Category Archives: Traveling

[Sibling’s Time] Pantai Vio-Vio, Batam, Kepulauan Riau

Kemana kamu pergi di awal tahun ini? Kalau saya, Pulang kerumah. Saya berinisiatif mengajak serta kakak semata wayang. Karena beliau sudah memiliki seorang putra, saya yakin perhatian ibu saya akan kapan saya kasih mantu, akan teralihkan pada cucunya. 😀 *senyum jahil*

Ibu saya engga tahu, kalau saya pulang bersama anak sulung & cucunya. Yang beliau tahu, saya pulang seorang diri (meski berharap saya mengenalkan calon). Dan Suprised dong. Ibu saya terharu menyambut kami didalam mobil. Berkali kali cucunya diciumin dan saya sukses dicuekin. deuh.

Setelah hari pertama dirumah saya habiskan dengan istirahat total, kemudian keesokan harinya mengajak kakang bermain di Mall, hari ketiga saya pengen banget mantai. Setahun yang lalu, saya nyempet-nyempetin banget buat ke Pulau Labun, Tahun ini saya ngajakin kakak, adik & keponakan ke Pantai Vio-vio. Kebetulan jagoan-jagoan saya juga belum pada pernah.

20160103_181510

Pantai Vio-vio ini terletak Setelah Pantai Melur. Design papannya lucu, penuh cerah ceria. Dalam papannya sih, menjajikan Pantai cantik. Haiklah kita lihat. Continue reading

Tips booking online hotel Ala Nia

Bagi saya, bagian paling menyenangkan disetiap rencana perjalanan adalah bikin itenary dan menentukan tempat menginap. Berasa jalan-jalan duluan, gitu.

Nah, dari kedua item tersebut, yang paling menguras tenaga mencari penginapan. Kalau tempat wisata mah, gampang ya. Tinggal ketik di browser. Kemudian, baca-baca deh pengalaman orang. Cari tahu bagaimana aksesnya, selesai.

Tapi nyari penginepan? Butuh analisa panjang. Menurut saya, ya.

Nah hal-hal yang saya lakukan untuk mencari penginapan versi saya sbb;

  • Ketik kota hotel + nama kota di kolom browser. Misal; hotel nyaman di Semarang blog. Saya selalu menambahkan kata blog biar dibantu ke review orang di blognya. Baca baca deh detail pengalamannya.
  • Buka website-nya. Banyak hotel yang menyediakan fasilitas ini. Dari situ, kita bisa berselancar di Gallery. Tipe room. dsb.
  • Setelah liat open new tab buat liat bermacam-macam pilihan yang ada. Mulai naksir kan ya. Jangan lupa, cari yang lokasinya tidak jauh dari tempat acara kita. Meminimalisir akomodasi 😀
  • Sebelum lihat rate-nya, saya biasanya ketikkan lagi nama hotelnya doang di browser. Make sure, hotelnya ga berhantu. Dan bukan hotel remang remang. haha. Itu doang sih 😀
  • Setelah punya pilihan hotel yang kira-kira kita sukai, saatnya liat rate. Dengan hotel yang sama, saya buka di Traveloka, tiket.com, klikhotel.com, pegi-pegi, agoda.com. Ribet? iya! Eh ada lagi, saya juga bisa buka di Traveloka app & Tiket app. 😀 Soalnya masing masing itu suka punya promo masing-masing. Bisa jadi harganya sama, tapi karena ada promo jadi melonjak turun. Atau, di si A harga tercantum all include, di tempat B masih belum termasuk pajak dll.
  • Selesai disini? Engga dong. Setelah ketemu harga paling oke, dengan hotel paling oke. Saya sih lebih sering ‘iseng’ dengan nelepon langsung ke hotelnya. Nanya, public rate-nya berapa. Saya pernah beli voucher hotel di semacam livingsocial/groupon untuk hotel di Bali. Kemudian ketika check-in, saya lihat harga on the spot-nya, 3x lipat aja dong. Sebagai perempuan saya merasa berhasil menjadi wanita. Atau pernah juga, familytrip ke Bintan, karena mendadak, saya ga mesen dulu via web. Kami menginap di salah satu resort, yang besokannya saya tahu harga di agoda lebih mahal daripada harga on the spot. 😀 Anaknya perhitungan.
  • Setelah itu, baru deh bisa mutusin mau beli lewat booking online atau langsung saja on the spot. Dengan konsekuensi ya, ots bisa jadi ga dapet kamar. Apalagi kota besar. Apalagi peak season. Semuanya pilihan. 🙂
  • Nah, selain mandiri nyari, seringkali saya juga dapet rekomendasi. Seperti menginap di Yogya & Singapore. Setelah dapet rekomendasi, mengulang seperti tahapan no.5. Perbandingan harga. 😀

Continue reading

Filosofi & Jelazah Gizi dari sebuah Rendang

552a0fd86ea83406668b4567

Ada yang pernah menonton film Cita-citaku setinggi tanah? Adalah Agus salah satu Pemain Utama dalam film itu, kebingungan ketika disuruh menyelesaikan tugas sekolahnya; mengarang tentang Cita cita.

Ketiga sahabatnya bercita cita seperti kebanyakan anak lainnya; Sri ingin menjadi artis, Jono ingin menjadi tentara, Puji ingin membahagiakan orang lain. Sementara Agus? Cita citanya sederhana. Ingin makan di restoran padang. :’) Ayahnya hanyalah seorang kuli di Pabrik Tahu, sementara Ibunya ibu rumah tangga yang mahir dalam membuat tahu Bacem. Bagi Agus, makan di restoran padang itu keren. Kita akan diperlakukan bak Raja. Semua makanan disajikan didepan mata. Jika kita butuh apa-apa, tinggal menunjuk jari, maka pelayan akan menghampiri kita.

Agus berusaha keras untuk memenuhi cita citanya ini, ia membantu ayahnya, berjualan, merepotkan semua teman temannya, demi menikmati menjadi raja disebuah restoran padang.

“Cita citamu itu rendah, tapi bikin susah” begini celutuk salah satu sahabat Agus. 😀 Continue reading

Brown Canyon, Semarang & Klikhotel.com

Bagi saya, Semarang punya kenangan tersendiri. Pertama kali saya melakukan #BirthdayTrip ya ke Semarang. Kemarin, ketika Kelas Inspirasi membuka kelas di Semarang, saya cus langsung daftar. Alasannya sederhana, pengen napak tilas. Kangen makan bakso gimbal. Rindu simpang lima, dan jalan santai disepanjang jalan Pandanaran. 🙂

Setelah briefing Kelas Inspirasi Semarang di salah satu hotel di Kota Semarang, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu tempat wisata baru di kota bakso tahu, ini. Guess where?

Brown Canyon!

Saya diantar dan ditemani oleh Kanjeng Mas dan temannya. Saya baru tahu tempat ini beberapa minggu belakangan, setelah tidak sengaja membaca salah satu halaman di majalah.

Brown Canyon berada di daerah Rowosari Mateseh Tembalang, Semarang. Agak lumayan jauh sih yaa dari pusat kota. Tapi karena kita momotoran, berasa dekeeuut. Konon katanya, Brown Canyon ini seperti Green Canyon di Amerika. Bedanya? Disini cokelat dan berdebu 😀

Kami tiba sekitar pukul 4 sore, dimana awan sedang cerah-cerahnya & debu sedang bertebangan.

Whoah!

Whoah!

Jadi tempat ini tuh, sebenernya sih ya bukan tempat wisata. Bukit yang sedang digarap penambangannya namun tak kunjung selesai. Eh ditilik tilik malah bagus buat popotoan 😀 Tebing tebingnya menjulang tinggi. Pemandangan dari atas, bisa melihat sedikit panorama kota.  Continue reading

Dibawah langit Ibukota.

20140412_110443-a

Dulu, kerja di Jakarta engga banget dalam pikiran saya. Ngapain? Menenggelamkan diri dikemacetannya yang naudzubillah itu. Dan Tuhan ‘menyentil’ ucapan sombong saya itu. Sampai pada akhirnya, saya jadi budak ibukota.

Pelan tapi pasti, saya menghabiskan waktu di Jakarta. Awalnya saya senang. Saya bersenandung bahagia sambil jalan kaki dari kost-an ke kantor. Selama saya tidak menikmati macetnya, saya dan Jakarta baik baik saja.

Setahun berselang, saya pindah kerja, dimana menuju kantor baru itu mengharuskan saya naik Kopaja sebagai moda transportasi. Saya mulai merasakan sensasi aneh aneh. Macet tanpa ampun dikala hujan. Tangan tangan tak terhindarkan yang tiba tiba nempel di badan. 😦

Dilain waktu, saya yang sedang membawa barang sumbangan untuk para korban banjir, malah menjadi korban pencopetan didalam kopaja. Jakarta keras? banget! hiks.

Disisi lain, disinilah pertama kali saya nonton standup comedy secara langsung. Mendatangi Jakarta Book Fair. Mengunjungi tempat-tempat wisata. Mencicipi aneka makanan khas Nusantara. Nawar baju sampai puas di Tanah Abang. Ngubek ngubek toko buru nyari buku. Sempet ikut ngeksis dan ngerasain syuting sinetron Ramadhan. Mengikuti event event kece yang ilmunya banyak banget. Nongkrong nongkrong di tempat-tempat gaul yang suka masuk majalah nasional.

Kesemuanya itu belum tentu saya dapetin jika saya berada diluar Ibukota.

Jika sekarang saya hanya memiliki waktu 24 jam untuk menyusuri Ibukota (yang dulu saya benci kemudian saya cintai); Maka, saya akan kembali ke tempat-tempat yang bagi saya penuh kenangan ini.

Hutan Mangrove

Tempat wisata ini berada di Utara Jakarta, pantai Indah kapuk. Tempat inilah yang menjadi saksi saya dan Dia menikmati sisi lain kota Jakarta selain Monas dan Kota Tua. Semestakung dengan tiba tiba aja saya ketemu gumpalan balon, yang kemudian saya jadikan teman untuk berfoto. Sayangnya, jika kemari membawa kamera DSLR, dikenakan tarif khusus sebesar 1 juta rupiah. 😐

Continue reading

Menyusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh (3)

Setelah diantar ke Mesjid Raya Baiturrahman, Kapal Apung PLTD dan Museum Tsunami yang saya ceritakan disini, selanjutnya Abang Rollis mengantarkan kami ke tempat lain

“Abang tahu Pantai Lampuwuk? Jauh engga?” Tanya Febby pada Bang Rollis.

“Jauh sih.” Jawabnya

“Seberapa jauh?” sambung saya.

“Setengah jam-an deh kayanya.”

itu mah deket >,<‘

12.30 – 13.00 : Sholat Dzuhur di Mesjid Lhoknga

Maka, Jomlah kami menuju Pantai Lampuwuk, sebelumnya kami menyempatkan diri untuk sholat di hmm, sebelumnya, ada yang inget dengan mesjid ini?

Replika Mesjid yang tetap berdiri kokoh di Ule Lhee

Replika Mesjid yang tetap berdiri kokoh

Selain mesjid Baiturahman, mesjid ini juga rame banget diberitakan di Media Elektronik & Media Masa. Ya gimana ya, bangunannya utuh, sekelilingnya hancur lebur. Kita akan menemukan mesjid ini dalam perjalanan menuju Pantai Lampuwuk.

FullSizeRender(4)

Mesjid Rahmatullah, Kecamatan LhokNga.

Jadi, masih menurut cerita Abang Rolis, dulu ini Lhoknga ini kawasan padat penduduk. Setelah tsunami, atas bantuan negara turki lah, mesjid ini diperbagus, beberapa rumah penduduk dibangun, tapi ya ga sama seperti dahulu.

Jadilah menuju pantai, hanya dedaunan yang kami temui, jarang sekali menemukan rumah penduduknya. Dan inilah, pantainya! Kece!

13.00 – 15.00 : Tidur siang di Pantai Lampuwuk.

IMG_8079

Vitamin-Sea!

Well, kenapa cantik dan bersih lagi sepi? Karena ini bulan puasa. Ngiahaha. Hanya orang salah liburan seperti kamilah, yang berada di pantai ditengah cuaca yang panasnya ampun ampunan. 😀

Kosong.

Kosong.

Yang saya lakukan di sini, baca buku dan tidur siang. Ngiahaha. Seriusan, karena tempat tujuan yang ingin dicapai sudah habis, kami hanya menunggu waktu berbuka. Maka, kami menyempatkan diri untuk tidur siang dimari. 😀

Kalau kebangun, pemandangan yang dilihat ini;

IMG_4522Kemudian, tertidur lagi. Merasa pegal, duduk dan berjalan sedikit, pemandangannya ini;

IMG_4524Buat saya yang selama 7 tahun tinggal di Lhokseumawe, dan rumah saya persis diseberang Laut. Melihat pemandangan ini itu, seneng seneng seneng banget! Semacam kenangan masa kecil yang terkuak kembali. ceileh. 🙂 Alhamdulillah.

Sedari di Mesjid Lhoknga, saya sudah bilang pada Abang Rollis bahwa kami tidak menjamakkan sholat, sehingga minta diajakin untuk Wisata Mesjid sekalian. Ketika waktu sholat tiba, kita sholat saja di mesjid yang kita sedang atau akan lewati. Eh ilalahnya, pas adzan ashar, pas kami melintas di Ulee Lheue.

15.30 – 16.10 : Sholat Ashar di Mesjid Baiturrahim, Ulee Lheue

IMG_4547Ulee Lheue juga salah satu bagian terparah ketika tsunami tiba, ia berbatasan langsung dengan pantai. Ada 3 mesjid yang tetap berdiri kokoh ketika tsunami sementara disekelilingnya hancur lebur, yang Alhamdulillahnya ketiganya berhasil kami sambangi seharian ini. 🙂

IMG_4543 copy

Mengingatkan pada film Negeri 5 Menara.

Sebelum berburu takjil dan mencari tempat untuk berbuka puasa, kami masih diantar ke satu tempat lagi. guess where?

16.10 – 17.30 : Kapal diatas rumah Lampulo.

Dalam sejarahnya, kapal ini tadinya sedang berlabuh. Dan ketika tsunami datang, kapal ini terhempas mengikuti aliran air. Berkat kapal ini, ada 59 orang yang selamat dari musibah tsunami. Subhanallah ya. Kalau emang sudah ajalnya, mereka menemui ajalnya, jika belum, ada aja cara Allah mengirimkan ‘bantuan’. Masya Allah.

Perjalanan kali ini, buat saya sesuatu sekali. Hati bergetar berkali kali. Bersyukur dan mengagumi kebesaran Allah yang tiada tandingannya. Satu pertanyaan besar saya, mengapa Aceh bisa secepat ini ‘recovery‘ nya? Dalam menuju 11 tahun pasca tsunami, Aceh mengalami perkembangan luar biasa. Tatanan kota hampir sempurna. Dijawab lugas oleh Abang Rollis, bahwa Aceh masih punya Sumber Daya Alam yang menjajikan. SDA yang tentu saja diincar oleh negara luar. Jangankan membantu membangun kembali, teknologi negara asing saking canggihnya, sehari setelah kejadian tsunami, kapal asing yang berfungsi sebagai rumah sakit sudah menepi di Banda Aceh, dimana kita sendiri penduduk Indonesia masih bingung nyari akses menuju lokasi. Dokter dokter dan bala bantuan dari luar negeri sudah terlebih dahulu standby. Ah, entah untuk apapun itu, terimakasih banyak ya para relawan luar negeri untuk bumi saya, bumi pertiwi ini. 🙂

Menyusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh (2)

Bus yang kami tumpangi memasuki Terminal Banda Aceh, kemudian berhenti. Berbeda dengan di Medan, bus ini kami naiki tidak dari Terminalnya, melainkan dari Pool Sempati Star-nya. Tampak semua orang menuruni bus ini, kamipun ikut ikutan turun. Seperti halnya terminal bus, sudah banyak abang abang ojek yang menyambut kami di pintu bus. Saya menggandeng Febby untuk mencari konter penjualan tiket Sempati Star terlebih dahulu. Untuk memastikan tiket pulang kami yang masih di hari yang sama. Ya, kami tidak menginap di Banda Aceh.

Berkat bantuan si penjual tiket, saya dihampiri seseorang yang katanya akan menemani perjalanan kami hari itu. Saya dan Febby memilih untuk menyewa mobil satu hari. Ia, yang kemudian saya tahu namanya Rollis, mematok Rp. 500,000,- untuk all day tour termasuk bensin dan supir. Saya tawar Rp. 400,000,- kemudian kesepakatan terakhir di Rp. 450,000,- 🙂

Hari masih pagi, pada saat itu pukul 9 pagi, saya meminta diantar ke Mesjid Raya Baiturrahman terlabih dahulu. Sekalian ingin mandi mandi.

09:00 am; Mesjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Kota ini (baca: Banda Aceh) kota sepi, setidaknya jalannya tidak seramai Ibukota, saya tidak menemukan kemacetan. Melihat Mesjid Raya dari jauh, ingatan saya kembali ke 11 tahun silam, dimana mesjid ini selalu ada dilayar televisi & digadang gadang sebagai mesjid yang tetap berdiri kokoh ketika tsunami menghantam. Disana, saya menumpang mandi dan menunaikan sholat Dhuha. Memasuki area dalam mesjid, hati saya gemeteran. Tempat inilah yang 11 tahun lalu dipenuhi mayat korban tsunami. Penuh sumpek karena semua orang berusaha mencari sanak saudaranya ditempat ini.

IMG_4418

Saksi bisu..

Sayup sayup terdengar suara anak anak yang pada saat itu sedang mengaji. Saya bersujud sekali lagi.

Mesjid Baiturrahman

Mesjid Baiturrahman

Continue reading

Menyusuri Jejak Tsunami di Banda Aceh

Saya bangga pernah menghabiskan masa kecil di ujung pulau Indonesia. Lhokseumawe, Aceh Utara, Nanggroe Aceh Darussalam. Ayah saya ditempatkan disana oleh kantornya, yang membuat kami sekeluarga pun ikut serta. 7 tahun kami menghabiskan waktu di kota kecil itu, sampai akhirnya Ibu meminta ayah pindah, karena pada saat itu situasi mulai tidak aman terkait banyaknya oknum GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

Kami pindah ke Batam, Kepulauan Riau pada pertengahan tahun 2001, 3 tahun kemudian, pada tahun 2004, terjadi bencana besar di Aceh. Tsunami. Bencana alam yang mengakibatkan 230 ribu manusia kehilangan nyawa. Keluarga saya tentu saja bersyukur, bahwa kami merasa ‘diselamatkan’ dari bencana itu. Namun, masih banyak teman teman/tetangga kami yang terjebak disana. Salah satunya, tetangga dekat kami ketika di Lhokseumawe. Pada saat kejadian, mereka sekeluarga sudah berdomisili di Banda Aceh, tempat dimana Tsunami terjadi. Bayangkan paniknya kami ketika itu, semua nomor posko yang tertera dilayar televisi kami hubungi, tak sekalipun kami berkesempatan berbicara, karena nomor itu selalu sibuk. Ayah saya tak kehabisan akal, beliau mengubek ngubek semua buku agendanya, mencari nomor lain yang bisa dihubungi, ketemulah nomor orangtua dari tetangga kami tsb yang berdomisili di Medan. Continue reading

Napak Tilas (Wisata) Jawa Tengah.

“Nia, kamu asli mana?” Pertanyaan yang sering sekali saya terima.

“Hmm.. Saya lahir di Jawa Tengah, Ayah kelahiran Jawa Timur, Ibu kelahiran Jawa Barat. Yes, saya jawa tulen.”

“Jawa nya neng di?”

“Purwokerto. Hehe, tapi saya hanya numpang lahir. Masa kecil saya dihabiskan di Lhokseumawe, Aceh Utara. Masa Remaja di Batam, Kepulauan Riau. Kuliah di Bandung. Lantas kerja di Jakarta. Saya sukses ga bisa bahasa Jawa.”

Setelah lulus kuliah, saya bertekad untuk kerja di Jakarta, untuk mengejar pendapatan yang cukup dan kemudian Jalan jalan. Semesta mendukung. Saya menjelajah.

karjaw

Perjalanan pertama saya ke Jawa Tengah dari Jakarta adalah ke Jepara. Tujuan akhirnya Karimun Jawa. Saya menggunakan moda transportasi Bus. Perjalanan ditempuh selama 14 Jam. Tidak akan bosan, karena selama perjalanan disuguhi pemandangan ciamik.

Karimun Jawa ditetapkan sebagai Taman Nasional dimana kita bisa menikmati keindahan bawah laut. Menikmati terumbu karang yang berwarna warni. Menikmati tenggelamnya matahari dari atas kapal. Duduk bersenda gurau di Alun alun Karimun Jawa, menghilangkan segala kepenatan atas rutinitas yang ada. Bertemu teman baru, menghabiskan waktu dengan nyebur ke laut. Menyenangkan! 🙂

Untuk kamu yang ingin juga menikmati pesona karimun Jawa, PT Pelni membuka paket wisata bahari ke Karimun Jawa lebaran nanti. Check this out! Continue reading

Ngawang ngawang di Pahawang.

si Negara Kepulauan.

si Negara Kepulauan.

“Mik, mau ke Pahawang?” Sebuah whatsApp masuk atas nama Firda.

“Mauk.”

Yes, meski harus nunggu 2 bulan, saya berangkat juga ke Pulau Pahawang. Kenapa pengen? Pengen nyobain nyebrang ke Pulau Sumatera. As simple as that. 🙂 Biar salah satu resolusi 2015 nya terceklis gitu.

Seperti biasa, ini adalah trip Weekend Gateway saya menghibur diri melepas penat Ibu Kota. Dimulai dari Jumat malam dan berakhir pada Minggu malem. Rutenya akan seperti ini. Slipi – Pelabuhan Merak – Pelabuhan Bakahauni – Pelabuhan Ketapang – Pulau Pahawang.

Saya yang masa kecilnya akrab dengan kapal laut, tentu seneng banget naik kapal laut lagi. Kapal gede pula. Tadinya mau menikmati perjalanan, apa daya, lelah lebih menguasai jiwa. Tidur deh sepanjang menyebrang. Pukul 3 pagi, kami yang berjumlah kurang lebih 20 orang dengan sebagian besar diantaranya berpasangan, tiba di pelabuhan bakahauni. Disambut berbagai macam teriakan ala preman menawari kami untuk menaiki bus dan mobilnya. Calo calo gitu. Dan entahlah, logat sumateranya bikin saya serem.

Dari Pelabuhan Bakahauni, masih membutuhkan waktu sekitar 3 jam untuk sampai pada Pelabuhan Ketapang. Kita naik mobil APV, disetiri oleh supir Sumatera yang dengan wajah tak berdosa nya mengaku belum tidur, dan dengan bangganya meminta izin untuk menyalakan musik full dangdut disertai video perempuan menari menari berbusana mini. 😀

Pukul 7 pagi, kami tiba di Pelabuhan Ketapang. Mencari sarapan dan berganti baju karena agendanya akan langsung snorkeling sebelum mencapai Pulau Pahawang. Continue reading