Kawah Galunggung, Tasikmalaya

Kawah Galunggung

Kawah Galunggung

“Jadi, berangkat kapan, kita?”

Sebuah bbm masuk ketika saya dalam perjalanan Yogyakarta – Jakarta malem itu. Saya emang sedang merencanakan short trip. Kali ini, saya ingin mengajak teman teman terdekat. Maka, yang saya ajak adalah Putri, temen sekamar saya selama di Jakarta. Mumun, teman dekat saya sedari SMA di Batam, Kuliah di Bandung dan kerja di Jakarta. Zen dan Reza, teman jaman saya D2 dulu di Bandung. Teh Dini, teman sekantor ketika di Bandung dan sekantor(lagi) di Jakarta.

“Lusa. Selasa. Pas libur kejepit, ya!” sent.

Berbekal browsing, saya tahu perjalanan ke Galunggung bisa dilakukan dalam one day trip. Kami sepakat untuk memulai perjalanan di malam hari, sehingga bisa menikmati udara pagi dari kota Tasik. Saya baru tiba di Jakarta Senin Pagi. Belum belum unpacking ransel dari perjalanan saya ke Yogya, malemnya saya bergegas untuk packing kilat lagi demi perjalanan ke Galunggung yang akan dilakukan malam itu juga.

Pukul 9, setelah drama berkenalan maya antara Mumun dan Reza, kami ber 6 sudah berkumpul di terminal lebakbulus. Menanti Primajasa Jurusan Tasik. Tujuan kami, Terminal Indihiang.

Lampu bus yang remang remang, sesekali alunan musik dangdut dan suara putri yang berkali kali berteriak, “Mau Bakpia?” sambil mengacungkan sekotak bakpia menemani perjalanan kami malem itu. Selanjutnya, kami tertidur.

Kami terbangun ketika semua orang bergegas untuk keluar dari Bus. Sudah sampai di Terminal Indihiang ternyata. Masih pukul 3 pagi. Kami menepi ke warung yang lampunya menyala. Mengembalikan kesadaran yang masih diawang awang sambil mencomot beberapa gorengan dan minuman hangat.

Adzan shubuh berkumandang dari Mesjid yang terletak didalam Terminal. Disana, kita bisa meluruskan kaki sambil menunggu matahari keluar perlahan.

Continue reading

Jobseeker.

Sebuah whatsApp masuk atas teman SMA saya, “Nia, minta tips nyari kerja di Jakarta, dong.” Saya terdiam sesaat setelah membaca pesan itu, pikiran saya semacam throwback ke 3 tahun silam, dimana saya mencoba hijrah ke Jakarta.

* * *

Ketika kuliah D2, saya ditugaskan untuk kerja Praktek. Ketika itu, saya dipanggil untuk magang di K-Lite FM bersama 2 orang teman seangkatan saya namun berbeda jurusan. Jobdesk saya sederhana, mengisi content website mereka. Memotong siaran, lalu diupload ke Website. Sesekali, saya membantu men design promotion tools mereka. Kebetulan jurusan saya emang di Web Development dan saya suka mengotak ngatik Adobe Photoshop. Waktu itu, saya di beri uang saku Rp. 10,000,-/hari. Rasanya uda seneng kek apa. ihihi. Anak magang, gitu.

Setelah magang usai, saya emang langsung apply lamaran kesana kemari. karena ya gitu, kuliah tinggal sidang skripsi. Saya harus mulai nyari uang sendiri. Seminggu setelah berhenti magang, saya dipanggil kembali ke kantor K-Lite. Si Bapak meng-apresiasi kinerja saya selama Magang, dan tertarik untuk mengangkat saya sebagai bagian dari keluarga K-Lite. Beliau juga menunjukkan beberapa design saya yang akhirnya dicetak dan dijadikan media promosi radio mereka. Senang? ya tentu. Tidak ada penghargaan lebih baik, selain kerja keras kita dihargai 🙂

Sebulan saya menunggu kabar dari K-Lite tak kunjung datang, akhirnya mulai apply apply ke perusahaan lain. Sambil menunggu waktu dan mengisi kekosongan mengurusi tugas akhir, saya menerima tawaran untuk menjadi bagian dari panitia pelatihan sensus penduduk. Sehari dibayar Rp. 100,000,-. Kerjaannya? Jadi panitia registrasi, mengamati kelas, memberi arahan. Makan ditanggung, tinggal dihotel dan yang enak, bisa tidur siang. :)))

Baru 3 hari dari 15 hari perjanjian kerja itu, saya ditelepon oleh salah satu perusahaan software house yang mengabarkan saya bisa untuk mengikuti serangkaian test di perusahaan tersebut. Dalam percakapan itu, saya bilang bahwa saya sedang terlibat project pelatihan sekitar 2 minggu. Setelah itu, saya free. Beruntungnya, perusahaan ini mau ‘menunggu’ sampai saya selesai menyelesaikan pelatihan itu.

Saya diterima dan mulai kerja, dengan gaji pertama Rp. 900,000,- yes, masih dibawah sejuta. 😀 Kabar baiknya, saya melamar sebagai programmer dan keterima sebagai dokumenter, which means, saya bebas dari perkodingan. yes! Seminggu saya bekerja, saya mulai ga sabar untuk jalan jalan. Gajian belum, jalan jalan udah. :))) Ini gegara, Nithi yang ujug ujug nyamperin dari Batam dan pengen main ke Yogya! *toyor Nithi*

Gaji pertama belum keterima, tawaran ke yogya nya udah. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta api ekonomi Bandung – Yogya seharga 20 ribuan. Rasanya? ya kapok. haha. Meski diawal awal kami menikmati perjalanan 8 jam itu. Masih bisa cekakak cekikikan, masih bisa jajan jajanan yang lewat. 5 jam berjalan, bawaan saya gelisah resah kepanasan. Balik sana balik sini ga karuan. Dalam perjanan ke Yogya itu, saya menerima sebuah sms yang berisi,

“Nia, perusahaan bersedia kamu bergabung bersama kami, bisa ke kantor segera? xxx – K-Lite.”

Ya gimana, saya baru aja kerja belum sampe 2 minggu. Itu juga si perusahaan uda nunggu 2 minggu, masa mau ujug ujug resign. Ya galau lah saya. Secara radio ini, masih dibawah PT Telkom. Suka ada bonus nya. Dan jobdesk nya itu loh, enaaakk. 😀  Eh, btw, kelanjutan cerita ke Yogya nya ada di postingan ini, ya.

Continue reading

The Packer Lodge, Jakarta

Saya suka iseng. Termasuk untuk nginep di sini, termasuk iseng. Berawal dari baca artikel tentang hostel di Jakarta, saya memutuskan untuk icip icip juga rekomendasi hostel yang ada di Ibukota. Semacam wisata hostel gitu. Iya, saya tertarik untuk wisata hostel, setelah mencicip inep di EduHostel Yogya, sama GreenKiwi Hostel di Singapore. Rasanya seru aja, ketemu roommates yang kebanyakan bule. Kita bisa ngobrol, cerita, dan buat saya, bisa ngelatih saya berbicara dalam bahasa inggris.

Akhirnya, booking lah saya di page hostelbookers. Untuk satu malam di The Packer Lodge di bilangan Glodok. Saya dimudahkan dengan email dari Hostelbookers untuk Directions How To ke Hostel ini. Gampang sih. Deket dari Halte Busway [Penting. :))].

Seperti Hostel kebanyakan, tampilan depan nya yang biasa aja. Padahal dalemnya luar biasa. 4 lantai dengan design yang lucu lucu. Menggapai hostel ini, lebih simple kalo naik Busway, turun di Shalter Glodok. Turun dari tangga sebelah kiri. Lantas, berjalanlah kearah seberang LTC Glodok. Hanya sekitar 100 m dari Tangga Busway. Nanti kelihatan plang Jl Kemurnian IV. Jalan masuk kedalam 60 m, sampai menemukan Plang dibawah ini.

Welcome Board

Welcome Board

Tarif menginap untuk female dorm di hostel ini Rp. 150,000,- dengan deposit 12% diawal menggunakan Credit Card. Sisanya dibayar ketika kita datang. Ada deposit juga yang harus kita setorkan sebesar Rp. 200,000,- yang tentu saja akan dikembalikan ketika kita check out. Continue reading

Having Fun With The Liebster Award

Diakhir bulan, menuju akhir pekan kali ini, saya dikejutkan dengan sebuah comment dari Dita, Adik kelas saya. Dimana Ia, memberikan award yang berujung pada list soal yang harus saya jawab  gitu. Maka, mengawali bulan kesayangan saya, saya persembahkan award ini.

Award nya adalah.. *drumroll*

liebster-awardAward ini berasal dari Adik kelas saya di Jaman Putih Abu Abu, terimakasih, ya, Dita. Kita bertemu di organisasi Rohani Islam selama 2 tahun berturut turut. Ia menjadi junior yang baik dalam berkontribusi dan berpartisipasi disetiap agenda kerja kita. Secara ga sengaja, saya menemukan blognya ketika blogwalking. Alhamdulillah, semoga jadi media penyambung silaturahim, ya, dek 🙂 Yang pengen tahu, blognya Dita, monggo disimak disini.

About Libster Award

Liebster Award sendiri bertujuan untuk menjalin keakraban sesama komunitas blogger. Penghargaan ini didedikasikan kepada blog-blog yang mendukung blogger baru dengan harapan mendapatkan wawasan ke dalam komunitas blogging.

Caranya:

  • Post award ke blog kamu
  • Sampaikan terima kasih kepada blogger yang mengenalkan award ini & link back ke blog dia
  • Share 11 hal tentang kamu
  • Jawab 11 pertanyaan yang diberikan padamu
  • Pilih 11 blogger lainnya dan berikan mereka 11 pertanyaan yang kamu inginkan

Anw, semuanya berbau sebelas. Angka Favorit saya karena bertepatan dengan bulan lahirnya saya, November. 🙂

11 Hal tentang Isnia Nuruldita

1. Satu satunya anak yang ketika lahirnya, ditemani oleh Papa. Punya satu kakak perempuan dan Dua adik laki laki yang perbedaan umurnya hanya satu tahun.

2. Lahir di Purwokerto, menghabiskan masa kecil di Lhokseumawae, Aceh Utara. Memulai masa remaja di Batam, Kepulauan Riau. Mencoba belajar dewasa sekalian Kuliah di Bandung, Jawa Barat. Sedang mencari rezeki di Ibukota, Jakarta.

3. Ga bisa bahasa Jawa. Maaf, saya #JawaMurtad.

4. Travelling Addict. Pengen banget bisa nginjek seluruh bagian dari Indonesia. Jalan jalan luar negeri yang pengen digapai. Mekkah.

5. Suka banget anak kecil. Suka ngadain baksos baksos gitu.

6. Pengennya kuliah jurusan Psikologi, lulus snmptn jurusan Komunikasi, kuliahnya jurusan Tekhnik Informatika, kerjanya di Human Resources.

7. Dipanggil Nurul dirumah, Dita di kampungnya Papa, dan Isni, Isna, Isnia, Umi, Nia di lingkungan pertemanan.

8. Percaya kalau, Bahagia itu sederhana dan ada dimana saja.

9. Pembaca Buku, penikmat Stand Up Comedy. Dan berharap suatu hari bisa menjadi Penulis, tapi engga jadi Stand-Up Comedian.

10. Pengen bisa berdagang. Ngikutin sunnah nabi.

11. Pengen segera dilamar dan melangsungkan pernikahan. Eeaalah. Aamiin 🙂

Pertanyaan yang harus di jawab dari Dita;

Sejak Kapan kamu ngeblog? Alasan?

Dari SMP. Sebagai sekretaris abadi selama 3 tahun, ngerasa perlu punya media untuk ngetik ngetik curhat online. :p

Sebutkan 3 buku favorit mu?

Sejauh ini, Divortiare – Ika Natassa, Life Journey – Windy Ariestanty, Sabtu Bersama Bapak – Adhitya Mulya.

Siapakah tokoh yang menginspirasi hidup mu dan sebutkan kenapa?

Mama. Full time mother yang punya hobi melukin nyiumin anak anaknya setiap hari. Beliau yang memegang penuh kendali didalam rumah. Menjadi orang pertama yang pasang badan ketika anak anaknya butuh perlindungan. Menjadi penyejuk buat suaminya. Rajin ibadah. Ramah. Rame. Gaul.

Sebutkan 3 kegiatan favorit mu?

Travelling, Charity, Duduk di Cafe sambil liat timeline & baca buku ditemani segelas lemon tea.

Apa makanan favorit mu?

Cireng, Basreng, Bala bala dan segala yang digoreng goreng :’D

Sebutkan 5 tempat yang ingin kamu kunjungi !

Mekkah, Madinah, Sabang, Merauke, Bunaken.

Punya profesi impian? Apa? Dan kenapa ?

Ibu Rumah Tangga yang bisa menghasilkan uang dari Nulis. Biar bisa dirumah, mengantar dan menyambut suami di pintu, melihat setiap jengkal tumbuh kembang anak. Ngapain eksis dan punya jabatan di kantoran, tapi suami dan anak anaknya ga keurus 😦

Deskripsikan nama blog mu. Kenapa memilih nama tersebut dan apa maknanya?

Alania. Semua isinya ya Ala Nia. Jalan jalan Ala Nia. Berbagi Ala Nia. Bercerita Ala Nia. Semua semua isinya Ala Nia gitu 😀

Apa rencana jangka panjang kamu agar bermanfaat bagi banyak orang?

Pengen banget ngejadiin Charity Lovers itu jadi kegiatan yang berkesinambungan. Berbagi terus. Menjadi penyambung antara orang yang ingin berbagi rezeki dan orang yang berhak menerima rezeki.

Apa surat dalam Alquran yang paling kamu sukai ?

Surat Asy – Syarh.

Bukankah kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami pun telah menurunkan beban darimu. Yang memberatkan punggungmu. Dan kami tinggikan sebutanmu bagimu. Maka, sesungguhnya setelah ada kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai dari sesuatu urusan, tetaplah bekerja keras untuk urusan yang lain. dan Hanya kepada Tuhan engkau Berharap.

Apa yang akan kamu lakukan dengan duit Rp 100.000.000,- ?

Umroh, sama nabung buat nikah. :)))

Tuliskan 3 hal yang membuat kamu semangat menjalani hidup

Diberkahi keluarga yang harmonis, pekerjaan yang menyenangkan, teman teman yang senantiasa ada.

Selanjutnya, award akan saya berikan ke 11 orang. Siapakah 11 orang yang beruntung itu. Kakak Saya, Sintamilia. Adik Saya, Muchamad Yusuf & Achmad Ramaditya. Sahabat sepanjang masa, Alit Prayogi. Kakak kelas jaman SMA, Kak Lianda Marta. Soulmate, Widya AyuDesy Oktafia. Temen Sekantor, Vivi Zulfiana. Temen Kuliah, Annisa Rizka & Ihsan Saidi. Temen seangkatan pindah ke Jakarta, Teh Dini Angreyni.

Berikutnya, ini adalah 11 Pertanyaan dari Saya.

1. Apa yang membuat kamu bersyukur dalam menghadapi hidup?

2. Keberhasilan apa selama hidup yang ngebuat kamu menjadi orang paling beruntung sedunia?

3. Kegagalan apa yang pernah terjadi yang bikin kamu hidup ini tidak adil?

4. Film Favorit sepanjang masa?

5. Buku bagus yang pernah kamu baca?

6. Kalau ada promo tiket pesawat 100 ribu pp ke semua tujuan di Indonesia, dan kamu punya kesempatan untuk membeli satu tiket, kemana kamu akan pergi? kenapa?

7. Gunung atau Pantai?

8. Punya Challenge terhadap diri sendiri yang belum tercapai? Apa? dan Kenapa?

9. Sebutkan 3 sahabat terbaik yang tak lekang oleh waktu bagimu.

10. Penghasilan yang cukup, Atasan yang baik, JobDesk pekerjaan yang dikuasai serta teman kantor yang menyenangkan. Dari 4 poin tersebut, kamu memiliki semuanya, kah?

11. Kalau kamu diberi secarik kertas untuk menyampakan uneg uneg pada ayah & ibu. Pengen nulis apa?

Silahkan dijawab 11 orang terpilih! 😀 dan berikan link blog nya di kolom komentar. Kita bersenang senang saja, ya. Tidak usah terlalu serius. Enjoy the award! 🙂

[CharityLovers] One Day Fun Doing Fun

IMG_3038-a

venue

Kenapa di Situ Gintung? Saya pribadi pernah menghadiri acara ditempat ini selama dua kali. Dan selalu jatuh cinta dengan lokasinya yang hijau. Setelah melihat kondisi Yayasannya juga, serasa tidak memungkinkan untuk kita gunakan bermain main secara bebas dan lepas. Maka, kami sepakatlah untuk mengajak adik adik ‘keluar’ dari rumahnya dan bermain bersama kami, ditempat ini.

IMG_3050-a

Rombongan Adik adik yang langsung dipimpin kakaknya. 🙂

Putri memimpin Adik Adik dari Yayasan, tepat pukul 09.30 a.m. Which means, kita bisa memulai acara ini dengan ontime. Adik adik yang turut serta pada hari itu sekitar 20 orang.

Selfie first.

Selfie first.

Continue reading

Dibalik Layar, One Day Fun Doing Fun!

2 Oktober 2014

“Put, urang nyimpen uang sisa Jambore Nasional nih. Kita Charity lagi, yuk. Kangen juga, udah lama” Suatu malem saya memulai percakapan dengan Putri, sebelum tidur.

“Yuk! Urang juga mau sedekahin cicilan ini yang baru lunas.”

Malem itu, kita mulai hunting nanya sana sini, sambil mikirin konsep kasar. Kita sepakat untuk mengajak anak anak Yayasan bermain. Kalo bisa di Panti Asuhannya, kalau engga, ya keluar ke suatu tempat. Segalanya dipermudah, kita menemukan satu Yayasan di daerah Rempoa. Dimana kita juga naksir sama satu tempat dibilangan ciputat, yang (untungnya) jaraknya engga jauh dari Panti Asuhannya.

4 Oktober 2014

Kita mulai untuk dateng ke Yayasan, memohon izin, mencari waktu yang tempat, dan memikirkan konsep. Oke masalah waktu adik adik, kita bergerak ke venue yang sudah kita pilih, mencoba mencocokkan jadwal gazeebo yang kosong. Alhamdulillah nyambung. Yayasannya oke, venue-nya oke. Sempet shock melihat harga paket makan yang ada, kami ngerasa butuh waktu agak panjang untuk mengumpulkan donatur. Maka, kami putuskan kami butuh waktu 2 minggu untuk menyiapkan ini semua.

5 Oktober 2014

Selepas menunaikan sholat ied, dan berlebaran se-ala kadarnya. Malem harinya, saya memulai mengonsep acara dan membuatkan mini pamfletnya. Putri tidak keberatan untuk menjadi tim Marketing yang mencari dana. Continue reading

Sharing is Caring

Seminggu terakhir, kami (Saya, Putri, — my roomates) memborbardir media sosial dengan campaign ‘one day fun doing fun‘ yang akan kami selenggarakan insya Allah di Minggu, 19 oktober 2014. Pamfletnya kira kira begini;

One day fun doing fun!

One day fun doing fun!

Sambutannya baik. Tapi ada juga satu dua yang nanya diluar dugaan kami. Misalnya seperti, apakah kegiatan ini rutin? siapa penyelenggaranya? Ini agenda keberapa? Tentunya, bikin kami Speechless. 😀

Continue reading

Terimakasih, kamu.

True.

True.

Semalem saya berantem. Cukup alot. Saya ngeh, kalimat apa yang saya lontarkan berkemungkinan besar menyakiti hati orang yang membacanya. Iya, saya meluap luap. Saya kalo lagi nafsu marah marah, suka ga kontrol mulutnya. But on the other side, saya bisa memilih untuk diam agar tak menyinggung orang lain. Sayangnya, saya sering melakukan poin yang pertama 😦

Semua orang punya kekurangan, bukan? apapun itu. dan ga semua orang bisa menerima kekurangan apa yang ada didiri kita. Mama selalu menasehati, “kalau berteman, kenali dulu kekurangannya. tanya pada dirimu, bisa nerima kekurangannya atau engga?”

Saya pernah ditinggal sahabat (yang uda nyaris 4 tahun dekat). Mereka memilih untuk tidak lagi bermain dengan saya. Saya juga pernah ditinggal main teman teman dilingkungan dekat saya untuk beberapa waktu. Akhirnya saya intropeksi, dan menyadari bahwa; saya ini bossy. keinginan saya banyak. Iyanya, saya sering melibatkan banyak orang untuk membuat keinginan saya jadi nyata. Imbasnya, saya jadi suka merintah diatas kepentingan “ini kan project nya gue”. Ya siapa juga mau disuruh suruh sama bocah kecil kaya saya ini.

Saya tidak bisa meninggalkan ‘lingkungan’ saya. Baik itu pekerjaan, keluarga, teman teman. It’s why saya tidak bisa bertahan lama dalam menjalin relationship. Saya jadi terkesan tidak serius dan menomor duakan pasangan.

In the end, saya ga sempurna. Masih banyak kekurangan saya yang menambah ketidaksempurnaan saya. Dan saya menghaturkan banyak terimakasih untuk kamu, kamu dan kamu yang tetap berada disebelah saya. Menerima segala kekurangan saya. Membantu saya untuk pelan pelan mengoreksi kekurangan tersebut.

Mungkin saya ga bisa membalas langsung penerimaan kekurangan saya. Tapi saya yakin Allah tidak pernah tidur. Kebaikanmu pasti di balas, pasti. 🙂

Ke Pulau Tidung, Masih jaman?

Menginjak kaki ke Pulau Tidung adalah impian saya sekitar 4 tahun yang lalu. Saat itu berlibur ke Tidung sedang hits hits-nya. Saya sempat menunda resign karena mendengar kabar kabur bahwa outing kantor akan bergerak ke sana. Sampai akhirnya saya resign, outing ke Pulau Tidung tak juga ter-realisasi. 😦

Bulan kedua setelah hijrah ke Jakarta, saya diberi kesempatan untuk menginjakkan kaki ke Pulau Harapan, bulan berikutnya Karimun Jawa, dilanjutkan lagi bulan berikutnya saya menginjakkan kaki ke Pulau Pari. Saya mulai kehilangan selera untuk menginjakkan kaki di Pulau Tidung setelah mendengar cerita para guide di Pulau Harapan dan Pulau Pari kalo Pulau Tidung sudah tidak nyaman untuk didatangi. Setelah mulai lupa pada impian menginjakkan Tidung, mantan kantor saya baru outing kesana. Huh.

Sampai akhirnya di pertengahan 2014, sebuah email masuk dengan subject voting outing 2014. Anyer dan Pulau Tidung. Saya yang sudah pernah ke Anyer, refleks memilih Pulau Tidung dan berharap vote terbanyak ke Pulau Tidung. Kenapa Tidung? Karena saya sudah pernah ke Pulau Pari dan Pulau Harapan 😛 selain itu, karena lebih deket dari Muara Angke.

Awalnya, saya diminta untuk mencari informasi untuk eo yang akan kami gunakan untuk outing kali ini. Dengan pertimbangan ini adalah family gathering, saya tidak merekomendasi eo eo kelas homestay dan harga murmer. Ga apalah agak mahal, yang penting nyaman, dan kami semua menikmati.

Maka, saya mengambil paket di tidungnirwana dengan menggunakan kapal middle class. Engga menyedihkan naik kapal kayu, tidak juga sok gegayaan naik kapal dari marina. Pilihan jatuh pada kapal zahro. Duduk, ber-AC dan nyaman.

Temen temen sempet kaget ketika melintasi kapal kayu yang sudah dipenuhi orang orang ngampar. Mereka mencemaskan diri akan bernasib sama. Haha.

IMG_2515-a

Not Bad, kan?

Dilengkapi TV, Sound System.

Dilengkapi TV, Sound System.

Continue reading

Yang baru di Bandung.

Bandung emang ga pernah ada habisnya.

Saya bersyukur di ‘depak‘ dari Batam ke Bandung oleh Ibu saya. “Mau kuliah dikampus manapun, yang penting di Bandung” Begitu pesannya beliau ke kami, ke-empat anaknya. Bandung itu tempat dimana saya pertama kali ‘lepas dari sangkar’. Meninggalkan rumah, dan memulai hidup mandiri. Pertama kalinya daftar kuliah sendirian (yes, sebelumnya, saya selalu ditemani oleh ayah saya), pertama kalinya hidup nge-kost sendirian (ya meskipun sering sekali dikunjungi oleh Teh Sinta yang kebetulan kuliah di Jatinangor), dan Pertama kalinya saya mulai mengais rezeki untuk menghidupi diri. Semuanya dimulai dari sini, Bandung.

Bandung salah satu kota nge-hits di Indonesia yang terkenal akan berbagai kulinernya yang enak, Wisata alamnya yang luarbiasa, fashion-nya yang berkembang, gaya hidup anak mudanya yang kece sampai ke kasus genk motornya. Dan saya, menikmatinya selama kurang lebih 3 tahun.

Mengikuti perkembangan zaman, Bandung pun demikian, selalu aja ada hal baru yang seru di Bandung. It’s why, saya memilih untuk kerja di Ibukota. Saya masih suka susah move-on untuk jauh jauh dari Bandung.

Baru baru ini, Om Emil (Walikota Bandung sekarang, red) membangun Taman Jomblo di bawah jalan layang Pasopati. Iyes, Taman Jomblo. Taman untuk Jomblo jomblo gitu. Aku mah ga pernah duduk disitu. #GengsiJomblo.

Yang lagi ngehits baru baru ini adalah;

Tebing Keraton

Pertama kali saya tahu tentang ini dari temen pejalan yang ngepost di Grup Whatsapp. Kemudian, saya berkesempatan mengunjungi pertama kali bersama Papa. Best partner of life. Bermodal googling, saya bersama papa selepas Shubuh menuju Tebing Keraton. Letaknya di ujung jalan diarah Taman Hutan Raya Juanda.

Tidak direkomendasikan untuk gembel gembelan (baca: ngeteng naik angkot + Jalan kaki). Jauh banget. Ga direkomendasikan naik mobil juga. Uda paling bener momotoran aja. Akses kesananya jelek banget soalnya.

Halo, Tebing Keraton

Halo, Tebing Keraton

Karena tempat ini sudah mulai nge-hits. Banyak penduduk sekitar yang ngeh. dan bisa nunjukin jalan, kok. Untuk tarif masuknya, masyarakat sini mematok harga Rp. 11,000,- untuk wisatawan domestik dan Rp. 76,000,- untuk Wisatawan asing.

Kenapa tempat ini seru?

Karena dari sini, kita bisa liat pemandangan ini.

Bandung dari Ketinggian

Bandung dari Ketinggian

Sejauh mata memandang hijau, sejuk & Gunung. Tebingnya kecil dan curam sekali. Kita harus hati hati dengan langkah kaki.

20140907_094819 copy

Karena lagi rame-ramenya diomongin, coba kesini pas weekday deh. Biar ga rame aja gitu. Lebih menikmati alamnya.

Pemandangan a long the way.

Pemandangan a long the way.

Bukit Moko

Ada lagi nih. Bukit Moko. Kalau di Tebing Keraton kita engga bisa menikmati dimalam hari, berbeda dengan Bukit Moko. Bukit ini bisa kita nikmati di Malam hari. Lampu lampu bandung akan terlihat dari sini.

Pernah denger Caringin Tilu? Saung makan yang dari situ bisa lihat kerlap kerlip kota Bandung. Nah, Bukit Moko ini jauh di atasnya. Jadi masih keatasnya lagi. Akses jalannya bisa di mulai dari Jl. Padasuka. Patokannya Saung Angklung Udjo. Dari situ, lurus aja terus keatas sampe mentok. Medannya ga lebih berat dari pada ke Tebing Keraton, tapi lebih curam. :’D Namanya juga perjuangan ketempat kece, ya.

Katanya disini bisa menikmati sunset, sayang, pas saya kesana, mataharinya diselimuti mendung. Jadi gagal gitu sunsetnya 😦

Halo dari Bukit Moko

Halo dari Bukit Moko

Ditempat saya berdiri untuk menghasilkan foto diatas, kita harus beli makanan warung gitu deh. Kalo cuma nongkrong doang, dikenakan biaya. hihihi.

Menggenapkan Diri

Menggenapkan Diri

Meja nya dibuat dari bebatuan gitu. Uniknya, karena ini hamparan luas, si pengantar makanan biasanya berteriak ditengah lapangan. “Atas nama Rendra”. Nanti yang namanya Rendra tinggal lambai lambai tangan aja. Yagimana ya, kan ga lucu aja nanti kita ketemu ga sengaja di WC misalnya, “Yang namanya Rendra, yaa” Eeeaaa.

20140906_174344

Kalau malam hari, mau lebih dekat dengan Bintang. Disinilah tempatnya. Menyepilah dan hening sejenak lah ditempat ini. 🙂

Saya yakin, Bandung akan terus berkembang disegala bidangnya. Terlebih dengan oke-nya pimpinan Om Emil untuk membangun kota Bandung. Dan saya, akan terus sering main main ber- Weekend Gateway ke kota ini.

Oh iya, hari ini bertepatan dengan Ulang Tahun Bandung yang ke 204. Happy Birthday. Sst.. Aku jatuh cinta berkali kali padamu, Bandung.