rumah.com/attachments/bandung/408961d1365447665-cluster-villa-dago-umaia-kawasan-bandung-utara-peta-dago-umaia-village-1.jpg

-http://www.klikhotel.com/klik/database/property/gallery/48/2-675.jpg

Dieng, Sebuah Negeri di Atas Awan

Saya terbangun, ketika merasakan mobil berhenti. Duduk sebentar mengumpulkan nyawa, serta mencoba menghilangkan sedikit pegal pegal badan. Setelah menempuh perjalanan 10 Jam dari Jakarta. Tibalah kami di Gardu Pandang menuju Dieng. Sebuah Negeri diatas awan kata kebanyakan Orang.

Hai, Selamat datang di Negerti diatas awan.

Hai, Selamat datang di Negerti diatas awan.

Takjub sekali rasanya, melihat pemandangan yang ada didepan mata saya ini. Langit biru, Awan menggumpal dan hamparan hijau menyehatkan mata. Inilah Dieng. Dataran tertinggi di pulau Jawa. Sebagai anak baru Jakarta pada saat itu, yang sehari hari disuguhkan kemacetan dan kebisingan suara klakson kendaraan, melihat Dieng seperti berada dialam berbeda. Berasa, Indonesia. 🙂 Lantas, apa saja yang bisa kita lihat jika sudah sampai ditempat ini? Continue reading

Amazing Marese di Lombok Selatan

SONY DSC

Setelah menimbang nimbang antara snorkeling di Gili atau kembali ke Lombok dan jalan jalan aja di Lombok, akhirnya kami memilih segera pulang ke Lombok 😀

Pukul 12.00 kami sudah sampai di pelabuhan Bangsal, dan memutuskan untuk menghampiri para penyedia mobil sewaan. Sisa waktu yang kami punya hanya setengah hari.

“Kalau aku mau ke Pink Beach sama Pantai kuta, bisa?” tanyaku pada segerombolan bapak bapak penyewa mobil ini.

“Wah jauh itu. Ujung ke Ujung.”

“Yauda deh, yang searah mana?”

“Pantai Kuta, Tanjung An, kalau mau”

Tak ingin membuang waktu, saya iyakan aja rute siang ini menuju Lombok bagian Selatan.Dengan ngawang ngawang disana ada apa aja. Yuwk.

Menuju Lombok Selatan dari Lombok Utara (baca: Pelabuhan Bangsal) membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Saya memilih untuk ngobrol banyak hal dengan si Bapak Supir yang entah siapa namanya itu. Berbeda dengan supir mobil sewaan di Bali, supir di Lombok itu cenderung tidak ramah. Menjawab sekenanya.

“Mau mampir di Desa Sukarare?” ujarnya ketika kami sudah memasuki lombok bagian selatan.

“Boleh” Continue reading

Labun Island, Pulau Galang, Batam

8

Selamat datang di Pulau Galang

Semenjak saya menginjakan kaki di Kepulauan Seribu, saya selalu berfikir. Disekitaran Batam itu ada ga ya, tempat semacam pulau seribu ini. Dimana kita bisa snorkeling, secara kan Batam sekelilingnya laut. Sejauh ini, yang saya tahu cuma Belakang Padang. Itu juga ga bisa dipake snorkeling gitu, kan? Sampai suatu hari..

Salah satu temen nge-share foto tentang Labun Island, Pulau Galang, Batam. Punya kesempatan Weekend Gateway pulang ke Batam dalam rangka menghadiri walimahan sahabat saya, Nadia. Saya pun berusaha mengupayakan untuk bisa mengunjungi pulau ini. Pulau Labun.

Berbekal googling dan mencoba get lost, saya bersama travelmates, adik dan temanya si adik, menghabiskan minggu ke tempat ini.

Pulau ini terletak 90m dari Jembatan 6 Barelang, Pulau Galang. Nah, masuknya melalui pintu sebelah kanan yang ditutup dan digembok pagar besi. Saya baru tahu pada hari itu, bahwa ternyata untuk menuju pulau ini kita harus melakukan reservasi terlebih dahulu. Didepan pagar besi itu, ada sebuah spanduk yang berisi informasi Labun Island, berikut no telepon untuk dihubungi. Beberapa kali kita hubungi, nomernya tidak ada yang merespon. Gambling dong, kita markir mobil aja gitu lempeng didepan pagarnya, sampai (emang dasar rezekinya kita) si pembawa kunci datang untuk membukakan pintu untuk pelanggannya yang baru datang. Saya segera menghampiri beliau sambil bilang, bahwa saya sudah mencoba menghubungi no telepon untuk reservasi, namun tidak bisa. Continue reading

Hutan Mangrove Wisata Alam Muara Angke, Jakarta

Bahwa ternyata, Jakarta tidak hanya ada Mall dan Ancol yang bisa kita kunjungi di akhir pekan. Setelah browsing sana sini, saya menemukan tempat kece untuk menghabiskan weekend di Ibukota. Hutan Mangrove Wisata Alam Muara Angke.

Lokasinya, disekitaran Muara Angke. Tidak jauh dari Waterboom Pantai Indah Kapuk. Harga tiket masuk, sebesar Rp. 25.000,- per orang. Plus, biaya parkir motor sebesar Rp. 5.000,-.

Yang mengejutkan dari tempat ini. Boleh membawa DSLR dengan syarat, bayar Rp. 1.000.000,-. Satu juta rupiah. 😐 Untungnya, untuk kamera handphone diperbolehkan. So, foto foto yang tersedia dibawah, hasil dari kamera hengpong.

Pertama yang saya temui setelah berjalan dari pintu masuk adalah pendopo pendopo lucu ini.

Jpeg

Say Piss!

Kebetulan, saya datang tepat di hari pertama bulan Ramadhan. Jadinya sepi banget. Orang orang memilih untuk santai santai dirumah kali, ya. Serasa jadi tempat wisata sendiri. Bebas ekspresi tanpa antri untuk eksis diri. ihihi.

Continue reading

Kawah Galunggung, Tasikmalaya

Kawah Galunggung

Kawah Galunggung

“Jadi, berangkat kapan, kita?”

Sebuah bbm masuk ketika saya dalam perjalanan Yogyakarta – Jakarta malem itu. Saya emang sedang merencanakan short trip. Kali ini, saya ingin mengajak teman teman terdekat. Maka, yang saya ajak adalah Putri, temen sekamar saya selama di Jakarta. Mumun, teman dekat saya sedari SMA di Batam, Kuliah di Bandung dan kerja di Jakarta. Zen dan Reza, teman jaman saya D2 dulu di Bandung. Teh Dini, teman sekantor ketika di Bandung dan sekantor(lagi) di Jakarta.

“Lusa. Selasa. Pas libur kejepit, ya!” sent.

Berbekal browsing, saya tahu perjalanan ke Galunggung bisa dilakukan dalam one day trip. Kami sepakat untuk memulai perjalanan di malam hari, sehingga bisa menikmati udara pagi dari kota Tasik. Saya baru tiba di Jakarta Senin Pagi. Belum belum unpacking ransel dari perjalanan saya ke Yogya, malemnya saya bergegas untuk packing kilat lagi demi perjalanan ke Galunggung yang akan dilakukan malam itu juga.

Pukul 9, setelah drama berkenalan maya antara Mumun dan Reza, kami ber 6 sudah berkumpul di terminal lebakbulus. Menanti Primajasa Jurusan Tasik. Tujuan kami, Terminal Indihiang.

Lampu bus yang remang remang, sesekali alunan musik dangdut dan suara putri yang berkali kali berteriak, “Mau Bakpia?” sambil mengacungkan sekotak bakpia menemani perjalanan kami malem itu. Selanjutnya, kami tertidur.

Kami terbangun ketika semua orang bergegas untuk keluar dari Bus. Sudah sampai di Terminal Indihiang ternyata. Masih pukul 3 pagi. Kami menepi ke warung yang lampunya menyala. Mengembalikan kesadaran yang masih diawang awang sambil mencomot beberapa gorengan dan minuman hangat.

Adzan shubuh berkumandang dari Mesjid yang terletak didalam Terminal. Disana, kita bisa meluruskan kaki sambil menunggu matahari keluar perlahan.

Continue reading

Ke Pulau Tidung, Masih jaman?

Menginjak kaki ke Pulau Tidung adalah impian saya sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu berlibur ke Tidung sedang hits hits-nya. Saya sempat menunda resign karena mendengar kabar kabur bahwa outing kantor akan bergerak ke sana. Sampai akhirnya saya resign, outing ke Pulau Tidung tak juga ter-realisasi. 😦

Bulan kedua setelah hijrah ke Jakarta, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Pulau Harapan, bulan berikutnya Karimun Jawa, dilanjutkan lagi bulan berikutnya saya menginjakkan kaki ke Pulau Pari. Saya mulai kehilangan selera untuk menginjakkan kaki di Pulau Tidung setelah mendengar cerita para guide di Pulau Harapan dan Pulau Pari kalo Pulau Tidung sudah tidak nyaman untuk didatangi. Setelah mulai lupa pada impian menginjakkan Tidung, mantan kantor saya baru outing kesana. Huh.

Sampai akhirnya di pertengahan 2014, sebuah email masuk dengan subject voting outing 2014. Anyer dan Pulau Tidung. Saya yang sudah pernah ke Anyer, refleks memilih Pulau Tidung dan berharap vote terbanyak ke Pulau Tidung. Kenapa Tidung? Karena saya sudah pernah ke Pulau Pari dan Pulau Harapan 😛 selain itu, karena lebih deket dari Muara Angke.

Awalnya, saya diminta untuk mencari informasi untuk eo yang akan kami gunakan untuk outing kali ini. Dengan pertimbangan ini adalah family gathering, saya tidak merekomendasi eo eo kelas homestay dan harga murmer. Ga apalah agak mahal, yang penting nyaman, dan kami semua menikmati.

Maka, saya mengambil paket di tidungnirwana dengan menggunakan kapal middle class. Engga menyedihkan naik kapal kayu, tidak juga sok gegayaan naik kapal dari marina. Pilihan jatuh pada kapal zahro. Duduk, ber-AC dan nyaman.

Temen temen sempet kaget ketika melintasi kapal kayu yang sudah dipenuhi orang orang ngampar. Mereka mencemaskan diri akan bernasib sama. Haha.

IMG_2515-a

Not Bad, kan?

Dilengkapi TV, Sound System.

Dilengkapi TV, Sound System.

Continue reading

Yang baru di Bandung.

Bandung emang ga pernah ada habisnya.

Saya bersyukur di ‘depak‘ dari Batam ke Bandung oleh Ibu saya. “Mau kuliah dikampus manapun, yang penting di Bandung” Begitu pesannya beliau ke kami, ke-empat anaknya. Bandung itu tempat dimana saya pertama kali ‘lepas dari sangkar’. Meninggalkan rumah, dan memulai hidup mandiri. Pertama kalinya daftar kuliah sendirian (yes, sebelumnya, saya selalu ditemani oleh ayah saya), pertama kalinya hidup nge-kost sendirian (ya meskipun sering sekali dikunjungi oleh Teh Sinta yang kebetulan kuliah di Jatinangor), dan Pertama kalinya saya mulai mengais rezeki untuk menghidupi diri. Semuanya dimulai dari sini, Bandung.

Bandung salah satu kota nge-hits di Indonesia yang terkenal akan berbagai kulinernya yang enak, Wisata alamnya yang luarbiasa, fashion-nya yang berkembang, gaya hidup anak mudanya yang kece sampai ke kasus genk motornya. Dan saya, menikmatinya selama kurang lebih 3 tahun.

Mengikuti perkembangan zaman, Bandung pun demikian, selalu aja ada hal baru yang seru di Bandung. It’s why, saya memilih untuk kerja di Ibukota. Saya masih suka susah move-on untuk jauh jauh dari Bandung.

Baru baru ini, Om Emil (Walikota Bandung sekarang, red) membangun Taman Jomblo di bawah jalan layang Pasopati. Iyes, Taman Jomblo. Taman untuk Jomblo jomblo gitu. Aku mah ga pernah duduk disitu. #GengsiJomblo.

Yang lagi ngehits baru baru ini adalah;

Tebing Keraton

Pertama kali saya tahu tentang ini dari temen pejalan yang ngepost di Grup Whatsapp. Kemudian, saya berkesempatan mengunjungi pertama kali bersama Papa. Best partner of life. Bermodal googling, saya bersama papa selepas Shubuh menuju Tebing Keraton. Letaknya di ujung jalan diarah Taman Hutan Raya Juanda.

Tidak direkomendasikan untuk gembel gembelan (baca: ngeteng naik angkot + Jalan kaki). Jauh banget. Ga direkomendasikan naik mobil juga. Uda paling bener momotoran aja. Akses kesananya jelek banget soalnya.

Halo, Tebing Keraton

Halo, Tebing Keraton

Karena tempat ini sudah mulai nge-hits. Banyak penduduk sekitar yang ngeh. dan bisa nunjukin jalan, kok. Untuk tarif masuknya, masyarakat sini mematok harga Rp. 11,000,- untuk wisatawan domestik dan Rp. 76,000,- untuk Wisatawan asing.

Kenapa tempat ini seru?

Karena dari sini, kita bisa liat pemandangan ini.

Bandung dari Ketinggian

Bandung dari Ketinggian

Sejauh mata memandang hijau, sejuk & Gunung. Tebingnya kecil dan curam sekali. Kita harus hati hati dengan langkah kaki.

20140907_094819 copy

Karena lagi rame-ramenya diomongin, coba kesini pas weekday deh. Biar ga rame aja gitu. Lebih menikmati alamnya.

Pemandangan a long the way.

Pemandangan a long the way.

Bukit Moko

Ada lagi nih. Bukit Moko. Kalau di Tebing Keraton kita engga bisa menikmati dimalam hari, berbeda dengan Bukit Moko. Bukit ini bisa kita nikmati di Malam hari. Lampu lampu bandung akan terlihat dari sini.

Pernah denger Caringin Tilu? Saung makan yang dari situ bisa lihat kerlap kerlip kota Bandung. Nah, Bukit Moko ini jauh di atasnya. Jadi masih keatasnya lagi. Akses jalannya bisa di mulai dari Jl. Padasuka. Patokannya Saung Angklung Udjo. Dari situ, lurus aja terus keatas sampe mentok. Medannya ga lebih berat dari pada ke Tebing Keraton, tapi lebih curam. :’D Namanya juga perjuangan ketempat kece, ya.

Katanya disini bisa menikmati sunset, sayang, pas saya kesana, mataharinya diselimuti mendung. Jadi gagal gitu sunsetnya 😦

Halo dari Bukit Moko

Halo dari Bukit Moko

Ditempat saya berdiri untuk menghasilkan foto diatas, kita harus beli makanan warung gitu deh. Kalo cuma nongkrong doang, dikenakan biaya. hihihi.

Menggenapkan Diri

Menggenapkan Diri

Meja nya dibuat dari bebatuan gitu. Uniknya, karena ini hamparan luas, si pengantar makanan biasanya berteriak ditengah lapangan. “Atas nama Rendra”. Nanti yang namanya Rendra tinggal lambai lambai tangan aja. Yagimana ya, kan ga lucu aja nanti kita ketemu ga sengaja di WC misalnya, “Yang namanya Rendra, yaa” Eeeaaa.

20140906_174344

Kalau malam hari, mau lebih dekat dengan Bintang. Disinilah tempatnya. Menyepilah dan hening sejenak lah ditempat ini. 🙂

Saya yakin, Bandung akan terus berkembang disegala bidangnya. Terlebih dengan oke-nya pimpinan Om Emil untuk membangun kota Bandung. Dan saya, akan terus sering main main ber- Weekend Gateway ke kota ini.

Oh iya, hari ini bertepatan dengan Ulang Tahun Bandung yang ke 204. Happy Birthday. Sst.. Aku jatuh cinta berkali kali padamu, Bandung.

How I Meet Ranukumbolo

IMG_2603

Dear, Sunrise!

 

Aku menyimpan sebuah kalimat di notes BB seperti ini, “Anggaplah sebuah gunung aku memilih mendaki gunung tersebut secara perlahan. Menikmati pepohonan, bunga dan udaranya. Berhenti, walau bukan dititik tertinggi, tapi aku tetap bisa menikmati keindahan”

Aku lupa itu dapet dari mana dan kapan ngutipnya. Yang jelas, pada saat memindahkan tulisan itu kedalam notes yang terfikir adalah proses menuju sukses. Tidak langsung, tidak instan. Proses secara perlahan, menikmati setiap proses nya. Sampai akhirnya, kemarin aku mendaki semeru, aku sepakat bahwa; filosofi kesuksesan itu benar adanya seperti naik gunung.

Entah kenapa, orang orang pada heran ketika aku bilang, aku perempuan satu satunya, diantara 4 lelaki yang hanya 1 orang yang aku kenal. “Yakin engga kenapa kenapa?”, “Berani?” kenapa sih harus mengkhawatirkan hal hal yang sebenarnya bisa kita atasi sendiri, huh. Toh, pada setiap keputusan, apapun itu. Kita harus bertopang pada kaki sendiri bukan?

Mengawali perjalanan dengan berkenalan dengan orang2 yang aku akan menghabiskan waktu bersama mereka kurang lebih 4 hari kedepan.

Dalam hidup, kita akan bertemu dengan orang baru. Berkenalan. Dan seiring jalannya waktu, akan ada hal hal yang terjadi. Berhubungan langgeng. Berteman baik kemudian bertengkar. Bertemu sekali, kemudian lama tidak bertemu dan suatu saat ketemu lagi. It’s called Life.

Malang city tour di hari pertama trip ini berjalan. Mengumpulkan tenaga. Mempersiapkan diri. Bersantai sejenak sebelum akhirnya kita akan mulai berjuang.

Menuju sukses adalah impian semua orang. Buatlah perencanaan yang matang, tarik napas sejenak. Dan bersiaplah menghadapi medan terjang di depan.

Sabtu pagi, kita berlima sudah berada di Pasar Tumpang, meeting point dimana kita akan memulai perjalanan.  Membeli perbekalan. Dan mencari akses informasi bagaimana bisa mencapai ranu pani.

Selalu ada titik start dimana kita akan mencoba berjalan menuju kesuksesan. Dan harus ada perbekalan yang kita bawa untuk mengiringi setiap perjalanan kita. Baik itu berupa ilmu, keahlian, kefasihan dan keberanian.

Di Tumpang, kami berkenalan dengan 4 orang lainnya yang akan mendaki semeru juga. Bersama mereka kami berbagi kendaraan.

Setiap individu memiliki tujuan hidup yang sama. Sukses dan bahagia. Dalam perjalanannya, kita akan bertemu banyak orang yang memiliki tujuan hidup yang sama. Bersama mereka, kita berjalan bersama.

Jadilah, rombongan kami bersembilan. Dan aku, satu satunya perempuan. Paling kecil. Paling muda. Mungkin tampak paling lemah. Menurutku, naik gunung hak siapapun. Ga Cuma laki laki kok yang bisa mendaki. Perempuan juga bisa.

Sukses juga ga melulu milik laki laki. Ga jarang perempuan muda dan tampak lemah bisa sukses juga, sesukses laki laki. Jangan sepele, jendral!

Kita jalan beriringan bersembilan. Dengan sebelumnya berdoa bersama. Memohon perlindungan dan keselamatan sampai berada di ranu Kumbolo.

Mau usaha segimanapun, kalo lupa berdoa, yasudah. Tidak usah terlalu banyak berharap. Sukses dimana mana rumusnya Cuma ikhtiar, usaha dan berdoa. Maka, mulailah segala sesuatunya dengan berdoa. Dengan merendahkan diri dihadapan Tuhan bahwa kita butuh uluran tangan-Nya

Baru berjalan satu kilometer-an, Mas Wimbo ngerasa keberatan dengan bawaannya. Dan dibantu dibawakan dengan mas Iqbal.

Disadari atau tidak, dipundak kita selalu ada beban. Ada tanggung jawab yang kita pikul. Yang selalu kita lupa, disekeliling kita ada orang orang yang mau berbagi beban itu, ada orang orang yang mau membantu kita memikul apa yang ada dipundak kita. Caranya bisa macam macam. Dengan mendengarkan, memberikan solusi bahkan sampai mengambil alih.

“Tidak ada yang kebetulan” Selama perjalanan, kita sangat dibantu dengan adanya 4 orang mas mas yang berbaik hati, dimana mereka sangat sangat open. Ngebantu kita bawa tas, ngasih kita logistic. Ikut duduk bareng ketika kita ngerasa kelelahan.  Dan yang pastinya mengawali kita depan belakang.

Dalam prosesnya, kita akan bertemu dengan senior yang mau mengawasi prosesnya kita menuju sukses. Memberi masukan. Membentengi kita untuk tetap berjalan on track.

Selama perjalanan, kita bertemu dengan banyak pendaki yang akan mendaki dan pendaki yang baru selesai mendaki. Saling bertegur sapa walau tidak saling mengenal. Terkadang kita mendahului orang lain dan sering kali kita di dahului orang lain. Ihihi.

Menuju suksses itu masalah proses dan Waktu. Ada kalanya kita melihat teman kita berjalan didepan, atau berjalan dibelakang kita. Terkadang kita di salip dari belakang, terkadang kita yang menyalip. Semuanya tergantung seberapa besar usaha kita untuk itu. Untuk mendahului. Pada hakikatnya, didahului atau mendahului hanya masalah waktu. Puncak sukses tetap diam disitu menyambut kita kapan saja.

IMG_2650

Selain itu, selama berjalan kita di peringatkan akan adanya lobang di kanan kiri jalan. Akar yang menghalangi jalan. Bebatuan. Tanjakan dan turunan. Komando biasa datang dari orang terdepan yang diteruskan sampai belakang. Mas Rizqi & Mas Wimbo yang mau memegangi, memberikan tangannya, menjaga. Mas Juki, yang senantiasa memberi informasi kepada Mas Iqbal, yang mengulurkan tangannya ketika menanjak. Mengawasi ketika turunan. Disana, aku melihat persahabatan itu seperti apa.

Jangan pernah takut kita berjalan sendirian. Akan ada orang orang yang mau mengulurkan tangannya ketika kita butuh bantuan. Akan ada orang orang yang senantiasa ngasi warning ttg segala sesuatunya. Akan ada sahabat dimana tulus untuk ngebantu dan nerima kita apa adanya. Pasti ada.

Perjalanan mencapai tujuan akhir kami Ranu Kumbolo menghabiskan waktu 8 jam. Yang seharusnya 3-4 jam. Bahkan ada yang 2 jam sudah nyampe. Mungkin kami terlalu banyak beristirahat. Mungkin kami kelelahan dengan barang bawaan kami. Mungkin kami kaget dengan medan yang kami hadapi.

Semuanya kembali lagi hanya pada masalah waktu. Mau cepat atau lambat, bagaimana prosesnya. Ketika kita melihat teman kita sukses dalam waktu lebih cepat. Mungkin mereka emang berjalan cepat. Meminimalisir istirahat. Sudah mengetahui medan terjang. Kita yang lama? Tidak perlu menyesal. Nikmati setiap proses yang sedang kita hadapi. Pada akhirnya, kita akan merasakan moment Indah pada waktunya. 🙂

Ranu kumbolo menyambut kami pukul 10 malam. Dengan hamparan tenda, beberapa lampu teplok dan ribuan bintang indah di langit. Buyar sudah kelelahan selama perjalanan. Indahnya alam. Dinginnya udara. Aku, sangat menikmatinya.

Indah pada waktunya itu emang benar adanya. Ketika itu, terbayar sudah peluh selama menjalani prosesnya. Akan ada saatnya kita mencapai titik klimaks. Mencapai titik dimana kita menikmati jerih payah kita. Menghela napas lega, sebelum akhirnya meninggalkannya.

Aku memilih untuk menghangatkan badan sebentar sebelum kembali ke tenda untuk istirahat. Menikmati hamparan bintang. Kalo bisa tidur beratapkan langit, beratapkan langit dah. Di tengah malem, aku serasa mau mati kedinginan. Sudah menambah jaket. Sudah menutupi leher dengan pasminah. Dan masih kedinginan. Aku membuka tenda memanggil Mas mas sebelah. Tidak ada yang menyahut. Aku terjaga beberapa menit mengkhawatirkan diri sendiri. Takut tetiba mas mas yang bising ditenda sebelah masuk tiba tiba. Sampai akhirnya aku tertidur lagi.

Ada saatnya nanti, kita Cuma bisa berharap pada diri kita sendiri. Bertopang pada kaki kita. Meminta bantuan tapi tak direspon. Butuh teman tapi tak ada. Saat itu, ingatlah ada Allah lebih dari cukup. Lebih dari cukup.

Hi, Ranu Kumbolo! :)

Hi, Ranu Kumbolo! 🙂

IMG_2572Jam 10 pagi keesokan harinya, kami memilih untuk bergegas kembali ke Ranu Pani. Menyelusuri jalan setapak kembali. Dan ternyata, begitu indahnya alam yang kami lewati. Pemandangan yang semalem terlewatkan karena hari sudah gelap. Serta perasaan tidak menyangka bahwa yang jalur yang kami lalui cukup curam. Jurang, air dan halangan lainnya selama di perjalanan.

Kelak ketika kita sudah kembali. Kita baru ngerasain bagaimana proses yang kita jalani menuju puncak. Terkadang kita terlalu focus untuk mencapai titik puncak sampai melupakan bagaimana kita melewatinya. Nantinya, kita jadi kangen gimana proses menuju puncak itu. Dan ingin mengulangnya kembali. Tapi sayang, waktu tak akan pernah mau berulang.  

Sad to say goodbye.

Sad to say goodbye.

Dangerously Beautiful Indonesia

Dangerously Beautiful Indonesia

Menghabiskan waktu di Ranu Kumbolo ngebuat aku berfikir proses menjalani hidup. Bahwa ternyata, mendaki gunung itu benar seperti menapaki karir dan impian dalam kehidupan. Ada kesinambungan proses di antara keduanya. Aku tentu belajar banyak hal, dari perjalanan kemarin. Tentang pertemuan, persahabatan, kesetiakawanan, kemandirian dan perpisahan. Dari semuanya, aku bersyukur. Bersyukur mendapat ilmu dari Alam tentang kehidupan.

Finish Line.

Finish Line.

PS. Tulisan ini pernah ditulis dan dipublikasikan di sini.

Tentang Bandung, Bromo dan Bali

Sebagai manusia yang merasa perlu membaca majalah wanita sampai hari ini, saya meminjam majalah Cita Cinta milik rekan kantor. Didalamnya, tak sengaja ketangkap mata cuplikan perkataan dari seorang travel blogger, Claudia Kaunang.

“Sebelum menjelajah Luar negeri, kunjungi 3B. Bandung, Bromo dan Bali. Bandung dikenal dengan kuliner, tempat belanja dan Wisatanya. Bromo dikenal dengan keindahan panorama alam gunung dan Bali, tentu saja dikenal dengan keindahan pantainya.”

Dulu dulu banget, saya pernah nge-tweet kira kira seperti ini, “3 kota yang saya rekomendasikan untuk #solotraveling pertama kali; Bandung, Yogya dan Bali” Kenapa saya tidak merekomendasikan Bromo? Ngetrip ke Bromo ga bisa sendirian, minimal berlima lah. Karena kita kudu nyewa jeep. Ga ada angkutan umum. Kecuali kalau touring ya, momotoran gitu.

.. and here we go!

BANDUNG

Saya berterimakasih sekali kepada ibu yang telah ‘melempar’ saya dari Batam kemari untuk menempuh pendidikan setelah SMA. Menghabiskan waktu 3 tahun bikin saya jatuh cinta sama kota ini berkali kali. Apa ya.. kota ini romantis. Udaranya sejuk. Hiburannya banyak. Kulinernya segala macam ada. Tempat belanja? Dari factory outlet, deretan distro sampai pasar pagi Gazibu semuanya bikin nagih. Wisata? Dari ujung ke ujung terbentang.

Cuma di bandung, naik angkot isinya akang akang kasep sama neng neng geulis. :p Cuma di Bandung, sepanjang jalan Dago dimalam minggu bertebaran mahasiswa kece ngamen dan jualan bunga. Cuma di Bandung, gandengan tangan jalan kaki dari Stasiun sampai jalan merdeka ga berasa capeknya. Eeaa. Kotanya nyenengin banget deh. Terlebih sekarang dipimpin oleh kang Emil yang sangat ‘mendengar’ suara rakyat. Sampe niat dong, bikin taman Jomblo di bawah jembatan Pasopati. :)))

Camping Ground, Cikole Lembang

Camping Ground, Cikole Lembang

Kebun Teh, Ciwidei

Kebun Teh, Ciwidei

Kawah Putih, Ciwidei

Kawah Putih, Ciwidei

Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Kawah Gunung Tangkuban Perahu

Saung Angklung Mang Udjo, Bandung

Saung Angklung Mang Udjo, Bandung

BROMO

Saya berterimakasih pada maskapai tigermandala (–uhuk, yang kini sudah pailit) pernah memberikan promo JKT – SUB dengan harga Rp. 236,000,– pulang pergi 😀 Karenanya, saya bisa menginjakkan diri di Ranukumbolo dan menyempatkan melanjutkan perjalanan sampai Bromo.

Decakan kagum pertama kali melihat gimana serunya ngeliatin matahari keluar dari peraduannya. Subhnallah berkali kali ketika melihat kawah Bromo. Mampir ke Area Pasir berbisik dan Bukit Teletubbies. Beneran deh, Bromo emang luar biasa.

Golden Sunrise di Pananjakan, Bromo

Golden Sunrise di Pananjakan, Bromo

Gunung Bromo

Gunung Bromo

Pasir, dengar bisikku kah?

Pasir, dengar bisikku kah?

I Run To You!

I Run To You!

IMG_2984-aBALI

“Where are come from?” | “Indonesia” | “Wow. Bali!” Setiap bule yang ga sengaja nanya kita berasal darimana, pasti taunya kalo Indonesia = Bali, huh. Tengs to God, too, saya bisa nginjek icon of Indonesia ini sekeluarga untuk pertama kali. Ke Bali tanpa main watersport itu sayang banget. Makanya, mending nabung bener bener dan abisin bener bener deh disini. Gembel ke Bali tanpa nyobain mainan laut ini asa kumaha kitu.

Selain lautnya yang sudah tidak ada tandingannya lagi. Langitnya itu loh. Mau hujan gimana juga di Jakarta, di Bali langitnya tetap cantik. Sunsetnya euh. Nagih.

Sampai saya mau bilang terimakasih citilink untuk tiket promo Rp. 144,000,- pulang pergi JKT – DPS sukses membuat rindu saya kemBALI terpuaskan. Kali kedua, saya pergi seorang diri. Mencoba melangkah diatas kaki sendiri tanpa travelmates. Sukses? Sukses dong!

Flying Without Wings

Flying Without Wings

woho! Diving!

woho! Diving!

Say Hi, dari Bali!

Say Hi, dari Bali!

Ubud dalam episode #solotraveling #kemBALI

Ubud dalam episode #solotraveling #kemBALI

Golden Sunset, Jimbaran, Bali

Golden Sunset, Jimbaran, Bali

Karena syarat 3B telah kupenuhi, maka, luar negeri yang akan aku jelajahi adalah .. Mekkah! Pengen banget nginjek Mekkah. Boleh minta Aamiin? 🙂