Berbagi di Bulan Dana PMI

13 tahun yang lalu saya berada dibarisan paling belakang disetiap upacara bendera. Saya bertugas sebagai anggota jaga mewakili dari anggota PMR. 5 tahun berikutnya, saya masih menjadi anggota PMR dalam balutan seragam putih abu-abu. Ya, saya betah menjadi anggota PMR selama 6 tahun.

Keinginan jadi dokter kecilkah? Atau bercita cita kelak akan menjadi dokter? Tidak keduanya, motivasi saya ketika itu hanya ingin berada dibarisan paling belakang ketika upacara bendera tiba. Mengantarkan teman yang kebetulan sakit karena tak sarapan ke UKS, kemudian curi curi istirahat di UKS sampai upacara usai πŸ˜€

Namun, seiring latihan yang sering saya ikuti, saya pun mulai tertarik dengan materi yang diajarkan. Minimal, bermanfaat untuk lingkungan sekitar saya, teman sekelas & keluarga. Ada 7 prinsip palang merah yang sampai hari ini saya hafal diluar kepala, yakni;
image

Pelatih saya mengajarkan cara mudah untuk menghapalnya; Manusia Sama Netral Mandiri Sukarela Satu Semesta. Sehingga, jika kami ditugaskan untuk menjadi pembaca 7 prinsip dalam acara kemah, kami hanya perlu menambah awalan Ke- dan akhiran –an disetiap katanya.
Continue reading

Tips booking online hotel Ala Nia

Bagi saya, bagian paling menyenangkan disetiap rencana perjalanan adalah bikin itenary dan menentukan tempat menginap. Berasa jalan-jalan duluan, gitu.

Nah, dari kedua item tersebut, yang paling menguras tenaga mencari penginapan. Kalau tempat wisata mah, gampang ya. Tinggal ketik di browser. Kemudian, baca-baca deh pengalaman orang. Cari tahu bagaimana aksesnya, selesai.

Tapi nyari penginepan? Butuh analisa panjang. Menurut saya, ya.

Nah hal-hal yang saya lakukan untuk mencari penginapan versi saya sbb;

  • Ketik kota hotel + nama kota di kolom browser. Misal; hotel nyaman di Semarang blog. Saya selalu menambahkan kata blog biar dibantu ke review orang di blognya. Baca baca deh detail pengalamannya.
  • Buka website-nya. Banyak hotel yang menyediakan fasilitas ini. Dari situ, kita bisa berselancar di Gallery. Tipe room. dsb.
  • Setelah liat open new tab buat liat bermacam-macam pilihan yang ada. Mulai naksir kan ya. Jangan lupa, cari yang lokasinya tidak jauh dari tempat acara kita. Meminimalisir akomodasi πŸ˜€
  • Sebelum lihat rate-nya, saya biasanya ketikkan lagi nama hotelnya doang di browser. Make sure, hotelnya ga berhantu. Dan bukan hotel remang remang. haha. Itu doang sih πŸ˜€
  • Setelah punya pilihan hotel yang kira-kira kita sukai, saatnya liat rate. Dengan hotel yang sama, saya buka di Traveloka, tiket.com, klikhotel.com, pegi-pegi, agoda.com. Ribet? iya! Eh ada lagi, saya juga bisa buka di Traveloka app & Tiket app. πŸ˜€ Soalnya masing masing itu suka punya promo masing-masing. Bisa jadi harganya sama, tapi karena ada promo jadi melonjak turun. Atau, di si A harga tercantum all include, di tempat B masih belum termasuk pajak dll.
  • Selesai disini? Engga dong. Setelah ketemu harga paling oke, dengan hotel paling oke. Saya sih lebih sering ‘iseng’ dengan nelepon langsung ke hotelnya. Nanya, public rate-nya berapa. Saya pernah beli voucher hotel di semacam livingsocial/groupon untuk hotel di Bali. Kemudian ketika check-in, saya lihat harga on the spot-nya, 3x lipat aja dong. Sebagai perempuan saya merasa berhasil menjadi wanita. Atau pernah juga, familytrip ke Bintan, karena mendadak, saya ga mesen dulu via web. Kami menginap di salah satu resort, yang besokannya saya tahu harga di agoda lebih mahal daripada harga on the spot. πŸ˜€ Anaknya perhitungan.
  • Setelah itu, baru deh bisa mutusin mau beli lewat booking online atau langsung saja on the spot. Dengan konsekuensi ya, ots bisa jadi ga dapet kamar. Apalagi kota besar. Apalagi peak season. Semuanya pilihan. πŸ™‚
  • Nah, selain mandiri nyari, seringkali saya juga dapet rekomendasi. Seperti menginap di Yogya & Singapore. Setelah dapet rekomendasi, mengulang seperti tahapan no.5. Perbandingan harga. πŸ˜€

Continue reading

THIS YEAR’S BIGGEST SALE!

Siapa yang suka belanja online? Saya dulu termasuk jajaran orang yang ga suka belanja online. Kekhawatiran barangnya tidak serupa seperti dengan gambarlah, takut barang ga sampailah dan ketakutan ketakutan lain. Dilalahnya, atasan dan teman-teman seruangan kerja saya suka banget belanja online. Minggu pertama setelah gajian, biasanya banyak kurir yang nganterin pesanan online. Dari Flashdisk sampe Flatshoes πŸ˜€

Sampai suatu hari, Adik saya mengirimkan gambar sepatunya yang sudah robek sana sini dengan caption, ‘i need new shoes‘.

Saya mendumel pelan. ‘punya adik keinginan banyak.’ eh, atasan yang duduknya tepat diseberang saya ga sengaja denger. Dan bilang, ‘nanti kangen di ‘minta’-in loh.Β  Beliin aja. Minta apa sih?’ tanya beliau. ‘Sepatu sekolah, bu’.

Semenit kemudian, atas rekomendasi beliau, saya sudah scroll up & scroll down di laman Zalora. Salah satu online shop yang menyediakan banyak barang. Karena itu saat pertama saya membuka web online itu, saya memasukkan email dibawah laman. Dan Voila! Saya dapet potongan up to 75ribu.

Zalora-converse copy

Continue reading

[CharityLovers] One Day Fun Doing fun goes to Bandung

IMG_5841 copyMenyenangkan ketika Pilot Project dari kegiatan CharityLovers berjalan dengan sangat baik. Diluar dugaan, saya bisa mengadakannya kembali di luar kota Jakarta, di Batam.

Setelah mengadakan 2 kali dan alhamdulillah lancar tanpa halangan. Satu dua tiga orang mulai nanyain ke saya, ‘Ayo dong Charity lagi’. Saya jawabnya super males-malesan. Karena pada saat itu, kondisinya, koper abis acara di Batam juga belum dibongkar. ‘Duh, lagi males nyari donatur’ akhirnya jawab saya singkat. Β Ia bertanya, berapa budget yang biasanya sayaΒ keluarkan untuk sekali kegiatan. Dan berapa saldo yang saat itu saya pegang. Saat itu juga, IaΒ menransfer sejumlah uang dengan pesan, ‘sudah aku transfer, semangat ya cari sisanya’ Ciyaaaaaal!

Kemudian, ada orang lain lagi yang bertanya hal serupa. Dan memberikan transferan yang serupa. Sampai saya berada dititik, oke baiklah, demi kakak kakak galau yang sedang cari kebahagiaan ini, saya akan mengadakan One Day dalam waktu dekat. Β Saya mulai bikin flyer lagi. Mulai mosting di media sosial.

Kota selanjutnya, jatuh di Kota Bandung! Kenapa? Saya ingin mengembalikan memori dan kenangan ketika awal-awal dulu belum bergaji dan happy banget dengan kegiatan sosial ini. Tanpa Bandung, mungkin acara ini tak akan pernah ada. Ceritanya ada disini. Continue reading

Jeda.

Whoaaaaah!

Whoaaaaah!

“Nia, saya itu penasaran, bagaimana pola didikan kedua orangtuamu sehingga bisa menghasilkan anak seperti kamu. Yang ceria, yang banyak senyum, yang suka ini itu” Ujar HRD dikantor tempat pertama kali saya bekerja suatu hari.

Pada saat itu saya adalah anak remaja tanggung yang pecicilan. Karena saya sudah bekerja diusia 19 tahun, saya yang paling doyan cengengesan kalo dikasih tugas. Semua orang saya sapa ceria layaknya saya meyapa teman teman saya dikampus. Meski pada usia itu saya sudah dikenalkan di meeting-meeting besar di Ibukota, tak lantas membuat saya terlihat dewasa. Seringkali, saya disuruh berhenti bekerja, masih anak-anak, begitu kata mereka.

Time flies very fast, engga kerasa, tiba tiba sudah 4 tahun saja saya bekerja di Jakarta. Banyak yang berubah? Banget! Saya inget, niat awal saya pindah ke Jakarta. Mau jalan-jalan. Saya jadi full time traveller dan part time employee. Diotak saya cuma ada jalan kemana minggu ini. Ga peduli nyampe Jakarta, senin shubuh yang langsung saya geber untuk bekerja. Yang penting saya bahagia. Yes, i’m happy at the time.

2 tahun belakangan, pelan pelan mulai berubah. Saya tidak lagi se-menggebu itu untuk jalan-jalan. Saya merasa badan saya mulai pegal-pegal, jika kelamaan duduk di bus. Cepat lelah jika nyampe kosan senin shubuh. Buat saya jadi cari tempat jalan-jalan yang bisa ditempuh dengan pesawat.

Setahun belakangan, semakin menjadi. Pekerjaan dikantor bukan lagi hal yang bisa dinomorduakan. Saya mulai merasa, saya harus serius berkarir. Saya mulai challenge diri sendiri dengan jobdesk yang diberikan oleh atasan saya. Lembur tanpa ampun jadi makanan sehari-hari, engga sampe tengah malem sih. Tapi setiap hari. Untuk menghibur diri, saya sempat sesekali keluar kota, seperti awal awal dulu. Tapi rasanya tak lagi sama seperti dulu. Tubuh saya remuk. byar!

Belum lagi, saya punya target-target dalam keuangan. Saya punya mimpi lain untuk secara berkelanjutan mengajar di Kelas Inspirasi. Saya ingin ‘anak saya’, one day fun doing fun, berjalan berkesinambungan. Semuanya muter di otak saya. Saya ingin begini, ingin begitu, harus ini, harus itu.

Tanpa saya sadari, ritme hidupΒ saya ‘mengerikan’. Lembur on the weekday, dan nyaris ga punya me time on the weekend. Dan oh, itu menganggu psikologis saya.

Beberapa bulan belakangan ini, saya benar benar seperti dikejar waktu. Kerja lembur, kemudian jumat malem harus briefing Kelas Inspirasi di Semarang. Kemudian, minggu depannya kembali lagi untuk mengajar. Belum sempet nulis untuk ceritanya, saya sudah standby di Kelas Inspirasi kota lain lagi. Disela-sela itu, saya masih suka ‘loncat sana loncat sini’ keluar kota, Entah hanya untuk wisata atau mengurusi One Day Fun Doing Fun. Dalihnya jalan-jalan untuk bahan tulisan. Boro-boro, saya nyaris tak punya waktu untuk menulis 😦 Β (–sampai tulisan ini ditulis, kegiatan One Day Fun Doing Fun Batch 3 yang diadakan di Bandung bulan Agustus kemarin, belum ketulis :()

Sempet beberapa kali orang-orang disekitar saya complain, entahlah saya yang jadi gampang emosi, entahlah saya yang sulit sekali dihubungi dan ditemui. Saya jadi temperamen. Mudah tersulut emosi, sensitif.

Puncaknya ketika hasil medical check up saya tiba minggu lalu, saya yang tadinya merasa tidak apa-apa ini, ternyata kenapa-kenapa. Berat badan saya turun 11 kg dalam satu tahun. Kolesterol dalam batas tinggi. Serta, LED (Laju endap darah) yang nilainya 2x batas normal. Saya terserang Anemia Mikrositik Hipokrom, entahlah saya ga tau ini apa. Yang jelas, saya kekurangan darah, saya kurang olahraga, kurang makan sayur, kurang asupan buah, danΒ kurang kasih sayang.

Akhirnya, seminggu ini saya berusaha untuk pulang tidak terlalu malam. Mulai lagi menjalin silaturahmi dengan mengunjungi ibu kos yang sedang dirawat rumah sakit. Hari ini, saya kembali ke Pasar. Saya sampai lupa kapan terakhir kali saya belanja sayur. Saya beli beberapa sayur untuk saya masak sendiri. Kemudian, saya kembali ke Dapur. Saya menikmati setiap bulir busa sabun disaat saya mencuci. Tangan saya yang tersisa harum bawang. Saya merasakan, saya seperti menemukan kembali ‘rasa’ yang pernah hilang. Indera tubuh saya menyuarakan itu dengan saya terima dengan senang.

Selesai memasak dan memakannya, saya bebersih dan beberes kamar. Saya meregangkan badan dikasur dengan rasa senang luar biasa. Saya lanjutkan dengan nonton film ‘Jobs’. Film ini momennya pas banget dengan perasaan saya. Bahwa hidup itu harus seimbang. Life Balance. Disaat Steve Jobs, menggebu untuk semua proyeknya, ia menanggalkan keluarga dan teman-temannya, yang ternyata itu malah menjadi penghalang projeknya. Disaat dia mulai eling, dia kembali ke keluarganya, kembali ke teman-temannya, disitulah projeknya kembali mencuat. Diakui dan dikagumi banyak orang.

Seperti ia, saya hanya perlu Jeda. Perlu sehari saja, menikmati hari dengan diri sendiri. Memancing kembali segala Indera ditubuh saya. Mengoreksi diri. Tidur yang cukup. Dan menikmati menit demi menit dengan tidak tergeropoh-ropoh dan rasa yang dikejar-kejar. πŸ™‚

Anggaplah sebuah gunung aku memilih mendaki gunung tersebut secara perlahan. Menikmati pepohonan, bunga dan udaranya. Berhenti, walau bukan dititik tertinggi, tapi aku tetap bisa menikmati keindahan

Masih ada esok, yang akan saya gunakan untuk refleksi. Sebelum saya kembali ke Payroll Period yang biasanya akan pulang lebih malam dan persiapan saya di One Day Fun Doing Fun Batch 4. Bismillah. :’)

Dibalik Inspirator & Dokumentator #KelasInspirasi, ada Fasilitator

Pulang dari mengajar di Semarang, saya disamperin sama mantan atasan saya dulu. Ia datang ke meja saya dan bercerita bagaimana dia sedang jalan jalan disebuah mall, kemudian menulis form, in the end dia baru tahu kalau barusan dia menulis form untuk pendaftaran kelas inspirasi secara offline di Bogor.

Waktu itu sih ya, ga kepikiran ikutan lagi. Tas bekas dari Semarang aja belum di unpack. Dilalahnya saya malah iseng buka buka laman kelas inspirasi. Klik klik klik, tetiba saya sukses mendaftar sebagai fasilitator. *toyor my self*

Fasilitator itu ngapain aja sih? Sepanjang 3x ikutan kelas Inspirasi. Fasil (begitu Fasilitator biasa disapa, red) bertugas untuk menjadi garda terdepan antara Relawan dan pihak sekolah. Menjadi tempat bertanya apa aja bagi keduanya. Memastikan bahwa relawan in line dengan 7 prinsip KI. Jadi tim keeper. Intinya, fasil itu ibarat panitia disekolah itu. Biasanya satu sekolah terdiri dari 1-2 Fasil, tergantung jumlah rombel dan relawannya. Enak engga? Enak kata saya, mah. Terlibat di Kelas Inspirasi, tapi ga ngajar πŸ˜€

Setelah dinyatakan lulus sebagai salah satu fasil dari 50 orang untuk 30 SD, kita diminta Briefing awal fasil. Yang diadakan seminggu sebelum briefing relawan. Kebetulan saya menjadi fasil sendiri, sementara beberapa ada yang fasilnya berdua atau bertiga gitu. *melirik sirik* ehtapi yang berdua atau bertiga, muridnya juga banyak sih. Diatas 500 orang bahkan ada yang 1000 siswa. No, thanks. πŸ˜€

IMG_20151017_133906 copy

Continue reading

Filosofi & Jelazah Gizi dari sebuah Rendang

552a0fd86ea83406668b4567

Ada yang pernah menonton film Cita-citaku setinggi tanah? Adalah Agus salah satu Pemain Utama dalam film itu, kebingungan ketika disuruh menyelesaikan tugas sekolahnya; mengarang tentang Cita cita.

Ketiga sahabatnya bercita cita seperti kebanyakan anak lainnya; Sri ingin menjadi artis, Jono ingin menjadi tentara, Puji ingin membahagiakan orang lain. Sementara Agus? Cita citanya sederhana. Ingin makan di restoran padang. :’) Ayahnya hanyalah seorang kuli di Pabrik Tahu, sementara Ibunya ibu rumah tangga yang mahir dalam membuat tahu Bacem. Bagi Agus, makan di restoran padang itu keren. Kita akan diperlakukan bak Raja. Semua makanan disajikan didepan mata. Jika kita butuh apa-apa, tinggal menunjuk jari, maka pelayan akan menghampiri kita.

Agus berusaha keras untuk memenuhi cita citanya ini, ia membantu ayahnya, berjualan, merepotkan semua teman temannya, demi menikmati menjadi raja disebuah restoran padang.

“Cita citamu itu rendah, tapi bikin susah” begini celutuk salah satu sahabat Agus. πŸ˜€ Continue reading

Brown Canyon, Semarang & Klikhotel.com

Bagi saya, Semarang punya kenangan tersendiri. Pertama kali saya melakukan #BirthdayTrip ya ke Semarang. Kemarin, ketika Kelas Inspirasi membuka kelas di Semarang, saya cus langsung daftar. Alasannya sederhana, pengen napak tilas. Kangen makan bakso gimbal. Rindu simpang lima, dan jalan santai disepanjang jalan Pandanaran. πŸ™‚

Setelah briefing Kelas Inspirasi Semarang di salah satu hotel di Kota Semarang, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi salah satu tempat wisata baru di kota bakso tahu, ini. Guess where?

Brown Canyon!

Saya diantar dan ditemani oleh Kanjeng Mas dan temannya. Saya baru tahu tempat ini beberapa minggu belakangan, setelah tidak sengaja membaca salah satu halaman di majalah.

Brown Canyon berada di daerah Rowosari Mateseh Tembalang, Semarang. Agak lumayan jauh sih yaa dari pusat kota. Tapi karena kita momotoran, berasa dekeeuut. Konon katanya, Brown Canyon ini sepertiΒ Green Canyon di Amerika. Bedanya? Disini cokelat dan berdebu πŸ˜€

Kami tiba sekitar pukul 4 sore, dimana awan sedang cerah-cerahnya & debu sedang bertebangan.

Whoah!

Whoah!

Jadi tempat ini tuh, sebenernya sih ya bukan tempat wisata. Bukit yang sedang digarap penambangannya namun tak kunjung selesai. Eh ditilik tilik malah bagus buat popotoan πŸ˜€ Tebing tebingnya menjulang tinggi. Pemandangan dari atas, bisa melihat sedikit panorama kota.Β  Continue reading

Dibawah langit Ibukota.

20140412_110443-a

Dulu, kerja di Jakarta engga banget dalam pikiran saya. Ngapain? Menenggelamkan diri dikemacetannya yang naudzubillah itu. Dan Tuhan ‘menyentil’ ucapan sombong saya itu. Sampai pada akhirnya, sayaΒ jadi budak ibukota.

Pelan tapi pasti, saya menghabiskan waktu di Jakarta. Awalnya saya senang. Saya bersenandung bahagia sambil jalan kaki dari kost-an ke kantor. Selama saya tidak menikmati macetnya, saya dan Jakarta baik baik saja.

Setahun berselang, saya pindah kerja, dimana menuju kantor baru itu mengharuskan saya naik Kopaja sebagai moda transportasi. Saya mulai merasakan sensasi aneh aneh. Macet tanpa ampun dikala hujan. Tangan tangan tak terhindarkan yang tiba tiba nempel di badan. 😦

Dilain waktu, saya yang sedang membawa barang sumbangan untuk para korban banjir, malah menjadi korban pencopetan didalam kopaja. Jakarta keras? banget! hiks.

Disisi lain, disinilah pertama kali saya nonton standup comedy secara langsung. Mendatangi Jakarta Book Fair. Mengunjungi tempat-tempat wisata. Mencicipi aneka makanan khas Nusantara. Nawar baju sampai puas di Tanah Abang. Ngubek ngubek toko buru nyari buku.Β Sempet ikut ngeksis dan ngerasain syuting sinetron Ramadhan. Mengikuti event event kece yang ilmunya banyak banget. Nongkrong nongkrong di tempat-tempat gaulΒ yang suka masuk majalah nasional.

Kesemuanya itu belum tentu saya dapetin jika saya berada diluar Ibukota.

Jika sekarang saya hanya memiliki waktu 24 jamΒ untuk menyusuri Ibukota (yang dulu saya benci kemudian saya cintai); Maka, saya akan kembali ke tempat-tempat yang bagi saya penuh kenangan ini.

Hutan Mangrove

Tempat wisata ini berada di Utara Jakarta, pantai Indah kapuk. Tempat inilah yang menjadi saksi saya dan Dia menikmati sisi lain kota Jakarta selain Monas dan Kota Tua. Semestakung dengan tiba tiba aja saya ketemu gumpalan balon, yang kemudian saya jadikan teman untuk berfoto. Sayangnya, jika kemari membawa kamera DSLR, dikenakan tarif khusus sebesar 1 juta rupiah. 😐

Continue reading

Kelas Inspirasi Semarang #2; SD Ngaliyan 04

KI Semarang

we must teach our children to dream with their eyes open – harry Edwards.

“Perkenalkan, nama saya Nia, saya dari Jakarta. Alasan untuk kembali ikut bergabung dikelas Inspirasi, saya selalu rindu suasana kelas bersama adik adik, jadi tergerak untuk terus belajar, bagaimana menguasai kelas, bagaimana bisa menyampaikan informasi tentang profesi saya dengan bahasa sederhana, bagaiman bisa menciptakan komunikasi dua hari didalam kelas”

Begitulah ujar saya, ketika berada di Briefing KI Semarang 2 di Hotel Star, Semarang. Briefing Kelas Inspirasi Semarang semarak karena dibuka langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo. Setengah jam saja beliau memberi sambutan, membuat saya jadi ngefans sama beliau πŸ™‚ Continue reading