Author Archives: alaniadita

Unknown's avatar

About alaniadita

Hallo, I'm Nia. Blogger based in Depok, Indonesia. Love to do traveling & Social Activities. For review and advertorial, feel free to catch me on alaniadita@gmail.com :)

Tentang Kekerasan pada Perempuan dan Anak.

“Mah, selama ini Nurul merasa hidup nurul baik-baik saja. Karena jujur, dari kecil sampai hari ini Nurul merasa tidak ada yang aneh selama menjalani hidup. Masa kecil yang bahagia, masa remaja yang seru, dan masa-masa kuliah yang menyenangkan. Mulai TK sampai SMA, papa selalu dengan setia mengantar sampai gerbang sekolah. Kuliah, meski jauh dan menjadi anak rantau, selesai juga dengan baik meski jungkir balik.”

Saya membuka obrolan pagi tadi bersama Mamam di Dapur. Saya baru saja memasak air untuk mandi, sementara mama duduk disebelah meja makan memperhatikan gerak gerik saya. Mama masih diam, seolah tahu kalimat saya belum selesai.

“Tapi ternyata, Negeri kita sedang tidak baik-baik saja. Kemarin Nurul ikutan Workshop tentang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Banyak fakta mencengangkan yang membuat Nurul bergidik dan jadi ngelamun mikirin ini itu. Nurul baru tahu, bahwa Indonesia menjadi penyumbang video pedofil terbesar kedua dan tujuan wisata seks pedofil pertama di Dunia. Banyak kasus pelecehan pada anak karena orang dekat, banyak perempuan di hujat dan dibully oleh perempuan lainnya yang kebanyakan tidak saling mengenal.”

Jadi ceritanya, Minggu lalu saya menghadiri kegiatan dari serempak.id (Website seputar perempuan dan anak), inovasi yang dikembangkan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan – Perlindungan Anak (KPP-PA) bekerja sama dengan IWITA (Indonesia Women IT Awareness), Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi
telah diberi kehormatan oleh KPP-PA menjadi mitra pengelola website Serempak.

Hadir sebagai pembuka Sri Danti, Plt Deputi Bidang Kesetaraan Gender KPPPA dan narasumber diantaranya; Ratna Susianawati selaku Asdep Bidang Infrastruktur dan Lingkungan KPPPA, Martha Simanjuntak selaku Founder IWITA, Ina Rachman selaku advokat & aktivis Perempuan, dan Maman Suherman selaku penulis.

https://www.instagram.com/p/BcG161EhYJN/?taken-by=alaniadita

Menyoal kasus perempuan yang belakangan beredar tentang Artis perempuan yang baru saja melepas hijabnya, tentang seorang anak yang melabrak (katanya) selingkuhan ayahnya, tentang seorang ustadzah yang dituding punya affair dengan seorang ustadz. Berita tersebut kemudian berkembang, masuk ke akun-akun gosip di Media Sosial kemudian dikomentari berjamaah oleh Nitizen.

Benang merahnya kemudian, semua kejadian yang terjadi itu yang dianggap salah adalah perempuan. Lantas, dengan semua kesalahan ada para perempuan, laki-laki yang terlibat dianggap tidak bersalah? Semua orang terlalu sibuk dengan korban sampai lupa pada pelaku. Yang disorot dan dikomentari dari sisi perempuannya, hampir jarang yang menyoroti pihak laki-lakinya.

WHY?

Iya, mereka bisa saja salah jika iya yang diberitakan media akhir-akhir ini benar. Mereka salah. Dibalik mereka, ada lagi orang-orang yang paling salah. Pertama, yang memberitakan. Kedua, yang menghujat. Dengan tanpa mencari tahu kebenaran dan tanpa tahu bagaimana posisi perempuan-perempuan itu. Huft. 😦

Sebelum itu, pernah mendengar wacana test keperawanan untuk perempuan sebelum mulai bekerja? Kang Maman turun tangan berkomentar, “Justifikasi yang luar biasa, bahkan sebelum mengetahui kompetensi seseorang, sudah dinilai baik dan buruk hanya karena keperawanan. Ini kan jahat sekali, ya? 😦 And again, kenapa hanya perempuannya saja? Laki-lakinya ndak? -___-‘

Tentang hubungan dalam rumah tangga. Menurut Ina Rachman selaku aktivis perempuan. Banyak sekali perempuan yang mempertahankan rumah tangga hanya karena takut kehilangan nafkah meski badan dan hatinya hancur lebur disakiti oleh suaminya.

Itu baru tentang Perempuan. Berbicara tentang Anak banyak lagi. Pelecehan Seksual seolah menjadi makanan sehari-hari bagi KPP PA. Faktanya, banyak sekali anak usia dibawah umur yang menjadi korban pelecehan Seksual. Banyak. Namun, tidak banyak yang mencuat ke permukaan karena banyak hal. Kebanyakan, tidak berani bersuara karena malu. Atau pelaku adalah orang terdekat seperti tetangga, paman, ayah, kakek. Atas nama ‘orang dekat’ menjadi biasa untuk ‘dimaafkan saja’. :((((

Kemarin, saya menonton Youtube Channel yang menyuarakan tentang pelecehan ini. Diceritakan disana, 2 orang mahasiswi sedang saling curhat tentang bagaimana ia dilecehkan oleh Dosen Pembimbingnya dan tidak berani menolak hanya karena takut skripsinya disulitkan. Pun ketika ia mengadu pada Ibunya, respon yang ia terima adalah; “ikuti saja maunya, biar kamu dipermudah”.

KU SEDIH. 😦

Mama menyimak pemaparan saya. Sesekali tampak kaget dengan fakta-fakta yang saya ceritakan ulang hasil dari penjelasan para narasumber yang saya dapatkan minggu lalu. Kemudian kami terlibat diskusi yang menarik. Tentang bagaimana mama menjalankan perannya sebagai seorang Ibu yang 24 jam waktunya untuk anak-anaknya.

PEKA.

Salah satu keinginan terbesar adalah kelak menjadi Ibu Rumah Tangga seperti Mama yang bisa memahami anak-anaknya secara detail. Mama bisa menangkap perbedaan raut wajah anak-anaknya yang gelisah. Dengan bahasanya, ia bisa membuat adik saya kala itu mengaku bahwa ia sedang di-bully dan di-palakin. Palakin itu semacam ditodong untuk menyerahkan sejumlah uang. Mama menjadi orang pertama yang bolak-balik ke sekolah demi mendapat jaminan bahwa anaknya akan baik-baik saja. Sekali beliau lapor dicuekin, kedua kali diacuhkan, ketiga kali ada korban lain yang mengadu baru deh si Pelaku dihukum.

Supporter Nomor Wahid.

Saya inget banget, semenjak kelas 7 (1 SMP) kakak saya getol sekali mengingatkan tentang kewajiban perempuan untuk berhijab. Saya mulai berhijab kelas X (1 SMA). Ketika mengutarakan keinginan berhijab, mama sempat berkomentar; “Yakin? Ga mau pake baju baju seksi?”

Ketika saya kekeuh mau berhijab, beliau bilang ke saya; “Silahkan berhijab, namun jika suatu hari hati kamu sudah tidak nyaman dengan berhijab. Buka aja, gpp. Jangan pernah ragu-ragu hanya karena takut mama dan papa malu. Karena yang penting bagi kami, apapun yang kamu lakukan itu semua lahir dari hati.”

Saya sampe melongo sendiri sambil geleng-geleng kepala. Semakin mama bilang begitu, rasanya semakin ga kepikiran buat saya melepas hijab.

Bebas bertanggung jawab atau dikekang tidak perlu bertanggung Jawab

Tidak mudah buat mama melepas anaknya satu persatu ke tanah perantauan. Apalagi papa yang selama kami berseragam selalu setia menyempatkan diri untuk mengantar kami.

Mama memberi 2 pilihan pada kami; Silahkan hidup bebas namun apapun yang dilakukan dapat dipertanggung jawabkan atau tidak perlu bertanggung jawab, tapi mama akan seperti polisi mengawasi kami dari jauh.

Saya dan kakak saya memilih pilihan pertama. Kami bebas mengatur waktu dan hidup selama kami jauh dari rumah, tapi semua yang kami lakukan, kami pastikan kami mampu untuk bertanggung jawab. Saya rasa pilihan kami cukup tepat. Kebayang, jika apa-apa diawasi dan dilarang. Saya udah pasti akan melanggar semua aturan yang mama beri.

Penjamin kebahagiaan.

Saya pernah bekerja di Perusahaan yang menetapkan pinalti jika berhenti bekerja sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama. Ketika hal ini saya utarakan ke Mama, respon beliau diluar dugaan saya;

Kamu bekerja semampu kamu. Namun, jika nanti terasa berat, kamu keluar saja. Mama akan menyiapkan dari sekarang nominal pinalti kamu. Kapanpun kamu merasa terbebani, jangan pernah berpikir sayang uangnya. Karena buat mama yang paling penting kamu sehat, tidak stress dan kerja dengan bahagia.

Itulah salah 4 bagaimana mama ‘mendidik’ kami anak-anaknya. Hal ini juga yang membuat saya merasa aman dan hidup baik-baik saja dan merasa jauh dari Isu tentang perempuan dan pelecehan seksual pada anak. Imho, keluarga emang gerbang utama dari setiap peradaban manusia. Jika dasarnya kuat, maka manusia itu akan kuat sehancur apapun lingkungan disekitarnya, berlaku pula kebalikannya.

Dengan perkembangan sekarang, saya yakin PR saya banyak banget untuk kedepannya. Bisa jadi apa yang mama terapkan belum tentu bisa saya contek ilmunya bulat-bulat. Saya merasa banyak sekali hal yang harus saya cari tahu berikut dengan solusi terbaiknya akan seperti apa.

Saat ini, karena media sosial menjadi primadona di zaman sekarang, saya hanya bisa memahami benar-benar pesan dari Kang Maman untuk selalu ingat 3B ketika menerima informasi. Bener – Baik – Bermanfaat.  Apakah berita tersebut benar? Secara hari gini berita hoax ada dimana-mana. Kemudian, apakah berita yang tersebar Baik? dan yang terakhir apakah akan bermanfaat jika kita menekan tombol share/repost?

Itu baru untuk reshare/repost, untuk meninggalkan jejak di kolom komentar tentunya harus banyak lagi pertimbangannya. Belajarlah, untuk tidak merendahkan, menjelekkan hanya karena dia perempuan terlebih kita yang berkomentar juga perempuan.

Semoga kedepannya, kita bisa sama-sama menyukseskan program 3 Ends dari Pemerintah.  Akhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak, Akhiri perdagangan manusia, dan akhiri kesenjangan ekonomi terhadap perempuan dan anak. Dan ini tentu saja tidak bisa dilakukan sendiri, harus bersatu padu dan saling.

Dan bila pada prosesnya nanti kita temukan hal-hal rasanya sulit untuk diselesaikan sendiri, Serempak.id bisa dijadikan referensi untuk mencari informasi. Dan jika butuh orang untuk diskusi, bisa menghubungi IWITA (Indonesia Women IT Awareness) adalah Organisasi Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi.

Yuk ah, bismillah kita selamatkan Negeri!

Oleh-oleh dari Batam, Kepulauan Riau

Libur Long Weekend kemarin saya ke Batam. Agenda utamanya adalah menghadiri pernikahan sahabat. Disusul dengan agenda lain seperti melihat rumah yang sedang dikontrakan, menebus rindu pada setiap makanan yang ada di Batam, Silaturahmi melihat anak dari teman-teman yang baru saja melahirkan.

Nah, berhubung kali ini ke Batam sebagai wisatawan (tidak pulang ke Rumah sendiri), teman-teman sepermainan yang di Batam berbaik hati untuk berbagi tugas membelikan saya oleh-oleh sebagai buah tangan untuk keluarga di Depok. Continue reading

[Weekend Story] Nongkrong bareng Orang Tua

Kapan terakhir kali ngajakin mama papa nongkrong ya? Seinget saya, bulan Februari. Ketika adik yang sedang kuliah di Bandung main ke Jakarta. Kemudian kami sekeluarga iseng ingin makan Macaroni Panggang di Bogor. Dari Jakarta ke Bogor pulang pergi hanya untuk makan Macaroni Panggang. Sampai Jakarta keburu laper lagi Karena perjalanannya jauh. Haha.

Setelah itu, kami disibukkan dengan pindah rumah. Berbenah rumah dan finansial keuangan keluarga tentu saja yang jadi ikutan tergoncang karena kenekatan membeli rumah. Tidak ada agenda untuk nongkrong diluar karena lebih baik uang itu untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Continue reading

Drama mencari Tenda dan Tips memilih Tenda Camping.

Awal-awal kapal Sabuk Nusantara milik PT Pelni melayani perjalanan Pelabuhan Sunda Kelapa – Kepulauan Seribu, terjadilah mini drama menyoal persoalan tenda. Kapal yang disubsidi ini emang lebih murah daripada kapal kayu milik nelayan yang beroperasi dari Angke. Namun, secara waktu jauh lebih lama. Hal ini dikarenakan rutenya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa – Pulau Untung Jawa – Pulau Pramuka – Pulau Harapan. Pengalaman saya kemarin, baru merapat di Pelabuhan Pulau Pramuka pukul 14.30 WIB. Ini mah kalau ikut opentrip udah pasti ditinggalin.

Sementara jika naik kapal kayu milik nelayan, pukul 10 atau 11 pagi kapal dipastikan sudah merapat karena jalurnya langsung Muara Angke – Pulau Pramuka tanpa transit di Pulau Untung Jawa. Continue reading

Menyambut 2018, #JadiBisa bikin konsep baru yang seru.

Sebentar lagi tahun 2017 akan berakhir. Itu artinya sudah 4 tahun berjalannya kegiatan sosial yang selama ini saya kerjakan. One Day Fun Doing Fun. Barangkali ada yang belum tahu, One Day Fun Doing Fun adalah aksi sosial yang saya dan teman-teman kerjakan kurang lebih 4 tahun belakangan. Tadinya hanya iseng-iseng, ga tau akan seserius ini. Berpindah pindah kota. Bertambah teman baru. Silaturahmi tidak berhenti dan jalan-jalan ga ketinggalan.

Selama 4 Tahun, One Day Fun Doing Fun sudah roadshow ke 7 kota + 1 kota yang sama (Reunite Series). 7 kota tersebut adalah Jakarta, Batam, Bandung, Yogyakarta, Bogor, Garut dan Majalengka. One Day Fun Doing Fun lahir dari kesukaan saya pada kegiatan sosial dan jalan-jalan. Maka, jadilah berbagi sambil jalan-jalan. Hehe.

Berawal dari uang pribadi.

Pertama kali One Day Fun Doing Fun diadakan, saya dan Putri – salah satu sahabat saya – ngobrol receh masalah rindu berbagi dengan anak-anak yatim. Kemudian, kami berdua ‘patungan’ untuk bisa membiayai makan sekitar 30 anak yatim disatu restoran di Jakarta Selatan. Continue reading

Andai Aku Menjadi; Tinggal di Rumah Pengayam bambu

Selama mengikuti rangkaian kegiatan Voluntrip Round 5 kemarin, kami (Saya, Kak Icha dan Kak Dimi) tinggal dalam satu rumah yang sama. Rumah milik Pak Odang beserta istri dan anak bungsunya.

Baca: Voluntrip Round 5: Special Reunion

Saya datang terlambat, tidak mengikuti rombongan yang sudah jalan menuju lokasi pukul 4 sore. Saya baru tiba di tempat pada pukul 10 malam. Kak Dimi dan kak Icha setia menunggui saya hingga kami bisa ‘pulang’ bersama kerumah Pak Odang.

Tidak jauh dari tempat dimana kami beraktivitas, namun menuju rumah Pak Odang memiliki tantangan tersendiri, jalanan yang menurun curam, serta licin jika hujan. Sebenarnya itu hanyalah jalan pintas agar kami bisa tiba lebih cepat. Continue reading

Voluntrip Round 5; Special Reunion

Sejak mengikuti Voluntrip Round 2 pertama kali di Mei 2016, saya tahu kegiatan ini ‘saya banget’. Berkontribusi ikut berbagi sama jalan-jalan. Kemudian, saya ikut melibatkan diri dalam kepanitiaan Voluntrip Round 3. Jadi, peserta di Round sebelumnya, akan menjadi panitia di Round setelahnya. Pada Voluntrip Round 4 tentu saja, saya tidak bisa lagi terlibat. Jatahnya peserta di Round 3 untuk menjadi panitia.

Voluntrip adalah gerakan sosial dari Dompet Dhuafa. Sesuai namanya, Voluntrip merupakan gabungan dari Volunteer dan Trip. Menjadikan kegiatan Volunteer berbarengan dengan jalan-jalan.

Ndilalahnya, pada Voluntrip Round 5 diperuntukan khusus untuk peserta Voluntrip Round 1 sampai Voluntrip Round 3 dengan panitianya adalah peserta Voluntrip 4. Reuni gitu ceritanya. Ciye.

Jadilah, weekend kemarin 10-12 November 2017 saya beserta teman-teman Voluntrip 1 sampai dengan 4 bersama-sama mengunjungi Desa Gegerbitung, Kec Cijeruk, Kab Bogor untuk melakukan berbagai aksi. Continue reading

Hallo Makassar dan cara menuju Tanjung Bira

Selamat datang di kota Angin Mamiri!

Makassar adalah Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Berasal dari sebuah kata bahasa daerah yaitu mangkasara yang artinya ‘menampakkan diri’ atau ‘bersifat terbuka’. Makassar disebut juga kota Daeng, yang berarti ‘kakak’ atau ‘abang’, tetapi daeng lebih umum sebagai sapaan atau panggilan untuk orang yang dihormati atau yang dituakan, baik laki-laki atau perempuan.

Biar liburannya panjang, saya memilih penerbangan malam dari Jakarta. Pukul 21.55 dari Soekarno Hatta. Kemudian pagi pukul 7 bertolak ke Tanjung Bira lewat Bulukumba.

Landing di Bandara Sultan Hasanudin pukul 1 pagi (ada perbedaan 1 jam antara Jakarta dan Makassar), tidur di bandara sampai Shubuh baru deh ke kota.

Nah, numpang tidur di Bandara ini saya sempet browsing-browsing. Untuk yang keluar pesawatnya melalui akses ruang tunggu. Bisa tuh, ga usah langsung keluar. Jadinya tidur di ruang tunggu keberangkatan.

Pas kemarin saya mah, akses dari pesawat langsung ke ruang bagasi dimana ini dibawah ruang tunggu keberangkatan. Jadilah langsung ke pintu keluar.  Akhirnya, saya nyari kursi di yang kira kira tidur-able di sekitar pengambilan bagasi. Jadi ga sampai ke area luar.

Tidur di Bandara Makassar.jpg

Tidur di area pengambilan Bagasi

Disebelah kursi ini, juga ada charger station untuk nge-charge handphone. Setelah tanya sana sini, banyak cara menuju ke kota. Dengan taksi sekitar Rp. 150,000,- atau Damri Bandara, namun Damri ini baru beroperasi sekitar pukul 7 dan baru akan meninggalkan bandara jika bangku sudah terisi penuh. Pilihan saya kemarin adalah transportasi Online, meski illegal (ngumpet-ngumpet) biaya yang dikeluarkan juga tidak sampai seratus ribu.

Naik transport Online menuju Pantai Losari untuk sholat shubuh sekalian di Mesjid Apung. Jadi, keluar dari Bandara kira-kira pukul 4 pagi. Lumayan 3 jam merem-melek cantik.

Mesjid Apung.jpg

Mesjid Apung sekitar Pantai Losari

Dari kota Makassar ke Tanjung Bira bisa dengan naik Angkutan semacam mobil Panther (disana dinamai Pete Pete) tarifnya sekitar 100,000,- dari Terminal. Tapi dia jalan setelah penuh. 😦 Walaupun kita standby dari pagi, bisa saja baru jalan jam 10 atau 11an karena menunggu semua bangku terisi.

Akhirnya, saya memilih untuk naik travel dari Kota Makassar ke Bulukumba. Bulukumba – Tanjung Bira masih sekitar 64km lagi. Kemudian dilanjutin dengan naik angkot ke Tanjung Bira.

Travel BMA Trans.jpg

BMA Trans

Naik Travel BMA Trans Makassar. Tarifnya 100,000,- hanya sampai Bulukumba. Perjalanan pertamanya dimulai pukul 7 pagi. Tempat duduknya super duper nyaman dan lebar. Kapasitas sekali berangkat hanya 8 orang. Kemarin, penumpang hanya 3 orang tetep jalan. Yey!

Minusnya, pool terakhir di Bulukumba dimana angkot menuju Tanjung Bira tidak lewat. Jadilah kemarin supirnya berbaik hati mengantarkan kami sampai persimpangan dimana Angkot menuju Tanjung Bira melintas dengan meminta ‘uang rokok’, kukasih aja 10,000 untuk satu orang.

Nah, dari Bulukumba ini naik Angkot ke Tanjung Bira. Kata penduduk sekitar yang juga akan menaiki angkot yang sama, tarifnya sekitar 25,000 per-orang.

Angkotnya ini bukan seperti angkot di kota-kota besar yang sudah ada rutenya. Namun, angkot ini nganterin orang sampai kedepan rumah. Iyes, angkot rasa travel door to door.

Setelah sampai di tanjung Bira, supirnya nanyain nih, kami akan turun dimana. Pas kita sebut, Cosmos Bungalows langsung dong ditodong biaya tambahan lagi. 😦 Cosmos Bungalosw itungannya udah di Pantai Bara sih. Tapi ya ga jauh juga dari Tanjung Bira, kurang dari 5km. Nodongnya juga ga tanggung-tanggung, minta tambahan 25 ribu untuk jarak 5km. Hiks.

Matahari yang terik, dan tidak terlihat angkutan apapun sepanjang mata memandang, bikin kami mengiyakan todongan itu. Huhu.

Jadi total biaya perjalanan dari Kota Makassar ke Cosmos Bungalows via Bulukumba; Rp. 100,000,- + Rp. 10,000,- + Rp. 50,000,- = Rp. 160,000,-

Sementara ketika pulang, dengan kebaikan hati Staff Cosmos Bungalows, kami dipesankan Pete-Pete yang menjemput langsung dan turun di Terminal Makassar cukup membayar Rp. 100,000,- saja.

Hanya saja, Pete-pete seratus ribu ini tanpa AC. Jadilah sepanjang jalan pake AC Alam dan full house. 1 Avanza ber-7. Bapak supir Pete-pete ini memberi informasi bahwa, hanya ia satu-satunya yang jalan jam 7 Pagi dari Terminal ke Tanjung Bira. Sementara yang lain baru jalan dari Terminal rata-rata pukul 11 siang.

Ada harga ada rupa sih, ya. Kalau saya kembali lagi ke Makassar dan ingin ke Tanjung Bira lagi, mungkin saya prefer naik Pete-pete pukul 7 pagi itu. Namun jika tidak, mending via Bulukumba. Karena jalan jam 11 dari Kota Makassar ini memungkinkan kesorean nyampe di Tanjung Biranya.

Eh iya, Pete-pete ketika pulang ini sempat juga menawarkan diri untuk mengantarkan kami langsung ke hotel. Dengan meminta tambahan biaya Rp. 100,000,-. Jelas saja langsung ku tolak, karena tahu di kota Makassar sudah ada transportasi Online yang pastinya tarifnya akan jauh lebih murah. Terminal terakhir ke Hotel dengan Grab hanya Rp. 33,000,-.

Keliatan amat ya turisnya, di todong terus. 😦

Ada yang sudah pernah ke Tanjung Bira dari Makassar? Share dong public Tansportasi nya apa ajaa.

Jangan menginap di Cosmos Bungalows, Tanjung Bara, Sulawesi Selatan

Ditengah hectic dan stress menyiapkan Jambore Anak 2017, saya menghibur diri dengan mencari tiket. Kan beberapa bulan lalu menang lomba nge-tweet berhadiah tiket kemana saja tuh.

Baca: Akhirnya! Ikutan Linkers Academy Batch 3

Tadinya uda jelas ingin digunakan untuk kem-BALI. Eh dilalahnya, gunung Agung sedang batuk-batuk. Trus bingung gitu, karena tidak menyiapkan plan B untuk urusan tempatnya. Sementara, tiket ini akan habis masa berlakunya.

Setelah mempertimbangkan sana sini, ada 3 tujuan yang akan saya pilih salah satunya; Medan, Manado atau Makassar. Berhari-hari saya browsing ketiga tempat ini. Kira-kira enaknya kemana, nanti disana mau ngapain aja, nginepnya gimana. Continue reading

Jambore Anak Indonesia 2017

Jambore Anak Indonesia adalah kegiatan berkelanjutan mengajak anak yatim piatu dhuafa untuk nginep dua hari semalem seperti halnya Jambore, namun tidurnya buka di tenda. Tapi di hotel. Adalah New Panjang Jiwo Resort, yang menginisiasi kegiatan ini pada awalnya. Ia menyediakan puluhan ruangan hotel, beberapa villa untuk panitia, aula dan restoran makan untuk dapat digunakan. MasyaAllah banget deh ya. Kemudian, digandenglah Dompet Dhuafa sebagai partner yang mengurusi segala tek tek bengeknya.

Nah tahun 2017 ini adalah tahun ke-4 diadakannya JAI pada tanggal 7-8 Oktober 2017 dan masih di New Panjang Jiwo Resort. Saya termasuk salah satu yang terlibat sebagai tim Acara yang terlibat kepanitiaan. Dengan konsep kerajaan Dustanian yang akan berjuang bersama para Prajurit cilik untuk menjadikan Negeri Dustanian menjadi negeri yang baik dengan menomorsatukan kejujuran. Lantas Acaranya ngapain aja? Continue reading