Saung Angklung Udjo

Menonton Pertunjukan Bambu di Saung Angklung Mang Udjo

Apa yang terpikir olehmu jika mengunjungi kota Bandung? Kawah Putihnya? Legenda Tangkuban Perahunya, kah? Cilok, cilor & cirengnya? Mie kocoknya? Atau hotel dan bed and breakfast yang instagram-able?

Yes benar, Bandung memiliki banyak tempat wisata, tempat kuliner dan tempat nginep yang sesuai dengan keinginan kita. Disamping itu semua, Bandung juga memiliki satu pertunjukan seperti halnya kisah Ramayana di Uluwatu Bali. Ialah dia Pertunjukan Bambu di Saung Angklung Mang Udjo.

Sudah ada dari tahun 1966, Saung Angkung Udjo didirikan oleh Udjo Ngalagena (Alm) beserta istrinya  Uum Sumiati. Saung Angklung ini didirikan sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan.

Dengan harga tiket masuk sebesar Rp. 70,000,- per-orang dikala weekend, kita bisa ikut serta menikmati pertunjukan dari Saung Angklung Mang Udjo Continue reading

Selamat hari Relawan Sedunia untuk kamu yang telah Rela menjadi Relawan.

Dear Kakak Relawan One Day Fun Doing Fun,

Kemarin pada tanggal 5 Desember 2016, ketika dunia sedang merayakan hari Relawan, yang saya ingat adalah kakak-kakak yang selama ini membantu & mendukung salah satu aktivitas yang saya sukai, berbagi bersama Adik-adik yang masa kecilnya ingin kita selipkan kebahagiaan ditengah-tengah ketidaksempurnaan hidup mereka.

Saya ingat pertama kali saya memberanikan diri menyiapkan segala printilan demi sebuah kegiatan berbagi ini yang kemudian saya beri nama; One Day Fun Doing Fun, tentu saja bermakna satu hari yang senang dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan. Saya bersama Putri, menyiapkan segala kebutuhan untuk hari H ditengah donatur yang masih maju mundur. Continue reading

Please Switchable Me, dear Acer Switch Alpha 12.

Sampai hari ini saya ga akan pernah lupa pertanyaan dan jawaban ketika saya melakukan assesment untuk bisa bekerja di kantor saya sekarang.

“Ceritakan secara singkat tentang kamu?”

“Saya bermimpi kuliah di Psikologi, orang tua ingin saya kuliah mengambil Akutansi, saya lulus tes seleksi di Fakultas Komunikasi dan saya kuliah sebagai mahasiswa IT”

Iya, pada akhirnya saya pasrah pada keadaan mengikuti keinginan orangtua untuk kuliah di Jurusan IT. Meski saya passion dibidang Psikologi atau apapun yang berhubungan tentang manusia. Dilalahnya, setelah lulus sebagai sarjan informatika, saya sempat bekerja di bidang yang sama selama 2 tahun. Kemudian, memutuskan hijrah ke ibukota dengan passion yang lain; Jalan-jalan.

Orang tua saya berharap saya bisa pulang ke rumah di Batam, kemudian melanjutkan karier disana. Namun, saya memiliki mimpi lain. Ingin bisa jalan-jalan. Dan untuk itu akan lebih mudah jika dilakukan dari Ibukota, akses transportasi  gampang, hanya mengandalkan bus bisa sampai sumatera dan ujung pulau jawa. Sementara dari Batam, hanya 2 akses transportasi yang memungkinkan via udara dan via laut. Via laut memakan waktu lebih banyak dan via Udara memakan biaya lebih besar. Continue reading

Cerita tentang Ramayana dalam balutan Tari Kecak di Uluwatu, Bali

Banyak hal yang saya sukai dari Bali, Pantai-nya, ketenangannya, water sport-nya, dan dari kesemuanya saya jatuh cinta sama Joger, pusat oleh-oleh yang hanya ada di Bali. Pernah loh, saya ke Bali dengan niat hanya untuk belanja di Joger. Waktu itu ada tiket promo, pp Jakarta-Bali Rp. 144,000,- saja. Saya pergi sabtu pulang Minggu, hanya untuk belanja dan menyepi sebentar di Ubud. Hihi.

Ada satu pertunjukan yang jangan sampai dilewatkan jika kamu mengunjungi Bali, Tari Kecak di Uluwatu.

Saya berkesempatan menikmati pertunjukan ini pada kali ketiga menginjakkan kaki di Bali. Bertempat di Uluwatu, pertunjukan Tari Kecak sambil menunggu sunset jadi hiburan tersendiri.

Tari Kecak.jpg

Tari Kecak

Adalah kisah tentang Ramayana yang disuguhkan, seperti yang sudah kita ketahui diceritakan tentang seorang Raja bernama Rama yang dikenal sangat bijaksana. Rama menyelamatkan permaisurinya yang bernama Dewi Sita yang diculik oleh Rahwana. Continue reading

Balada drama Wanita; Belanja.

Pernah melihat sebuah Meme tentang perempuan yang bilang kalau, Perempuan itu beli barang, beli aja dulu, dipake kapannya gimana nanti. Semula sih saya cuek ya, karena ga hobi belanja yang gimana juga. Sampai pada suatu hari..

Mendadak saya harus mengikuti training dan saya (merasa) ga punya baju. Haha. Kemudian, saya memutuskan untuk ‘lari’ ke sebuah Mall after office hour. Membelah tenant dan mencoba mencari baju yang saya rasa pas untuk dipakai training. Dan ga selera dong! Saya muter muter ada kali 2 jam, dan ga satupun baju yang saya pengen beli.

Rasanya gemes gemes sebel. Ya gimana, emang ga mood = tidak menghasilkan barang yang bias dibawa pulang. Continue reading

Saatnya sadar Gizi dan Nutrisi untuk para (Calon) Istri

Beberapa minggu yang lalu, di perusahaan tempat saya bekerja diadakan pemeriksaan tulang. Saya belum pernah coba nih, check kepadatan tulang begini. Mekanismenya kaki kita di jepit pake alat yang kemudia alat tersebut akan memberikan informasi apakah tulang kita sehat, Osteopenia atau Osteoporosis.

Kepadatan Tulang.jpg

Dikatakan tulang Sehat jika hasil nya < 1, dikatakan Osteopenia jika hasilnya diantara 1 s/d 2,5 dan Osteoporosis jika hasilnya diatas > 2,5. Semula saya biasa saja, sampai ketika hasilnya keluar, kepadatan tulang saya berada dititik Osteopenia. 😦 Ini apa karena mengandung kata ‘Nia’ pada Osteopenia yak? *abaikan*

Wanita beresiko 4x lebih tinggi dibanding pria untuk terkena Osteoporosis sesuai data International Osteoporosis foundation pada tahun 2014. Dan meningkat untuk Wanita Hamil, Menyusui serta Menopause. Maka, ketika ada salah seorang teman saya, wanita, masih single, ia terkena Osteoporosis membuat saya dan teman-teman lain keheranan. How come?

Nutrisi dan Gizi salah satu penyebabnya. Dengan banyak sekali asupan makanan yang tersedia dengan mudahnya, membuat kita suka terlena dengan kandungan gizi dan nutrisi didalamnya. Konsumsi Junk Food, makanan cepat saji. Sampai tak lagi peduli pada kandungan gizi.

Continue reading

Kapuyuak; Kaos Unik Raso Minang, Oleh-oleh dari Jam Gadang.

2 tahun yang lalu, saya memenangkan salah satu hadiah dari #LiaMartaGiveAway yakni kaos Kapuyuak dari Bukittinggi, kemudian sering saya bawa untuk Jalan-Jalan. Ga nyangka juga, akhirnya saya bisa main-main dan belanja di Kapuyuak, produksi Kaos Unik Raso Minang di Bukittinggi.

woyb12

Kaos Hadiah dari Kak Lia

Produk ini tentu saja bisa jadi salah satu alternatif oleh-oleh kamu jika sedang mengunjungi Bukittinggi.

SONY DSC

Design Kaos Kapuyuak

Apakah Kapuyuak hanya memproduksi Kaos? Tidak. Yang diutamakan sih kaos dengan menggunakan font yang lucu, dan bahasa minang (yang-membuat-saya-bolak-balik-ke-Uda-dan-Uni-nya-untuk-nanyain-artinya-apa). Selain itu, ada juga handbag, topi, sendal dan gelang.

Dulu, saya pikir, jika mau merasa sedang tidak di Indonesia pergilah ke Gili Trawangan, maka kamu akan merasa minoritas karena Bule lebih mendominasi. Pergilah naik bus antar kota Jawa Timur yang sebagian besar orang-orangnya berbicara bahasa Jawa yang duh, saya beneran ga ngerti. Eh, menapakkan kaki di Kapuyuak juga membuat saya merasa asing. Kaga ngerti sama sekali ini tulisan yang saya baca ini artinya apaaa. 😀

Jaman saya kuliah, saya belajar tentang typografi, ilmu belajar tentang jenis huruf. Font. Gitu-gitu. Jadi mengamati font yang dipakai untuk design baju disini buat saya betah. Masalahnya yaitu, saya ga ngerti artinya apa.

Ada beberapa yang ketebak seperti nama-nama hari. Pelafalan jika dibaca seperti pribahasa. Dan yang paling dimengerti adalah “Urang Minang” Eeaa.

Untuk ukuran kaosnya juga dilabeli berbeda sama dengan yang lain. Seperti untuk ukuran S disebut Ketek, ukuran M disebut Manangah, ukuran L disebut Gadang, ukuran XL Gadang Bana dan Untuk XXL disebut Gadang Ba Kalabaihan. Muahahaha :))))

Main ke sini, senengnya kaya lagi main ke Joger kalau di Bali. Nge-betahin. Semalem di Bukittinggi 2 kali saya mampir kesini. ihihi.

Oleh-Oleh Bukittinggi? Beli di Kapuyuak sini! 🙂

Puncak Lawang; Tempat yang jangan tertinggal jika sedang Nge-Bolang

Karena belum pernah ke Sumatera Barat, Itenary perjalanan ke Sumbar saya serahkan sepenuhnya ke Kang Mas. Kecuali Taruko Cafe, tempat yang ujug-ujug pengen kita coba saat itu juga tanpa direncanakan. Saya ga punya ekspektasi apapun, tentang tempat-tempat yang akan dikunjungi nanti, eh Pantai Pasumpahan engga deng. Wisata kesana adalah request saya.

Sisanya, diajak kemanapun, saya ikut aja. Ikut coba nikmatin. Sampai akhirnya mobil tiba di Puncak Lawang. Saya teringat sesuatu, jadi ketika 30 Days Blog Challenge, saya sempet nulis artikel tentang tempat oke untuk paralayang di Indonesia. Dilalahnya, dalam tulisan saya, Puncak Lawang adalah salah satunya.

Semesta mendukung menjadikan tulisan saya yang tentu saja saya cari sumbernya via google, menjadi tempat yang akhirnya bisa saya kunjungi. Hanya dalam kurun waktu 2 bulan.

Puncak Lawang adalah salah satu tempat wisata daerah dingin di Sumatera Barat. Udara yang menelusup nyelip nyelip baju dengan angin yang buat hijab berkibas-kibas bikin saya excited! Setelah berpanas-panasan ria dan ‘gosong’ hoping Island, dibales dengan kesejukan di tempat ini.

Pemandangan yang tersaji dihadapan adalah Danau Maninjau. Melihat air dengan pemandangan dibawah dan sekitarnya yang hijau mengingatkan saya dengan Bukit Marese, di Lombok Barat. Berputar badan menyenangkan.

view-from-puncak-lawang-nia

Tempat ini dijadikan tempat untuk penyuka olahraga paralayang. Dengan ‘terbang’ dari atas sampai ke bawah sana. Sayangnya, pemandangan orang terbang tak bersayap itu hanya bisa dilihat dihari Sabtu & Minggu saja. Kebetulan, kemarin saya kemari di hari kerja, Senin, yang tentu saja jadi Sepi!

duduk-duduk-selow-nia

Nyepi Nyepi Hore

Aktifitas lain dari atas ini selain menikmati angin semilir dan danau maninjau, ada arena outbond juga untuk anak-anak kecil.

arena-games-pl-nia

Deretan Hutan pinus ini mengingatkan saya sama One Day Fun Doing Fun ketika di Joga, dan pengen suatu hari nanti bisa mengadakan ODFDF di tempat ini juga.

outbond-place-nia

Arena Outbondnya ini anak-anak-able. Happy deh kalau bawa anak-anak liburan kemari. Entahlah ya, kalau weekend ngantri atau engga. Siang-siang di hari senin yang sepi, bisa bikin anak Happy karena ga ada saingan. Hihihi.

Saya sih seneng banget diajakin kesini, kalau saja tidak mengejar waktu untuk ke Lembah Harau kemudian ke Bandara, saya pengen deh diem disini lebih lama. *kodekodediudara*

Taruko Cafe; Tempat Nongkrong Muda Mudi di Bukit Tinggi

Ketika live update di Instagram bahwa saya sedang menjelajah Bukit Tinggi, Kekasih hati adik saya mengirimi sebuah message; “Di Bukittinggi ada tuh, Teh, tempat yang view-nya bagus, dia sekalian cafe gitu. Namanya Taruko Cafe. Siapa tahu bisa jadi referensi”. Taruko Cafe tidak ada dalam daftar yang ingin saya kunjungi di Bukittinggi, tapi berbekal browsing, saya jadi menanggalkan untuk ke ‘tembok cina’-nya bukittinggi untuk bisa ke cafe ini.

Letaknya sejalan dengan Lembah Sianok, melewati pintu Goa Cina bawah, ikutin jalan yang tidak mulus sampai menemukan papan penunjuk Taruko Cafe. Tidak direkomendasikan jika kamu kesini berjalan kaki, yha! Jauh, cuy!

So, apa yang bikin tempat ini istimewa? Jelas, viewnya keren. Diantara lembah. Cafe yang serasa dan ada diatas pohon. Udara yang tentu saja sejuk ala Bukittinggi. Dan harga yang masih ramah di kantong.

view-taruko-cafe-nia

Landscape

Continue reading

Rula Creative Hub Batch 1

Jadi ceritanya, 3 bulan terakhir ini saya mengikuti kelas belajar menulis yang diadakan oleh RulaWoman. RulaWoman sendiri adalah portal media online yang memiliki misi menciptakan konten inspiratif, kreatif, yang memberdayakan semua orang, memberi ruan dan kesempatan untuk perempuan khususnya aktualisasi diri, berkarya, berbicara, dan berbagi.

Konten yang ada di Rula terbagi kedalam 7 Segmen, Health & Lifestyle, Beauty and Fashion, Career & Business, Financial, Relationship, Inspiration dan Men’s Corner.
Ada 2 Speakers yang membuat saya akhirnya mendaftarkan diri; Ollie, yang saya tahu adalah Founder dari nulisbuku.com dan menulis puluhan Novel, serta aktif dalam media Sosial. Kemudian, Henry Manampirig, saya mengenal beliau dari salah satu kelas Akademi Berbagi di Jakarta tentang Branding.

Setelah mengikuti kesemua sesinya, saya jadi mengidolakan semuanya! Mas Acha, Mba Oney, Mba Iwed. Workshop ini diadakan di Gedung Indosat, setiap 3 minggu sekali dalam kurun waktu 3 bulan. Pada bulan pertama, kami diberi tantangan untuk nulis setiap hari! 30 Days Challenge dengan tema yang sudah ditentukan. Sukses bikin saya di seminggu pertama nulis sehari satu artikel, minggu kedua, 2 hari satu artikel, minggu ketiga vakum dan minggu keempat mengejar setoran jungkir balik dan blog ini terabaikan dengan sukses. Haha.

Pada bulan kedua dan bulan ketiga, setoran artikel hanya 10 perbulan which is lebih selow dan bisa nyambi nyambi sambil ngisi blog ini juga. Kalau mau baca-baca artikel saya yang sudah publish bisa diintip disini.

creative-hub-pertemuan-pertama

Pertemuan Pertama

Pada pertemuan pertama, Mba Ollie mengisi materi mengenai Bagaimana membuat tulisan agar menjadi Viral di Media Sosial, bagaimana melihat apa yang sedang happening, membuat judul yang ‘mengundang’ dan content yang menjawab keresahan pembaca. Continue reading